MODERN FARMER: Kisah Kocak tentang Petani Modern di Korea Selatan

Kisah para petani yang kocak. Sumber: hancinema.net

Drama Korea (drakor) memang paradoks. Disatu sisi ia mengancam karena bisa menjadi candu bagi para penikmatnya. Di sisi lain ia memiliki keunikan tersendiri sehingga menginspirasi dunia. Drakor sebagaimana sinetron Indonesia memang kebanyakan lebay, tetapi dalam banyak hal ia jauh lebih memikat daripada sinetron Indonesia yang espisode-nya bisa sampai ratusan (tayang lebih dari 2 tahun, setiap hari, alamakkkkkk!!!) dengan informasi yang semakin mengada-ngada, bahkan kadang sama sekali nggak berguna. Nah, setelah lama absen nonton drama Korea karena sering males dengan panjangnya episode, dua minggu lalu ketemu satu drama berjudul "Modern Farmer" alias petani modern.

Nah, drama ini berkisah tentang empat orang pemuda bernama Min Ki, Han Kyuk, Han Cul dan Ki Joon. Mereka ini empat sekawan yang punya sebuah band dan gagal debut untuk album pertama mereka karena sebuah kejadian memalukan di Production House yang menaungi mereka. Min Ki akhirnya terlibat hutang pada rentenir dan lontang-lantung dengan gitar dan mobil sebagai harta satu-satunya: Han Kyuk jadi mahasiswa fakultas kedokteran yang menyebalkan dan selalu membuat keributan di rumah sakitnya tempatnya internship: Han Cul pekerja kontrak di sebuah perusahaan yang selalu dibully supervisornya, berhemat mati-matian karena gajinya yang kecil dan menderita kanker liver: dan Ki Joon yang selalu stress karena ia dipaksa orangtuanya ikut tes PNS atau mewarisi restoran keluarga untuk karirnya. 

Suatu hari, Min Ki mendapat telepon bahwa neneknya meninggal dunia. Salah seorang tetangga yang menghadiri pemakaman neneknya mengatakan bahwa neneknya mewariskan sebidang tanah di desa Hadurok Ri seluas 400.000 m2 untuk Min Ki. Nah, si Min Ki yang terlibat hutang berpikir untuk menjual tanah itu demi membayar hutangnya pada rentenir. Tapi, berhubung lokasinya jauh di pedalaman jadinya harga tanah sangat murah. Menjual tanah warisan tersebut nggak akan pernah bisa melunasi hutangnya yang menggunung. Min Ki optimis, merasa melihat cahaya dalam hidupnya. 

Min Ki berpikir keras agar tanah warisan neneknya tersebut kalau dijual bisa mahal. Maka ia disarankan untuk bertani kubis saja, dan hasil dari bertani kubis bisa digunakan untuk membayar hutangnya dan membuat album pertama mereka. Di Korea Selatan, kubis tentulah komoditas pertanian yang sangat berharga karena nyaris seluruh warga negara itu mengonsumsi kimchi. Terlebih, kubis kualitas super harganya pasti mahal. Min Ki berhitung, bahwa jika ia menanam kubis kualitas terbaik di lahan warisan neneknya, maka ia akan mendapatkan uang 1 juta dollar (dan bodohnya si Min Ki nggak menghitung berapa modal yang dia perlukan untuk bertani kubis). Nah, setelah berhasil melobi Han Cul, Kyuk dan Ki Joon yang masing-masing sedang putus ada dengan hidupnya, mereka berempat memutuskan untuk bertani kubis selama 3 bulan dan memulai hidup baru lagi sebagai band ternama di Korea. Pokoknya, khayalan mereka terlihat ideal deh. Pindahlah mereka ke desa Sadurok Ri tanpa menyiapkan bekal plus perencanaan matang untuk menjadi petani. 

Sebagai orang Seoul yang awam soal bertani dan kehidupan di desa, mereka pergi ke desa tanpa melakukan observasi. Alhasil, hari pertama di desa, mereka harus terlibat pertengkaran dengan warga  karena mencuri apel di sebuah kebun  (mereka kelaparan: tidak membawa bekal dan seharian berkeliling mereka nggak nemu warteg, hahahahaha). Mereka juga melakukan kesalahan fatal dengan kencing di sumber mata air. Hari-hari berikutnya bahkan listrik dan air di rumah gubuk peninggalan nenek Min Ki dicabut sang tetangga sampai akhirnya rumah itu kebakaran karena mereka menendang lilin saat tidur. Meski awalnya mereka membuat keributan dengan warga desa, mereka akhirnya bisa menjalankan mimpi bertani kubis dan berpartisipasi dalam beberapa kegiatan yang mewakili desa Hadurok Ri. 

Dalam proses menggemburkan dan memupuk tanah sebelum ditanami kubis, mereka terlibat dalam banyak kegiatan di desa yang membuat mereka kadang-kadang dibenci warga dan bahkan dikerjai. Karena rumah mereka kebakaran, mereka tinggal di rumah Yoon Hae sang kepala desa yang tak lain adalah cinta pertama Min Ki sewaktu SD. Mereka berempat seringkali bertengkar dengan Yoon Hae. Meski demikian, sebagai kepala desa Yoon Hae selalu bersikap bijak pada mereka. Yoon Hee tahu bahwa tugas menjadi pemimpin itu berat, dan terlebih mungkin ia menyimpan perasaan pada Min Ki.

Di desa yang aneh itu, mereka bertemu dengan warga dengan kelakuan aneh dan dan hal-hal aneh lain yang hanya mereka temui di Sadurok Ri. Misalnya Han Cul, ketika ia kecewa karena lelah memacul tanah dan hendak kembali ke Seoul, Ia jatuh cinta pada seorang gadis yang baru saja turun dari bis. Gadis bernama Seu Yoon itu sesungguhnya merupakan pekerja Bar yang sedang mencari uang tunai yang tertimbun di bawah tanah Sadurok Ri dan menyamar sebagai mahasiswa yang melukis mural di desa. Sedangkan Ki Joon, bertemu, bertengkar dan akhirnya pacaran dengan Hwa Ran, gadis China yang merupakan pekerja ilegal yang sangat rajin. 

Di desa juga ada si pemabuk berat yang seharian selalu minum arak beras; kakek yang hobi makan cokelat dan memuntahkan kacang almondnya untuk dimakan orang-orang: bibi tukang gosip dan bermulut ember: petani sukses bertampang kakek-kakek beristrikan perempuan Ubzekistan: perempuan lembut yang selalu bereksperimen dengan masakan sehingga keluarganya hanya makan ramen saja karena takut memakan masakannya yang rasanya hancur; hingga seorang lelaki yang sering kencing di perjalanan.

Kisah tentang kekeluargaan, cinta, tolong menolong dan lelucon terjadi di drama sepanjang 20 episode ini. Sejak awal hingga akhir, drama ini penuh kelucuan dan kekonyolan di balik hal-hal fantastis tentang "modern farmer" alias penduduk desa Sadurok RI. Entah di Korea Selatan bagian mana itu lokasi yang dijadikan desa Sadurok Ri, yang pasti desanya tenang, penuh dengan lahan pertanian dengan aneka tanaman yang subur mulai dari padi, apel, stroberi, kubis dan sebagainya. Desa itu dikelilingi perbukitan hijau nan indah, dialiri sungai yang bersih yang memanjakan mata, memiliki sebuah danau/bendungan, serta memiliki balai desa yang keren juga balai pertemuan yang modern. 

Warga desa juga bersatu-padu dalam memasarkan produk pertanian mereka mulai dari panen bersama, mengepak bersama, menyimpannya dalam "cold storage" besar dan menjualnya bersama-sama ke kota. Mereka juga memanfaatkan sosial media seperti blog, facebook dan twitter untuk memasarkan produk mereka pada konsumen: membuat label pada kemasan: mendatangkan turis melalui program "village experience" hingga mendatangi konsumen door to door saat persaingan antara petani dalam memasarkan produk pertanian semakin memanas. 

Hal lain yang menarik adalah beberapa petani sukses yang rumahnya sederhana ternyata isi rumahnya modern layaknya rumah-rumah di Seoul. Juga ketika salah seorang petani dapat berkomunikasi dengan penyuluh pertanian melalui alat canggih dalam bentuk jam tangan. Dan bagaimana berbagai dialog disampaikan sebagai cara "memasarkan" betapa hebatnya para petani Korea dan 'baiknya' buah-buahan dan sayuran Korea. 

Meski banyak bagian yang konyol, drama ini direkomendasikan buat mereka yang butuh 'alat' untuk tertawa dan belajar menerima bahwa menjadi petani bukanlah pekerjaan rendahan. Karena petani itu pemberi makan seluruh bangsa. Juga pesan tentang passion yang akan tetap terjaga ruhnya apabila dibarengi dengan cinta dan keceriaan dari orang-orang disekitar. Drama ini memberikan pelajaran tentang hidup yang tak melulu uang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang mampu memperjuangkan cita-citanya meski jatuh berkali-kali, menjaga passionnya, bersikap atas nama cinta dan kekeluargaan, juga bagaimana menjalani hidup dengan harmonis baik dengan keluarga, sahabat maupun tetangga. 

Depok, 28 Desember 2014


No comments:

Post a Comment