SANG PENARI: Kemiskinan, Kebodohan dan Seksualitas Perempuan yang Diperdagangkan

Sepasang kekasih, Srintil dan Rasus. Sumber: susandevy.com


Tersebutlah Dukuh Paruk di suatu tempat di pulau Jawa sebagai pedukuhan nan miskin yang dibangun leluhurnya Ki Secamenggala sang manusia durjana di tengah persawahan yang luas. Ki Secamenggala merupakan pelarian. Ya, dia berlari dari kejahatannya dan menemukan tempat ia membangun rumahnya, lalu menjadi kampung bagi anak cucuknya. Dukuh Paruk bukan saja potret kemiskinan sebagian kecil penduduk Indonesia tahun 1960an, juga sebuah gambaran menarik pencarian identitas warganya yang sedarah. Yup! Jika dirunut pada nasab Ki Secamenggala yang telah terbaring di dalam kuburan yang dikeramatkan, pada Sang pencipta dan pada alam yang senantiasa memberi mereka tanda, maka seluruh penduduk Dukuh Paruk yang terpencil itu merupakan saudara sedarah bagi satu sama lain.

Ahmad Tohari, sang penulis trilogi 'Ronggeng Dukuh Paruk' dengan apik menggambarkan kehidupan masyarakat kecil seperti di Dukuh Paruk yang jauh dari hingar bingar pembangunan pasca kemerdekaan. Gambaran yang menurutku begitu memikat, menyakitkan, asing dan seakan-akan ada di tanah Indonesia yang sangat jauh, tidak terekam dalam kehidupan panjang masyarakat pulau Jawa yang terkenal ke seantero negeri. Dukuh Paruk seperti kehidupan yang lain, dongeng dari negeri entah berantah yang menyakitkan. 

Setelah pencarian pertama pada 2003 atas trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, akhirnya aku bisa mendapatkan ebook-nya pada awal 2011. Kuakui saat itu aku tidak bisa menemukannya di toko buku, dan harus puas membaca buku tersbeut di laptopku hingga kedua mataku perih. Saat membacanya jantungku berdebar-debar, tak tahu harus kugambarkan karena pesona, kemiskinan yang mengenaskan, kisah cinta yang culas, atau apa. Yang pasti, Ahmad Tohari seakan hendak menguliti siapa sebenarnya penduduk bangsa ini yang ia gambarkan sebagai warga Dukuh Paruk. 

Ronggeng Dukuh Paruk bukan hanya bercerita tentang kemiskinan, kelaparan dan kebodohan penduduknya. Juga bukan hanya tentang Srintil dengan kepolosannya, kejujurannya, rasa bersalahnya, tubuh moleknya, tariannya, tembangnya dan keperawanannya yang mahal dan diperjualbelikan oleh sepasang dukun ronggeng. Namun juga tentang jungkir balik dunia kecil Dukuh Paruk yang dipermainkan para politik elit pejabat Desa, Kecamatan, Kabupaten hingga negara. Srintil dan semua orang bodoh lagi miskin di Dukuh Paruh terserat arus yang dimainkan para politisi di Jakarta. 

Dunia ini pula yang semakin memisahkan Srintil dan Rasus pada jalan yang berbeda, ditarik arusnya masing-masing. Cinta masa kecil mereka tersekat oleh kepentingan masing-masing dunia mereka. Srintil dengan ronggengnya dan Dukuh Paruk, sedangkan Rasus oleh pengelanaan dan proses panjangnya menjalani pendidikan sebagai tentara. Juga pencarian akan ibu kandungnya, yang karakteristik impiannya gagal ia dapatkan dari Srintil. Dunia tidak melihat Dukuh Paruk, mungkin karena tak tahu dimana Dukuh Paruk

Ketika Srintil dinobatkan sebagai Ronggeng, yang mengisi kekosongan Dukuh Paruk akan hiburan dan lenggokan ronggeng, para perempuan yang merupakan tetangganya dan para pedagang perempuan di pasar mendukungnya penuh. Srintil umpama seorang dewi. Siapa yang memandangnya akan mabuk seketika oleh senyum manisnya, kulitnya yang muda lagi mulus, tariannya yang gemulai bagai candu dan karena dia masih perawan. Srintil menerima banyak pujian dan hadiah dari mereka entah sayuran, kain, bedak, gincu, pijatan, minyak dan sebagainya. Para perempuan itu merasa bangga jika suami mereka mampu bertayub apalagi bermalam dengan Srintil: itulah bukti bahwa suami mereka jantan dan punya uang. 

Srintil menjadi bintang, seperti putri kayangan yang membuat para lelaki dari seantero kecamatan ingin bertayub dan tidur dengannya meski mereka harus mengeluarkan uang yang teramat banyak. Srintil dalam dunianya yang ceria dan penuh puja puji tetaplah merindukan Rasus yang diam dan menolak ajakannya untuk menikah, Rasus sang pahlawan Dukuh Paruk yang membuatnya patah hati dan kian menggila sebagai Ronggeng. 

Dunia Srintil dan Dukuh Paruk kian menggemaskan dan menyakitkan manakala Srintil dan beberapa orang di Dukuh Paruk ditangkap dengan tuduhan sebagai antek-antek komunis gara-gara mereka mendukung sebuah organisasi yang bicara atas nama petani. Penduduk Dukuh Paruk mudah dijebak oleh isu dan kampung mereka rata dengan tanah setelah dilalap api. Penduduk Dukuh Paruk yang biasa makan nasi, singkong dan tempe bongkrek itu dianggap berkhianat pada negara. Mereka yang buta huruf dan tidak mengerti politik itu dianggap melakukan makar dan hendak mengubah ideologi negara menjadi Komunis. Srintil dipenjara selama dua tahun. penduduk lainnya ada yang mati, diperkosa, disiksa dan entah bagaimana lagi. Ketika yang lain dilepaskan dan harus melapor ke petugas, Srintil belum kembali. Srintil dan tubuhnya dianggap memikat di mata seorang pengkhianat. 

Kemolekan Srintil dan statusnya sebagai dewi di Dukuh Paruk telah membuat para penegak hukum gelap mata, dan Srintil dijadikan bahan perkosaan mereka, bergiliran. Srintil yang merasa dunianya hancur dan Rasus yang hilang ditelan bumi membuatnya nyaris gila, terutama ketika sosok lelaki baik yang selama ini diinginkannya menjadi suaminya dan membawanya pergi dari dunia kotor malah hendak menjualnya demi sebuah proyek. Ketika Rasus kembali ke Dukuh Paruk ia melihat kenyataan yang begitu pedih, bahwa dewinya kini terpasung dalam dunia yang menyakitkan. Rasus menangis, menyadari bahwa ia terlambat menyelamatkan Srintil. Sang dewi, ada diambang kematian jiwa. 


Difilmkan dengan judul 'Sang Penari' kisah Srintil dalam 'Ronggeng Dukuh Paruk' cukup menyita perhatianku. Aku harus menyaksikan film ini. Sebagaimana Ahmad Tohari bilang, 'Sang Penari' adalah visualisasi dari trilogi 'Ronggeng Dukuh Paruk' agar segenap masyarakat dapat menikmatinya. Aku merasa beruntung karena telah membaca novelnya sebelum akhirnya film ini muncul. Novel ini menjadi pengingat bagiku: perempuan dipandang dengan cara yang sama dimanapun mereka berada: komoditas seksual. 

Jakarta, 17 November 2011. 


No comments:

Post a Comment