Semua Murid Semua Guru, Mencerdaskan Indonesia Dengan Jentikan Jari


Kerja boleh capek sampai muka lecek, tapi turun tangan di dunia pendidikan nggak boleh capek. Nah, ini fotoku bersama salah seorang tim Semua Murid Semua Guru dan seorang jurnalis Jawa Pos yang juga jadi relawan program #kirimbudi untuk sekolah SD, MI, SMP, SMA dan SMK di seluruh Indonesia (Foto: @semuamuridsemuaguru)

"Without education, you are 
not going anywhere in this world."

-Malcolm X-

Pendidikan merupakan hal yang sangat penting dalam peradaban manusia saat ini. Seluruh bangsa di dunia saling berlomba membuat warganya cerdas dan berdaya saing tinggi melalui sistem pendidikan mumpuni. Namun, bicara soal pendidikan di tanah air kadangkala bikin spechless. Masalahnya banyak banget. Mulai dari tingginya angka putus sekolah anak-anak usia pendidikan dasar (SD-SMP), tingginya kesenjangan antara kualitas sekolah di berbagai penjuru tanah air, rendahnya kualitas guru, kurikulum yang menyiksa murid sekaligus guru, gaji guru yang sangat rendah, yang tidak sebanding dengan pekerjannya, dan sebagainya. Masalah yang kusut masai ini terus terjadi bagai lingkaran setan, di mana masalah satu saling berkejaran meminta diselesaikan dengan masalah lain yang tak kalah penting.

#mudahkanhidup Anak Indonesia. Sumber (katadata.id)

Berdasarkan infografik diatas, hidup sebagai anak di Indonesia itu nggak mudah. Hingga 2017 misalnya, masih ada sebanyak .6 juta anak Indonesia jadi pekerja anak, padahal seharusnya mereka sekolah karena itu hak dasarnya sebagai warga negara. Kemudian, 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting alias punya masalah tinggi badan kurang dibandingkan anak seusianya karena kekurangan gizi akut sejak dalam kandungan. Dan 1 dari 10 anak Indonesia mengalami kekurangan gizi akut. Wah! Kondisi ini sungguh berbahaya. Karena bagaimanapun juga, kondisi anak Indonesia yang demikian miris akan berbuntut panjang pada rendahnya kualitas manusia Indoensia di masa depan. 

BACA JUGA: Kondisi Stunting Anak Indonesia Mengancam Bonus Demografi 2030

Kondisi menyedihkan ini nggak bisa hanya ditangani oleh Pemerintah saja, karena masalahnya memang sudah terlampau serius alias kronis! Bahkan nih, kalau Indonesia mau mengejar ketertinggalan dari negara lain di pendidikan butuh usaha selama lebih dari 120 tahun! Dengan carut marutnya sistem pendidikan kita, apakah kita bisa sejajar dengan Finlandia, Jepag, Belanda atau Malaysia tetangga kita? Sepertinya, lumayan tidak masuk akal!

Aku sudah turun tangan, kamu kapan?
PROGRAM #KIRIMBUDI
Nah, beberapa waktu lalu aku kan mengikuti kegiatan bertajuk Tempo Media Week di Tempo Institute, trus bertemu dengan teman-teman relawan dari gerakan Semua Murid Semua Guru. Diantara both-both yang saling mempromosikan berbagai gerakan mereka masing-masing, ada nih dari komunitas ini. Mereka memasang sebuah backdrop besar berwarna kuning kunyit sebagai latar belakang peta Indonesia. Di peta-peta itu dibuat sebuah pengait khusus untuk memajang flashdisk berbentuk pipih, di mana di permukaan setiap flasdisk tersebut ditempelkan kertas putih kecil bertuliskan tingkatan sekolah, misalnya SD atau SMP atau SMK. Flasdisk tersebut bukanlah hiasan, melainkan sebuah ruang kosong yang menjadi kesempatan bagi setiap relawan untuk ambil bagian dalam program #kirimbudi untuk seluruh sekolah di Indonesia yang kekurangan bahan ajar. 

"Ayo mbak mau kirim ke mana?" tanya salah seorang relawan dengan suara renyah seperti kerupuk udang. 
"Foto dulu ya," kataku dengan mengambil latar belakang backdrop.  
"Nanti dapat kopi lho," ujar sebuah suara berat seorang lelaki jangkung dibalik  meja. 
"Oke, bentar ya. Aku mau foto dulu," kataku, sembari bersiap dipotret salah seorang relawan. 

Setelah selesai berfoto demi kepentingan Instagram, aku mengambil sebuah flasdisk yang ditantung di peta. Aku mengambil flaskdisk bertuliskan "SMA" di salah satu permukannya. Lalu seorang relawan membawaku pada sebah laptop yang juga memiliki kertas bertuliskan "SMA" di salah satu sudutnya.
Para relawan yang siap turun tangan bantu program #kirimbudi

"Programnya buat apa sih?" tanyaku sembari menunggu giliran. Komunitas ini menyediakan 5 laptop yang masing-masing diperuntukkan bagi level sekolah, sehingga relawan tidak rebutan saat mulai beraksi. 
"Jadi gini lho mbak, sekolah-sekolah itu kan pada dikasih komputer atau laptop untuk membantu pada guru mengajar. Tapi kadang kan bahan ajarnya kurang. Nah, gerakan ini membantu menyediakan bahan ajar yang kita distribusikan ke sekolah-sekolah yang membutuhkan," jawabnya. Kemudian perempuan bertubuh tinggi berhijab abu-abu tersebut membantuku menunjuk satu folder yang harus aku copy ke flasdisk kosong yang baru saja kusambungkan ke laptop. Copy, paste, tunggu data pindah, done deh!
Jadi relawan dan dapat gratis segelas kopi dari @kawulakopi)

Setelah aku selesai melakukan transfer data dari laptop ke flasdisk, aku kemudian mengikat flasdisk tersebut dengan sebuah pita, bersamaan dengan secarik kertas kecil berisi pesan untuk siswa di sekolah yang akan menerima flasdisk tersebut, lalu menyimpannya dalam sebuah toples plastih. Tandanya flasdisk tersebut siap dikirim. Sudah ada banyak flasdisk disana dan aku senang melihatnya. 

"Boleh juga donasi via Go-Pay, Mbak," relawan yang menggunakan hijab abu-abu menunjukkan kertas yang berisi informasi mengenai tata cara berdonasi melalui aplikasi Go-Pay dari Gojek. Caranya gampang banget. Aku tinggal membuka aplikasi Gojek, kemudian pilih "Pay" kemudian ponsel kita akan otomatis melakukan scanning atas barcode yang tersedia. Ikuti saja petunjuknya dan jadilah aku berdonasi sebesar Rp. 10.000 dan bayangkan saja jika jutaan orang ikut turun tangan. 

"Trus hasil donasi kerjasama dengan Gojek ini uangnya untuk apa?" tanyaku. 
"Ya untuk beli flasdisk yang kita pakai di program #kirimbudi ini dan biaya lain-lain juga, seperti pengiriman flasdisk ke sekolah-sekolah juga," tambahnya sembari tersenyum.
Bisa juga donasi menggunakan fitur Go-Pay dari Gojek

Sebuah gerakan yang keran, asyik dan tidak memberatkan. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit, kan? Semoga jaya selalu pendidikan Indonesia hingga 1000 tahun lamanya dengan kerjasama kita semua.
Yuk ikut #kirimbudi

Jadi relawan selesai, trus aku dapat secangkir kopi deh dari Kawula Kopi yang saat itu memang bekerja sama dengan gerakan Semua Murid Semua Guru. Sungguh sebuah kerjasama yang baik untuk masa depan Indonesia yang lebih baik, berkualitas dan bahagia, bukan?


Depok, Desember 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram