Sejumlah Kesan Mendalam dan Nasehat Bijak dari Indonesia Millenial Summit 2019

Hai, aku termasuk tipe pemilih yang mana ya? (Foto: Dian)

Sabtu adalah hari yang ideal untuk bersantai, setelah lima hari lamanya berkutat dengan pekerjaan. Tapi, Sabtu lalu tepatnya tanggal 19 Januari aku harus bangun pagi sekali agar tidak terlambat datang ke sebuah acara keren

BACA DULU INI YA: Lost in Bali for Happy Me

Setelah merasa cukup berdandan (meski aku merasa agak salah kostum) dan tidak sarapan, aku meninggalkan kosan menuju stasiun kereta api, meluncur ke kawasan Sudirman. Setelah keluar stasiun dengan perut lapar, aku memesan Gojek menuju Kempinski Ballroom. Bukan apa-apa, aku khawatir terlambat, karena kalau terlambat aku dipastikan tidak diperbolehkan masuk. Dan yeah benar saja, saat aku tiba antrian menuju lift ke lantai 11 mengular. Wah, ternyata banyak banget peminat acara ini dan semua berwajah sumringah!

Saat baru memasuki lokasi kegiatan dan sedang melihat-lihat suasana, aku kebingungan mencari orang yang kukenal. Ya udah, minta tolong pada seseorang aja untuk memotretku sebagai cara efektif untuk berkenalan. Maka berkenalanlah aku dengan Mbak Dian, sosok perempuan mungil yang tengah hamil yang sebelumnya kulihat berjalan kaki menuju lokasi kegiatan bersama seorang perempuan muda yang ternyata merupakan adiknya. Akhirnya, aku memulai pagi dengan teman baru, sebelum ditambah teman baru lainnya bernama Febri.
Wefie dulu bersama Mbak Dian dan Febri sembari menunggu acara pembukaan dimulai

Gilak! Materi di acara ini sangat melimpah dan dibagi kegiatannya dibagi kedalam 3 stage alias panggung. Sampai bingung aku memilihnya karena ingin rasanya menghadiri setiap panggung dan belajar kepada semua tokoh muda keren bangsa ini. Tapi, sembari memikirkan mau ikut masuk ke stage yang mana dan mengikuti materi dari siapa, aku foto dulu dong. Dan menurut IDN Research Intistute nih, Millenial itu terbagi menjadi dua golongan, yaitu: Junior Millenial dan Senior Millenial. Nah, aku ya termasuk Senior Millenial alias manusia bijak dengan segala sebutan yang baik itu haha.
Nona Muka Bantal akhirnya mengaku sebagai Senior Millenial ala IDN Times (Foto: Dian)

Btw, Indonesia Millenial Summit apaan sih? 

"Indonesia Millennial Summit is an independent summit by IDN Times committed to shaping Indonesia’s future by bringing together leaders from all across the archipelago and across disciplines. This multi-stakeholders approach will involve leaders from Academics, Athletes, Government Officials, Business Leaders, NGO Leaders, Social Entrepreneurs, Activists, Artists, Religious Leaders, and Scientists and will provide space for unique idea and solution to flourish." 
Artinya: 
"Indonesia Millennial Summit adalah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) independen yang diselenggarakan oleh IDN Times (salah satu media online di Indonesia) yang berkomitmen membentuk masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dari seluruh nusantara dan lintas disiplin ilmu. Pendekatan multi-stakeholder ini akan melibatkan para pemimpin dari Akademisi, Atlet, Pejabat Pemerintah, Pemimpin Bisnis, Pemimpin LSM, Pengusaha Sosial, Aktivis, Artis, Pemimpin Agama, dan Ilmuwan dan akan memberikan ruang bagi ide dan solusi unik untuk berkembang."
Kegiatan ini memang dikemas gila-gilanaan. Selain menghadirkan 50 orang lebih pembicara dan top leader lintas disiplin, juga menyuguhkan aroma harapan akan masa depan Indonesia yang lebih baik. Hal ini dapat kulihat dari pancaran mata pihak IDN Media selaku penyelenggara, para pembicara dan peserta yang hadir, yang jumlahnya mencapai 1.500 orang. Meskipun semalaman aku nggak bisa tidur sehingga kedua mataku terlihat bengkak, aku tetap semangat karena aku tahu ini sebuah panggung belajar yang keren. Ya Tuhan, aku sangat bersemangat!

Acara dibuka oleh MC dengan menampilkan diskusi singkat dari dua tokoh penting dalam dunia bisnis di tanah air, yaitu Bapak Salman Subakat sebagai Chief Marketing Officer PT. Paragon, produsen kosmetik Wardah, Emina, NYX, Make Over dan lainnya. Serta Ibu Melissa Siska selaku Chief Operating Officer (COO) Tokopedia. Kemudian, setelah Bapak Jusuf Kalla selaku Wakil Presiden hadir, barulah acara resmi dibuka, termasuk pemaparan Indonesia Millenial Report 2019 yang mengesankan. Setelah acara pembukaan diresmikan dengan pemukulan gong oleh Wakil Presiden bersama petinggi IDN Media, barulah sesi diskusi di setiap stage dimulai. 

UNDUH DISINI YA: Indonesia Millenial Report 2019

Dalam konferensi tingkat tinggi ini, publik dipertemukan dengan para top leader dari berbagai profesi dan latar belakang, untuk sama-sama belajar.  Bentuknya diskusi singkat yang menghadirkan beberapa orang di satu panggung dalam tema tertentu, kemudian terjadi tanya jawab dengan audiens. Kemasannya biasa aja sih. Tapi, yang menjadi highlight dalam kegiatan ini adalah siapa yang ada di panggung dan apa yang dia sampaikan, yang secara keseluruhan bertujuan untuk berbagi pengalaman berharga, hingga harapan menuju masa depan Indonesia yang lebih baik di tangan seluruh warga negara melalui berbagai kompetensi dan latar belakang profesi. 

MENUJU INDONESIA EMAS 2045
Hm, ternyata perjalanan bangsa bernama Indonesia sebentar lagi akan mencapai usia 100 tahun pada 2045, yang juga digadang-gadang sebagai usia emas Indonesia atau Golden Era. Nah, usia emas ini sendiri diawali oleh periode Bonus Demografi pada 2030, yang hanya akan terjadi sekali saja dalam sejarah perjalanan sebuah bangsa. Bonus Demografi merupakan kurun waktu di mana generasi produktif (20-35 tahun) jumlahnya lebih banyak dari generasi pada usia lain. Sehingga kegiatan di berbagai bidang banyak diisi oleh generasi terbaik bangsa. Dengan demikian, performa kehidupan berbangsa dan bernegara di berbagai sektor dijamin berada dalam posisi puncak dan terbaik.
Pemaparan Indonesia Millenial Report 2019

Menurut data Badan Pembangunan Nasional (Bappenas) saat ini terdapat 63 juta warga negara Indonesia yang masuk dalam katergori Millenial (20-35 tahun), yang berarti ada dalam fase usia produktif. Sehingga, untuk mengoptimalkan pencapaian kehidupan berbangsa dan bernegara di berbagai bidang, pemerintah dan sektor swasta harus 'mengerti' apa maunya generasi Millenial ini. Karena, dengan mengetahui perilaku dan keinginan generasi ini, maka dapat mendorong mereka sebagai penggerak roda ekonomi bangsa hingga Indonesia sukses memanfaatkan bonus demografi.

Indonesia Millenial Report 2019 ini menyuguhkan data tentang perilaku Millenial yang dapat digunakan berbagai kalangan untuk menentukan strategi dalam menggaet suara mereka. Misalnya nih, ternyata hanya 23% Millenial yang menonton berita politik, sehingga agak mengkhawatirkan jika mereka nggak mau terlibat dalam pemilihan. Sebab ternyata kaum Millenial lebih suka melihat kinerja para tokoh secara perseorangan dibandingkan Partai Politik. Lagipula, bagi Millenial panggung politik itu terlihat menyengsarakan, sehingga mereka lebih suka aktif di panggung-panggung pengembangan diri. Makanya, nggak heran kan kalau mereka yang terlibat di dunia politik merupakan muka lama, muka tua dan nggak jauh-jauh dari anggota dinasti suatu rantai kekuasaan. 
Aktivitas Keseharian Millenial dengan sampel Jakarta dan Surabaya (IMR 2019)

Sandiaga Uno, calon Wakil Presiden pasangan Prabowo Subianto yang hadir menjadi salah satu pembicara misalnya merasa khawatir jika generasi Millenial apatis pada politik. Menurutnya, sedikitnya jumlah kelas Millenial yang tertarik pada politik membuatnya khawatir karena bagaimanapun juga masa depan banga Indonesia ada di tangan mereka, dan peran-peran di pemerintahan tidak mungkin berjalan dengan sehat jika generasi penerusnya tidak berminat pada politik.
"Hasil riset tim kami memperlihatkan kalau 50% Millenial nggak suka atau nggak terlalu suka politik. Katanya politisinya ngebosenin. Pilihan mereka ya menunggu, seperti debat capres. Nah, perlu dicari kan kenapa mereka nggak tertarik? Makanya, politik itu harus articulare, relevant dan capable. Artinya, politisi harus mampu berpotensi seru dan viral bagi Millenial. Kalau Millenial nggak vote kan bahaya karena masa depan milik Millenial. Mereka akan memimpin di 2030, sehingga harus engage sama politik," katanya semangat. 
Alasan itulah yang membuatnya memutuskan terjun ke politik dan kini maju sebagai calon wakil presiden. Hm, apakah Millenial akan melek politik setelah mendengar pernyataan tersebut?

KERJA KOLABORASI SEBAGAI BUDAYA BISNIS
Ini merupakan sesi pertama di panggung pembukaan. Menghadirkan Ibu Melissa Siska dari Tokopedia dan Bapak Salman Subakat dari PT. Paragon, dipandu oleh Kak Maggie Calista si cantik pembaca acara Metro Xin Wen di Metro TV. 

"Respect is earn to be leader," ujar Ibu Melissa Siska saat ditanya soal posisinya di Tokopedia. Karena saat baru mulai kerja di Tokopedia, dan itu baru balik dari luar negeri, nggak ada karyawan yang mau temenan sama dia karena si Ibu bicaranya bahasa Inggris melulu dan mungkin belum kenal karakter karyawannya, sehingga mereka nggak cair.

"Kita nggak tahu market produk halal itu bakal besar. Kita berulangkali riset, wah pasarnya nggak ada. Nah, kita mainnya di ketenangan, comfort, juga lifestyle. Saat itu kan fashion hijab belum berkembang. Kalau kita fokus ke bisnis, kebutuhan publik nggak akan kebaca. Fashion dan culture harus bagus. Makanya kemudian ada inovasi. Misalnya maskara tembus air supaya bisa wudhu," kata Pak Salman Subakat, memulai cerita soal produk kosmetik Wardah. 

"Inovasi lahir dari kesulitan. Misalnya, bikin professional product, atau Emina yang agak Korea-Korea-an. Kita naikin challenge-nya. Ini kerjaan jadi seru. Risk taker jadinya," tambahnya sembari tersenyum sumringah. 
Ibu Melissa Siska saat berbagi cerita tentang budaya bisnis di Tokopedia

Ibu Melissa Siska, yang bagiku ketahuan banget cerdasnya, juga menjelaskan bahwa di Tokopedia mereka bekerja menggunakan Peta sebagai alat navigasi dan Kompas sebagai strategi perusahaan. Termasuk menjadikan konsumen sebagai pihak yang paling dipertimbangkan dalam hal strategi bisnis. Misalnya nih, setelah berkarya selama 10 tahun, Tokopedia akan mulai mengarah ke infrastructure fintech, guna memudahkan konsumen mengakses produk yang dujual 5000an seller Tokopedia. Termasuk inclusive payment selain bank, sehingga kegiatan bisnis di offline market dapat terus berjalan terutama menghubungkan seller dan buyer di wilayah terpencil. 

"Kerja kolaborasi sangat penting di dalam ekosistem Tokopedia," katanya meyakinkan, karena kolaborasi-lah yang telah membuat Tokopedia besar selama 10 tahun dan menjadi leader di dunia e-commerce di Indonesia. Kolaborasi bermakna membuat perusahaan maju dengan terlebih dahulu membuat partner bisnis maju.  

PEREMPUAN LEBIH TANGGUH. BERBANGGALAH!
Ada satu sesi nih yang berjudul "Meet the Wonder Women of Indonesia" yang menghadirkan 4 perempuan keren dari lintas profesi. Ada Mbak Eka Sari Lorena sebagai bos perusahaan transportasi grup Lorena, Mbak Tety dari kerjabilitas, serta Mathilda Dwi Lestari dan Fransiska Dimitri Inkiriwang dua cewek tangguh pendaki Seven Summits. Keren, kan?


Cerita Mbak Eka misalnya sebagai leader di perusahaan transportasi yang keseharian bergelut dengan mesin, dan tentu saja pekerja laki-laki. Menurutnya biasa saja lah perempuan melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh sebagian besar laki-laki, kalau memang di posisi itu kemampuan dan kesanggupannya. Ia berpesan agar perempuan tak harus mengecilkan diri dan potensi yang dimiliki, dan membandingkannya dengan laki-laki. karena ia sangat percaya bahwa Tuhan punya rencana mengapa memberikan anugerah kemampuan dan keterampilan tertentu pada diri seseorang. Dan perempuan harus menghargainya sebagai jalan pengembangan diri, termasuk menjadi pemimpin perusahaan.

Sementara Mbak Tety dari Kerjabilitas bercerita bagaimana ia berusaha bangkit menjalani perannya sebagai manusia di posisi terbaik. Karena sebagai penyandang disabilitas (Tuna Rungu), ia merasakan bagaimanya sulitnya mencari pekerjaan meski telah menyelesaikan pendidikan Pascasarjana (S2). Tantangan yang ia hadapi sehari-hari membuatnya membangun perusahaan yang membantu para penyandang disabilitas bangkit, mendapatkan pekerjaan terbaik, keluar dari rumah untuk bersosialisasi dan menjadi bagian dari masyarakat yang produktif dan tak perlu dikasihani karena kondisi fisik mereka. Menurutnya, kekurangan fisik bukan alasan untuk meminta-minta!

Kemudian, cerita dari dua perempuan hebat pendaki Seven Summits tak kalah mengesahkan. Sebagai orang Indonesia bertubuh mungil, mereka merasakan bagaimana diremehkan saat hendak melakukan pendakian di 7 puncak gunung tertinggi di dunia, dari Carstenz Pyramid di Papua hingga Everest di Himalaya (baca DISINI). Namun, mereka memanfaatkan "rasa" yang tertanam kuat dalam diri perempuan untuk membuat pendakian tersebut bukan sebagai unjuk kehebatan diantara pendaki, melainkan sebagai jalan kesabaran demi mengibarkan bendera merah putih.  

POPULARITAS SEBAGAI MEDIA BERBAGI KEBAIKAN SOSIAL
Di stage ini ada Maudy Ayunda, astis muda berbakat yang digadang-gadang sebagai aktivis juga, terutama di bidang pendidikan bagi kaum muda. Ada juga Mbak Nur Hidayati dari WALHI Nasional, Mbak Sandra dari hutan.id dan Mas Angga Sasongko visinema.id dan kehadiran Maudy bikin ruangan penuh sama fans-nya dong.
Nah, ini nih stage yang ada Maudy Ayunda. Topiknya seru.

Mbak Nur Hidayati dan Mbak Sandra yang dikenal sebagai aktivis lingkungan, tentu saja menyasar Millenial untuk mengkampanyekan isu lingkungan yang saat ini kondisinya sangat parah. Sebab, bagaimana pun juga, masa depan lingkungan Indonesia ada di tangan Millenial yang saat ini sangat diharapkan sumbangsihnya. Sementara Mas Angga menggunakan media film sebagai cara mengedukasi kelas Millenial, karena diakui atau tidak kelas ini sangat melek teknologi sehingga segala jenis kampanye hal-hal baik harus masuk melalui media. Karya-karyanya yang selama ini sukses di pasaran adalah film Filosopi Kopi, Keluarga Cemara, dan film teranyarnya adalah Terlalu Tampan.

Mas Angga ini, juga membuat sebuah gerakan lain yang tak kalah hebat melalui sinedu.id yang merupakan flatform belajar yang asyik yang menyenangkan melalui film, semacam netflix tapi khusus bertema pendidikan sehingga bisa diakses dan digunakan para guru sebagai bahan ajar di kelas.


Nah, soal Maudy Ayunda. Siapa sih yang nggak kagum sama sosok perempuan paket lengkap ini? Sudah cantik, terkenal, cerdas, kaya, aktivis, dan punya visi-misi yang bagus terkait pendidikan. Hal penting yang dapat dipelajari dari gadis muda ini adalah sikapnya yang konsisten dalam mengenai dirinya sendiri, sehingga ia tahu apa yang ia inginkan. Menurutnya, yang membuatnya mampu mengurus banyak hal dalam kehidupannya terkait pendidikan, keartisan dan kegiatan lainnya adalah karena ia mengenal dirinya sendiri. Jadi, setiap kali ia sedang bimbang, ia kembali pada dirinyaya sendiri untuk kembali mengenalnya, sehingga apa yang dilakukan Maudy jarang yang mengecewakan dirinya. 

BELAJAR, BELAJAR DAN BELAJAR
Hal terpenting dan seharusnya tak boleh berhenti dilakukan sepanjang manusia hidup adalah belajar. Setiap manusia berkewajiban belajar agar pengetahuannya bertambah, pengalamannya bejibun dan jaringannya meluas. Proses belajar ini juga mengajarkan manusia untuk terus berjaringan dan berkolaborasi lintas budaya dan profesi, agar dapat beradaptasi pada perubahan hidup yang terkadang unpredictable

Sesungguhnya, stage yang paling ramai adalah di mana ada sosok Najwa Shihab. Pengunjung yang tidak bisa masuk ke ruangan, terpaksa berkerumun di pintu masuk dengan berjinjit. Dan sebagai manusia imut bin mungil, aku merupakan salah satu peserta yang terlambat masuk ke ruangan sehingga nggak kebagian kelas Mbak Nana yang selalu membuat penggemarnya merasa gemas bagai sedang merindukan kedatangan bidadari. Siapa sih yang nggak mau belajar bareng Najwa Shihab? 

Ada juga Giring Ganesha vokalis Band Nidji (yang nyaleg dari PSI) dan Grace Natalie,  Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga dikerumuni penggemar masing-masing saat berada di luar stage. Oh ya, dalam salah satu stage di mana Ketua Umum PSI tersebut menjadi pembicaranya, aku lumayan terkesan dengan cara pandanganya mengenai Millenial dan partai politik.  Menurutnya, engagement generasi Millenial di kancah politik sangat diperlukan karena bangsa ini memang memerlukan tunas-tunas muda untuk menjalankan pemerintahan. Terutama jika dikaitkan dengan pendapatan bulanan, seorang politisi yang menjadi anggota dewan misalnya hidupnya lebih dari cukup karena gaji dan tunjangannya besar, dan berasal dari anggaran negara. Perempuan yang tampak penuh semangat itu menantang para Millenial untuk mulai membangun cita-cita menjadi politisi dan duduk di kursi-kursi panas pemerintahan sebagai wakil rakyat.

AKHIR KATA,
Demikian ceritaku tentang Indonesia Millenial Summit 2019 lalu, yang membuatku merasa bersyukur dapat menghadirinya. Bertemu dan belajar langsung pada sejumlah tokoh kerena dari lintas disiplin ilmu nggak mudah lho, dan kesempatan langka seperti ini harus diperjuangkan sebaik mungkin. 

Saat selimut waktu menyampirkan tirai gelap di langit Jakarta, kegiatan ini bubar. Setiap orang kembali menuju rumah masing-masing dengan perasaan puas dan keinginan belajar lebih giat lagi, termasuk aku. Kudengar tawa ceria beberapa gadis muda, juga senyum penuh kemantapansejumlah lelaki berpenampilan perlente khas eksekutif muda Jakarta. akhir kata, mudah-mudahan tulisan sederhana ini bermanfaat dan menjadi inspirasi bagi pembaca sekalian untuk terus meningkatkan kualitas diri. 

Depok, 23 Januari 2019

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram