Menunggu Rara


Ilustration. Sumber: Pinterest

Bulan lalu, saat aku berkesempatan pulang ke rumah, aku berkunjung ke rumahmu. Aku bertemu ibumu. Dia bertanya mengapa kau tak pulang bersamaku? Ibumu semakin tua dan membutuhkanmu dan beliau sangat merindukanmu. Benarkah kau tak pernah pulang, Rara? Apa yang terjadi denganmu sampai-sampai kau menolak pulang ke rumahmu sendiri, dimana keluargamu menunggumu dan merindukanmu. Apakah kau masih marah dan menyimpan kemarahan itu di hatimu selama bertahun-tahun?

Rara, ibumu begitu merindukanmu. Setiap pagi ia menyiram bunga-bunga yang kau tanam dengan kasih sayang, dan sore harinya beliau duduk di beranda rumah berharap kau pulang. Beliau juga selalu membersihkan kamarmu dan menjaga buku-bukumu dari gigitan tikus. Beliau juga sering berlama-lama menatap photo-photomu di album keluarga. Sesekali beliau menyeka airmatanya dan tersenyum penuh kepiluan saat memandangi photomu sewaktu wisuda. 

Sore itu, saat aku berkunjung ke rumahmu, ibumu tengah duduk di beranda sembari menunggumu. Saat aku membuka pagar, beliau bangkit dan memiringkan tubuhnya agar dapat melihat dengan jelas siapa yang datang. Saat beliau tahu aku yang datang, beliau duduk kembali dengan wajah kaku. Menurutku nyaris menangis. Aku memberi salam dan beliau masih ingat padaku. Katanya, "Ini Putri teman sekolahnya Rara waktu SMU ya? Rara tidak ikut pulang, Nak?" Dan saat itu aku tahu bahwa Kau lama tak pulang, Ra.

Aku mengaku pada ibumu bahwa kita sudah sangat lama tak bertemu sejak kau memutuskan untuk kabur dihari pernikahanmu. Aku tak tahu kau dimana dan bagaimana keadaanmu. Semua tentangmu seakan-akan hilang ditelan bumi. Kau pergi entah kemana dan tak pernah memberi kabar. Bagaimana keadaanmu sekarang, Ra? Kuharap kau tak lagi marah, toh kau sudah berhasil lari dari pernikahan itu.

Ra, ibumu tinggal dalam kesepian yang sempurna di rumah besar kalian. Tak banyak saudaramu yang mengunjunginya setelah kau mempermalukan mereka hari itu. Adikmu sibuk dengan jadwal kuliahnya dan seperti jarang pulang. Jarak antara Jawa dan Sumatera memang jauh dan memberatkan bagi adikmu untuk sering menjenguk ibu kalian. Kasihan ibumu. Bagaimana kalau beliau sakit parah?

TIGA TAHUN LALU...
"Keluargaku akan menikahkan aku karena ayahku tak sanggup lagi bertanggungjawab atas dunia dan akhiratku. Huh, untuk apa mereka lahirkan aku ke dunia ini jika mereka menyiakan aku!" Kau begitu marah, Ra. Wajahmu merah padam saat itu, lalu beku. Matamu berkaca-kaca. Aku tahu kau ingin menangis hebat saat itu, tapi kau menahannya. Kau tak suka menangis dihadapanku.

"Ayahku bilang perempuan itu lebih baik menikah, daipada menjalani hidup nggak jelas sepertiku. Apanya yang ngga jelas? Toh Ayahku juga yang baut aku drop out dari universitas padahal saat itu aku sedang giat belajar. Tega sekali mereka padaku." Dan aku hanya bisa diam, menunggu kau bicara lagi. Tapi kau tak bicara lagi setelah itu. Kau pulang ke rumahmu setelah mendapat telepon dari ibumu. Saat itu hujan, tapi kau tak mau kupinjami payung. Kau berjalan dalam hujan rintik yang kutahu membuatmu leluasa menangis.

Setelah itu kau tak menghubungiku. Saat aku berusaha menemuimu di rumahmu, ibumu selalu bilang kamu nggak mau bertemu siapapun. Rara, saat itu aku sangat mencemaskanmu dan aku sulit tidur karena memikirkanmu. Rara, andaikan kamu tahu. Sebagai sahabatmu, aku begitu ingin menjadi orang yang kau percaya, bahkan disaat-saat sulit dalam hidupmu.

Saat aku menunggumu menemuiku dan berccerita tentang banyak hal, tentang masa depan dan impian-impian, tiba-tiba aku dikejutkan oleh kedatangan seorang kurir yang membawa undangan pernikahanmu. Aku tak tahu apa alasanmu menerima pernikahan itu, saat itu aku hanya berharap kau melakukannya dengan tulus, bukan karena paksaan ayahmu.

Saat melihatmu dalam balutan kebaya, tengah duduk di samping mempelai pria, aku menemukan jawabannya. Wajahmu yang kaku dan matamu yang sendu membuatmu seperti seonggok mayat dalam gaun pernikahan. Orang-orang berbisik-bisik tentangmu, tentang wajahmu yang kaku dan tak sedikitpun tersenyum. Tentang wajahmu yang tertunduk seakan-akan tak peduli pada keributan disekitarmu. Pun saat acara pernikahan akan dimulai, kau diam saja. Kau bisu. Kau diam saja saat ibumu menyenyuh bahumu dan mengingatkanmu bahwa kau adalah calon pengantin yang menjadi pusat perhatian.

Kau ingat, Rara, saat semua orang menunggu responmu dan wajah calon suamimu yang resah dan kaget atas perbuatanmu, kau tiba-tiba berdiri. Kau mengangkat wajahmu dan melepas selendang pernikahamu. Kau berteriak pada semua orang, "Kalian telah membunuh kakakku! Aku tidak sudi menikah dengan lelaki yang ayahnya telah membunuh kakakku!!" Lalu kau berlari meninggalkan semua orang yang terkaget-kaget oleh amarahmu.

Saat semua orang sadar bahwa kau telah pergi, mereka berlarian mengejarmu. Mencarimu ke setiap rumah tetangga dan mencarimu hingga malam hari. Saat ibumu tahu bahwa kau telah membawa semua barangmu sebelum hari pernikahan, beliau shock dan pingsan. Setelah itu, orang-orang bergumul untuk berbicara mengenai apa yang kau sebutkan hari itu. Mereka membicarakan kakakmu lagi, lalu mereka bergosip bahwa pak lurah memainkan peran dalam kematian kakakmu.

Bersambung


Jakarta, 22 Juni 2011


No comments:

Post a Comment