SUWANTJI SISWIRAHARDJO: Kisah Kepergian Sang Guru Sejati Ilmu Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia


Death illustration

Senin sore pukul 17.00 wib tanggal 12 September 2011 adalah hari pertamaku menjalani perkuliahan di program pascasarjana Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP Universitas Indonesia. Di ruang N102 aku duduk dan berkenalan dengan beberapa teman, yang paling kuingat adalah Mayang dan Mb Rabiah. Saat tengah berbincang dengan Mayang dan sesekali menyapa beberapa teman yang baru datang, masuklah seorang perempuan sepuh, bertubuh kurus, berkulit coklat, memakai tas berwarna hitam dan baju kurung.

Aku kemudian tahu bahwa beliau adalah dosen yang akan mengajar kuliah Kesejahteraan Sosial dan Pembangunan/ Matrikulasi. Beliau adalah Bu Suwantji Sisworahardjo. Menurut beberapa teman, beliau merupakan dosen yang sangat dihormati di jurusan IKS dan FISIP UI. Menurut seorang teman, semua dosen di jurusan IKS sangat menghormati beliau karena dedikasi beliau yang tinggi dan beliau merupakan perempuan yang bekerja dalam diam, talk less do more

Selama satu semester beliau mengajar tiga mata kuliah bersama dosen lain. Hal yang unik dari beliau ketika mengajar adalah selalu menggunakan OHP dan menyampaikan materi yang telah ditulisnya dalam plastik transparan, yang umum digunakan oleh dosen sepuh. Sebagai generasi yang sudah mengenal teknologi komputer dan berbagai macam teknik mengajar aku lumayan bosan saat harus mengikuti kuliah beliau. Lebih dari itu kondisi kedua mataku yang minus membuatku merasa sangat kesulitan saat harus berusaha keras memahami tulisan beliau di layar. Ini kuliah S2, ini UI dan aku ingin mendapatkan pengetahuan lebih. Alhasil, aku harus menulis ulang beberapa materi ajar beliau agar bisa memahami maknanya dan proses belajarku di UI tidak sia-sia. 

Bukan hanya aku yang berkebaratan dengan cara beliau mengajar, terlebih lagi beliau tidak menggunakan asisten untuk membantu hal-hal teknis dalam perkuliahan, banyak teman-temanku merasa demikian sehingga seringkali kami membicarakan perihal ini ketika berkumpul. Ketika terbersit ide seperti mengapa tidak mengganti beliau dengan dosen muda, aku mendapat keterangan bahwa jurusan tidak bisa mengganti posisi beliau karena beliau merupakan dosen yang sangat berjasa atas pendirian jurusan IKS. 

Selain itu, beliau merupakan dosen dan pekerja sosial yang memiliki banyak pengalaman di lapangan sehingga sangat sayang jika harus menggantinya dengan dosen muda yang punya segudang kecakapan akademis tapi minim pengalaman lapangan. Namun, mungkin karena aku berharap terlalu tinggi secara sepihak kepada beliau sementara aku kurang mengoptimalkan proses berdiskusi dengan beliau aku tidak memiliki pemahaman yang mapan mengenai materi yang beliau ajarkan. Dan aku gagal mendapatkan nilai A pada semua mata kuliah yang beliau ajar. 

Di semester 2 ini, ketika setiap mahasiswa harus kuliah berdasarkan peminatan, aku tidak bertemu dengan beliau di kelas. Seingatku, aku hanya sempat dua kali berpapasan dengan beliau ketika beliau hendak pulang. Kemarin, 14 April 2012 di kantin Takor FISIP UI aku dan beberapa kawan sempat memperbincangkan beliau dan beberapa kawan yang diajar beliau sempat mengeluhkan bahwa beliau belum mengembalikan tugas ujian tengah semester yang seharusnya sudah dikembalikan kepada mahasiswa untuk diperbaiki. 

Seorang teman mengatakan bahwa memang sangat sayang jika dosen seperti beliau tak didekati untuk diajak diskusi mengenai berbagai hal terkait pekerjaan sosial. Ia juga mengatakan bahwa tulisan beliau itu bagus dan sarat makna, apalagi beliau lulusan Utrecht University, Belanda dan sangat fasih berbahasa Belanda. Saat itu aku jadi kepikiran untuk merubah langkahku, untuk mulai mendekati beliau dan menguras ilmunya. Ide itu berlanjut ketika aku tengah melakukan perjalanan menuju Jakarta via kereta. 

Sembari memandangi pemandangan Jakarta yang khas, jalanan yang macet, bangunan yang tidak teratur dan sampah yang sudah mendarah daging didalam lapisan tanah, aku memikirkan kira-kira kapan waktu yang tepat untuk menemui beliau dan mulai melakukan pendekatan sebelum memulai diskusi mengenai sejarah karir beliau dan pengalaman beliau selaku dosen dan pekerja sosial. Saat itu aku hanya berpikir sederhana, bahwa sungguh sayang jika orang-orang hebat meninggalkan dunia sebelum mewariskan ilmunya, sebagaimana sering terjadi.

Malam ini, 19.30 wib, aku membuka email dan mendapati sebuah kabar yang sangat menghancurkan hati. Bu Suwantji Sisworahardjo, dosen yang ingin kutemui itu, diberitakan telah meninggal dunia. 

Berita terkait kematian beliau:


Sebagai manusia aku memahami bahwa hari ini adalah jadwal beliau meninggalkan dunia. Kematian bukan perkara aneh sebab setiap manusia yang pernah dilahirkan dan menjalani hidup, akan mengalami itu, termasuk aku. Hanya saja ada rasa sakit yang sangat menyesak di dadaku. Rasa sakit yang muncul karena akumulasi kesalahanku pada beliau. Sebagai mahasiswa yang sempat berinteraksi dengan beliau untuk urusan kuliah aku belum sempat minta maaf atas keluhan-keluhanku. Selama satu semester aku hanya mengeluh tanpa mau mencari tahu dan bicara dari hati ke hati antara mahasiswa dan dosennya. 

Malam diam,
mengheningkan cipta
dan membelai ragamu yang kini kaku.
Aku diam,
terguncang hebat,
oleh berita kepulanganmu.
Engkau pulang,
meninggalkanku yang merindukanmu
sebelum engkau tahu betapa aku mengagumimu.
Selamat jalan guruku,
semoga para malaikat memangkumu menujuNya….
Amin. 

Berita mengenai kematian Ibu Suwantji

Setiap kali mengingat beliau aku selalu teringat akan almarhum nenekku yang meninggal dunia pada Agustus 2006. Satu kesamaan antara beliau dan almarhum nenekku adalah selalu menggunakan pakaian/ baju kurung yang atasan dan bawahannya sama alias mereka tidak membeli pakaian melainkan membeli bahan lalu menjahitnya di penjahit langganan sesuai dengan model dan ukuran yang mereka inginkan.
  
Beberapa karya beliau:

Satu hal yang kusesali kini, bahwa aku telah menunda waktuku untuk menimba ilmu dari beliau. 
Terlambat sudah...

Depok, 19 April 2012


No comments:

Post a Comment