LADY OF THE DYNASTY: Kisah Cinta Sejati, Setia sampai Mati

Fan Bing Bing sebagai Yang Yuhuan dalam Lady of the Dynasty

Dinasti Tang adalah imperium besar yang pada abad ke 7 
mampu menahan penyebaran Islam di Asia Timur. 

Aku telah menyaksikan beberapa drama dan film tentang Dinasti Tang dari berbagai versi. Termasuk beberapa diantaranya tentang sosok kaisar perempuan pertama, Wu Zetian dengan segala kontroversinya. Aku tak bisa berhenti dari menekuni hal-hal berbau Asia Timur, terutama kisah-kisah kolosal sebagai interpretasi atas sejarah. Aku selalu menyukai drama atau film kolosal salah satunya karena kekagumanku pada para sineas yang mampu menghidupkan kisah di masa lampau dengan begitu apik mulai dari arsitektur, fashion, tren kecantikan, kuliner dan sebagainya. Terkadang aku selalu bertanya, benarkan kisah-kisah peradaban masa lampau yang di-glorifikasi melalui film dan drama itu sedemikian hebatnya? 

Nah, kali ini masih tentang dinasti Tang. Sebuah film tentang dinasti Tang berjudul "Lady of the Dynasty" yang diperankan oleh aktris Fan Bing-Bing menyapa kita (kenapa ya selalu Fan Bing-Bing? apa dia punya chemistry yang khas untuk film-film kolosal begini?) Alur film ini dibuat berdasarkan cerita yang ditulis seorang lelaki Romawi yang menjadi duta di dinasti Tang, mengenalkan ajaran Kristen dan menjadi guru musik Harpa bagi menantu Kaisar, Yang Yuhuan sebagai tokoh utama film ini. Jadi alur cerita film ini dibuat berdasarkan catatan seorang Romawi sebagai witness atau saksi mata.

Pada abad ke 7, dinasti Tang dikenal bangsa-bangsa sebagai imperium yang kuat dengan wilayah kekuasaan yang luas dan tentara yang hebat. Romawi berkepentingan menjalin hubungan dengan dinasti Tang. Sang Kaisar menitahkan dutanya, Lucitus untuk melakukan kompromi dengan Kaisar Xuanzong demi menjalin kekuatan dan menaklukan sebuah wilayah yang berada ditengah-tengah antara wilayah mereka agar mereka bisa bertetangga semakin dekat. Namun, Kaisar mengulur waktu dan berusaha membaca apa nih sesungguhnya niat Kaisar Romawi membangun persahabatan dengan dinasti Tang.
Fan Bing Bing sebagai Yang Yuhuan dalam Lady of the Dynasty

Dalam masa kompromi itu, ada sebuah peringatan kematian yang mendatangkan seorang penari bernama Yang Yuhuan atau dikenal juga sebagai Yang Guifei, sepupu seorang pejabat kecil di pemerintahan. Saat melihat Yang menari dengan begitu sedih namun tetap memancarkan kecantikan yang didambakan seluruh kaum lelaki, kaisar jatuh hati pada pandangan pertama. Tapi, Consort Wu yang membaca gelagat ini buru-buru mengatakan bahwa ia telah memilih Yang Yuhuan untuk dijadikan istri putranya, pangeran Mao. Sebagai selir kesayangan Kaisar, tentu ia tak ingin kehilangan posisi dan kekuasaannya jika Kaisar menikahi Yang Yuhuan. Berkedudukan sebagai selir kesayangan Kaisar sangat menguntungkan bagi masa depan Pangeran Mao, sehingga tak boleh ada selir baru dalam kehidupan kaisar yang bisa menghancurkan rencana jangka panjangnya yang telah ia susun dengan sangat cermat. 

Tak butuh waktu lama bagi Yang Yuhuan untuk menjadi putri kerajaan setelah menikah dengan Mao. Yang Yuhuan yang polos mau saja dinikahkan dengan Pangeran Mao yang bahkan tak pernah bertemu dengannya sebelum pernikahan. Kaisar kini dipanggil 'ayah' oleh Yang Yuhuan dan harus memendam keinginan memperistri perempuan cantik itu. Pernikahan Yang Yuhuan dengan Pangeran Mao dilihat para selir dan anak kaisar yang lain sebagai awal mula bangunan sebuah keluarga. Pangeran Mao dianggap akan merebut kursi Putra Mahkota atas bantuan selir Wu dan pendukungnya di pemerintahan. Selir Wu juga bisa membaca berbagai ancaman pembunuhan terhadap Pangeran Mao dan Yang Yuhuan, sehingga ia menjebak tiga pangeran termasuk Putra Mahkota agar terlihat melakukan pemberontakan. Ketiganya kemudian dihukum mati oleh Kaisar dengan dituangi cairan timah panas dan mereka menjadi patung. Namun, di kemudian hari Kaisar diberi tahu bahwa selir Wu yang menjebak ketiga pangeran. Selir Wu putus harapan, kehilangan kepercayaan Kaisar dan bunuh diri. Ia hanya ingin Pangeran Mao menjadi Putra Mahkota, karena dengan cara itu ia menyelamatkan putranya dari para selir dan pangeran yang mengincar tahta Raja dengan cara licik dan penuh tipu muslihat.
Yang GuiFei saat memainkan alat musik Harpa

Pangeran Mao yang kemudian diberi tahu bahwa Kaisar masih menyukai Yang Yuhuan memutuskan untuk melakukan perdagangan dengan ayahnya. Ia ingin diberi gelar Putra Mahkota dan akan membantu ayahnya untuk menumpas pemberontak yang dipimpin jenderal kepercayaan ayahnya. Ia akan menukar semua itu dengan memberikan Yang Yuhuan kepada ayahnya. Demi tujuan itu bahkan Pangeran Mao lalu memberi bubur yang berisi obat penggugur kandungan pada istrinya sendiri. Yang Yuhuan sangat hancur hatinya, karena suaminya dengan sengaja membunuh bayinya dan menjadikan ia alat pertukaran dengan Kaisar demi mendapat gelar sebagai Putra Mahkota yang menjadi incaran para pangeran. Karena merasa sangat sedih dan terpukul atas nasibnya, Yang Yuhuan mengasingkan diri ke kuil Buddha dan Pangeran Mao sendiri diasingkan karena Kaisar sangat marah oleh perbuatannya yang tidak senonoh. Hmmm, meski demikian, bukankah akhirnya kaisar mendapatkan apa yang dia inginkan? 

Kaisar yang memang menyukainya tak bisa memendam cintanya lebih lama. Ia datang menemui Yang Yuhuan di kuil dan memintanya pulang untuk menikahinya. Tapi Yang Yuhuan merasa berdosa harus menikahi ayah dari mantan suaminya. Tak lama datang selir Mei yang meminta Yang Yuhuan untuk menikahi Kaisar karena cinta Kaisar yang besar padanya. Setelah menimbang baik buruknya, Yang Yuhuan menerima tawaran Kaisar untuk menjadi selirnya. Pernikahan mereka sangat megah, dihadiri oleh duta dari berbagai negara, termasuk pangeran dari Persia yang kelak jadi Raja. Pestanya begitu meriah, dimana para duta menyumbangkan tarian internasional di pernikahan itu. Penghormatan Lucitus kepada Yang Yuhuan bertambah dan ia melihatnya sebagai seorang dewi penolong. Yang kini menjadi selir Yang Guifei, Istri Kaisar dan ibu bagi Pangeran Mao. Nah, nama Yang GuiFei sendiri bermakan (selir kerajaan dengan posisi tinggi, di mana posisinya hanya satu tingkat dibawah Ratu atau Permaisuri)

Para pengeran yang tersisa kemudian mulai resah atas pernikahan Kaisar dan Yang GuiFei. Mereka beranggapan, jika selir Yang GuiFei hamil putra Kaisar maka kemungkinan bayi itu akan menjadi kandidat Putra Mahkota, karena mereka tahu bahwa Yang Guife merupakan kesayangan kaisar. Meski kerajaan telah memiliki Putra Mahkota baru, mereka tetap resah bukan kepalang. Padahal Kaisar dan Yang GuiFei berencana tidak akan membiarkan putra yang mereka rencanakan lahir menjadi Putra Mahkota. Mereka hanya ingin hidup tenang sebagai keluarga. Tapi, demi menjaga kestabilan politik di kerajaan, Yang GuiFei diam-diam memutuskan untuk meminum obat yang membuatnya tidak akan pernah hamil. Ia merelakan dirinya tidak memiliki anak daripada kelak anaknya akan menjadi bagian dari pertempuran para pangeran.

Sebuah pemberontakan yang dipimpin jenderal kepercayaan Kaisar meledak dan beberapa wilayah telah jatuh, salah satunya adalah sepupu Yang GiFei. Pangeran Mao bahkan mati dalam pertempuran ini. Para tentara kerajaan menuntut selir Yang GuiFei dihukum karena sepupunya yang menjadi pejabat kerajaan telah dieksekusi karena dituduh melakukan kejahatan. Meski selir Yang GuiFei adalah kesayangan Kaisar, mereka ingin perempuan itu mati. Mereka tak ingin Yang GuiFei melahirkan putra Kaisar. Yang GuiFei yang selama mendampingi Kaisar sama sekali tak melakukan intervensi terhadap urusan pemerintahan merasa diperlakukan tidak adil. Ia bahkan merelakan dirinya memakan serbuk agar tidak hamil. Tetapi tak ada yang percaya padanya kecuali Kaisar seorang. Yang GuiFei sangat sedih dibuatnya.

Pada akhirnya, Yang GuiFei sampai pada pilihan yang sebenarnya bukan pilihan. Ia memutuskan meminum racun dan mati dalam pelukan kaisar demi menjaga stabilitas pemerintahan. Ia mengorbankan cinta, hidup dan harapannya demi menjaga marwah sang Kaisar dan dinasti Tang, alih-alih menghancurkan kerajaan demi menjaga cintanya. Tapi, benarkah pengorbanannya telah menyelamatkan dinasti Tang? Menjadi perempuan dalam lingkaran kekuasaan memang serba salah. Melakukan intervensi atas urusan negara atau tidak selalu saja menjadi sasaran. Terutama jika ia memiliki seorang anak. Dalam kekuasaan, cinta bahkan tak boleh mendapat tempat. Ah, kisah yang sedih dan menguras airmata. 
Yang GuiFei dan dua lelaki yang menjadi suaminya. Sumber: justwatch.com

Film-film tentang masa dinasti Tang selalu digambarkan megah dan mewah, tak terkecuali film satu ini. Semuanya indah. Istana dan isinya, padang rumput dan tempat berburu, sungai, perbukitan, danau dan kota-kota. Di awal-awal scene bahkan ditunjukkan sebuah taman gantung di kediaman selir Wu, sebuah konsep taman indoor yang sangat cantik. Juga dalam konsep pernikahan Yang dan Kaisar yang menampilkan tarian bangsa internasional di Jalur Sutra dan beberapa jenis alat musik yang dimainkan Kaisar dan Yang GuiFei bersama para pemusik istana. Film ini sesungguhnya sedang menjelaskan memori masa lampau dinasti Tang dan kemegahan dunia internasional di Jalur Sutra, sebagai jembatan kemakmuran di masa silam yang sangat memanjakan mata dan bikin penasaran.

Film "Lady of the Dynasty" sendiri menurutku cukup fair menceritakan kisah Yang GuiFei dari sudut pandang orang Romawi, sehingga kita bisa menyaksikan film yang nggak melulu menampilkan perempuan sebagai sosok yang menjadi penyebab hancurnya sebuah kerajaan. Karena jika kisahnya berbasis pada catatan resmi kerajaan, bisa jadi ceritanya lain. Oh ya, film ini membutuhkan waktu 6 tahun lho untuk selesai dan dinikmati penonton dari seluruh dunia. Karena kabarnya sangat susah bikinnya dan Fan Bing-Bing nyaris kehilangan nyawanya saat proses syuting film ini.

YANG GUIFEI, SATU DARI EMPAT BIDADARI CHINA KUNO
Sebenarnya, kisah tentang Yang GuiFei ini sangat terkenal. Banyak cerita tentangnya yang kini bisa kita baca melalui berbagai dokumen. Namun, sebagaimana banyak kisah sejarah, perempuan cantik di lingkup kerajaan di masa lampau selalu diceritakan sebagai haus kekuasaan, pembuat onar dan yang menyebabkan kejatuhan suatu kerajaan alias wilayah kekuasaan para lelaki. Dari banyak bahan bacaan, aku melihat Yang GuiFei ini ditampilkan sebagai sosok perempuan rakus yang menggunakan kecantikan untuk membuat Kaisar lalai dari tugasnya atas urusan negara, menghambur-hamburkan harta, membuat seluruh kerabatnya mendapatkan status sebagai bangsawan dan bekerja dengan gelar terhormat serta menjadi golongan/klan yang semakin kaya raya, dan memicu runtuhnya sebuah kerajaan/dinasti. 
Lukisan saat Yang GuiFei menaiku kuda oleh Qian Xuan (1235-1305 AD)

Four Beauties atau Si Da Mei Ren adalah julukan bagi Yang GuiFei dari masyarakat Tiongkok, di mana namanya disandingkan dengan 3 perempuan paling cantik lainnya yaitu Xi Shi, Wang Zhaojun, dan Diaochan. Saking cantiknya Xi Shi diibaratkan bikin ikan sampai lupa berenang; Wang Zhaojun diibarakan bisa membuat burung-burung berjatuhan dari langit; Diaochan bisa membuat purnama menyembunyikan diirnya karena iri pada kecantikan wajahnya; dan bunga-bunga merasa malu jika dibandingkan dengan kecantikan Ynag GuiFei. Keempat perempuan dengan kecantikan tiada banding ini menjadi hikayat rakyat Tiongkok sejak 506 BC hingga 756 AD. Kabarnya, setelah itu ada perempuan kelima yang juga kecantikannya bikin semua orang ngiler. Perempuan itu bernama Yu Miaoyi yang hidup pada masa dinasi Qin dan dikenal sebagai Consort Yu atau "Yu the Beautiful Lady" yang mati bunuh diri pada 202 BC. Kisahnya kembali dihidupkan pada era dinasti Qing (1644-1912). Katanya, kecantikannya, pengaruhnya dan kisah hidupnya yang sangat tragis bisa menggantikan posisi Diaochan dalam "Four Beauties" yang legendaris itu. 

Oke, kembali ke kisah Yang GuiFei yang ternyata memiliki sejumlah warisan bagi masyarakat Tiongkok, yang masih dipelihara hingga saat ini dalam beragam bentuk. Pertama, orang masih saja berdebat dengan bentuk tubuh Yang GuiFei karena pada setiap dinasti yang berkuasa di China selalu memiliki trend kecantikan tersendiri. Yang GuiFei digambarkan memiliki postur tubuh yang indah namun sedikit gemuk jika diukur dari standar kecantikan perempuan China sejak dinasti Qing sampai sekarang. Makanya, saat sosok Fan Bing-Bing memerankan Yang GuiFei, ia dianggap sebagai sosok yang sempurna menggambarkan kecntikan Yang GuiFei yang sesungguhnya. Kedua, Yang GuiFei sangat menyukai buah leci. Namun, buah leci terbaik hanya tumbuh wilayah selatan China. Karena itu Kaisar memerintahkan para prajuritnya menunggang kuda dengan kencang agar bisa membawa buah itu untuk Yang GuiFei, sampai-sampai para petani memberi nama pada leci yang berkualitas tinggi itu sebagai "Senyum Sang Selir"
Patung Yang GuiFei di istana Huaqing

Ketiga, Yang GuiFei dikabarnya sebagai sosok dibalik pengembangan dudou yaitu sejenis pakaian dalam perempuan yang memiliki fungsi kesehatan karena berkaitan dengan qi atau aliran darah tubuh manusia. Fashion ini kemudian berkembang luas hingga ke Vietnam dan Jepang. Keempat, kisah cinta Yang GuiFei dan Kaisar Xianzong yang tragis kerap diceritakan ulang dan menginspirasi ditulisnya sebuah puisi berjudul "Song of Everlasting Sorrow" karya Bai Juyi. Kisah Yang GuiFei dan puisi tersebut kemudian populer hingga ke Jepang dan menginspirasi ditulisnya kisah klasik berjudul "The Tale of Genji". Drama klasik Jepang atau Noh, juga kabarnya berawal dari upaya menceritaka kisah tragis Yang GuiFei. Di Jepang sendiri, kisah Yang GuiFei lumayan populer. Bahkan ada rumor yang mengatakan bahwa sebenarnya Yang GuiFei nggak mati bunuh diri, melainkan berhasil diselamatkan dan menghabiskan sisa hidupnya di Jepang. Oh ya, di Jepang, mereka menamai Yang GuiFei menjadi Yokihi. Saking hebatnya, Yang GuiFei masih terkenal sampai sekarang. 

Yang GuiFei ini sangat terkenal sehingga kisahnya banyak diceritakan ulang baik dalam bentuk opera, literatur, drama panggung, film, serial televisi, video games dan tentu saja lukisan. Bahkan, sampai saat ini orang-orang masih terus menceritakan ulang kisahnya seakan-akan ia merupakan manusia abadi dalam ingatan setiap orang. Bahkan, di pemandian air panas ekslusif bernama Huaqing Pool di bekas Huaqing Palace dibuat patung Yang GuiFei dalam pose sangat seksi, ketika ia hendak bersiap berendam. Istana ini memang dibangun oleh kaisan Xuanzang untuk Yang GuiFei. Saat ini, istana tersebut merupakan museum yang boleh dikunjungi wisatawan. Selain dapat menikmati keindahan arsitektur dan taman istana, wisatawan juga bisa membeli tiket untuk berendam di air panas saat musim dingin atau menonton pertunjukkan berjudul "The Song of Everlasting Sorrow" yang merupakan puisi sedih yang didedikasikan untuk Yang GuiFei. Selebihnya, wisatawan juga bisa menikmati keindahan Gunung Li yang menjadi berdiri kokoh di belakang istana Huaqing. 

Film ini memang tidak menceritakan segala sesuatu tentang Yang GuiFei. Karena bagaimanapun segala sesuatu memiliki banyak sudut pandang, dan film ini mengambil sudut pandang lain demi sedikit menyenangkan penonton. Nah, sudut pandang Lucitus sang Duta kerajaan Romawi ini adalah sisi lain dari kisah satu dari 4 perempuan paling cantik di seantero Tiongkok kuno. Agar kita mengenal Yang GuiFei secara utuh, mungkin kita perlu menonton seluruh drama dan film yang berkisah tentangnya, dan membaca buku-buku sejarah kehidupan Yang GuiFei. 

Depok, 10 September 2015

Bahan bacaan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Yang_Guifei
http://sacrificeworldwide.com/yang-guifei/
https://en.wikipedia.org/wiki/Lady_of_the_Dynasty
https://threekingdoms.wikia.org/wiki/Four_Beauties
https://www.wikiwand.com/en/Yang_Guifei
https://www.wikiwand.com/en/Dudou
https://www.wikiwand.com/en/Yang_Guifei
https://www.chinadiscovery.com/shaanxi/xian/huaqing-pool.html

10 comments:

  1. Wogh apik dan epik. Thanks infonya bisa jadi referensi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Dian, terima kasih sudah mampir. Iya, filmnya bagus meski sejumlah efek sinematografinya kelihatan boongan hehe...

      Delete
  2. bagus nih filmnya, makasih rekomendasinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Yuni, terima kasih sudah mampir. Iya, filmnya bagus.

      Delete
  3. Ending khas film Tiongkok, merobek-robek hati.
    Dan sering banget memang ya, bunuh diri dipilih jadi jalan terakhir.

    Apakah itu memang gambaran kultur dan budaya mereka ya, mba?
    Demikian juga film Korea dan Jepang, bunuh diri itu semacam 'solusi'
    Aku diam-diam menyesalkan hal ini. Takutnya bisa dijadikan 'model' sama generasi kita nantinya.

    Setuju, kalau untuk tampilan film kolosal, keindahan film negeri Tiongkok memang mencuri hati.
    Etapi itu semua hasil teknologi sinematografi ya?
    Luar biasa, ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, sinematografi fi film-film kolosal Asia Timur memang selalu mengagumkan.

      Delete
  4. ini di jadikan drma koq ceritanya kebalikannya habis menikah dengan ayahnya kemudian menikah dengan anaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Apakah tentang tokoh yang sama? Karena perempuan yang menikah dengan sang ayah kemudian dengan sang anak adalah kisah Kaisar perempuan pertama China yaitu Wu Zetian

      Delete
  5. Oke fix gak jadi nonton karena besar kecil jalan ceritanya sudah paham..
    Masih di landa rasa galu setelah menonton empress of china yang mana istri bapaknya menjadi istri anaknya..
    Yang ini malah kebalikan alias balas dendam dari versi drama
    Mantan menantu menjadi istrinya..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cara lain untuk menonton adalah bukan untuk alur cerita, melainkan sinematografinya. Asyik lho...

      Delete