2 Jam Bersama Sely Martini dan Keluarga Kecilnya

Bersama teh Sely Martini dan Silvia. Foto: Suami teh Sely

Mendung tiada akhir. Langit seringkali menjadi kelabu tanpa memberi tahu. Kota Bandung di mataku seringkali sendu bagai gadis muda ditikam rindu yang bertunas seribu. Entah mengapa, cuaca begitu tak menentu. Hangat matahari di pagi yang indah begitu mudahnya ditikam gerimis menjelang puncak siang. Mungkinkah langit sedang memeluk hatiku yang terluka begitu dalam? Sebab, rasanya percuma melarikan diri, sebab hatiku yang pilu sembilu tidak mampu menemukan penawarnya selain rindu yang dibayar lunas. Tetapi, Dia sudah pergi. Ya, Dia meninggalkanku tanpa sekadar kata maaf. 

Orang bilang Bandung adalah kota kembang. Di mana kecantikan dan ketampanan penduduknya mampu membangkitkan rasa senang di hati. Tetapi, setelah menyelesaikan pekerjaan, aku memilih mengurung diri di kosan seorang teman, di pinggiran kota Bandung. Sesekali menangis, untuk melepaskan sesak di dada. Aku sedang tidak ikhlas atas suatu keadaan yang menimpaku. Semakin aku berusaha menerima keadaan, semakin deras airmata menganak sungai.  Seakan-akan sumber airmata itu tak habis-habisnya, terus menumpahkan dirinya dari sumur didalam jiwaku. Sialnya, cuaca di luar sana sama sekali tak membantuku untuk menerbitkan senyum yang mampu menghiburku.

BACA JUGA: Beras Sagu dan Mimpi Kedaulatan Pangan 

Pada suatu hari yang mendung, aku dan temanku, Silvia memutuskan untuk berkunjung ke rumah seorang perempuan hebat. Namanya Sely Martini. Beliau sosok yang sudah lama kukagumi, tapi tak pernah kesampaian untuk bertemu. Ia tipikal orang yang sangat sibuk dengan segudang aktivitasnya sebagai seorang perempuan, istri, ibu, pekerja dan aktivis. Perjalanan inipun sebenarnya merupakan keajaiban, sebab Ia baru saja tiba dari perjalanan jauh. Ia adalah aktivis anti korupsi yang sangat terkenal. 

Bermotor di hari hujan lumayan riskan sih. Takut jatuh lah, takut kehujanan di jalan lah, dan sebagainya. Tapi aku dan Silvia memutuskan untuk lanjut saja, menembus gerimis. Kami berkendara dari keramaian kota, menuju satu kompleks perumahan di ujung kampung yang sepi dan dikelilingi tebing curam bermandikan aneka pepohonan hijau. Udara dingin seketika menusuk kulit. 

"Ini bukan rumahnya?" tanyaku penasaran. 
"Halo..." tiba-tiba suami teh Sely membuka pagar bambu sembari tersenyum sumringah.
"Ika," aku memperkenalkan diri sembari menjabat tangan lelaki tinggi kekar itu.
"Silvia," ujar temanku Silvi, kemudian memarkir motornya di garasi. 
"Ayo masuk lewat sini aja, ya, " katanya sembari menunjuk pintu disamping garasi. 

Aku masuk ke rumah, disambut oleh Teh Sely dan anak perempuannya yang bernama Kalila. Rupanya mereka berdua sedang mengolah adonan brownies cokelat. Aku dan teh Sely berpelukan. Wah, ini ya rasanya bertemu dengan perempuan hebat kebanggaan Indonesia? Dan aku langsung nimbrung kegiatan mereka membuat brownies, yang ternyata cukup terlambat disiapkan untuk menyambut kedatangan kami. Sungguh spesial, karena inilah brownies dari tebung bebas gluten andalan teh Sely.

Hari masih hujan dan udara dingin. Sembari mengobrol tentang banyak hal dengan Teh Sely dan Kalila (Btw, anggota keluarga yang lain sedang sibuk), teh Sely membuat menu ayam panggang, si ayam dipanggang dalam satu alat masak khusus (dan aku cupu banget deh belum pernah lihat alat masak model begitu wkwkwkwk). Tampaknya tek Sely dan keluarga adalah tipe penyuka masakan yang simpel, sehingga tidak membuang banyak waktu untuk bercengkrama lebih banyak dengan anggota keluarga. 
Makan ayam panggang bersama rintih hujan. Romatis sekali, bukan? 

Tak perlu menunggu lama, jadilah si ayam panggang. Lantas kami menuju beranda dan bersiap menyantap si ayam dengan bumbu yang sedap itu (aku lupa nama masakan ini apa hehe). Hujan masih setia menemani bumi yang mungkin sedang membutuhkan pelukan. Teh Sely menyusul dengan membawa semangkuk lalapan aneka sayuran, dan beberapa bungkus saos sambal. Sebab menu di keluarganya didominasi menu untuk anak-anak, jadinya nggak ada sambal. Sebuah cabai aja nggak ada lho koleksinya di kulkas. Ya udah, skip sambal sekali nggak papa. 

BACA JUGA: Nissa Wargadipura dan Kedaulatan Pangan Ala Pesantren

Setelah si ayam panggang dan rekan-rekannya tandas di perut mungilku, kami melanjutkan ngobrol di beranda sembari menikmati brownies dan teh hangat. Hh, kuakui brownies buatan kolaborasi Teh Sely dan Kalila sangat enak. Aku sampai menghabiskan beberapa potong.  Rasa sedih yang menggelayuti hatiku seketika lenyap, terhibur oleh lezatnya brownies cokelat, teh panas, suasana hujan nan syahdu dan obrolan ringan tentang banyak hal. Mulai dari metodologi penelitian, aplikasi pengolahan data, pemilu 2019 dan hal-hal lain yang menyenangkan. Bahkan, rasanya nyaman sekali mengenal keluarga ini manakala teh Sely dan Suaminya begitu cair denganku dan Silvia. Sehingga pertemuan 2 jam harus diakhiri. Ah, sedihnya hati harus segera berpisah dengan keluarga kecil nan manis ini. 

Karena hujan, teh Sely dan keluarga tidak bisa mengajakku menikmati suasana pekarangan sebagaimana biasa mereka nikmati, yang sering ditunjukkan melalui sejumlah foto yang diunggah ke media sosialnya. Tak apa, mungkin akan ada lain kali, pertemuan yang lebih panjang dan menyenangkan. Agar kenangan kami semakin paripurna, tak lupa kami foto-foto dong. 
Mengagumi Anggrek. Foto: Silvia

Oh ya, banyak sekali jenis bunga di pekarangan rumah teh Sely. Hijau dan cantik di mana-mana, di setiap sudutnya. Ada juga buah jeruk dan rempah. Senang sekali bisa menikmati karunia alam hanya di pekarangan mungil, membantu menenangkan hati yang tengah mendidih perih. 
Aku suka Anggrek. Foto: Silvia

Seru juga menghabiskan sisa sore dengan cecentilan bersama teh Sely yang aslinya sangat cantik, ramah dan ceria ini. Ia juga sempat menceritakan keinginannya untuk melanjutkan kuliah di level doktoral, di sebuah kampus di luar negeri. Semoga saja niat baik teh Sely dimudahkan, sebab aku percaya ilmu orang baik akan berguna bagi masyarakat banyak. 
Tiga perempuan cantik. Foto: Suami teh Sely

Sedihnya harus berpamitan. Entah kapan lagi kesempatan berjumpa tiba. Pertemuan ini sangat berharga bagiku, karena mengumpulkan pengalaman bertemu dan belajar bersama orang-orang baik akan memacu semangat didalam diriku untuk selalu menjadi orang baik, bagaimanapun keadaan menekan dengan hebatnya untuk berbuat jahat, culas, curang, korup dan segala bentuk kejahatan lain di dunia manusia. 

Terima kasih teh Sely dan keluarga untuk semua kebaikan. 
Semoga kita berjumpa di lain waktu, di pertemuan yang lebih indah. 

Depok, 1 Mei 2019

No comments:

Post a Comment