BOIKOT RUMAH MAKAN PADANG DEMI KEPENTINGAN POLITIK? SORRY, NO WAY!

Menu di Restoran Padang yang menggoda (Sumber: The Hungry Doctor)


Alun rabah lah ka ujuang (Belum rebah sudah keujung)
Alun pai lah babaliak (Belum pergi sudah kembali)
Alun di bali lah bajua (Belum dibeli sudah dijual)
Alun dimakan lah taraso (Belum dimakan sudah terasa)

-Pepatah Minang tentang visi dan misi dalam menjalani hidup-

Ramai isu soal "Boikot Warung Padang" paska pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 17 April 2019 lalu membuatku tergelitik untuk menulis, karena aku salah satu penggemar masakan asal Sumatera Barat itu. Pasalnya adalah di Sumatera Barat, suara pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Nomor urut 01 yaitu Joko Widodo dan Ma'ruf Amin, kalah telak dari pasangan Prabowo Subianto dan Sandiaga Salahudin Uno. Jadi, pasangan Prabowo-Sandi menang telak di Sumatera Barat yaitu sebesar 86,63% dibandingkan pasangan Jokowi-Ma'ruf dengan perolehan suara sebesar 13,37% versi Hitung Cepat alias Quick Count (QC) yang diributkan itu lho.

Padahal, Jokowi sendiri yang perolehan suaranya sangat sedikit di Sumatera Barat, justru menunjukkan gestur bahwa jika kembali berkuasa ia tak akan melupakan warganya si Sumatera Barat. Gestur politik yang ia tunjukkan adalah dengan makan di sebuah RM Padang bersama tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf, cara menunjukkan bahwa dia tidak akan menganaktirikan warga negara yang tidak memilihnya.  Bahkan nih, sebelum debat putaran ke 4 pada berlangsung, Jokowi dan keluarganya malah makan bersama di sebuah RM Padang, meskipun secara politik itu merupakan kode bahwa orang di Sumatera Barat sebaiknya memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf pada Pemilu 2019.
Berbagai berita di media massa mengenai isu "Boikot Rumah Makan Padang"

Gara-gara itu, rupanya pendukung pasangan Jokowi-Ma'ruf tidak terima.  Mereka menganggap orang di Sumatera Barat sana nggak tahu balas budi atas apa yang dilakukan Jokowi selama menjabat sebagai Presiden sejak 2014 silam. Nah, untuk memberi pelajaran kepada orang-orang di Sumatera Barat yang tidak memilih pasangan Jokowi-Ma'ruf, padahal secara QC mereka dinyatakan unggul daripada Prabowo-Sandiaga, sejumlah netizen menyarankan untuk melakukan boikot terhadap RM Padang.

Hmmm, memangnya sanggup ya tidak makan masakan Padang yang lezat itu? 

SELAYANG PANDANG RM PADANG
Tidak ada yang tahu persisnya mengapa Rumah Makan yang didirikan oleh orang-orang dari Sumatera Barat itu disebut RM Padang, sebab Padang adalah nama ibukota provinsi Sumatera Barat. Dan di kota Padang maupun seantero Sumatera Barat nggak ada tuh yang namanya RM Padang. Kalau kita main ke Sumatera Barat dan menanyakan orang sana di mana letak RM Padang pasti mereka malah bingung. Lagian sebagian besar pengusaha RM Padang berasal dari wilayah Agam, Lima Puluh Koto, Pariaman dan Tanah Datar, yang masing-masing masakannya memiliki ciri khas dibandingkan wilayah lain. 
Tentang RM Padang kesayangan kita semua (Sumber: Tirto.id)

Hm, soal asal-usul RM Padang dan penamaannya yang fenomenal itu, bisa dipelajari DISINI. Kabarnya, RM Padang ini sudah eksis sejak 100 tahun silam, saat wilayah Indonesia masih dalam kekuasaan Belanda. Pada waktu itu, cikal bakal RM Padang hanyalah sebuah kedai makan alias warung tenda sederhana di Bukittinggi.  Ya maklum lah, kan masih zaman penjajahan. 
Kedai makan di Bukittinggi sebagai cikal bakal RM Padang (Sumber: saribundo)

JADI KAH KITA BOIKOT RM PADANG? 
Sebagai seorang yang cukup menggemari masakan Padang dan sering makan di RM Padang, aku sih menolak melakukan boikot RM Padang, meskipun di pemilu kali ini aku Golput alias tidak menggunakan suaraku untuk memilih. Alasannya sederhana saja: bahwa hak warga Sumatera Barat untuk menentukan pilihannya  atas Capres dan Cawapres di Pemilu 2019 sama sekali nggak ada hubungannya dengan usaha RM Padang yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Oh, NO WAY!

Bolehlah dibilang kalau RM Padang itu sebagai "PEMADAM KELAPARAN" bagi banyak warga negara Indonesia karena ada dimana-masa, meskipun rasa masakannya sudah tidak murni sebagaimana rasa di daerah asalnya, yaitu Sumatera Barat. "NASI PADANG" sebagaimana ia disebut secara sederhana, merupakan jenis makanan yang akrab dengan keseharian orang Indonesia, yang biasanya sering muncul di banyak kegiatan makan-makan, mulai dari menu makan siang kegiatan kemahasiswaan di kampus-kampus, menu makan siang saat meeting di kantor-kantor pemerintahn, menu makan siang di pertemuan Organisasi Non Pemerintah alias NGO, dan yah di banyak acara kerakyatan lainnya di negeri ini. 

BACA JUGA: Seruit, Sambal Khas Lampung Lezat Memikat

Jadi, gerakan boikot seheroik apapun terhadap RM Padang tidak akan pernah mempan. Penggemar masakan Padang kukira lebih fanatik daripada pemilih Capres-Cawapres di Pemilu yang hanya 5 tahun sekali. Sementara "Nasi Padang" mah tersedia sepanjang tahun dan siapapun boleh menikmatinya, nggak kenal suku, bangsa, agama. Siapa lapar, punya uang silakan makan sesukanya di RM Padang. Bisa pula makan ditempat, dibungkus atau dibuat nasi kotak. Dan yah, kita tahu sama tahu lah kalau masakan Padang itu enak, nagih dan tidak akan pernah bisa ditinggalkan sebagaimana mantan meninggalkan kita.
Rendang si makanan terenak Nomor 1 di dunia (Sumber: Okezone)

Lagipula, sangat kekanak-kanakkan jika demi kepentingan politik kita harus melakukan boikot RM Padang, yang merupakan salah satu sumber rezeki sejumlah anak negeri. Bicara RM Padang bukan hanya menyoal Rumah Makan sebagai sebuah tempat makan, melainkan banyak sekali hal terkait segala sesuatu yang ada di dalam RM padang. Mulai dari petani, nelayan dan peternak si penyedia bahan mentah; pedang di pasar-pasar sebagai bagian dari rantai distribusi bahan pangan; pekerja di RM Padang mulai dari koki, tukang bersih-bersih, tukang ulek bumbu, kasir, hingga pelayan RM; penjual plastik, kertas nasi, kotak makanan, karet gelang, tisu, hingga pabrik Teh Botol. Kalau RM Padang diboikot, akan banyak sekali pengangguran di negeri ini yang semakin menambah runyam masalah perekonomian bangsa yang dengan susah payah dibangun bersama. Iya, khannnn?
Seporsi Nasi Kapau yang menggoda (Sumber: ksmtour.com)

Pembaca mungkin akan setuju denganku bahwa masakan khas Sumatera Barat ini, yang tentu saja jika dimasak di wilayah non-Sumatera Barat sudah dimodifikasi agar sesuai lidah orang Indonesia, merupakan jenis makanan yang tidak bisa dilupakan kegitu saja. Perpaduan aneka rempah yang sangat banyak jenisnya, membuat masakan ini berbeda dengan masakan khas wilayah lain di tanah air. Meski banyak Warung Tegal khas Jawa Tengah, atau Angkringan khas Jogja, atau Warung khas Sunda, atau RM khas masakan Melayu atau Manado sekalipun: masakan Padang tak terkalahkan. 

BACA JUGA: Bertani Organik Mudah dan Murah Ala Hars Garden

Nasi Padang adalah makanan bagi bangsa ini, yang menunjukkan betapa Indonesia merupakan negara yang kaya bahan pangan, citarasa masakan, hingga budaya makan. Melakukan boikot atas karya anak bangsa yang merupakan warisan budaya ini merupakan sebuah kebodohan. Sebab bagiku, aku tak akan pernah melakukan kejahatan apapun yang menentang keagungan Nasi Padang hingga akhir hayatku. 

Depok, 30 April 2019

No comments:

Post a Comment