The Red-Haired Woman: Kisah Cinta Satu Malam yang Membawa Ketakutan Sepanjang 30 Tahun

Buku yang penuh teka-teki

Apa yang indah dari cinta satu malam?

Ini adalah kisah tentang Cem. Ia putra semata wayang seorang lelaki jangkung, langsing dan bagus pemilik sebuah toko obat bernama "Hayat" dan seorang Ibu penyayang. Waktu itu tahun 1984, Cem berusia 16 tahun dan mereka sekeluarga tinggal di apartemen kecil di Besiktas, dekat Istana Ilhamur dari Dinasti Utsmaniyah abad ke 19. Cem remaja suka sekali dengan bau obat-obatan di toko Ayahnya. Juga penasaran dengan kegiatan ayahnya pada malam Minggu, sebuah pertemuan rahasia dengan aktivis kelompok kiri. Sebuah kegiatan terlarang!

Ibu Cem, seorang tipikal istri tradisional sangat kahwatir jika suaminya terlibat dengan orang-orang kiri. Sebab pernah pada suatu kali lelaki itu ditangkap polisi di rumah mereka, tak lama setelah kup militer. Saat sang Ayah dipenjara, toko obat diurus bersama-sama oleh asisten toko, Ibu Cem dan Cem sendiri. Akan tetapi, setelah dibebaskan dari penjara Ayah Cem menghilang lagi selama 7 atau delapan tahun, sampai Ibu Cem sudah tak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi pada suaminya. Pertengkaran demi pertengkaran sering terjadi. Bukan lagi soal ururan politik, tetapi ke persoalan lain yang Cem tidak paham. Sampai kemudian lelaki aktivis itu menghilang lagi. 

Kepergian sang Ayah membuat rumah tangga itu mulai kelimpungan karena kehilangan kepala rumah tangga. Perlahan-lahan mereka jatuh kepada kemiskinan. Sementara bagi Cem sendiri, ia mulai lupa seperti apa raut wajah Ayahnya. Sebab, lama seklai sang Ayah tak pernah menghubungi mereka. Oh, Cem yang malang!

Pada tahun 1985, keluarganya benar-benar jatuh pada kemiskinan sebab penghasilan dari Toko Obat tak mampu membiayai hidup mereka. Maka, setiap kali pulang dari sekolah Cem bekerja paruh wkatu di sebuah toko buku bernama Deniz di sebuah pusat perbelanjaan di Besiktas. Bekerja di toko buku membuatnya membaca banyak sekali buku dan mulai membangun impian untuk menjadi seorang penulis, seperti mimpi Ayahnya yang tidak pernah tercapai. 

Karena Cem berencana masuk universitas, maka diperlukan sejumlah biaya untuk mengikuti bimbingan belajar. Dan bekerja sebagai penjaga toko buku paruh waktu tidak banyak membantu. Maka sang Ibu membawanya pindah dari Istanbul ke Gebze, dan Cem akan bekerja di kebun buah selama musim panas. Pada saat bekerja di kebun buah itulah, pertama kalinya ia melihat bagaimana sebuah sumur dikerjakan. Pada masa itu, pekerjaan penggali sumur sangat dihormati karena kemampuannya mengenali wilayah-wilayah yang memiliki air di kedalaman bumi. Jika penggali sumur telah menemukan air, ia akan diberi bayaran tinggi disertai hadiah-hadiah dari pemilik tanah. 

Maka Cem berkenalan dengan Tuan Mhamut, si penggli sumur legendaris. Karena tertarik dengan bayaran sebagai asisten penggali sumur yang dianggapnya lebih dari cukup untuk membayar bimbingan belajar, maka Cem pun berminat menjadi asisten Tuan Mahmut. Ide itu jelas ditentang habis-habisan oleh ibunya. Oh, anak semata wayangnya yang dibesarkan bagai pangeran kecil di sebuah istana mungil, yang bercita-cita menjadi penulis, harus bekerja kasar sebagai asisten penggali sumur! "Kalau Ibu larang, aku akab kabur," begitu ancam Cem kepada ibunya. 

Maka berangkatlah si Cem "Pangeran Kecil" dengan membawa sebuah koper bersama Tuan Mahmut menuju sebuah wilayah gersang dan berbatu bernama Ongoren. Mereka hanya berdua di tengah lapang bersama balok-balok kayu, komponen-komponen mesin kerek, ember dan panci, serta aneka peralatan dan perlengkapan lain yang dijejalkan dalam sebuah kantong plastik, dua buah kasur yang diikat jadi satu. Maka pekerjaan pertama dalam keanehan baru di dunia Cem adalah mendirikan tenda untuk beristirahat. Lantas mereka tidur dibawah bintang-bintang.

Menjadi penggali sumur dan asisten penggali sumur merupakan pekerjaan berat, sekaligus berjudi dengan alam. Kemampuan Tuan Mahmut dalam menggali sumur dan mendapatkan air memang tidak diragukan lagi, meksipun Hayri Bey, sang pemilik tanah yang gersang menyangsikan Tuan Mahmut dapat menemukan air di tanah miliknya yang gersang dan berbatu. Tetapi Tuan Mhamut meyakinkan sang pemilik tanah bahwa ia akan menemukan air dalam waktu dua minggu apabila menggali sumur dengan penuh perencanaan dibantu dua asisten yang masih muda, Cem dan Ali. 

Disela-sela kebosanan karena perkerjaan keras sebagai asisten penggali sumur, Cem kadang-kadang bosan juga. Sesekali ia pergi ke pusat kota Ongoren untuk melihat-liat. Dan ia tertarik dengan sebuah teater keliling yang ternyata belum bisa dimasuki oleh anak dibawah umur. Di keramaian Ongoren juga ia berjumpa dengan Perempuan Berambut Merah yang sangat memikat hatinya. Entah bagaimana, tatapan perempuan itu padanya bagai seorang begitu bersahabat dan penuh kasih sayang. Cem yang begitu muda menyukai pandangan mata perempuan itu, juga rambutnya yang merah dan bentuk bibirnya. Cem merasa, perempuan itu menjadi alasan ia masih bertahan sebagai asisten penggali sumur. 

Menjadi asisten penggali sumur tidaklah mudah. Kerja dibawah terik matahari sering membuat tubuh kehilangan kekuatan. Bahkan Cem seringkali merasa khawatir kalau-kalau ember timba terlepas dan menimpa Tuan Mahmut yang tengah mengeruk tanah di dasar bumi. Terutama ketika Tuan Heyri Bey nampak kecewa karena dalam kunjungan ketiganya ia belum juga mendapat kepastian dari Tuan Mahmut apakah mereka akan segera mendapatkan air atau tidak. Cem seringkali bermimpi akan masuk universitas dengan hasil kerja kerasnya sebagai asisten penggali sumur serta hadiah-hadiah dari Heyri Bey. 

Tetapi,  lapisan-lapisan tanah yang berhasil diangkat ke atas bumi belum menunjukkan tanda-tanda akan ada air dibawah sana. Sebagai seorang pebisnis Heyri Bey nyaris kecewa sebab investasinya bisa jadi gagal. Sementara si Tuan Mahmut sang penggali sumur legendaris sangat yakin bahwa ia akan menemukan air. Karenanya, meski hari-hari semakin berat dan sulit, terlebih ketika Ali sang asisten nomor 2 tidak lagi diperbantukan, lelaki itu tetap memberi semangat kepada Cem bahwa sebentar lagi mereka akan menemukan air. Mereka hanya berdua saja, berjudi dengan lapisan-lapisan tanah di perut bumi untuk membuktikan bahwa akan ada air sebentar lagi. 

Sumur sangatlah penting. Dan Tuan Mahmut sering bercerita tentang sumur-sumur yang berhasil dibuatnya, sebagai kebanggaannya. Sementara Cem merasa takut jika guru yang telah dianggapnya sebagai Ayah itu memintanya turun ke sumur untuk memecahkan batu atau menggali pasir. Cem takut bahwa Tuan Mhamut akan menghilang sementara dirinya terperangkap di dasar sumur yang kecil, gelap dan jauh dari kehidupan. 

Pada suatu malam ketika ia begitu lelah bekerja, Cem mengendap-endap dari tenda dan memutuskan untuk menonton pertunjukan di Teater Keliling, yang ternyata tengah memaparkan kisah Oedipus yang terkenal itu. Pertemuannya dengan Perempuan Berambut Merah kini menjadi tak terduga, sebab si perempuan membawanya ke apartemennya dan mereka bercinta. Cem tidak menyangka bahwa sebagai anak SMA ia akan memberikan dirinya kepada perempuan yang usianya dua kali lipat dari usianya. Pengalaman bercinta dengan seorang perempuan untuk pertama kalinya dalam hidupnya serta merta membuat sudut pandang Cem tentang hidup dan dirinya berubah. Kini, perempuan itu kembali menjadi alasan kuat agar ia setia menjadi asisten penggali sumur sampai Tuan Mahmut menemukan air. 

Lalu pada suatu hari yang naas, ketika hari begitu panas dan Cem sudah kehabisan tenaga, tiba-tiba tali timba terlepas dan ember melayang jatuh ke dasar sumur, menimpa Tuan Mahmut. Cem panik seketika. Ia berlari ke keramaian bermaksud mencari pertolongan. Namun entah mengapa tempat-tempat keramaian yang biasa ia kunjungi nampak begitu sepi. Bahkan si Perempuan Berambut Merah dan rombongannya terlihat telah meninggalkan apartemen. Karena khawatir disangka sebagai pembunuh, Cem kembali ke kemah dan mengemasi seluruh barang-barangnya, menaiki kereta ke Istanbul dalam ketakutan. Ia meninggalkan Tuam Mahmut sendirian di dasar sumur. 

Singkat cerita, Cem berhasil menamatkan sekolah SMA dan masuk universitas dengan mengambil studi Geologi. Ia kemudian membangun bisnis di bidang real estate ketika Turki membangun dan dalam waktu 30 tahun ia mampu naik ke puncak tinggi para konglomerat ternama di Turki. Ia telah menikah dengan teman kuliahnya namun mereka tidak memiliki anak. Sepanjang hidupnya Cem didera ketakutan soal Tuan Mahmut yang ia tinggalkan di dasar sumur sendirian. Bahkan ia terobsesi dengan kisah Oedipus dan Sohrab yang mashyur. Obsesinya itu bahkan membuatnya menamai perusahannya sebagai Sohrab. 

BACA DISINI: Kisah Oedipus dan Kisah Sohrab

Pada suatu kali Ayahnya yang telah tinggal bersama istri baru ingin bertemu dengannya. Dalam pertemuan itu Cem berkisah bahwa pada suatu masa ketika sang Ayah meninggalkannya dan mereka jatuh ke jurang kemiskinan, ia menjadi asisten penggali sumur dan bertemu dengan Perempuan Berambut Merah, seorang primadona sebuah teater keliling yang menampilkan kisah-kisah masa lampau Yunani seperti kisah Oedipus Sang Raja. Ternyata, berdasarkan cerita ayahnya, Perempuan Berambut Merah itu merupakan anggota kelompok kiri dan menjadi selingkuhannya selama 2 tahun, yang membuat lelaki itu meninggalkan keluarganya tanpa kabar. Meski merasa miris dengan nasibnya, Cem tidak menceritakan kepada ayahnya bahwa ia pernah tidur dengan pacar sang Ayah di masa lampau. Ia hanya menemukan jawaban mengapa perempuan itu seakan-akan telah mengenalnya begitu lama.

Cem yang masih terus mendalami kisah Oedipus dan Sohrab, terus mengembangkan perusahannya hingga ke Ongoren. Ia masih diliputi rasa penasaran soal Tuan Mahmut, apakah lelaki itu mati di dasar sumur tanpa diketahui siapapun ataukah masih hidup. Pada saat akan melakukan kunjungan ke kota yang penuh kenangan baginya, juga hantu tentang kematian Tuan Mahmut di dasar sumur, sebuah email masuk. Ada seseorang mengaku merupakan anak kandung dari Cem. Karena harta kekayaannya tidak memiliki pewaris, maka Cem tertarik untuk menemui anaknya meskipun ia tahu bahwa sang anak pastilah marah, karena merasa ditinggalkan berdua dengan ibunya dalam kemiskinan. 

Bertemulah Cem dengan pemuda yang merupakan anaknya, namun menyamar menggunakan nama lain, dan tidak menunjukkan jadi dirinya meski pengadilan telah menetapkan bahwa benar secara DNA ia adalah putra Cem hasil hubungan semalam dengan Perempuan Berambut Merah. Namun, anaknya itu masih diliputi kemarahan terutama ketika mengetahui cerita bahwa pada usia 16 tahun, setelah meniduri si Perempuan Berambut Merah dan meninggalkan Tuan Mahmut sendirian di dasar sumur,  Cem pergi meninggalkan Ongoren untuk melanjutkan hidupnya. Meskipun sebenarnya si anak muda tidak tahu bahwa selama 30 tahun lamanya Cem dihantui mimpi buruk bahwa tiba-tiba sekumpulan polisi akan menangkapnya di rumahnya karena diduga membunuh Tuan Mahmut dengan meninggalkannya di dasar sumur setelah tertimpa ember timba yang lepas. 
Lukisan hikayat Rostam dan Sohrab dalam bahasa Farsi. Sumber: Wikipedia

Pertemuan Ayah dan Anak ini berujung maut. Ketakutan Cem akan diceburkan oleh anaknya sendiri kedalam sumur yang pernah digalinya bersama Tuan Mahmut membuatnya mengeluarkan pistol untuk menjaga diri. Namun, pergulatan keduanya berakhir dengan kematian Cem di tangan putranya sendiri. Untuk menghilangkan jejak, putra Cem menceburkan Cem kedalam sumur sehingga ketika dievakuasi tubuh Cem sudah hancur tak berbentuk. Istri mendiang Cem dan si Perempuan Berambut Merah sama-sama menyadari bahwa kisah Oedipus yang membunuh ayahnya sendiri terulang, karena kesalahpahaman semata. Cem sang Ayah dibunuh anaknya sendiri.

Lalu, apa yang dilakukan Perempuan Berambut Merah untuk mengeluarkan anaknya dari penjara, menjawab tudingan miring masyarakat luas bahwa kemunculan keduanya benar-benar untuk mengincar harta kekayaan Cem semata, terutama perusahaan besar bernama Sohrab dan bagaimana ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa bukan ibu yang menjerumuskan anaknya untuk merampas kekayaan ayahnya sebagai pembalasan dendam karena menelantarkan mereka berdua dalam kemiskinan begitu lama? 

Temukan jawabannya di buku The Red-Haired Woman ya, karena bagian akhir buku betul-betul memberi kejutan tentang siapa pemilik kisah ini sebenarnya. Cem si Ayah, si anak atau si Perempuan Berambut Merah?

TIGA NASEHAT PENTING
Novel ini memberi pelajaran berharga tentang kehidupan. Sebab, jika kita tidak berhati-hati dalam menjalani kehidupan, maka kita akan menghadapi banyak masalah. Selain itu, hidup bukan semata bersenang-senang dan memuja kebebasan. Hidup adalah soal tanggung jawab. Maka, inilah tiga nasehat penting berdasarkan buku ini:

Satu, jika engkau masih muda, jagalah kemuliaanmu, cita-citamu dan kesehatanmu. Jangan sembarangan jatuh cinta apalagi memberikan dirimu kepada orang yang bahkan belum kau kenal dengan baik. Pada kisah Cem, baru ketahuan setelah 30 tahun bahwa perempuan berambut merah teman tidurnya selama semalam adalah selingkuhan ayahnya yang membuat ayahnya meninggalkan Cem dan Ibunya selama 2 tahun penuh tanpa kabar. Dan cinta satu malam dari mereka tidak paham soal resiko berhubungan seksual adalah adanya anak hasil hubungan tersebut. Soal anak adalah soal tanggung jawab dan harga diri.

Dua, jika engkau telah mmeilih untuk menikah dengan seseorang, bersetialah.Orang-orang yang terikat janji pernikahan adalah mereka yang bersumpah setia untuk saling mengasihi dalam susah dan senang. Kecantikan dan ketampanan yang dimiliki mereka selain pasangan, adalah godaan. Sebab sepanjang zaman godaan tersebut tidak akan pernah berhenti. 

Tiga, jika engkau telah melakukan sebuah kesalahan yang mengakibatkan luka atau penderitaan ada orang lain, maka bertanggug jawablah, jangan melarikan diri. 

Depok, 3 Desember 2018

2 comments

follow me on instagram