Gizi Penopang Negeri, Buku Keroyokan Hadiah Akhir Tahun 2018 yang Membuatku Bahagia

Gizi Penopang Negeri, Buku Keroyokan Aku yang Ke 5 nih. Foto: Kompasiana


"Menulis adalah sebuah keberanian." 

-Pramoedya Ananta Toer-

Hai pembacaku yang baik, apa kabar hari ini? Semoga selalu bahagia dan sehat selalu ya. Oh ya, pada 21 Desember lalu aku mendapat hadiah akhir tahun nih. Rasanya bahagia sekali sampai di titik ini. Jujur saja, selama enam bulan pertama di tahun ini tuh merupakan titik terendah dalam hidupku, sampai rasanya bingung mengapa aku membuat hidupku begitu tidak berarti. Tapi, 6 bulan sisanya merupakan keajaiban. Bukan hadiah dari langit lho, sebab aku berjuang sekuat tenaga berdiri diatas luka-luka yang menusuk diriku dengan kejamnya. Kebangkitan itu mengantarkanku pada dua akademi menulis, salah satunya Danone Blogger Academy 2018 yang diselenggarakan atas kerjasama Kompasiana dan Danone.  

Alhamdulillah, hasilnya adalah sebuah monografi yang ciamik.

BACA INI DULU: Danone Blogger Academy, Paket Komplit Kelas Blogging Persembahan Danone dan Kompasiana

Jadi, bulan Agustus lalu Kompasiana membuat sebuah pegumuman tentang Danone Blogger Academy yang hanya akan memilih 20 blogger saja. Nah, karena bekerjasama dengan Aqua dan Sari Husada, yang merupakan anak perusahaan Danone, maka yang dicari adalah blogger yang pernah menulis tentang isu kesehatan dan lingkungan. Syaratnya cukup mudah, yaitu dengan mengisi sebuah formulir online termasuk didalamnya menyertakan link tulisan di blog pribadi bertema kesehatan dan lingkungan, khususnya yang berkaitan dengan gizi dan air sebagai sumber kehidupan. Ya udah, aku daftar aja.  

Alhamdulillah, aku lolos bersama 19 blogger lainnya yang sebagian besarnya belum kukenal. Nah, katanya lagi, pendaftar akademi ini mencapai 600 orang lho. Widih, ajib sekali kan kalau aku terpilih dari 600 orang pendaftar. 

Danone Blogger Akademy 2018 ini terdiri dari beberapa rangkaian kegiatan. Dimulai dari kelas offline selama 3 hari di Danone Academy di Jakarta, di mana kelas itu diisi oleh sejumlah pakar di bidang gizi, tata air, dokter anak, fotografer, hingga penulis keren lainnya. Lalu, kegiatan dilanjutkan dengan fieldtrip selama 3 hari ke Klaten untuk mengunjungi pabrik Aqua dan Taman Kehati Aqua. Setelah itu, barulah selama seharian kita digembleng untuk membuat calon karya akhir yang hasilnya adalah buku ini. Nah, buku ini sendiri terdiri dari 40 artikel karya peserta Danone Blogger Academy 2018 (dan peserta tahun lalu).
Aku tertawa bahagia. (Foto: Andri)

Kehadiran buku ini di tangan kami para penulisnya, diresmikan dalam kegiatan bertajuk "Launching dan Bedah Buku Danone Blogger Academy," di The Hook Cafe, sebuah kafe kece di daerah Senopati, Jakarta Selatan. Pengerjaan buku ini boleh dibilang singkat sekali lho. Pasalnya, awal November kami para peserta baru mengirimkan draft akhir tulisan kami ke mentor kami yaitu kang Pepih Nugraha, pendiri Kompasiana. Trus, sebulan kemudian jadi aja nih buku, lengkap dengan desain sampul yang kece dan full color. Alhamdulillah, akhirnya karyaku dibukukan lagi.
Pengantar dari Mas Nurullah, CEO Kompasiana

Nah, karena buku ini berisi 40 artikel karya 40 orang blogger, maka aku berjumpa jua dengan para peserta Danone Blogger Academy 2017. Meski tidak semua orang bisa hadir karena jadwal kegiatan ini berbenturan dengan jadwal kantor atau urusan lain, tapi lumayan rame kok. Dan hebatnya, para blogger ini terdiri dari beragam usia, latar belakang pekerjaan dan jenis blog lho. Seru pokoknya dan tentu saja selalu heboh dengan proses kegiatan foto dan video karena dalam setiap acara Kompasiana selalu ada kuis melalui media sosial yang hadiahnya lumayan buat jajan bakso. 
Alhamdulillah, bukunya resmi diluncurkan

Setelah seremoni peluncuran buku selesai, acara dilanjutkan dengan diskusi bersama. Mulai dari proses editing buku, sampai cerita masing-masing perwakilan peserta 2017 dan 2018 tentang bagaimana proses menulis yang mereka jalani.
Diskusi seru

Proses penulisan buku ini tak lupa juga berkaitan dengan erat dengan peran para asisten mentor yang nggak bosen-bosennya mengingatkan deadline pengiriman tulisan. Dan yah, sebagai manusia deadline aku adalah pengirim terakhir draft tulisanku, kebetulan juga saat itu sedang riset selama 15 hari lamanya di beberapa wilayah pelosok di Lampung. Boro-boro ngerjain itu draft, yang ada seharian berkeliling ke kampung-kampung dibawah terik matahari sampai gosong. Kemudian malamnya mengecek pekerjaan sampai tertidur kerena kelelahan.

"Mbak, Ika, ditunggu ya draftnya. Udah ditanyain Kang Pepih tuh," begitulah pesan Mas Yakob. Oh ya, Mas Yakob ini merupakan salah satu admin Kompasiana lho. Selama akademi menuli ini, ia bertuga sebagai asisten mentor, yang melakukan berbagai teknis penilaian tulisan-tulisan kami para peserta selama akademi berlangsung. 
"Iya, sabar ya, aku masih di lapangan nih," jawabku. Padahal mah aku kelelahan. 
"Mbak Ika, mana nih tulisannya," beberapa hari kemudian Mas Yakob menagih lagi.
"Nanti malam ya. Seharian ini keliling kampung-kampung, mana sempat buka laptop," padahal mah itu alasan saja. Eh, alasan keamanan juga sih. Di lokasi yang nggak dikenal berabe juga kalau buka laptop trus diincar orang jahat kan? 
"Mbak Ika, mana nih, udah mepet nih waktunya," tagih Mas Yakob lagi. 
"Iya deh, nanti malam aku kirim," dan akhirnya aku menyerah. Kukirimlah draft tulisan itu. 
"Mbak Ika, kepanjangan tulisannya. Kurangi hingga tersisa 1.500 kata ya," kata Mas Yakob. 

Dan, hm, bagaimana mengurangi tulisan yang berkisah tentang dua tokoh inspiratif yang kuceritakan dengan hanya 1.500 kata saja? Ah, bodo amat lah. Akhirnya aku posting tulisan panjang hingga 2.500 kata di Kompasiana (baca DISINI).
Tulisanku dapat ditemukan di halaman 126 ya

Karena buku ini baru diterbitkan untuk kalangan internal, dan mungkin baru 2019 akan diterbitkan untuk publik, maka pembaca dapat menikmati tulisanku di blog ini atau di akun Kompasiana. Isinya sama aja kok.. 

BACA JUGA YA: Bertani Asyik Tanpa Takut Kulit Bersisik

Nah, tulisan ini terinspirasi dari dua perjalananku ke Garut dan Ubud, dalam rangka belajar pertanian yang berkonsep sederhana nampun sarat makna. Salah duanya mengenai konsep kemandirian pangan sejengkal dari rumah hingga bagaimana menjadi petani sukses dengan lahan sewaan kurang dari 1 hektar saja.
Bersama Mas Hafiz dan Mas Yakob dari Kompasiana, dan Mbak Nurul sang asisten mentor selama akademi

Dulu, waktu masih kecil, aku memang suka sekali menulis. Aku biasanya menulis di buku harian atau di halaman belakang buku pelajaran. Aku juga bercita-cita menjadi penulis yang terkenal di seluruh dunia. Ingin rasanya berbicara kepada masyarakat internasinal melalui buku yang kutulis atas nama kemanusiaan.

Alhamdulillah, meski belum bisa disebut sebagai penulis sebagaimana yang kuinginkan sewaktu kecil, aku sudah mampu mencicil pencapaian demi pencapaian. Buku keroyokan ini merupakan buku aku yang ke 5 lho. Dan semoga semakin tahun semakin bertambah. Termasuk juga bertambah konsisten dalam menulis dan bertambah keberanian dalam menerbitkan karya. Karena Pramoedya Ananta Toer bilang bahwa "menulis adalah sebuah keberanian." Dan ya, menulis berbeda dengan berbicara, berpidato, menyanyi atau menyampaikan pesan dalam bentuk lain. Tuhan saja mengenalkan dirinya kepaa manusia dengan Firman-Nya yang kemudian diabadikan dalam tulisan di kitab-kitab suci. 
Kafe The Hook yang kece (Foto: Mbak Chichie)

Menulis bukan menghamburkan kata-kata tanpa tujuan. Sejarah mengajarkan kepada kita bahwa, menulis merupakan cara untuk menyampaikan pesan dari satu generasi ke generasi selanjutnya, dari satu peradaban ke peradaban lain, bahkan bagaimana pemenang dalam sebuah perang meninggikan dirinya diatas bangkai lawan yang berhasil ditaklukkan. Menulis juga merupakan jalan para Nabi dan orang-orang cerdas sejak dahulu kala dalam menyampaikan perintah Tuhan hingga pengalaman para cerdik pandai. Karenanya, aku merasa tercerahkan dan gembira ada di jalan ini.

Oh ya, kata-kata "WRITE FOR RIGHT" yang pembaca lihat di kaos yang kukenakan merupakan kampanye dari Amensty International. Ia merupakan program internasional menulis surat yang dilakukan oleh lembaga Amnestry International untuk membantu menyelamatkan sosok-sosok pembela Hak Asasi Manusia di seluruh dunia yang dikriminalisasi karena kerja kemanusiaan mereka. Jika pembaca ingin tahu lebih banyak tentang program ini, silakan saja pelajari langsung di situs Amnesty International Indonesia ya
Hari yang gembira (Foto: Andri)

Hm, hampir aja lupa. Ini video acara "Launcing dan Diskusi Buku Danone Blogger Academy" ya. Editing sederhana aja, karena aku orangnya sangat pemalas dalam urusan mengedit video hehe. Semoga pembaca sekalian menikmati dan nggak lupa subscribe channel Youtube aku. Siapa tahu di masa depan aku jadi Youtuber terkenal.



Sekian cerita hari ini ya. Semoga bermanfaat dan sampai jumpa di tulisanku yang lainnya. Karena masih banyak cerita yang ingin kusampaikan disini, untuk pembacaku yang setia. Dan doakan saja aku semakin rajin menulis agar selalu ada tulisan baru yang renyah, segar dan bernas yang bermanfaat bagi pembacaku dan bagi dunia.  

Bagi pembaca yang menginginkan buku ini, silakan kirim permintaan ke email aku di: wijatnikaika@gmail.com 
 
Depok, 27 Desember 2018

Terima kasih Danone Blogger Academy atas kesempatan baik ini

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram