Revolusi Industri 4.0 dan Pesan Progresif Menteri Hanif Dhakiri di Kompasianival 2018

Berfoto bersama Menteri Ketenagakerjaan, Bapak Hanif Dhakiri. Foto: Maria

Sebagai Kompasiner, awal Desember lalu menghadiri Kompasianival 2018, sebuah ajang kopi darat blogger tahunan terbesar di tanah air yang diadakah oleh Kompasiana, situs blogging yang sudah tak asing lagi di tanah air. Kegiatannya banyak, mulai dari ngobrol-ngobrol antara Kompasianer dan sejumlah tokoh penting tanah air, pertunjukan seni, hingga pengumunan Kompasianer of The Year 2018 beserta kategori lainnya.

Kompasianer apa sih? Jadi, ini adalah panggilan/sebutan bagi para penulis di situs blogging berjamaan/ keroyokan bernama Kompasiana, punya Kompas-Gramedia. Siapa saja boleh bergabung menjadi penulis di situs ini dengan memenuhi syarat-syarat tertentu, seperti memperhatikan etika kepenulisan diantaranya nggak boleh plagiat/nyontek tulisan orang, bukan hoaks dan tidak mengandung unsur kebencian. Yah, singkatnya kami ini merupakan sekumpulan manusia yang selaing berbagi dalam membangun dunia literasi tanah air dengan tulisan-tulisan bermutu.

Back to the story of Kompasianivel 2018 nih...

Hari itu aku nggak bisa berangkat pagi karena ada urusan. Alhasil, aku terjebak kemacetan Jakarta yang menggila dari arah Kalibata menuju Lippo Mall Kemang, tempat berlangsungnya rangkaian kegiatan Kompasianival 2018 (gara-garanya ada beberapa ruas jalan ditutup untuk kepentingan perbaikan jalan hingga pengajian). Niatku datang karena ingin bertemu dengan teman-teman Kompasianer tanah air yang super keren, di mana nama mereka sudah melambung tinggi karena tulisan-tulisan yang keren. Sementara aku masih penulis yang sedang bekerja keras memampukan diri membuat tulisan-tulisan bernas yang bermanfaat bagi masyarakat. 

Tak lama setelah tiba di lokasi, bercengkerama dengan sejumlah teman yang kukenal hingga bersantai demi menenangkan diri di hari yang panas, Bapak Gubernur Jakarta naik ke panggung. Aku dan para Kompasianer yang tengah ngobrol di Kompasianer Zone lantas buru-buru menuju panggung utama. Saat itu kulihat MC yang kukenal, Yosh Aditya tengah menyalami Pak Gubernur dengan gayanya yang ceria dan humoris.

Mantan Menteri Pendidikan yang berhasil memenangkan Pemilihan Gubernur DKI Jakarta melawan Ahok tersebut menjelaskan tentang intisari Good Governance, di mana jika sebelumnya pemerintah berfungsi sebagai pelayan dan masyarakat sebagai customer harus bekerja bahu-membahu membangun Jakarta yang lebih baik dan nyaman. Kini fungsinya berubah, dimana pemerintah berfungsi sebagai fasilitator dan masyarakat sebagai partisipan. Hubungan ini menunjukkan bahwa pemerintah dan masyarakat tidak satu arah, melainkan dua arah alias kolaborasi. Yup! Betul sekali bahwa zaman kita ini merupakan zaman kolaborasi.
Gubernur Jakarta, Anies Baswedan di panggung Kompasianival 2018

Setelah Gubernur Anies Baswedan turun panggung, seorang lelaki bercelana jeans, menggunakan kaos bertulisakan "Menteri Zaman Now" dan bertopi hitam naik ke atas panggung. Tepuk tangan meriah menyambutnya. Betul saja, beliau adalah Bapak Hanif Dhakiri, Menteri Ketenagakerjaan yang terkenal gaul layaknya anak millenial. Dengan gayanya yang santai, beliau menyampaikan materi yang mengejutkan yaitu mengenai tantangan pasar kerja di masa kini dan mendatang, yang sangat erat kaitannya dengan Revolusi Industri 4.0 yang berbasis teknologi digital. 


Terdapat sejumlah pesan progresif yang beliau sampaikan, tentu saja sebagai Menteri Ketenagakerjaan bagi rakyat Indonesia, khususnya kaum muda sebagai tenaga kerja produktif yang menjadi mesin penggerak utama bangsa ini. Pesan itu berkaitan dengan  Revolusi Industri yang telah sampai ke fase 4.0 yang menjadi periode paling mengejutkan dibandingkan 3 stage sebelumnya. Sebab di fase ini semuanya serba unpredictable. Sebut saja dengan kemunculan sejumlah brand yang berjaya dan memimpin dunia tanpa memiliki gudang bahkan barang, seperti Uber, Facebook, Alibaba, Airbnb dan Skypee, di mana para perusahaan raksasa tersebut muncul sebagai perusahaan kaya raya dengan meninggalkan metode bisnis konvesional.
Raksasa baru dunia yang berjaya hanya berbekal teknologi digital

Nah, satu ciri khas di fase Revolusi 4.0 ini adalah menjadi punahnya sejumlah profesi yang dibanggakan karena digantikan segala kemudahan berbasis digital. Jika dulu orang bangga menjadi pegawai negeri sipil atau pegawai kantoran sebagai satu posisi yang mentereng. Kini, orang nggak peduli apa profesi kita yang penting penghasilan kita melebihi apa yang pernah dibayangkan generasi sebelumnya. Sebut saya profesi Youtuber atau Instagramer yang merupakan profesi baru tidak mentereng, tapi menjanjikan kesuksesan. Contoh Youtuber yang Pak Menteri jadikan contoh adalah Agung Hafsah dan seorang pemuda desa bernama Pardi, seorang video creator asal Probolinggo. 

BACA JUGA: Bioteknologi dan Masa Depan Kedaulatan Pangan

Setelah bercerita tentang sejumlah orang yang sukses karena mampu memanfaatkan teknologi digital untuk membuat profesi baru. Pak Menteri juga memberi pesan bahwa jika bangsa Indonesia ingin maju, maka kita generasi produktif harus bekerja lebih. Sebab, jika kita ingin mendapatkan hasil terbaik, maka harus pula bekerja dengan cara terbaik. 
Meng-upgrade keterampilan merupakan salah satu cara untuk beradaptasi dengan era Revolusi Industri 4.0

Pak Menteri juga menekankan pentingnya kita untuk meningkatkan keterampilan, belajar keterampilan baru hingga kita mampu menghadapi tantangan di mana kini setiap pekerjaan membutuhkan otomasi dengan teknologi digital. Sehingga, ketika sejumlah profesi dan pekerjaan terdisrupsi, si manusia tetap tidak terganggu karena telah beradaptasi. 
Ada lho cara memenangkan persaingan

Di era Revolusi Industri 4.0 ini tentu saja kemampuan beradaptasi bukan hanya menyoal keterampilan manusia ke mesin ke teknologi digital. Juga bagaimana kita memacu semangat untuk menjadi yang terbaik dan memenangkan persaingan. Ada karakter yang bisa kita pilih. Mau jadi pecundang, biasa-biasa saja atau jadi pemenang. Nah, untuk jadi pemenang kita harus bekerja esktra dari semua sisi. Mulai dari disiplin diri, manajemen waktu, dan up-grade keterampilan.
Ngobrol santai bersama Bapak Menteri Hanif Dhakiri di Kompasianival 2018. Aku di mana ya? Tuh, seorang gadis mungil di belakang lelaki berkemeja hitam. Waktu itu aku sedang mengobrol dengan Mas Pringadi, salah satu Finalis untuk penulisn fiksi, jadinya nggak sadar kamera hehehe. Sumber: Isson Khoirul

Setelah sesi panggung selesai, kami para Kompasianer buru-buru mengerumuni Pak Hanif dan meminta foto bersama. Aku berterima kasih kepada Ibu Maria karena sudah memotretku bersama Pak Menteri super gaul. Nah, setelah sesi foto selesai kami menuju Kompasianer Zone untuk mengobrol, ngopi dan ngemil makanan ringan yang sudah disediakan panitia. Ada kacang, ubi manis, jagung, dan singkong rebus, juga risoles dan tentu saja teh dan kopi, disertai semilir angin menjelang matahari terbenam. Sungguh syahdu mendayu-dayu bagai rindu di halaman hatiku eaaaa. 


Aku sungguh tak menyangka, bahwa sebagai seorang Menteri yang tentu jadwalnya super sibuk mengurusi manusia satu Indonesia, beliau mau meluangkan waktu untuk kami hingga menjelang waktu Maghrib tiba. Bahkan beliau sempat membuat Vlog yang ditampikna di akun Instagramnya lho. Salut sama beliau! 
   
REVOLUSI INDUSTRI 4.0 ITU APAAN YA? 
Industri 4.0 adalah nama tren otomasi dan pertukaran data terkini dalam teknologi pabrik, yang mencakup sistem siber-fisik (Cyber Physical System), internet untuk segala (Internet of Things), komputasi awan (Cloud Computing), dan komputasi kognitif (Cognitive Computing). Revolusi Industri 4.0 adalah era big data

Indonesia telah memasuki Revolusi Industri 4.0 sejak 2011 yang ditandai dengan meningkatnya konektivitas, interaksi, dan batas antar manusia, mesin, dan sumber daya lainnya yang semakin konvergen melalui teknologi informasi dan komunikasi. Pada era ini, seluruh rantai bisnis berbasis digital dengan 5 teknologi utama yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing (BACA DISINI).
Gambaran besar apa yang terjadi di era Revolusi Industri 4.0

Namun, dibalik pesan progresif Revolusi Industri 4.0 yang terutama sekali digaungkan pemerintah dan dunia usaha guna menggenjot perekonomian bangsa, ada juga pihak yang menggugat. Bahwa otomasi berbagai jenis pekerjaan di level manajemen, justru menjerumuskan kaum buruh semakin bekerja keras untuk mencapai level pencapaian pekerjaan yang manajemennya diotamasi. Sementara para penguasa dan pemilik modal dapat menikmati banyak waktunya tanpa perlu bekerja keras mengurus manajemen. Disini menjadi terlihat jelas bahwa otomasi bukan membuat mesin memperbudak manusia, melainkan manusia memperbudak manusia dengan metode baru.
Artikel in bisa dibaca di Indoprogress

Kukira, setiap hal di dunia ini selalu memberi efek ganda, yaitu baik dan buruk. Sebab, meski kemajuan teknologi informasi dan komunikasi kini memudahkan kita dalam banyak hal, tetap saja yang paling terdampak adalah kaum buruh. Ekonomi digital memberi tantangan baru dalam dunia ketenagakerjaan yang selama ini dikendalikan oleh sistem kapitalisme. Nah, sebagai bahan belajar situs Indoprogress membagikan secara gratis sebuah buku saku berjudul "Buruh, Feminisme, Media Digital dan Demokrasi" sebuah kumpulan wawancara yang mungkin akan membantu kita membehani arah pandang mengenai Revolusi Industri 4.0 serta dampaknya bagi buruh, kaum perempuan dan demokrasi. Silakan unduh DISINI ya bukunya dan selamat membaca dengan riang gembira.

Hm, bagaimana menurut pembaca? 
Kalau mau diskusi lebih lanjut masuk aja ke kolom komentar ya. 

Depok, 19 Desember 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram