LE GRAND VOYAGE: Perjalanan Mencari Tuhan

Le Grand Voyage

Pada hari-hari menjelang ujian, Reda dipanggil pulang oleh ayahnya. "Kakakmu ditangkap polisi karena mabuk dan menyetir ugal-ugalan. SIMnya dicabut. Sementara aku sudah tua dan tidak bisa mengemudi. Keinginan ini nggak bisa ditunda sebab aku sudah menundanya selama setahun. Antarkan aku ke Mekkah. Kamu punya 4 hari untuk bersiap," kata sang ayah yang bikin Reda kesal. Terlebih ia harus menghadapi ujian akhir yang merupakan kesempatan terakhirnya. Reda pun heran, mengapa sang ayah harus berhaji jalur darat sementara ia bisa menggunakan pesawat terbang sebagaimana calon haji dari seluruh dunia.  Namun, seluruh anggota keluarganya hanya bisa diam, nggak tahu harus kasih solusi macam apa.
Pada hari keberangkatan, seluruh keluarga dan tetangga berkumpul demi mengantar mereka. Reda yang kesal tetep aja kesal. Terlebih perjalanan mereka nyatanya menggunakan mobil rusak yang baru dibenahi beberapa hari sebelumnya. Mobil itu sedan berwarna biru dengan satu pintunya berwarna oranye. Tugas utama Reda adalah menyetir, sementara sang ayah mengatur segala hal selama perjalanan, termasuk soal ransum, ke jalan mana mereka belok, di mana mereka menginap dan sebagainya. Meski Reda sudah mempelajari rute perjalanan mereka menggunakan peta, tetap saja lapangan terasa berat bagai medan perang. 
Selama perjalanan melintasi Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria kemudian menyeberang ke Turki, Suriah, Yordania, hingga sampai di Arab Saudi dipenuhi pertengkaran kecil layaknya pertengkaran sehari-hari antara ayah dan anak. Keduanya selalu berbeda pendapat sebagai ciri khas kesenjangan antar generasi. Misalnya ayahnya membuang ponsel (Nokia) Reda ke tong sampah karena Reda tak fokus menyetir sebab selalu menerima sms. Ternyata itu SMS dari Lisa pacar Reda. Seringkali sang ayah ini bikin Reda mengerem mendadak hingga mobil itu nyaris terjungkal. Atau misalnya karena Reda tak mau mendengarkan nasehat sang ayah untuk rehat saat mata Reda merah karena mengantuk dan kelelahan.  
Pertengkaran-pertengkaran kecil selama perjalanan selalu saja terjadi akibat perbedaan berpikir antara keduanya. Ayahnya begitu marah saat Reda terpancing untuk minum alkohol atas ajakan Mustafa, orang Turki yang menumpang mobil mereka namun menipu mereka dengan mengambil uang perjalanan mereka di hotel sehingga persediaan uang mereka menipis. Juga saat Reda bermesraan dengan wanita penghibur di depan kamar hotel karena ia mabuk. Di sisi lain Reda marah karena ayahnya yang kolot selalu menghentikan perjalanan semaunya, untuk shalat, mengatur makanan yang hanya berupa roti, keju dan telur rebus yang menurutnya kekurangan nutrisi. Juga saat ayahnya memberikan uang pada seorang janda padahal mereka sudah tak punya uang lagi. Hingga Reda marah besar dan meninggalkan ayahnya di gurun. 

Tak hanya itu, mereka juga banyak mengalami kesulitan selama perjalanan. Mulai dari perbedaan bahasa, ketiadaan air dan terjebak salju yang membuat ayahnya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu, hingga kaburnya domba yang akan mereka sembelih untuk bekal perjalanan. Dalam menghadapi semua itu Reda selalu saja marah dan berpikir pendek, namun ayahnya tetap tenang.

Aneka kesalahpahaman kemudian menjadi saling pengertian saat Reda mulai merasa dekat dengan ayahnya, terutama ketika setiap waktu shalat ayahnya pamitan padanya untuk shalat dan tak memintanya untuk mengikutinya. Juga saat ayahnya mengembalikan foto Lisa dan memiliki sejumlah uang di dalam kaos kaki untuk perjalanan pulang, juga cerita singkat ayahnya mengenai kekagumannya pada kakek Reda dan keinginannya berhaji sebelum mati.

Pelajaran demi pelajaran hidup mereka temui selama perjalanan, bagi sang ayah juga bagi si anak. Reda misalnya begitu kagum saat mengetahui bahwa begitu banyak orang menuju Mekkah untuk berhaji dan ketika waktu shalat tiba tak ada yang memaksa nya untuk ikut shalat. Setiap orang berjalan dengan panggilan Tuhan.

Reda kemudian baru menyadari arti penting ayahnya baginya saat berhari-hari ayahnya tidak pulang ke kemah sehingga ia harus mencarinya ditengah lautan manusia yang merupakan jemaah haji dan terjepit diantara mereka, hingga kemudian seorang petugas mengantarkannya ke kamar mayat. Reda pun menemukan fakta bahwa ayahnya telah meninggal. Di sinilah hikmah perjalanan panjang mereka menjadi titik balik kehidupan Reda. Perjalanan Agung ini adalah bukan perjalanan ayahnya, melainkan perjalanan Reda sendiri. Perjalanan spiritualnya.

Cerita ini merupakan film ini berkisah tentang 'Perjalanan Agung' yaitu berhaji yang dilakukan seorang ayah (Mohamed Najd) atas bantuan putranya, Reda (Nicolas Cazale). Film Islami asal Perancis yang mendapat banyak penghargaan ini, salah satunya Best Debut Film Venice bukanlah film gegap gempita. Melainkan berkisah tentang perjalanan ayah dan anak sejauh 3000 mil dari Perancis ke Saudi Arabia menggunakan mobil (mobil butut warna biru yang pintu kanan depannya berwarna orange). Film ini mengingatkanku pada kisah Lukman dan putranya yang diabadikan dalam Al-Quran surah Lukman. Diceritakan bahwa Lukman selalu menasehati anaknya dengan hikmah dan untuk mengambil hikmah dibalik setiap kejadian yang menimpa mereka. Film yang ringan, tidak banyak dialog, tidak banyak kejutan tapi sangat memukau. Sangat bagus sebagai media belajar dalam keluarga.

Depok, 19 September 2011


No comments:

Post a Comment