NUSRAT RAFI: Gadis Muda yang Melawan Kekerasan Seksual Hingga Nafas Terakhir

Ilustrasi dari foto Nusrat Rafi


"The teacher touched me. 
I will fight this crime till last breath." 

-Nusrat Jahan Rafi- 


Rasanya belum lepas ingatan tentang kisah Noura Husein, gadis yang dipaksa menikah oleh ayahnya dengan lelaki tua bangka dan diperkosa oleh suaminya sendiri dan malah dijebloskan ke penjara. Kini, kita dipaksa mendengar kisah pilu dari kota Dhaka, Bangladesh, di mana gadis muda bernama Nusrat Jahan Rafi meninggal dunia akibat luka bakar 80%. Pasalnya, Nusrat dengan berani melaporkan kepala sekolah tempat dia belajar atas tindakan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekolah.

Nusrat Jahan Rafi nama gadis itu. Ia berasal dari Feni, kota kecil berjarak 160 km di selatan Dhaka, ibukota Bangladesh. Sebagaimana gadis-gadis muda dari keluarga konservatif, Nusrat belajar di madrasah alias sekolah agama. Pada 27 Maret 2019 lalu, kepala sekolah tempatnya belajar memanggilnya ke ruangan. Di ruangan ini dengan secara tak senonoh sang guru menyentuh beberapa bagian tubuhnya. Sebelum segala sesuatunya menjadi lebih berbahaya, Nusrat memilih melarikan diri dari ruangan sang kepala sekolah. Kemudian melaporkan kejadian yang dialaminya kepada polisi setempat. 

BACA JUGA: Noura Hussein, Kisah Neraka Dunia Pernikahan Anak

Saat gadis muda itu melaporkan kejadian kekerasan seksual yang dialaminya, untuk meminta perlindungan, para polisi malah membuat video di mana mereka menggoda Nusrat untuk tidak menutupi wajahnya. Pada hari itu juga sang kepala sekolah ditangkap. Dan ditangkapnya sang kepala sekolah berbuntut panjang dan mengancam keamanan Nusrat sehingga membuat keluarganya khawatir akan keselamatannya. Mereka khawatir keberanian Nusrat berdampak buruk pada gadis itu. 

Mengetahui sang kepala sekolah ditangkap karena telah melakukan tindakan kekerasan seksual kepada Nusrat, orang-orang menuntut lelaki mesum itu dibebaskan. Orang-orang berkumpul di jalan-jalan menuntut sang kepala sekolah dibebaskan. Protes itu dikomandoi beberapa orang politisi lokal dan sekelompok pemuda. Mereka bahkan menyalahkan Nusrat atas kejadian yang menimpa sang guru. 

11 hari kemudian, yaitu pada 6 April 2019, Nusrat pergi ke sekolah untuk mengikuti ujian akhir dengan diantar kakak laki-lakinya, Mahmudul Hasan Noman. Sayangnya Hasan nggak bisa ikut masuk ke halaman sekolah karena dicegat pihak sekolah. Dan ternyata, sejumlah murid sudah merencanakan pembunuhan kepada Nusrat. Mereka menjebak Nusrat dengan memanggilnya ke atap gedung sekolah, mengatakan ada salah seorang teman mereka yang sedang dipukuli. Saat Nusrat sampai di atap, sejumlah rekan-rekannya yang menggunakan burqa menyalahkannya atas karena melaporkan sang kepala sekolah, lalu mereka menyiram kerosin ke tubuh Nusrat dan membakarnya hidup-hidup. 

Nusrat menderita luka bakar serius dan rumah sakit lokal tidak bisa menanganinya. Dalam perjalanan menuju Dhaka College Hospital, Nusrat menghembuskan nafas terakhirnya. Dalam keadaan sekarat, pada 10 April, ia mengatakan pesan terakhirnya:

"The teacher touched me. I will fight this crime till last breath."

Kematian Nusrat sontak mengguncang Bangladesh dan dunia. Meski seluruh tersangka sudah ditangkap polisi untuk diproses secara hukum, kematian gadis muda ini tetap memantik kemarahan dunia. Orang-orang memadati jalanan untuk memberi penghormatan terakhir kepada gadis pemberani tersebut, dan tentu saja membuat dunia maya heboh. 
Tangis pilu keluarga Nusrat (sumber: BBC)

Bagi negara konservatif seperti Bangladesh, keberanian Nusrat Rafi tentu menghentak kesadaran mereka yang selama ini memilih bungkam dan bersembunyi dibalik benteng ketakutan ketika mengalami kekerasan seksual. Dalam budaya yang mengedepankan kehormatan keluarga seperti Bangladesh, kasus kekerasan seksual memang sering dibebankan kepada korban alih-alih kepada pelaku.
Jalanan dipadati massa dalam protes atas kematian Nusrat (sumber: allthatinteresting.com)

Kematian Nusrat adalah contoh di mana korban kekerasan seksual mengalami victim blamming dari anggota masyarakat yang menganggap bahwa kehormatan seorang lelaki pelaku kekerasan seksual jauh lebih tinggi dibandingkan kehormatan sang korban. 
Protes di jalanan kota Dhaka atas kematian Nusrat Rafi (Sumber: Aljazeera.com)
Para gadis protes di jalan-jalan atas kematian Nusrat Rafi. (Sumber: www.standard co.uk)

Publik sangat marah atas kejadian ini. Mereka mereka bahkan menyatakan bahwa pemerintah gagal menegakkan hukum atas tindak kekerasan seksual. Memenuhi media di tentu saja di jalan-jalan. Para perempuan, lelaki, tua dan muda tumpah ruah menyuarakan protes atas kematian Nusrat akibat lemahnya hukum di Bangladesh, termasuk lemahnya perlindungan pada para korban kekerasan seksual. 

BACA JUGA: Indonesia Darurat Kekerasan Seksual

Dear Nusrat Rafi sayang, semoga Engkau kembali kepadaNya dengan tenang dan mendapat hadiah sebagai syuhada. Allah sang Pencipta sungguh Maha Adil dan dunia sepeninggalmu akan mengenangmu sebagai sang pemberani, dan kami akan melanjutkan perjuanganmu. 

Jakarta, 24 April 2019

6 comments

  1. Aku sempet baca berita ini sekilas di Twitter dan pilu banget dengan akhir hidupnya Nusrat ): nggak disangka ya era modern gini masih ada budaya seperti ini, namun harus kita akui keberanian Nusrat, dia memperjuangkan kebenaran. Semoga Nusrat tenang di sisi-Nya ya (:

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ngerinya adalah bahwa orang-orang disana itu gampang banget bakar orang macam bakar ubi

      Delete
  2. Innalillahi ... Aku baru baca berita ini, Mbak. Miris, ya. Nggak mengerti alasan apa yang bisa membuat pelaku kekerasan seksual malah dibebaskan begitu. Memangnya yang ikut mendukung nggak khawatir kalau anak-anaknya suatu ketika akan menjadi korban juga? Semoga Nusrat memperoleh tempat terbaik di sisiNya dan nggak ada lagi Nusrat-Nusrat berikutnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan saatnya kita lebih peduli dengan kasus-kasus kekerasan seksual di tanah air agar hal demikian nggak terjadi di negara kita.

      Delete
  3. Nyesek rasanya.. .
    Jangankan di Bangladesh, di Indonesia pun jika kita melaporkan suami yang melakukan marital rape, pihak kepolisian pasif dan bilang :bu, ngga kasihan ke bapaknya anak anak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sedih tak terkira. Betapa lemahnya kita kaum perempuan menghadapi kekuasaan kaum lelaki...

      Delete

follow me on instagram