Segenggam Cerita dari Pameran Foto Bertajuk: Scapegoating the "Other" in Southeast Asia

Sampul katalog yang membawa pesan mendalam


"Jika mata dibayar mata, seluruh dunia akan buta" 

-Mahatma Gandhi-

Didorong oleh rasa ingin tahu, kakiku dengan kikuk namun penuh semangat menaiki anak-anak tangga sewarna bebatuan di sungai di kampung halamanku pada masa lampau. Setelah bertukar senyum dengan seorang perempuan manis berkerudung hitam yang menjaga meja tamu dan memberiku sebuah buku, kemudian memotretku yang berdampingan dengan standing banner kegiatan yang kutuju, aku memasuki sebuah ruangan. Kehadiranku di ruangan itu disambut oleh serangkaian informasi tentang dunia lain yang tak lama lagi membuat sepasang mataku perih dan jantungku berdebar-debar tak karuan.

Kulihat seorang lelaki berpostur tinggi dan langsing dengan rambut sepipinya yang ia biarkan terurai tengah menikmati informasi pembuka pameran. Sembari memegang sejumlah buku dan sebuah dokumen yang ia dapatkan dari panitia, ia nampak serius mengunyah informasi yang disajikan. Sepasang matanya begitu fokus, seakan tak ingin diganggu. Sementara tak jauh darinya beberapa orang tengah menikmati foto-foto yang disajikan dengan apik di dinding berwarna putih. Sesaat kemudian, aku turut hanyut dengan keadaan, ketika berkeliling ruangan untuk meresapi informasi yang coba disampaikan. Gambar-gambar dari tanah nun jauh yang bercerita tentang kehidupan dengan warnanya sendiri, yang bagiku begitu menyesakkan dada, dan membuat mata panas lalu basah. Dalam hati aku mulai terisak. 
Seorang pengunjung tengah membaca kuratorial pameran foto bertajuk Scapegoating the "Other" in Southeast Asia

Jika pembaca pernah mengikuti perkembangan dinamika kehidupan di Asia Tenggara termasuk tentang upaya pembersihan etnis Rakhine di Rohingya oleh Junta Militer Burma/Myanmar, atau persekusi kepada komunitas Ahmadiyah di Indonesia dan kekerasan lainnya atas nama ras, agama, budaya, gender, orientasi seksual atau sekedar untuk mengamankan kekuasaan kelompok tertentu atas kelompok lain sang minoritas. Maka kubagi kepada kalian sebagian ceritanya, melalui foto-foto yang kusaksikan di ruang pameran di Galeri Salihara.
Pameran foto resmi dibuka. Para fotografer, pembicara dan perwakilan penyelenggara kegiatan berfoto di depan rangkaian foto pengungsi jemaat Ahmadiyah karya fotografer Edy Susanto dan Dwianto Wibowo

Ya, saat ini aku tengah bercerita tentang aktivitasku saat mengikuti kegiatan Diskusi Regional dan Pembukaan Pameran Foto bertajuk "Scapegoating the "Other" in Southeast Asia" alias  "Mengkambing hitamkan Liyan di Asia Tenggara" yang diselenggarakan atas kerjasama Tifa Foundation, SEA Junction dan Pannafoto. Kegiatan ini berlangsung 4 hari yaitu tanggal 6-9 Desember 2018, berupa pameran foto, diskusi regional, photo talk, photo book launch dan pertunjukan musik dari Sister in Danger.


Kegiatan ini menghadirkan Bang Usman Hamid dari Amnesty International, Ibu Rosalia Sciortiono Sumaryono dari SEA Junction, Kak Lilliane Fan dari Rohingnya Working Group APRRN, Kimberly dela Cruz seorang jurnalis foto dari Manila dan Kang Yendra Budiana dari Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Mereka semua adalah pejuang kemanusiaan yang hebat dan layak diteladani di zaman kacau balau ini.
Saat Kak Lilliane menjelaskan situasi pengungsi Rohingya dan hal-hal terkait tentangnya

Judul kegiatan ini sebenarnya sudah digunakan Ibu Rosalia untuk artikelnya yang diterbitkan oleh The Jakarta Post pada 21 Februari 2018 (baca DISINI) sebagai refleksi beliau atas krisis demokrasi di Asia Tenggara beberapa tahun belakangan. Beberapa isu yang dibahas adalah pembantaian sadis kepada 3.900 orang yang diduga terlibat dalam perdangan narkoba di Filipina (sumber lain menyebut jumlahnya tak kurang dari 12.000 orang). Pembantaian ini terjadi karena di negara yang tidak menerapkan hukuman mati tersebut, Presiden Duterte berjanji melindungi warganya dari ancaman domestik terbesar melalui kebijakan "perang terhadap narkotika" (War on Drugs) dengan melakukan pembantaian kepada tersangka pengguna narkotika. Meskipun ternyata sebagian korban merupakan anak-anak muda dari keluarga miskin yang tidak memiliki keterlibatan dengan narkotika, baik sebagai pengguna maupun pengedar. 

Sedih banget ya...
Aku terpana saat melihat sebuah foto yang menceritakan tentang seorang perempuan yang memeluk tubuh kekasihnya yang baru saja ditembak mati oleh seseorang tak dikenal, dalam rangkaian foto dampak dari konflik War on Drugs di Filipina, karya The Night Shift (koleksi para fotografer Filipina). Foto: difotoin seorang forografer.

Sementara di Burma, etnis minoritas Rohingya di negara bagian Rakhine harus mengalami nasib tak kalah mengenaskan. Hal-hal terkait politik dan kekuasan kaum mayoritas membuat etnis Rohingya diusir dari kampung halaman mereka karena dianggap bukan warga "asli", bahkan kewarganegaraan mereka telah dicabut. Pada 2017, sebanyak 650.000 warga Rohingnya harus mengungsi ke perbatasan Bangladesh dan hingga kini menjalani kehidupan yang mengenaskan di pengungsian. Penderitaan warga Rohingnya yang melukai kemanusiaan membuat kekuatan militer di Burma meningkat, dan aktivis kemanusiaan Aung Sang Suu Kyi dengan partainya yang telah memenangkan pemilu pada 2015 pun tak mampu berbuat banyak hingga ia mendapat kecaman internasional. Bahkan, banyak petisi dibuat agar nobel perdamaian yang diberikan kepadanya dicabut karena ia tak lagi pantas menyandang gelar pejuang kemanusiaan.
Seorang pengunjung sedang serius melihat rangkaian foto pengungsi Rohingnya karya Mahmud Rahman, fotografer asal Dhaka, Bangladesh
Beberapa pengunjung tengah mengobrol di depan rangkaian foto pengungsi Rohingnya karya Mahmud Rahman, fotografer asal Dhaka, Bangladesh

Krisis lain yang tak kalah miris adalah persekusi atas kelompok Ahmadiyah di Indonesia. Peristiwa ini sangat melukai demokrasi dan kehidupan berbangsa. Jemaat Ahmadiyah yang jumlahnya tidak mencapai 1 juta orang dianggap sangat berbahaya bagi kelompok mayoritas yang menganggap mereka berbeda, sehingga mereka dilarang beribadah di masjid, diusir dari kampung halaman hingga tidak mendapatkan pelayanan publik yang menjadi haknya sebagai warga negara. Setelah persekusi dan pengusiran tersebut lantas apa yang terjadi? Tentu tak terjadi ancaman apapun terhadap kelompok mayoritas, yang hidupnya nyaman dan damai, sementara Jemaah Ahmadiyah harus hidup di shelter-shelter karena trauma jika kembali ke kampung halaman. Mereka rindu rumah, tapi trauma.
Kegiatan Diskusi Regional dan Pembukaan Pameran Foto ditutup dengan harapan akan perdamaian di Asia Tenggara

Lalu acara selesai dengan setumpuk pertanyaan di kepala yang mulai bertunas banyak sekali, baik tentang kehidupan beragama, berpolitik, bermasyarakat dan bernegara. Hal-hal tentang manusia dan konsep-konsep yang dibangun dalam peradaban manusia mengingatkanku pada buku yang sedang kubaca, berjudul Sapiens, karya Yuval Noah Harari yang mengajak kita si Homo Sapiens ini berpikir secara mendalam sebagai makhluk biologis yang telah melompat ke posisi tertinggi rantai makanan dan mengubah banyak hal di bumi sejak ribuan tahun silam, menjadi penguasa atas makhluk lain di bumi: membangun mitos-mitos hingga menciptakan kekacauan.
Serius...

Meski hujan telah reda, mendung di langit tetap saja menambah sempurna kesedihanku setelah melihat foto-foto yang dipamerkan. Foto-foto yang dipamerkan membuatku merinding, ngeri dan ngilu. Karenananya kuputuskan keluar dari ruang pameran, berlari menuruni anak-anak tangga yang basah dibawah gerimis lembut, menuju ruang makan. Aku gemetaran karena lapar bercampur sejumput kesedihan yang kubawa serta dari ruang pameran. 

Terhindang dengan apik: nasi rempah, paru goreng, tumis nangka bercampur melinjo dan kecombrang, suir ayam ikan teri, tempe mendoan, urap sayuran, sambal nan pedas, singkong goreng, pisang goreng, tempe goreng, sambal kecap, minuman dingin nan menyehatkan dan kopi. Oh, hiburan siang yang lezat.     
  
Senangnya aku, karena ketika santap siang menu lezat yang menggoda lidah buatan chef Komunitas Salihara, aku berkesempatan mengobrol dengan Kak Lillianne Fan, International Director dan Founder lembaga Geutanyoe Malaysia yang berasal dari Malaysia; Kak Rika Syafrilizia, Programme Develompent Manager Geutanyoe Malaysia yang berasal dari Aceh; Kang Yendra Budiana, juru bicara Jemaah Ahmadiyah Indonesia asal Bandung yang ternyata tinggal di Sawangan, Depok, alias bertetangga denganku yang tinggal di Margonda. Sebelumnya, aku sempat juga ngobrol dengan seorang fotografer kantor berita Antara tentang makan tanpa nasi dan aktivis dari Pannafoto tentang singkong goreng.

Nah, karena otak kami sudah penuh dengan segala informasi yang berat level Asia Tenggara dalam diskusi regional, pertemuan kami di meja makan jadinya hanya membahas soal makanan khas Aceh dan kopi Aceh. Juga tentang keseruan jika suatu hari kami berempat bisa jalan-jalan bareng ke Aceh untuk menikmati segala keindahan di Aceh, tentunya dengan didampingi Kak Rika yang ternyata pandai memasak makanan tradisional Aceh dan seorang baker

"Ada seorang teman saya suka makanan Indonesia. Saya foto saja makanan saya ini," kata Kak Lilliane, memotret menu di piring rotan beralas daun pisang. Disana ada oseng nangka, melinjo dan kecombrang; suir ayam; paru goreng; dan urap sayuran.  Sesekali kami juga mengobrol tentang Pasar Tanah Abang dan asal-usul perkembangan Komunitas Ahmadiyah di tanah air, yang ternyata ada hubungannya dengan kota Tapaktuan, Aceh.

"Masjid di lingkungan Kang Yendra gimana?" tanyaku penasaran.
"Ya disegel sama pemerintah setempat," ujar Kang Yendra. 
"Trus ibadahnya gimana?" tanyaku lagi.
"Ya, di halaman masjid," jawabnya, tersenyum kecut. 

Aku hanya menelan ludah. Bagaimana rasanya menjadi kelompok minoritas yang bahkan beribadah pun dilarang, padahal kitab suci yang menjadi pegangan adalah Al-Qur'an yang sama dengan yang digunakan umat Islam di seluruh dunia? Bayangkanlah, betapa sulitnya menjadi berbeda di tanah yang katanya Bhineka Tunggal Ika, betapa rapuhnya persatuan dan demokrasi kita. Dengan pongah, sebagian dari kita menjadikan mereka yang berbeda sebagai ancaman, entah ancaman terhadap apa toh selama ini bangsa kita menjadi besar justru karena perbedaan yang ada. Prinsip bernegara yaitu Bhineka Tunggal Ika yang kita puja tak lagi memiliki kekuatan untuk menyatukan kita yang memang berbeda, bahkan sebelum bangsa ini bernama Indonesia.

Masih ingin mengobrol tentang banyak hal bersama orang-orang penting tersebut. Apa daya, isi piring kami tandas dan aktivitas lain menunggu untuk dituntaskan. Akhirnya kami berpisah dengan saling bertukar kartu nama dan senyuman. Sembari memandangi langkah kaki mereka menuju aktivitas lain dan menyambut obrolan dengan orang lain, aku merenung untuk pertemuan singkat kami. Bertemu dan memiliki kesempatan berdiskusi ringan dengan mereka merupakan hal yang membahagiakan, karena aku tahu semesta tidak mungkin mempertemukan seseorang dengan lainnya hanya sebagai sebuah kebetulan. Tuhan pasti ingin aku belajar kepada mereka dan karya mereka, untuk menambah nilai plus dalam khazanah pengalaman hidupku dan mungkin akan menjadi warna bagi karya-karyaku di masa mendatang. Oh, terima kasih telah hadir dalam hidupku.

BERTEMU IBU BIJAK
Oh ya, pada kegiatan ini adalah keempat kalinya aku bertemu dengan seorang perempuan yang kukagumi. Beliau adalah Ibu Melani Abdulkadir Sunito, dosen di Institut Pertanian Bogor sekaligus aktivis di The Samdhana Institute. Pertama kali aku berjumpa beliau pada Maret 2017, saat mengikuti Soft Opening Mama Aleta Fund (MAF) dimana aku berksempatan mengenalkan sjeumlah lukisanku dan melelangnya untuk kegiatan MAF. Pertemuan kedua dengan beliau saat kami sama-sama hadir di kegiatan Jambore Perempuan Pejuang tanah Air di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat. Pertemuan ketiga berlangsung di Jakarta saat peluncuran buku Mbak Siti Maemunah, aktivis Jatam dan adik tingkatku di Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP Universitas Indonesia. Yaitu buku tentang tenun. 

BACA JUGA: Tenun Bukan Hanya Sehelas Kain

Pertemuan dengan Ibu Melani selalu membahagiakan dan mencerahkan. Ingin sekali aku bermanja bagai seorang anak kecil kepada ibunya hehe. Kali ini kami mengobrol tentang sejumlah rencanaku di masa depan dan beliau memberi nasehat bijak soal berjaringan dengan orang-orang baik yang sudah banyak melakukan kerja-kerja bermanfaat bagi komunitas. Ah, senang sekali rasanya mendapatkan angin segar, sehingga aku makin bersemangat membangun sebuah mimpi baik dari nol alias nekat. Mau tahu apa yang akan kubangun? Ah, sementara rahasia ya.

"Coba kamu berjaringan sama Nissa ya, nanti Samdhana bisa bantu. Harus berjaringan kuat sekarang ini. Agar sesama orang baik saling mengenal dan empower satu sama lain. Saya akan bantu gerakan-gerakan baru. Jangan lembaga lama terus " pesan beliau kepadaku. Oh, I am so happy to hear that and I can see the future of mine is so bright.
Berfoto bahagia dulu bersama Ibu Melani yang cantik dan baik hati. Foto: FR

Berat rasanya harus berpisah dengan beliau, sementara kami belum ngobrol tentang banyak hal. Sangat membahagiakan memang setiap kali aku berjumpa dan berbagi pengetahuan dengan para perempuan cerdas, peduli dengan masalah dunia dan menjadi bagian dari problem solver, dan selalu berupa saling mendorong ke arah kebaikan. 
Wajah polosku, difoto oleh Mahmud Rahman, fotografer asal Bangladesh

Well, buat pembaca yang ingin menghadiri pameran foto dan mengikuti rangkaian kegiatan lainnya, masih terbuka kesempatan sampai dengan tanggal 9 Desember 2019. Dan pada tanggal 9, pukul 16.00 WIB ada pertunjukan musik bersama Sister in Danger bertempat di Komunitas Salihara, Jl. Salihara No. 16 Pasar Minggu, Jakarta Selatan. 



Demikian cerita hari ini. Langit kembali mendung seperti hati sejumlah umat manusia yang tengah murung karena dikepung ketidak adilan dari segala penjuru, bahkan oleh kekuatan-kekuatan jahat yang mendompleng alat negara, bahkan Tuhan. Mendung di langit akan sirna manakala awan hitam telah menumpahkan airnya untuk memberi bumi kehidupan. Semoga saja, mendung penuh airmata di hati saudara-saudara kita di manapun mereka berada akan berganti kedamaian dan cinta kasih yang kita perjuangkan dan jaga bersama-sama. 

Bicaralah, berbuatlah, bergeraklah untuk perdamaian umat manusia di seluruh penjuru bumi!

Untuk informasi lebih lanjut tentang pameran dan kegiatan lainnya silakan kunjungi Tifa Foundation aja ya.



Negara-negara di kawasan Asia Tenggara tengah mengalami krisis demokrasi. Pemerintah dan para elit politik menggunakan identitas ras, agama, sosial-budaya, dan gender/orientasi seksual untuk meningkatkan popularitas, memenangkan pemilu, atau sekedar mengamankan kekuasaan. Mengkambinghitamkan kelompok minoritas telah menjadi jalan pintas menuju kekuasaan. Mereka mengesampingkan konsekuensi atas ancaman sektarianisme dan budaya impunitas terhadap eksistensi masyarakat terbuka dan keberlanjutan demokrasi. . Merespon isu itu, dan sebagai bagian dari perayaan ulang tahun yang ke-18, Yayasan Tifa berkolaborasi dengan SEA-Junction, Bangkok dan PannaFoto Institute, Jakarta akan menyelenggarakan sebuah pameran foto selama empat hari dengan tema “Scapegoating the “Other” in Southeast Asia” pada 6-9 Desember 2018. Pameran itu akan dibuka dengan pelaksanaan diskusi regional dengan tajuk yang sama pada Kamis, 6 Desember 2018 di Galeri Salihara. . Mau tahu bagaimana kondisi demokrasi Indonesia dan negara ASEAN lainnya? Dan, seberapa besar dampak kambing hitam politik terhadap kelompok minoritas? Ayo hadiri pameran foto dan diskusinya. Daftarkan dirimu untuk menghadiri diskusinya di tautan di bio. . #TifaFoundation #18thTifa #ScapeGoatingTheOther
A post shared by Tifa Foundation (@tifafoundation_id) on

"Terima kasih sudah datang. Bagaimana acaranya, bagus nggak?" tanya seorang temanku yang bekerja di Yayasan Tifa. Sepanjang kegiatan, kulihat dia begitu sibuk, mungkin memastikan kegiatan ini berlangsung sesuai harapan. Oh, sungguh manusia Indonesia yang professional dan berdedikasi tinggi pada pekerjaan dan bangsanya.
"Bagus," jawabku singkat. Karena aku selalu senang bisa mendapat bahan bagus untuk menulis.
"Jangan lupa menulis ya," pesannya, dan jadilah tulisan ini.

Depok, 7 Desember 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram