Kepada Perempuan Korowai, Kita Belajar Tentang Makna Perkasa dan Setara dari Hutan Hujan Papua

Buku yang secara renyah bercerita tentang Perempuan Korowai


"A women is like a tea bag. 
You can't tell how strong she is 
until you put her in hot water" 

- Eleanor Roosevelt -



KOROWAI. Apa yang pembaca ketahui tentang Korowai? Ya, bagi sebagian besar warga negara Indonesia nama ini memang lumayan asing, kecuali paska pemberitaan besar-besaran tahun 2017 silam. Jadi, Korowai adalah salah satu suku di pedalaman Papua yang populasinya berjumlah sekitar 3.000 orang dan baru ditemukan 30an tahun silam (baca DISINI). Beberapa media memberitakan mereka sebagai suku kanibal alias pemakan manusia dan tinggal di rumah pohon yang tingginya mencapai 50 meter (baca DISINI). Meski sebenarnya praktek kanibalisme memang terjadi di masa prasejarah, dan biasanya untuk menghukum orang yang dianggap sebagai penyihir yang merusak ketenangan hidup komunitas, dan hal demikian banyak dilakukan di berbagai suku pedalaman, di masa lampau (baca DISINIDISINI). 

BACA JUGA: Ke Klaten, Perjalanan Mendebarkan Melihat Sumber Air Purba Berusia 1500 tahun 

Kalau kita menggunakan kata kunci "Korowai" atau "Perempuan Korowai" di mesin pencari Google, maka sejumlah judul berikut yang akan tampil. Beberapa diantaranya soal praktek kanibalisme, rumah pohon, dan hal lain yang berkonotasi kelam. Dan mungkin, pandangan sebagian kita terhadap suku ini termasuk merendahkan dan mengasihani. Meskipun sebenarnya melalui kacamata Antropologi, segala yang tersaji dalam kehidupan mereka justru akan mengantarkan kita pada pengetahuan mendalam tentang suku-suku yang mendiami wilayah nusantara secara etnisitas (bukan Indonesia sebagai bentuk negara). Dan mudah-mudahan saja tulisanku membantu keingintahuan pembaca.
Hasil pencarian tentang Korowai dan perempuan Korowai di Google dengan beberapa judul yang membuat geregetan

Bulan Februari lalu, aku menghadiri acara bedah buku tentang perempuan Korowai yang ditulis oleh seorang perempuan Papua-Jawa bernama Rhidian Yasiminta Wasaraka, yang didukung oleh Cipta Media Ekspresi dan the Ford Foundation. Bedah buku kali ini unik, karena juga menghadirkan pameran foto yang berlokasi di selasar sebuah gedung di lingkungan FISIP UI, Depok. Pameran tersebut menampilkan sejumlah foto tentang kehidupan sehari-hari orang Korowai, sebagaimana digambarkan di dalam buku yang full color dan kudapatkan secara gratis.
Foto dulu dong di lokasi pameran, karena kegiatan ini merupakan pembelajaran yang sangat berharga bagiku sebagai perempuan dan tentu saja warga negara Indonesia. Foto: N, mahasiswi UI

Oh ya, menghadiri kegiatan semacam ini disela-sela kesibukan bekerja yang sangat menguras energi dan pikiran selalu mampu menyuntikan semangat baru ke dalam diriku. Bahkan selama mengikuti kegiatan diskusi aku berfikir untuk mulai mengoleksi buku-buku tentang perempuan, yang harus menjadi bahan belajarku dan kelak dapat kuwariskan kepada keturunanku. Ah, senang rasanya jika kelak di perpustakaan keluarga kecilku aku memiliki satu atau dia lemari khusus buku-buku tentang perempuan. 
Mahasiswa yang berlalu lalang dapat mampir ke lokasi pameran untuk belajar tentang orang Korowai dan menikmati foto-foto yang menggambarkan kehidupan sehari-hari orang Korowai, dan tentu saja melakukan selfie atau wefie

Buku full color setebal 148 halaman ini terdiri atas 8 bab yang masing-masing memiliki porsi khusus ketika berkaitan dengan perempuan Korowai, yang tentu saja tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari orang Korowai. 

SIAPA ORANG KOROWAI?
Mereka disebut sebagai Kholufo atau orang yang tinggal di hulu sungai. Sementara Korowai merupakan nama yang diberikan oleh para misionaris Gereja Reformasi Belanda saat pertama kali melakukan kontak dengan orang Kholufo pada 1977. Orang Kholufo sulit sekali diangkau, bahkan oleh suku tetangganya sendiri karena kemahiran mereka dalam mempertahankan diri. Orang Kholufo baik lelaki maupun perempuan digambarkan sangat pemberani dan dapat melakukan penyerangan dari rumah-rumah mereka diatas pohon. Musuh-musuh mereka pun jadi takut.

Orang Kombai merupakan satu-satunya suku tetangga yang memiliki hubungan paling dekat dengan orang Korowai. Diantara kedua suku tersebut sering terjadi pertukaran tugas dalam melakukan eksekusi hukuman mati kepada mereka yang mempraktikkan ilmu hitam, yang disebut suanggi oleh orang Papua atau khahua dalam istilah orang Korowai. 
Orang Korowai dan sungai sebagai sumber penghidupan mereka


Orang Korowai tinggal di dusun-dusun di wilayah adat atau ulayat suku mereka, karena dengan demikian mereka bebas menjalani hidup sesuai dengan aturan adat mereka. Meskipun mereka telah dibuatkan kampung yang secara administratif serupa dengan desa-desa di Indonesia, mereka hanya sesekali saja tinggal di kampung, seperti jika ada bantuan pemerintah atau kedatangan turis. Sebabnya adalah mereka tak dapat menemukan makanan jika tinggal di kampung, sebab makanan pokok mereka adalah sagu yang hanya bisa mereka panen di wilayah adat mereka.  

Wilayah adat orang Korowai tersebar di beberapa wilayah seperti di Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi, Kabupaten Asmat dan Kabupaten Pegunungan Bintang. Namun, cara paling mudah memetakan wilayah orang Korowai adalah dengan melihat paras bumi yang membentang pada bagian barat sepanjang sungai Dairam Kabur hingga sungai  Eilenden atau sungai Siret, ditengah kepadatan hutan tropis dengan ketinggian antara 70 m-100 m diatas permukaan laut. 
Salah satu gambaran di rumah orang Korowai, di mana kaum lelaki juga mengasuh anak dan memasak


Orang Korowai juga nggak suka tinggal di kampung karena arsitektur rumah yang tidak sesuai dengan kebiasaan hidup mereka sebagai kelompok masyarakat yang menjalahi kehidupan berpindah atau nomaden. Orang Korowai lebih suka membangun rumah tinggi diatas pepohonan agar terbebas dari nyamuk dan dapat menikmati pemandangan hutan dari ketinggian, melihat burung-burung terbang dan menikmati bintang di malam hari. Selain itu, posisi rumah yang tinggi juga sangat berguna dalam memantau pergerakan musuh yang memasuki wilayah adat mereka.

PEREMPUAN KOROWAI, PEREMPUAN PERKASA

Kata "perkasa" identik dengan laki-laki yang memiliki tubuh bak binaragawan Ade Rai dan memiliki kekuatan fisik diatas rata-rata manusia kebanyakan. Namun, kata perkasa bagi orang Korowai memiliki makna yang lebih luas dan dalam, seperti sebuah pohon yang batangnya tegak meraih langit sementara akarnya menghujam ke dalam bumi.

Sebagai masyarakat pemakan sagu sebagai bahan pokok, perempuan Korowai tidak hanya pandai memasak pati yang dihasilkan pohon sagu tersebut, melainkan juga memangkur sagu yang telah ditebang para lelaki. Saat para perempuan Korowai memangkur sagu, para lelaki mengasuh anak-anak seperti menggendong, menyuapi makan dan mengasuh mereka. Jika para perempuan sudah terlihat kelelahan, barulah para lelaki menggantikan mereka memangkur sagu. Kerjasama ini dilakukan agar pekerjaan menjadi efektif dan efisien, mengingat perjalanan pulang ke rumah pohon akan menjadi sangat sulit jika hari telah gelap sembari memanggul sagu yang basah dan berat. 
Perempuan Korowai mengolah daun sagu muda untuk membuat berbagai kebutuhan

Dalam hal mengolah bahan alam, perempuan Korowai juga diwajibkan mempelajari teknik pembuatan pakaian dari kulit kayu sejak dini. Perempuan Korowai pandai dalam memanfaatkan daun sagu yang masih muda dan kulit kayu menjadi sayek dan fendon, yang berguna sebagai pakaian dan pembungkus bayi. Keterampilan dalam membuat pakaian tradisional dari daun sagu inilah sebagai pelajaran berharga bahwa seorang manusia harus mamou membuat pakaiannya sendiri. Bahkan, ketika para turis mancanegara sudah mulai memasuki Korowai, hasil keterampilan dalam membuat pakaian tradisional mampu mendatangkan penghasilan bagi mereka sendiri.
Salah satu fase dari proses pembuatan rok dari daun sagu muda oleh perempuan Korowai

KESETARAAN DALAM MASYARAKAT KOROWAI

Bicara soal kesetaraan, bisanya kita mengacu pada perempuan-perempuan yang telah mendapatkan pendidikan, khususnya soal kesetaraan. Namun, rupanya suku Korowai memiliki makna tersendiri tentang kesetaraan dan telah menjalankannya secara turun-temurun. Kesetaraan inilah yang membuat masyarakat Korowai tidak memiliki hierarki. 

Salah satu contoh yang paling kentara adalah ketika mereka menentukan jodoh mereka sendiri. Di mana perempuan Korowai berhak untuk menentukan nasibnya sendiri, yaitu menikah dengan lelaki yang dicintainya. Selain itu, mereka juga tidak dianjurkan menikah pada usia dini alias sebelum mendapat haid. Karena bagi masyarakat Korowai, tanda kedewasaan seorang perempuan manakala dia telah mendapat haid. Karena masyarakat Korowai memandang bahwa perempuan yang telah mencapai tingkat kematangan dalam tubuhnya dan dewasa secara pemikiran, berarti telah siap menikah, menjadi istri dan Ibu bagi anak-anak yang kelak akan dilahirkan. 
 

BACA JUGA: Kisah Cinta Satu Malam Yang Membawa Kutukan Menakutkan Sepanjang 30 Tahun


Nah, uniknya perempuan Korowai berhak loh untuk tidak memiliki anak. Jadi, saat seorang perempuan Korowai menikah dan si perempuan merasa tidak mampu secara mental memiliki anak, maka dia berhak untuk tidak memiliki anak, dan sang suami maupun keluarga tidak berhak untuk melarang keputusan sang perempuan. Masyarakat Korowai juga tidak memiliki hierarki kememimpinan, di mana mereka tidak memiliki kepala suku, raja atau panglima perang. Kepemimpinan justru hadir setelah masuknya misionaris dengan sistem gereja, turis, dan sistem pemerintahan. Dinamika sosial tersebut menciptakan sistem sosial berlapis dengan adanya kepala kampung, kepala distrik dan kepala turis (guide).
Laki-laki dan perempuan Korowai yang sama-sama pekerja keras


Dalam konteks kepemilikan harta, orang Korowai berhak atas harta yang dimilikinya sendiri atau milik keluarganya. Dan jika ada kebutuhan kelompok yang mengharuskan masyarakat 'patungan' maka dengan sukarela mereka melakukannya. Pengakuan hal milik pribadi berlaku sama baik bagi laki-laki maupun perempuan, milik orangtua atau milik anak-anak mereka.  Orang Korowai hidup bahagia dengan apa yang mereka miliki di kedalaman hutan hujan Papua. 

Pembaca, sampai disini dulu ya pembahasan mengenai buku ini. Buku sederhana yang perjuangan untuk mendapatkan datanya justru penuh perjuangan yang mungkin memang hanya mampu dilakukan oleh penulisnya. Semoga, tulisan sederhana ini menjadi bagian dari proses belajar kita dalam memahami keberagaman di tanah air yang harus kita hargai.

Bandung, 15 April 2019


2 comments

  1. jadi paham suku lain dari bangsa Indonesia ini ya, Mbak. Saya mengenal Papua dan alam yang indah daris eorang teman yang merantau dan berjuang di daerah perbukitan dan pegunungan papua. Belajar dari perempuan korowai, saya jadi memiliki semnagat untuk tidak bermalas-malasan dan semoga ada ide untuk menyetarakan gender, ya paling mudah ya mencari penghasilan juga ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. Indonesia ini indah karena beragam. Karenanya harus kita hormati perbedaan demi menjaga Indonesia.

      Delete

follow me on instagram