Memories of the Alhambra, Menikmati Keindahan Kota Granada Melalui Augmented Reality Game

Park Shin Hye sebagai Emma, karakter istimewa dalam augmented reality (AR) game yang menjadi inti cerita di drama Korea berjudul "Memories of the Alhambra" yang ditayangkan TVN (Sumber: sheblinks.com)

Setelah addicted dengan drama Korea, aku off sekitar satu tahun. Lagi males aja nonton Drama Korea dan aku lebih banyak menghabiskan jatah nonton dengan menikmati sejumlah reality show di Youtube. Soalnya tricky juga milih drama yang bagus buat dinikmati, karena sebagian besar drama Korea itu memiliki episode panjang antara 20-80an. Kan capek nontonnya karena ngabisin waktu. Eh di Facebook pada ribut soal "Memories of the Alhambra" yang tayang sejak Desember 2018. Kepincut juga, ya udah akhirnya nonton deh. Benar kalau drama ini berkualitas sejak episode pertama.

Drama dibuka dengan keresahan seorang pemuda tampan bernama Jung Se-Joo (Chanyeol-EXO) yang menelepon seseorang bernama Yoon Jin-Woo (Hyun Bin) melalui telepon umum di pusat keramaian kota Barcelona. Intinya, dia meminta agar Yoon Jin-Woo menemuinya di kota Granada, di sebuah tempat bernama Hostal Bonita. Sebelum lawan bicaranya memastikan mengenal siapa si penelpon asing di malam buta, Se-Joo terbirit-birit seperti dikejar hantu. Lelaki muda itu terus berlari hingga menabrak orang-orang, sampai akhirnya tiba di stasiun dan memasuki sebuah kereta yang akan berangkat ke Granada. Tapi eh, pas tiba di Granada nih orang ditembak trus menghilang bagai ditiup angin. 

Meski bingung, Yoo Jin-Woo akhirnya berangkat juga ke Granada dan muncul secara mengagetkan pemilik Hostal Bonita, Jung He-Joo (Park Shin Hye) seorang perempuan muda berdarah Korea. Yah maklum aja, dia tiba di malam buta saat jam tidur. Hostal Bonita sendiri merupakan penginapan tua enam lantai yang sudah tidak terlalu dirawat, tidak memiliki lift, rusak disana-sini dan fasilitasnya sangat tidak memadai untuk siapapun yang berasal dari kalangan kelas. 
Pertemuan pertama Jin-Woo dan He-Joo. Lokasi syutingnya adalah di sebuah rumah di kawasan tua Girona, Spanyol dan merupakan kawasan pemukiman komunitas otonom Spanyol Catalonia (Sumber: straitstimes.com)

Bagi Yoo Jin-Woo kota Granada sangat istimewa. Karenanya pada dini hari menjelang fajar, dia berjalan kaki sendirian hingga tiba di satu lokasi tempat berdirinya patung seorang pahlawan dari masa lampau. Trus, tiba-tiba aja terjadi sebuah ledakan di gunung dan muncul seorang ksatria dari zaman dulu dengan menunggang kuda, dalam keadaan terpanah di bagian punggung, lalu ambruk. Tak lama kemudian, di patung ksatria hidup dan melompat ke arah Yoon Jin-Woo untuk menghajarnya. Karena Jin-Woo tidak memiliki senjata, maka ia dipastikan kalah dalam pertarungan, sehingga ia harus berjalan ke sebuah restoran di mana senjata pertamanya bisa ditemukan, di sebuah toilet. Sepanjang subuh sampai pagi hari dia mengulang-ulang terus pertarungannya dengan si pahlawan sampai-sampai orang-orang mengira dia sudah gila.

Sebagai penonton kan aku dibuat bingung. Apaan nih? Ternyata, dalam adegan Jin-Woo mengontak seseorang di Korea, barulah ketahuan bahwa ia sedang bermain game berjenis Augmented Reality (AR). Btw, ternyata tokoh yang jadi musuh di episode pertama ini adalah prajuritnya Aragon dan Nashri dari Granada, yang diambil dari kisah perang Granada pada tahun 1482-1492 antara Ratu Isabella dan Raja Ferdinand II dari Aragon dan Banu Nashri sebagai penguasa Granada.

Untuk mengikuti permainan ini, diharuskan menggunakan kontak lensa khusus dan memiliki sebuah akun. Dalam game ini, Jin-Woo memiliki akun bernama Zinu dan ia berharap segera bertemu dengan si pemuda pembuat game untuk melakukan kerjasama di bidang investasi bisnis gaming. Jin-Woo sendiri merupakan seorang CEO di sebuah perusahaan investasi bernama J-One yang sangat terkenal di Korea Selatan. Dan dia ingin bertemu dengan si pembuat game

Selama menunggu kemunculan si pembuat game, yang sebenarnya adalah Se-Joo yang menghilang, Jin-Woo melakukan berbagai analisa dengan meningkatkan levelnya saat bermain game, seperti bertujuan untuk mengumpulkan koin emas yang bisa digunakan untuk membeli senjata terbaik. Pada suatu hari, ketika ia telah menyelesaikan satu level, ia berteduh di bawah kanopi sebuah kafe dan turunlah gerimis. Tapi dia merasa heran karena orang lain selain dirinya asyik saja berjalan-jalan seakan-akan tidak terjadi gerimis. Disinilah ia kemudian paham bahwa game ini sungguh ajaib dan mengagumkan, yang menggandeng dunia dalam game dan dunia realita berjalan bersamaan.  

Ia juga kemudian tersadar bahwa dalam dunia game, kafe yang ada dihadapannya adalah sebuah kafe juga, namun memiliki fungsi yang lebih. Saat masuk ke kafe, tiba-tiba suasana kafe di dunia nyata berubah menjadi suasana kafe di dunia game. Jin-Woo melihat berbagai jenis orang termasuk perompak dari masa lampau. Meski penasaran, ia tak bisa bergabung dengan kumpulan perompak itu karena levelnya masih rendah. Saat itulah terdengar petikan gitar yang sangat merdu, yang dimainkan oleh seorang perempuan berkerudung merah yang sangat menawan.  Ia terkesima, karena gadis itu sangat mirip dengan He-Joo si pemilik Hostal Bonita.
Momen ketika pertama kalinya Jin-Woo bertemu dengan karakter game bernama Emma yang memainkan "Memories of the Alhambra" yang sangat menawan dan memikat hatinya. Lokasi syutingnya di Kafe Alcazaba yang sebenarnya terletak di Slovenia (Sumber: straitstimes.com)

Dalam momen inilah penonton pertama kali diperdengarkan alunan "Memories of the Alhambra" yang diciptakan seorang musisi klasik asal Spanyol bernama Francisco Tarrega. Aslinya, lagu ini berjudul "Recuerdos de la Alhambra"  yang diciptakan pada tahun 1896. Lagu ini dimainkan dengan dengan instrumen utama gitar klasik dan terdengar sangat indah (baca DISINI). Dan Emma merupakan karakter game yang diciptakan dengan fungsi khusus yang akan segera penonton ketahui jika terus menonton hingga episode terakhir. Dalm drama ini, alunan "Memories of the Alhambra" menjadi penanda kehadiran musuh abadi bagi Zinu yang kemudian membawanya pada kenyataan pahit di dunia nyata.

Satu waktu saat Jin-Woo melatih kemampuannya sebagai Zinu, ia melihat ada user lain dan ia memutuskan untuk bertarung dengannya. Setelah berkendara sekian kilometer yang dipandu oleh GPS dalam game, ia bertemu si sosok user bernama Dr. Cha yang ternyata merupakan musuh bebuyutannya sendiri, yaitu Cha Hyun-Seok. Rupanya, Hyun-Seok adalah mantan sahabatnya dan mereka berdua pernah dikenal sebagai dua CEO cemerlang dalam perusahaan gaming yang kemudian tercerai berai gara-gara urusan perempuan bernama Su-Jin. Jadi, Su-Jin ini seorang dokter, mantan istri Jin-Woo yang ketika masih berstatus sebagai istri Jin-Woo selingkuh dengan Hyun-Seok. Sialnya, dalam pencarian Jin-Woo pada Se-Joo di stasiun Granada, ia bertemu dengan Su-Jin yang tengah mengandung anak hasil pernikahannya dengan Hyun-Seok. 

Nah, ketika melakukan pencarian atas Se-Joo, si tampan Jin-Woo akhirnya tahu fakta bahwa sebenarnya Se-Joo akan menjual game yang dibuatnya pada Cha Hyun-Seok seharga 10 miliar, dan semua itu atas nama Hostal Bonita. Disitu juga baru ketahuan bahwa ternyata He-Joo merupakan kakak kandung Se-Joo yang menghilang. Dulu, keluarga He-Joo pindah ke Spanyol karena Ayah mereka ingin He-Joo melanjutkan pendidikan di sekolah musik agar bakatnya memainkan gitar klasik semakin berkembang. Sayangnya tak lama setelah tinggal di Spanyol dan membuka Hostal Bonita, kedua orangtua mereka meninggal dan menyebabkan He-Joo putus sekolah dan menjadi kepala rumah tangga. Mengetahui hal itu, maka Jin-Woo langsung menawarkan harga 10 miliar kepada He-Joo untuk membeli Hostal Bonita, yang sebenarnya ia membeli game Se-Joo daripada dibeli Cha Hyun-Seok. Jadilah He-Joo kaya mendadak.

Konflik diantara kedua pemuda ini berlanjut ke game. Bertarunglah mereka berdua sampai berdarah-darah. Dalam pertarungan itu, Zinu membunuh Dr. Cha. Sialnya, dua jam setelah pertarungan usai Hyun-Seok mati beneran di lokasi ia bertarung dengan Jin-Woo. Maka bingunglah Jin-Woo kenapa bisa Hyun-Seok mati. Apa mungkin game yang ia mainkan menjadi begitu berbahaya sehingga kematian di dunia game juga menyebabkan kematian yang sama di dunia nyata? Masuk akal juga sih, karena secara gamblang drama ini menampilkan bagaimana sosok di dunia nyata bisa merasakan sakit luar biasa di sekujur tubuhnya meski luka-luka itu sebenarnya diperoleh oleh karakter dalam game

Anehnya, pas Jin-Woo sedang bersiap istirahat dan sudah melepaskan lensa kontak, ia mendengar gelagar petir, hujan dan alunan "Memories of the Alhambra" saat terdengar ketukan di pintu. Saat membuka pintu, ia melihat sosok Dr. Cha yang mengenakan setelan jas hitam, berdarah-darah sembari membawa pedang menunggunya di depan pintu, sama seperti keadannya ketika ia meninggal di game dan di dunia nyata. Jin-Woo kaget dong kok bisa Dr. Cha masih hidup padahal ia sudah membunuhnya. Anehnya lagi, bagaimana Jin-Woo bisa masuk ke dunia game sementara ia telah melepaskan lensa kontaknya. Serem banget kan?

Trus mereka bertarung lagi sampai keadaan Jin-Woo/Zinu terdesak. Karena ia tidak siap bertarung dan mendapatan banyak luka akibat keganasan Dr. Cha, Jin-Woo jatuh dari lantai 6 ke lantai dasar yang mengagetkan seluruh penghuni Hostal Bonita, khususnya He-Joo. Nah, pas dirawat di rumah sakit dan dalam keadaan nggak pake lensa kontak, Jin-Woo tetap hidup di dua dunia, yaitu sebagai Zinu di dunia game dan Jin-Woo di dunia nyata. Trus, karakter Dr. Cha yang udah dibunuh berkali-kali tetap aja hidup dan membuntutinya. Seakan-akan karakater yang udah mati dalam game ini merupakan sosok imortal dan jadi zombie. Dari sinilah dimulai scene di mana dalam keadaan sakit parah, Jin-Woo harus juga bertahan hidup dari serangan Dr. Cha yang bisa datang sewaktu-waktu, di mana saja dan kapan saja, semaunya. Kedatangan Dr. Cha ditandai dengan petir menggelegar di langit, hujan dan alunan "Memories of the Alhambra." 

Sebagai penonton, kita didoktrin sama drama ini bahwa ketiga hal tersebut, bahkan alunan musik klasik tersebut menjadi suatu penanda kedatangan musuh yang siap membunuh. Gara-gara game ini pula, orang-orang diperusahaan J-One mengira bahwa Jin-Woo mengalami gangguan mental, padahal aslinya dia dikejar terus sama sosok Dr. Cha dengan pedang terhunus. Bahkan ia dikirim ke Amerika untuk menjalani perawatan intensif. Dan gilanya, si Dr. Cha mengejar Zinu sampai Amerika sehingga asisten Jin-Woo memutuskan untuk membuat akun dan ikut main di game dan mereka berdua membangun aliansi. Sumpah, menurutku Game ini mengerikan sekaligus menakjubkan!

Nah, waktu Jin-Woo dirawat di Amerika dan He-Joo pindah ke Korea, tokoh Se-Joo belum juga ditemukan dan menghilang. Jin-Woo aja kebingungan karena pemuda itu menghilang tanpa jejak sementara rekannya bernama Marco meninggal dunia dan jasadnya ditemukan di tengah hutan. Jin-Woo bahkan harus berbohong pada He-Joo soal Se-Joo untuk memecahkan teka-teki tersebut yang menurutnya ada hubungannya dengan game yang sedang ia mainkan. Dan kengerian berlanjut ketika Jin-Woo dan sekretarisnya melakukan perjalanan ke Granada untuk menemukan jejak Se-Joo yang berakhir pada kematian sekretarisnya, yang dalam game diserang habis-habisan oleh pasukan musuh yang jumlahnya berlipat ganda. Sementara Jin-Woo melanjutkan perjalanan ke Istana Al-Hambra mengikuti petunjuk dalam game yang ia kira disanalah Se-Joo disekap atau mengasingkan diri dalam dunia game, meksi akhirnya Jin-Woo hampir mati karena kelelahan menghadapi para zombie dari dunia masa lampau yang menjadi musuhnya. 

Kematian sekretarisnya membuat Jin-Woo dipecat sebagai CEO karena membuat citra perusahaan memburuk. Ia juga terancam dipenjara karena ayah mendiang Chan Hyun-Seok meminta polisi melakukan investigasi ulang atas kematian anaknya, dan ia curiga bahwa Hyun Seok dibunuh oleh Jin-Woo karena dendam pribadi yang berkaitan dengan Su-Jin. Dalam proses ini, Jin-Woo terus meningkatkan kemampuannya dalam bermain game hingga levelnya sudah ada di angka 90. Dengan level demikian ia memiliki banyak sekali senjata keren dan dapat masuk ke wilayah dengan musuh level tinggi. Ia juga kemudian menantang Professor Cha untuk membuat akun dan masuk ke dalam game
Salam dari Emma (Sumber: sheblink.com)

Nah, akhirnya Professor Cha ketakutan sendiri pada karakter Dr. Cha dalam game yang selama ini selalu mengejar Jin-Woo hingga dunia nyata lelaki itu ikut berantakan.  Sampai pada suatu hari, Professor Cha mati setelah karakternya dalam game dibunuh oleh Dr. Cha dan Jin Woo kembali berjuang sendiri menjawa teka-teki mengapa Dr. Cha masih hidup meski telah ia bunuh ratusan kali. Trus, pas Zinu udah sampai level 100 ia berhasil mengakses Emma yang ternyata berfungsi untuk membunuh bug dalam game. Nah, baru ketahuan bahwa status Dr. Cha, Pofessor Cha, Sekretaris Jin-Woo dan Zinu sendiri merupakan bug yang mengacaukan game sehingga harus dibunuh oleh Emma agar game dapat direset secara otomatis. 

Nah, pas semua bug ini berhasil dibunuh Zinu, eh ternyata dalam dunia nyata sosok Jin-Wo menghilang, sementara Se-Joo kembali. Kan aneh ya? Bahkan sampai setahun lamanya nggak seorang pun tahu dimana sosok Jin-Woo berada. Kematian 4 bugs merubah banyak hal dalam game, sehingga game resmi diluncurkan dan diminati publik. Trus Se-Joo yang introvert dan sangat pemalu diberikan pekerjaan sebagai programmer di perusahaan J-One dan disambut penggemarnya dengan antusias. Yah, kalau yang nggak punya akun sih bakal melihat mereka yang main game ini di ruang publik seperti orang gila, sebab keajaiban dunia memang hanya bisa dilihat dan dinikmati oleh para pemilik akun dengan terlebih dahulu membeli lensa kontak dari perusahaan J-One.  

Trus, Jin-Woo ada di mana? Dalam drama ini sih ada di istana di Seoul sebagai master dari game ini, yang menolong gamer lain dari musuh yang tidak bisa mereka lawan. Ia tidak memiliki nama maupun akun.

AUGMENTED REALITY (AR) GAME
Pembaca mungkin masih ingat ketenaran Pokemon Go, sebuah game dengan teknologi AR yang sempat menghebohkan dunia. Nah, drama ini juga semacam itu lah, cuma disini musuh-musuhnya khusus orang-orang dari masa lampau sehingga percampuran orang-orang dengan jenis fesyen berbeda menjadi keunikan tersendiri. Misalnya, saat scene ada di Granada maka musuh-musuhnya ya berpakaian khas Eropa abad pertengahan dengan baju zirah, pedang nan keren dan kuda. Sementara kalau di Seoul, maka musuh-musuhnya memakai pakaian khas dinasti Joseon. Lalu ketika si pemilik akun levelnya udah tinggi dan masuk ke zona bahaya, maka musuhnya adalah para teroris dengan pakaian serba hitam dan senjata modern nan mematikan. 

Secara sederhana teknologi AR ini menggabungkan benda maya dua dimensi atau tiga dimensi ke dalam lingkungan nyata tiga dimensi, kemudian memproyeksikan benda-benda maya tersebut ke dalam waktu nyata. Jadi, seakan-akan segala hal yang ada dalam dunia maya menyatu kedalam dunia nyata dan menjadi tambahan hal-hal yang telah ada di dunia nyata. Teknologi AR ini sebenarnya telah di digunakan di bidang kesehatan, militer, industri manufaktur, dan telah diaplikasi di berbagai perangkat seperti telepon genggam (baca DISINI)

Drama yang hanya tayang sebanyak 16 episode ini sama sekali nggak membosankan dan beda dengan drama romantis khas K-Drama lainnya, karena benar-benar fokus ke game. Kalau ada percintaan dan lain-lain sepertinya hanya sekadar pemanis saja. Sebab, hal yang memang menjadi pusat perhatian adalah game itu sendiri, seperti kok si Dr. Cha jadi imortal padahal baik di dunia game maupun di dunia nyata kan orangnya udah mati. Logikanya kan kalau si pemilik akun udah mati maka si akun nggak ada yang mengoperasikan.
Sebuah toilet di cafe La Terre yang menjadi lokasi syuting saat Jin-Woo sebagai Zinu menemukan senjata pertamanya, yaitu sebuah pedang yang tiba-tiba muncul dari atap toilet haha.

Nah, ternyata bukan aku aja yang penasaran kenapa Dr. Cha jadi zombie menakutkan. Dalam cerita, si pemeran utama alias Jin-Woo juga kebingungan kenapa Dr. Cha jadi imortal yang nguntin Zinu aka Jin-Woo kemanapun dia pergi, kecuali kalau tidur pulas bagai mayat. Masalahnya nggak ada yang percaya bahwa Dr. Cha imortal kecuali orang-orang yang mengatakan Jin-Woo sakit jiwa itu punya akun dan main game bareng Jin-Woo sebagai aliansi Zinu. Sepajang nonton drama ini aku kepikiran banget kok bisa ya game-nya jadi mengerikan.  Barulah pas ketemu Emma, si karakter Zinu akhirnya tahu kalau karakter imortal merupakan bug yang hanya bisa dihapus oleh Emma. 

Trus, yang bikin aku penasaran adalah: setelah lensa kontak alias si smart lens dilepas, kok masih bisa main game ya. Karena dalam banyak scene, Zinu tiba-tiba kedatangan Dr. Cha bahkan setelah smart lens dilepas dari matanya.  Saking kewalahan menghadapi Dr. Cha, Zinu bahkan terus-terusan mengonsumsi obat tidur karena hanya dalam keadaan tidur dia tidak sama sekali diserang oleh musuh dari dunia game. Tapi, sampai episode terakhir aku nggak mendapatkan jawaban atas pertanyaan ini. Sungguh aneh...
Hercules Fountain di Ljubljana di kota Slovenia, meskipun dalam cerita lokasi ini ada di Granada. Ini lokasi ujicoba game oleh Jin-Woo ketika sebagai karakter Zinu ia melawan sosok ksatria yang melompat dari puncak Hercules Fountain (sumber: idntimes.com)


MENIKMATI KEINDAHAN GRANADA
Akhir-akhir ini, sejumlah drama Korea memancing minat penonton internasional dengan mengambil sebagian lokasi syuting di luar negeri. "Memories of the Alhambra" memilih kota Granada dan menjadikan satu judul musik klasik sebagai judul drama. Alhasil, drama ini membuat penonton sepertiku jadi tahu ternyata ada lagu klasik yang begitu manis bernama "Memories of the Alhambra" dan tentu saja membuat keinginan mengunjungi kota Granada makin menggebu.

Drama ini menampilkan kota tua Granada melalui bangunan tua yang menjadi lokasi Hostal Bonita, khas dengan tangga unik, bangunan-bangunan tinggi berdempetan, kafe-kafe, jalanan, toko bunga, gang-gang sempit tapi bersih dan sangat indah untuk dijadikan objek fotografi. Termasuk, scene ketika He-Joo menjadi pemandu wisata khusus wisatawan dari Korea yang berkunjung ke istana Alhambra. Bahkan, kemampuan berbahasa Spanyol Park Shin Hye sangat mengesankan seakan-akan ia benar-benar telah tinggal di Granada sejak kecil. 
Istana Alhambra, tempat syuting ketika He-Joo menjadi pemandu wisata dan ketika Jin-Woo berusaha menemukan Se-Joo di sebuah penjara bawah tanah yang terlarang dikunjungi wisatawan (sumber: idntimes.com)
San Miguel Alto Shrine, titik tertinggi di Granada yang jadi lokasi pertemuan antara Jin-Woo sebagai Zinu dan Cha Hyun-Seok sebagai Dr. Cha (sumber: qupas.id)
Calle Caldereria Nueva, lokasi wisata populer di Distrik Albaicin, Spanyol. Di lokasi ini Jin-Woo tergesa-gesa buat nyari senjata (sumber: qupas.id)

Mendengarkan "Memories of the Alhambra" rasanya tenang  dan membuat ingin mengunjungi istana Alhambra yang pernah menjadi pusat kebudayaan Islam di Spanyol sebelum penguasanya kala itu menyerahkan Alhambra pada Ratu Isabella. Tapi, gara-gara drama Korea ini mendengarkannya malah jadi teringat scene ketika Dr. Cha yang imortal mengunjungi Zinu dan siap menyerangnya kapan saja dan di mana saja. Kupikir, scene gemuruh di langit, hujan dan alunan "Memories of the Alhambra" menjadi hal yang paling diingat menonton terhadap drama ini.

Jadi, mari menabung supaya bisa jalan-jalan ke Granada untuk menikmati keindahan kota tua tersebut, sekaligus belajar musik klasik. Btw, karena lokasi syutingnya ternyata nggak hanya di Granada, Spanyol, melainkan juga di Slovenia dan Hungaria, maka mungkin pembacaku harus menabung lebih rajin agar bisa jalan-jalan ke negara-negara tersebut.

Depok, 9 Februari 2019


0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram

My Books

# # #