Mata di Tanah Melus: Kisah Perjuangan dan Petualangan Memperjuangkan Identitas Manusia

Mata di Tanah Melus

"Kerumunan Terakhir" adalah novel karya Okky Madasari yang pertama kali kubaca. Novel yang bercerita tentang jebakan gegap gempita dunia maya itu sangat menarik dan kritis. Ya, karya-karya penulis Okky Madasari terkesan padat, kritis, dan sarkas. Dan tentu saja sejalan dengan fenomena sosial yang terjadi di tanah air. Namun ya, itu buku-buku yang hanya dapat dimengerti manusia dewasa. Sehingga, ketika penulis produktif ini menerbitkan buku anak, aku lumayan penasaran. Well, cerita macam apa yang akan disampaikan penulis cerita-cerita kritis dalam dunia remaja berusia 12 tahun?
 
Matara adalah gadis 12 tahun. Ibunya seorang penulis yang kritis dan terkesan cerewet. Ayahnya seorang jurnalis. Sebagaimana layaknya anak-anak yang hidup di daerah perkotaan, Matara suka main di mall dan memimpikan bisa liburan bersama kedua orangtuanya, sebagaimana teman-teman seusianya. Pada suatu hari, setelah pertengkaran hebat ayah dan ibunya yang punya banyak kaitan dengan uang, akhirnya Matara akan berangkat liburan selama liburan sekolah. Akhirnya liburan juga. 

BACA JUGA: Jejak Tumbai di Lampung

Matara dan ibunya mendarat di NTT, kemudian melanjutkan perjalanan menuju sebuah wilayah perbatasan Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Timor Leste. Sebagai penulis, Ibu Matara telah memiliki segudang rencana untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan sebagai bahan tulisan. Sementara Matara merasa sangat bosan dan kesal menjalani liburan yang tidak sesuai ekspektasinya. 

Ibu Matara menyewa sebuah mobil plus sopir untuk mengantarnya kemana-mana selama liburan. Dalam perjalanan, Matara si anak Jakarta mulai menikmati suasana berbeda ketika dilihatnya pemandangan alam perdesaan yang indah, dengan gerombolan sapi dibiarkan merumput di padang luas tanpa perlu dikandangi. Sampai kemudian sebuah musibah terjadi, saat mobil yang mereka kendarai tak sengaja menabrak seekor sapi yang entah mengapa tiba-tiba melintas di jalanan. Sapi itu mati. Dan gara-gara secara tak sengaja menabrak seekor sapi milik warga, Ibu Matara harus kehilangan uang sebesar 20 juta rupiah, sebagai ganti rugi atas sapi yang mati. Ibu Matara kesal bukan kelapang karena uang untuk biaya liburan habis begitu saja gara-gara seekor sapi. 
Ilustrasi, Matar dan teman barunya saat berjalan-jalan di pasar

Karena Ibu Matara kehabisan uang, maka mereka tidak bisa menyewa mobil dan sopir, dan harus sering-sering berjalan kaki. Dan pada suatu siang yang terik, sepasang ibu dan anak ini jalan-jalan ke pasar. Ibu Matara mengobrol dengan para ibu seputar kehidupan di kota Atambua dan Belu. Sementara Matara bertemu seorang remaja seusianya yang bernama Tania, dan mereka bermain bersama di pasar, memotret hal-hal yang menarik perhatiannya, sebagaimana layaknya seorang turis saat mengunjungi sebuah wilayah. Matara si anak kota penasaran dengan rumah teman barunya dan mereka memutuskan berjalan kaki menuju rumah si teman baru yang sesungguhnya rumahnya sangat jauh. Karena tak terbiasa berjalan jauh, Matara pingsan di tengah perjalanan. Dalam pingsannya itu Matara bermimpi diseruduk segerombolan sapi di tengah lapangan sampai ia ketakutan. 

Ternyata mimpi Matara diseruduk sapi bukanlah sembarang mimpi, sebab gadis remaja itu sudah memimpikannya sebanyak 3 kali. Ibunya Tania mengatakan bahwa mimpi yang dialami Matara merupakan sebuah pertanda kesialan sehingga Ibu Matara harus menjalani sebuah upacara adat, semacam upacara untuk membuang sial. Meski Ibu Matara tidak mempercahai hal-hal semacam itu, demi keselamatan Matara dan kelancaran penelitiannya, ia memilih untuk melakukan upacara sebagaimana disarankan oleh Ibunya Tania. Meski ya, Ibu Matara harus kembali mengeluarkan sejumlah uang. 

Upacara akan diadakan di sebuah tempat keramat bernama Ranu Pitu, dan perjalanan menuju kesana sulit sekali, sampai-sampai mobil yang mereka kendarai mengalami gangguan di tengah jalan. Demi melangsungkan upacara mereka harus berjalan kaki. Setelah mereka sampai di tempat keramat yang dimaksud, pemimpin upacara menyatakan kesimpulan yang dusebut sebagai jawaban desa: bahwa Matara dan ibunya harus kembali ke Jakarta. Jelas Ibu Matara menolak karena ia ke Atambua untuk urusan pekerjaan. Lagipula, ia telah mengeluarkan uang sangat banyak gara-gara menabrak sapi dan upacara. Karena kesal, ia mengajak Matara meninggalkan lokasi upacara dan kembali ke hotel. 
Hutan kaktus

Dalam perjalanan yang dipenuhi amarah tersebut, hujan turun, dan menjadi lebat. Saat berteduh di sebuah gubuk, Matara kembali bermimpi. Mimpinya kali ini aneh, di mana ia terbangun di sebuah padang rumput nan luas dan hijau. Di padang rumput itu ada sapi-sapi. Di padang rumput inilah Matara ditangkap oleh orang Melus dan dibawa ke kampung orang Melus, dan disekap di sebuah ranjang dari batu yang ditumpuk, didalam rumah berbentuk bundar dari kayu dengan atap jerami. 

Matara kemudian dituduh sebagai orang Bunag yang datang untuk memata-matai orang Melus, sehingga harus dibersihkan dalam upacara khusus dan dinobatkan sebagai orang Melus. Upacara akan dipimpin Ema Nain, pemimpin Melus. Karena Matara anak-anak maka ia tidak dibunuh, melainkan dilarang keluar dari tanah Melus. Meski ia berusaha melarikan diri, gadis itu tak mampu sampai akhirnya seorang anak lelaki bertama Atok muncul dan menolong Matara. Karena satu-satunya keinginan Matara adalah bertemu ibunya. Sebab Matara bukan orang Melus dan tidak ingin tinggal di Melus, melainkan ingin kembali ke Jakarta dan hidup bersama kedua orangtuanya. 

BACA JUGA: Kerumunan Terakhir dan Hasrat yang Menjebak

Dalam perjalanan melarikan diri dari tanah Melus, kedua bocah tersebut tersesat di kerajaan kupu-kupu. Mereka juga disandera dan dan diperlakukan sebagai calon penduduk kerajaan kupu-kupu yang hidupnya makmur dan abadi. Kata Ratu Kupu-Kupu, kedua bocah Matara dan Atok tak lama lagi akan memililki sayap yang cantik di punggung mereka. Tetapi Matara dan Etok menolak menjadi warga kerajaan kupu-kupu karena keduanya memiliki keluarga dan kampung halaman yang berbeda. 

Ratu kupu-kupu sangat baik sekaligus ambisius memberikan suaka kepada kedua bocah, seakan-akan hanya dengan menjadi warga kerajaan kupu-kupu kedua bocah akan bahagia dan melupakan identitas asli mereka sebagai manusia. Karena Matara dan Atok tidak ingin menjadi warga kerajaan kupu-kupu, mereka memilih melarikan diri dan terjebur di sebuah danau yang luas entah di mana. Dan mereka bertemu buaya. Matara ketakutan sekali menjadi mangsa buaya, karena ia sangat rindu bertemu ibunya. Tetapi rupanya Atok tahu cara menghindar dari terkaman buaya, yaitu dengan memanggil dewa buaya, Bei Nai. Dengan baik hati Bei Nai sang dewa buaya, menghalau buaya dan selamatlah kedua bocah.
Bei Nai sang dewa buaya

Dalam perjalanan entah ke mana, akhirnya Matara bertemu ibunya yang katanya telah kemana-mana mencari Matara yang hilang. Sang ibu rupanya bergabung dengan rombongan ilmuwan asing yang tertarik untuk melakukan penelitian tentang bangsa Melus yang tertutup dan kampungnya entah di mana rimbanya. Meski Matara dan Atok tahu di mana tanah Melus berada, tetapi mereka menutup mulut karena Atok tak ingin ada orang asing yang masuk ke kampungnya, entah untuk menghancurkan kampungnya atau mereka tak kembali karena harus dibunuh oleh orang Melus. 

SELAMANYA RUMAH DAN TEMPAT KEMBALI
Kisah dalam novel setebal 187 halaman ini dikemas dengan bahasa sederhana, khas remaja.  Namun, tetap saja pesan yang terkandung didalamnya sangat kuat dan kritis dengan caranya sendiri. Seperti tentang dinamika kehidupan berumah tangga, uang, pekerjaan, kejutan-kejutan hidup yang menyebalkan, orang-orang dengan hukum adat tertentu, orang-orang dengan kehidupan yang terasing dari dunia luar, kecurigaan kepada bangsa lain, keserakahan, kemakmuran dan kesepian, hingga tentang bertahan hidup. 

Cerita dalam novel ini memang terkesan seperti permainan lompat. Misal dari kenyataan melompat kepada imajinasi, lalu melompat pada mitos, lalu pada kenyataan lagi dan seterusnya sebagai sebuah lingkaran kehidupan. Hukum adat dan mitos memang masih dipelihara di negeri ini, dan yah kecurigaan antar suku masih melekat kok. 

Sebagai karya awal Okky Madasari dalam sastra anak, buku pertama dari trilogi ini sangat patut diapresiasi. Okky seperti sedang memberikan pelajaran penting kepada para remaja Indonesia tentang identitas, tentang keluarga, tentang persahabatan, tentang perbedaan hingga nilai-nilai lokal yang harus dihargai sebagai bangsa yang besar dan beragam budaya. 

Bandung, 15 April 2019


0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram