Mensyukuri Kehidupan di Kota Fayetteville


Di bawah langit Fayetteville

Sebagai perjalanan pertamaku ke luar negeri, tinggal dan belajar di kota Fayetteville merupakan sebuah berkah. Kota ini sungguh bersih dan cantik. Tidak ada polusi dan sangat minim kriminalitas. Burung-burung bebas terbang di angkasa, atau bertugas membangunkan di pagi buta. Hewan-hewan seperti bajing dan burung bahkan bisa bersahabat saat waktunya makan siang. Orang-orangnya ramah dan baik hati, dan segala hal dikelola dengan sistem yang baik. 

Diantara banyak hal yang kusyukuri, hari ini aku ingin mensyukuri beberapa hal, terkait aktivitas yang kulakukan bersama teman-teman internasionalku. Bertemu mereka membuatku banyak belajar tentang artinya menghargai, menerima dan menari indah dalam perbedaan. 

ART CLASS
Art Class merupakan kelas khusus yang diberikan kepada fellow IFP selama kami studi bahasa Inggris di SILC, Arkansas. Kelas ini terbagi menjadi tiga bagian, yaitu kelas melukis, kelas membuat patung dan kelas memahat. Aku memilih kelas melukis karena memang aku ingin bisa melukis. Mungkin dimasa tua nanti aku jadi pelukis, hehehe. Lukisanku bercerita tentang Indonesia yang kaya akan keanegaragaman hayati tapi terkerangkeng oleh korupsi dan para pejabat yang rakus dan rakyat Indonesia harus melawan sistem yang korup untuk menyelamatkan alam Indonesia sebagai rumah.
Aku beserta guru dan teman-temanku di kelas melukis. Foto by: Oniel

Teman dari Guatemala melukis tentang danau rahasia tempat meninggalnya suku Maya dan sangat populer di negaranya, teman dari Peru menggambarkan suasana pedesaan yang berlatar sebuah gunung yang berdasarkan kisah di negara mereka terbentuk dari tubuh seorang Putri yang tidur panjang karena menunggu sang pangeran, dan teman dari Brazil menggambar tentang bunga yang sangat populer di negaranya, yang biasa digunakan sebagai masakan. Mrs. Budi, guru kami, menggambar tentang suasana pedesaan di Arkansas yang sangat dia sukai.

MENUNGGU RED BUS
Menjadi pelajar internasional, bagiku, bukan saja menjadi duta atas Indonesia, juga atas Islam. Banyak yang bertanya padaku tentang Islam dan mengapa aku berbeda dengan teman-teman kami yang berasal dari Arab Saudi. Saat menunggu bis, seorang teman dari Peru bertanya mengapa aku memakai jilbab dan mengapa aku tidak menggunakan cadar seperti para perempuan dari Arab. 
Menunggu datangnya bus sembari menikmati matahari di halaman. Foto by: Rizia

 Aku jelaskan saja secara gamblang meski grammerku kacau balau, hehehe, dan dia bilang bahwa dia tidak percaya agama. Dia percaya pada satu Tuhan dan berdoa dengan caranya sendiri. Maka kusarankan ia membaca Al-Quran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris, bukan untuk menjadikannya seorang Muslim tetapi agar dia tahu Islam itu apa dan bagaimana. Kukatakan bahwa Islam itu bukan Arab, kebetulan saja Tuhan menurunkan Islam di tanah Arab dan nabi Muhammad adalah orang Arab. 

Dia tetep ngotot dan bilang bahwa aku buka saja jilbabku biar dia bisa lihat rambutku, dan kubilang bahwa aku nggak bisa sebab memakai hijab adalah hukum yang harus ditaati, dan dia cuma nyengir sambil terus bilang bahwa dia masih nggak ngerti kenapa perempuan Arab pakai cadar, hehehe...

SETELAH PESTA ULANG TAHUN
Sepulang dari kampus aku ke SEARS, beli baju hangat, boat dan blazer. Lumayan dapat diskon 15% meski harus bayar pajak sebesa USD 7, hehehe. Senangnya bisa sampai apartemen tanpa nyasar dan public transportation masih beroperasi. Eh, ternyata ada pesta. Seorang teman dari Arab, Abduljabbar membuat pesta ulang tahun bersama, Ryoko, teman sekamarku yang merupakan gebetannya. 

Aku ikut pesta dan cuma makan kue ulang tahun, nggak makan sup, apalagi minum wine. Setelah pesta bubar, Ryoko bertanya padaku tentang pendapatku mengenai pesta di apartemen kami, wine dan sebagainya. Kubilang saja bahwa benar sebagai Muslim aku harus taat pada agamaku, tetapi aku juga nggak boleh mengganggu hak orang lain untuk menikmati apa yang mereka percaya bisa mereka nikmati. Aku toleransi secara penuh atas kebebasan mereka dan kubilang bahwa aku bisa menerima perbedaan dan aku tidak khawatir tergoda.
Abdul Jabbar, teman yang ramah dari Ubzekistan meniup lilin di kue ulang tahunnya

Sebenarnya, katanya, dia melakukan konfirmasi padaku karena aku tidak ikut minum wine sementara beberapa kawan asal Arab Saudi minum wine dan daging nggak halal. Dia bilang teman-temannya yang orang Arab dan Muslim bukanlah orang yang religius. Jadi dia minta maaf padaku jika hal tersebut menggangguku. 

Aku senang bisa berbagi pendapatku mengeni Islam sekaligus mempromosikan Islam dengan cara damai. Setiap hari aku makan siang di meja bersama teman-temanku yang makan-makanan nggak halal seperti pork. Hal tersebut tidak menggangguku, melainkan jadi kesempatanku untuk mempromosikan Islam dengan menjelaskan mengapa aku tidak bisa makan pork, atau sapi dan ayam yang tidak disembelih atas nama Allah swt. 

Juga menjelaskan bagaimana Muslim Indonesia hidup berdampingan dengan penganut agama lain dengan damai dan aku menikmati keimananku sebagai muslim dan terus belajar menjadi Muslim yang baik. Well, ini cerita hari ini.  

Fayetteville, 1 November 2012


No comments:

Post a Comment