ORDINARY PEOPLE: Cerita Tak Biasa dari Andrea Hirata tentang Orang-Orang Biasa

Novel teranyar penulis Andrea Hirata



Apa yang mengagumkan dari hidup orang biasa? 


Orang biasa, mungkin bisa disebut juga dengan sederet kata: nggak sekolah, miskin, nggak pintar-pintar amat, nggak punya karya bagi bangsa, hidup sekadar hidup, nggak punya mimpi, tinggal di pinggiran kota atau perdesaan. Segala hal tentang orang biasa adalah "biasa" sehingga hidup mereka nggak menarik untuk dibicarakan, apalagi ditampilkan di acara reality show

Andrea Hirata, penulis produktif asal Bangka Belitung ini membuka kisah di novel terbarunya dengan kisah dua orang polisi kampung di kota Belantik, yang resah dan gelisah sebab sebagai petugas keamanan, kok ya mereka macam pengangguran karena angka kejahatan di kota kecil itu sangat minim. Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi nama mereka. Mereka miris melihat papan tulis yang berjudul "STATISTIK KEJAHATAN" kota Belantik hanya terisi angka-angka yang sangat tidak mengesankan untuk mengangkat derajat seorang polisi ke level patriot bangsa. 

BACA JUGA: Bertani Organik Mudah dan Murah ala Hars Garden 

Lalu, kisah diputar jauh ke belakang, pada kisah 10 sekawan di masa-masa sekolah. Kisah persahabatan 10 murid dengan karakter aneh tersebut bermula rasa kasihan pada murid bernama Salud yang selalu menjadi korban bullying baik oleh para guru karena kebodohannya, maupun karena murid-murid bermental preman bernama Tria Bastardin dan Duo Boron karena wajahnya dianggap buruk rupa. 

Hidup berlanjut dan setiap orang menjalani takdinya. Trio Bastardin membuka sebuah toko perhiasan, sebagai kamuflase bisnis pencucian uang (money laundry) para koruptor dari Ibukota. Sementara 10 sekawan, karena tak mampu melanjutkan pendidikan, mereka terdampar di kehidupan sangat biasa dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan sangat biasa, yang tidak menarik untuk diperbincangkan apalagi diagungkan macam pekerjaan sebagai Inspektur dan Sersan di kepolisian kota Belantik. 
Dimana semua uang di dunia ini berada? 

Debut Awaludin yang idealis memilih menjadi penjual buku, meski tokonya sangat tidak laris dan bisnisnya jalan ditempat. Dinah yang ditinggal mati suaminya harus diuber-uber Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) akibat berjualan mainan anak-anak di sembarang tempat. Ia terpaksa main kucing-kucingan dengan aparat keamanan karena harus menghidupi ketiga anaknya yang masih kecil, dan membiayai sekolah mereka.  Nihe dan Junilah menjadi karyawan di perusahaan cleaning service milik Rusip, yang ketika di sekoah dikenal sebagai murid paling jorok. Sobri bekerja sebagai sopir tangki septik. Handai merupakan pembicara motivasi yang tidak pernah mendapatkan pekerjaan alias pengangguran. Hanya Honorun yang bisa memiliki pekerjaan bagus, yaitu jadi guru honor. 

Ah, pokoknya kehidupan mereka nggak menarik. Biasa banget. 

Sampai pada suatu hari, Dinah merasa sangat pusing, karena anak sulungnya yang bernama Aini diterima di Fakultas Kedokteran salah satu universitas ternama negeri ini. Tapi, Aini terancam gagal kuliah karena Dinah sama sekali tidak memiliki kesanggupan membayar uang daftar ulang, dan mungkin seluruh biaya kuliah. Apalah daya seorang pedagang kaki lima yang sering diuber Satpol PP dihadapan Fakultas Kedokteran yang jumawa itu. Dinah sudah meminjam uang kesana-kemari, dari mulai Koperasi Simpan Pinjam hingga Bank, dengan jaminan nyawanya sendiri, namun gagal total. Ia sangat kasihan melihat Aini yang telah mendapatkan hasil dari kerja kerasnya belajar dari pagi hingga pagi, meski sebelumnya Aini dikenal jongkok dalam bidang Matematika dan diejek sebagai murid bodoh. 

Kisah perjuangan Dinah dan Aini rupanya memicu Debut Awaludin untuk merampok bank. Menurutnya merampok bank merupakan tindakan tepat karena semua uang di dunia ada di bank. Sebab, jika merampok Koperasi Simpan Pinjam dirasa percuma sebab uangnya pastilah sedikit, jauh dibandingkan yang ada di brankas bank. Tujuan perampokan ini mulia, yaitu demi membiayai kuliah Aini di Fakultas Kedokteran sampai ia tamat dan jadi dokter. Nah, setelah Aini jadi dokter maka Aini akan membayar uang yang dirampok dari Bank itu dan para perampok akan mengirimkan surat permohonan maaf bahwa tujuan merampok bank sebenarnya untuk meminjam saja. 
Seseorang, selalu adalah orang lain

Sekumpulan orang biasa yang sebentar lagi akan menjadi perampok ini kemudian membuat markas rahasia tempat meeting dilakukan. Dari meeting ke meeting, mereka bukan hanya meributkan hal-hal yang tidak penting seputar teknis perampokan, juga asyik menonton film-film tentang perampokan. Bahkan, mereka juga latihan berlari di gang-gang kecil di Kota Belantik yang bertujuan latihan melarikan diri dari kejaran polisi di hari perampokan.

Omong-omong soal perampokan. Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi mendapatkan informasi mengenai rencana perampokan pada bulan Agustus, ketika banyak festival dilakukan dan warga terbuai oleh pesta tahunan.  Informasi tersebut didapatkan dari seorang residivis bernama Dragonudin, yang rela menjual informasi kepada polisi agar saudaranya yang bernama Toba dibebaskan meski telah ditetapkan bersalah melakukan kejahatan. Dragonudin di penjahat kampung ini mencurigai bahwa Kwartet Mul, gerombolan residivis yang baru pulang dari perantauan yang akan melakukan perampokan pada bulan Agustus. Akibat mempercayai informasi dari seorang residivis, Inspektur Ahmad Rojali diminta cuti oleh atasannya karena dikira stress, mempercayai rencana perampokan akan dilakukan di kota yang minim angka kriminalitas semacam kota Belantik. 

BACA JUGA: Ke Klaten, Perjalanan Mendebarkan Melihat Sumber Air Purba Berusia 1500 Tahun

Para perampok yang merupakan 10 sekawan melancarkan aksinya pada hari festival. Waktu itu ratusan murid SMA dengan topeng monyet membuai warga sehingga mereka berhamburan di jalanan untuk menikmati hiburan tahunan. Debut Awaludin memimpin perampokan di Bank dengan cekatan seakan-akan mereka perampok professional.  Namun, saat brankas siap dibuka dan uang hampir di tangan, Debut Awaludin menitahkan para perampok meninggalkan lokasi. Oh, rupanya tujuan utama mereka bukan merampok bank, melainkan toko perhiasan milik Trio Bastardin. Perampokan berhasil mulus. Bukan hanya 800 juta uang yang mereka dapatnya sebagai biaya kuliah Aini di Fakultas Kedokteran, melainkan 18 miliar uang hasil korupsi dari brankas Trio Bastardin. 
Probable cause

Ibu Atikah, sang Kepala Bank merasa heran kok perampok nggak jadi merampok bank dan malah melarikan diri. Sementara Trio Bastardin sangat terkejut karena tokonya disantroni perampok di siang bolong. Karena uang yang hilang itu uang negara, ia tak berani melaporkan kasus perampokan yang terjadi. Dan yeah, Inspektur Abdul Rojali dan Sersan P. Arbi memang berhasil menangkap perampok kwartet Mul dan uang 800 juta milik sebuah Koperasi Simpan Pinjam. Dan ketika kedua polisi merasa bangga keran telah menangkap perampok dan mengembalikan uang korban tanpa sedikipun menerima gratifikasi, 10 sekawan bingung dengan uang 18 miliar yang tidak mereka butuhkan itu. Meski uang dalam koper itu sangat menggiurkan, mereka sepakat tidak mau menggunakan uang haram itu dan memilih pinjam sana-sini untuk membiayai uang pendaftaran Aini kuliah di Fakultas Kedokteran. 

Lalu, bagaimana nasib uang 18 miliar tersebut? 

Pembacaku yang baik, silakan langkahkan kaki ke toko buku terdekat dan nikmati sajian novel jenaka yang diceritakan dengan bahasa yang biasa oleh Andrea Hirata tentang orang-orang biasa yang hidupnya biasa. Sebab, membaca kisah biasa dari orang-orang biasa ini, kita akan tahu caranya tertawa dengan jenaka, seperti keputusan 1o sekawan si perampok sekali saja seumur hidup mereka. 

Bandung, 12 April 2019

No comments:

Post a Comment