ODE TO MY FATHER: Menunggu Kepulangan Ayah yang Hilang dalam Perang Korea


Keluarga Deok So dalam "Ode to My Father"

Di Korea Selatan, pada minggu pertama penayangannya film ini sudah disaksikan oleh sekitar 1,3 juta penonton yang menyaingi kepopuleran The Hobbit and the Five Armies. Kisah yang berawal dari perang saudara di Korea pada 1950-1953 hingga masa modern ini dikemas dengan sangat apik, menyentuh sanubari dengan tepat. Ada kesedihan yang tidak bisa ditampilkan dengan air mata. Tetapi sedih yang berdiam di dalam dada, mengingat ada banyak kisah serupa yang mungkin terjadi pada keluarga kita atau orang-orang yang kita kenal. Kisah ini seperti hendak mengatakan bahwa kesedihan tidak pernah hilang, ia hanya berganti wajah sebagaimana waktu membuat kita berganti rupa. 

Kisah ini adalah tentang lelaki bernama Yoon Deok-Soo yang kehilangan ayah dan adik perempuannya saat mengikuti evakuasi akibat perang korea di pelabuhan Hungnam tahun 1951. Ia masih seorang bocah saat sang ayah menghilang. Ketika itu ribuan pengungsi dari Pyongyang (sekarang wilayah Korea Utara) berebut masuk ke kapal Amerika untuk mengungsi. Deok-Soo bertugas menjaga adik perempuannya Mak-Soon tetapi karena tubuh mereka kecil, pegangan tangan mereka terlepas, terseret-seret arus manusia lain yang sama paniknya. Ayah Deok-Soo turun dari kapal mencari Mak-Soon dan sampai kapal berangkat, ayahnya tak pernah naik. Ayahnya berjanji akan menemui mereka di sebuah toko milik bibi Deok-Soo di pasar internasional Busan (sekarang wilayah Korea Selatan). Sampai kemudian Deok-Soo bersama ibu dan dua adik lainnya telah tinggal di Busan atas bantuan bibinya, ayahnya tak pernah muncul.  

Sebagai anak pertama dalam keluarga tanpa ayah, Deok-Soo bekerja apa saja untuk membantu ibunya menghidupi keluarga mereka. Mulai dari menyemir sepatu sejak masih bocah sampai bekerja di pelabuhan sebagai kuli. Ia bahkan bekerja seperti kesetanan karena tuntutan kebutuhan, terutama karena kedua adiknya harus sekolah. Tetapi ia tak pernah mengeluh meski sangat lelah sebab ia berjanji pada ayahnya untuk menjaga ibu dan kedua adiknya. Ia memegang erat janjinya dan mendedikasikan hidupnya sebagai kepala keluarga menggantikan sang ayah. Tugas itu ia jalankan dengan sebaik-baiknya sembari terus berharap sang ayah kembali kepada mereka, sebagai kepala keluarga. 
Detik-detik perpisahan di pelabuhan Hungnam (sumber: hollywoodreporter.com)

Suatu hari pada tahun 1960, karena adik lelakinya membutuhkan biaya besar untuk masuk Universitas Seoul, ia bersama sahabatnya terpaksa menerima tawaran kerja sebagai buruh tambang batu bara di Jerman Barat. Tubuhnya yang terlatih sejak kecil dinilai cukup kuat untuk bekerja di negara asing. Berangkat lah ia ke Jerman bersama beberapa orang lain, dan sahabatnya Dal-Goo. Lokasi tambang yang terpendam jauh di dalam bumi membuat tubuh-tubuh putih Asia mereka berubah hitam seperti arang. Sehingga mereka harus benar-benar khidmat saat mandi. Tak jarang mereka juga mengalami kecelakaan kerja seperti karena tanah longsor atau ledakan gas metana, kalah cepat maka nyawa taruhannya. 

Namun kerja kerasnya yang berbayar cukup tinggi mampu membuatnya membelikan rumah yang cukup besar untuk ibunya dan membiayai kuliah adiknya. Dalam kesedihan yang acapkali ditumpahkannya dalam tangis diam-diam di malam hari karena rindu kampung halaman, ia bertemu dengan seorang gadis Korea, Young-Ja yang bekerja sebagai perawat. Pertemuan mereka nggak sengaja dan menyebabkan kecelakaan kecil memalukan. Ia menemukan kebahagiaan baru di negeri asing. Bersama Young-Ja ia menghabiskan akhir minggu dengan tamasya dan makan makanan Korea. Tak lama setelah ia kembali ke Korea karena visanya habis dan tak bisa diperpanjang, Young-Ja menyusulnya dan mereka menikah. 
Bertemu Young Ja di Jerman dan  mereka jatuh cinta (sumber: scmp.com)

Tahun 1970an bibinya meninggal dan toko bibinya yang sebenarnya telah diwariskan padanya dijual pamannya secara sepihak. Ia sangat kesal karena toko itu menjadi satu-satunya harapan untuk bertemu dengan ayahnya. Karena itu ia terpaksa menerima tawaran kerja sebagai teknisi di kesatuan tentara Korea di Vietnam yang saat itu sedang dalam kecamuk perang. Meski ibu dan istrinya mati-matian melarang, tetapi ia butuh uang untuk membeli kembali toko bibinya dan menyiapkan biaya pernikahan adik bungsunya. Sebagai kepala keluarga yang hanya mampu kerja kasar karena tidak berpendidikan, ia berangkat ke Vietnam, tanpa tahu akan kembali dalam keadaan hidup atau mati. 

Di Vietnam hidupnya tak mudah, ia sempat hampir mati karena sebuah peristiwa pemboman kantor kesatuan Amerika, hingga tertembak saat berusaha menyelamatkan warga yang menjadi tawanan gerilyawan Viet Kong di area sungai. Tetapi dalam surat yang dikirimkannya pada istrinya, ia mengatakan bahwa ia memang bukan hidup untuk dirinya, tetapi untuk anak-anaknya. Ia tidak ingin kelak anak-anaknya mengalami apa yang ia alami semasa perang Korea atau dalam perang Vietnam. Ia juga meminta istrinya bersabar karena memang mereka dituntut demikian sebab tumbuh pada periode sulit. 
Menanti kabar perang usai (sumber: evi nurul)

Tahun 1975 perang Vietnam berakhir dan Deok-Soo kembali ke Korea dengan selamat. Ia berhasil membuka kembali toko bibinya dan berharap ayahnya datang. Saat itu juga sedang populer sebuah program televisi yang mempertemukan anggota keluarga yang terpisah selama perang Korea. Nyaris setiap orang bergerombol menyaksikan program itu bersama-sama, menantikan kabar baru tentang tangis bahagia orang-orang yang menemukan keluarganya. Berharap bertemu kembali dengan ayah dan adiknya, Deok Soo pun mendaftar program tersebut. Pernah satu kali seorang lelaki tua mengaku sebagai ayahnya sebab namanya mirip dengan nama anak lelaki itu. 

Sampai kemudian, Mak-Soon yang telah tinggal di Los Angeles, Amerika dan telah menikah menemukan Deok-Soo melalui program itu. Mereka bertangis-tangisan dari balik layar kecil di stasiun televisi. Mak-Soon yang terlepas dari genggaman Deok-Soo ditemukan oleh tentara Amerika, dibawa ke kapal dan dikirim ke panti asuhan dan kemudian diadopsi satu keluarga Amerika sampai ia lupa namanya dan tak bisa berbahasa Korea. Mak-Soon dan keluarga kecilnya kemudian datang ke Korea untuk mengadakan reuni keluarga. Setahun kemudian ibu mereka meninggal dunia.   

Sebagai lelaki yang bekerja keras sepanjang hidupnya demi keluarganya, Deok-Soo seharusnya bahagia. Apalagi ia dikelilingi oleh beberapa orang anak, menantu dan cucu yang membuat keluarganya sangat ramai. Ia juga memiliki ipar seorang Amerika dan seorang keponakan blasteran dari Mak-Soon. Tetapi, beban berat yang mengganjal di dalam hatinya tak pernah bisa dilepaskannya. Ia sangat rindu ayahnya dan memandangi fotonya lama sekali sambil sesekali menciumi baju peninggalan lelaki itu. Satu hari, saat ia telah sangat tua dan merasa lelah, ia berbicara pada istrinya dan berniat menjual tokonya. Ia sudah merelakan ayahnya yang mungkin telah kembali pada Tuhan.

Film ini adalah gambaran dari kisah para korban perang Korea yang merindukan perjumpaan kembali dengan keluarga mereka. Hingga saat ini kerinduan semacam itu masih membelenggu warga Korea yang tumbuh dalam satu budaya tapi dipisahkan oleh ideologi. Juga bagi warga Korea yang diadopsi keluarga Amerika, dimana mereka merasa kehilangan akar budaya karena lupa nama mereka sendiri, nama keluarga dan bahasa ibu mereka.  Bagaimanapun juga, perang selalu menyisakan pedih dan merenggut banyak hal dari kita. Semoga kita terlindung dari yang demikian, amin. 

Depok, 4 September 2015


2 comments:

  1. Film yang menampilkan patrarki dan maskulinisme dalam bingkai yang wajar, bahkan romantik, sampai-sampai feminis aja akan suka..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tokoh utama dalam film ini ditampilkan harus banyak mengalah, misalnya mengalah nggak kuliah karena harus banting tulang menghidupi seorang ibu, bibi dan dua adiknya; ditambah seorang istri dan seorang anak. Kasihan sebenarnya, dia menanggung beban berat sejak masih bocah dan hanya bisa menangis dalam kesendirian karena kangen ayahnya yang hilang.

      Ayahku sendiri bernasib seperti tokoh utama, harus relah hanya tamat SD demi jadi tulang punggung keluarga dengan kondisi ayahnya (kakekku) yang sakit keras dan bedrest.

      Delete