Menulis di Blog Agar Dikenang Sepanjang Masa

Menulis adalah meditasi rasa. Foto: Puput Dyah

Hm, judul tulisan ini sangat percaya diri sekali ya. Tapi beneran lho! Aku memang suka menulis dan mendongeng sejak masih kecil. Oleh karena itu, salah satu mata pelajaran yang paling kusukai di sekolah adalah: Mengarang. Menurutku, mengarang jauh lebih menyenangkan daripada Matematika dan pelajaran sulit lainnya. Sebab, aku yang lebih banyak bekerja menggunakan otak kanan lebih suka kepada kebebasan berfikir dan berkarya, alih-alih bekerja berdasarkan aturan tertentu, misal rumus 1+1=2 heha. 

Zaman baheula aku menulis di buku harian. Nggak kebayang akan seperti apa tinggi tumpukan buku harianku jika aku tidak beralih ke blog untuk menulis. Dan menulis di blog membuatku mengalami banyak sekali kemajuan, alih-alih melulu menulis cerita curhat ala anak SMA. Blog memberiku kesadaran bahwa tulisanku yang sederhana ternyata mampu memberi dampak luar biasa, baik kepada diriku sendiri maupun pembacaku. Aku bisa menulis dengan bahasaku tanpa pelru khawatir tulisanku diedit oleh editor, dan dapat membaginya berkali-kali sesukaku kepada sebanyak mungkin pembaca di seluruh Indonesia. Blogging make me happy!

MENULIS SERUPA MEDITASI RASA
Bagiku, menulis seperti meditasi rasa. Seolah tengah mengolah sekumpulan pengalaman hidup, ditambah setangkup imajinasi dan mimpi-mimpi, dicampur dengan kehausan untuk mengenang perjalanan hidup dengan cara menyenangkan. Jadilah macam-macam produk baik cerita tentang perjalanan, bacaan, film, kontemplasi, kesedihan dan harapan.

Salah satu hal yang paling kusukai dari proses meditasi rasa ini adalah ketika menuliskan komentar balik di kolom komentar, menjawab komentar para pembacaku yang setia. Kadangkala, beberapa diantara mereka memberiku kekuatan baru untuk terus menulis ketika kalimat-kalimat yang kubaca merupakan sebuah pengakuan bahwa tulisanku memberi kesan baik dalam hidup mereka. Tiada yang lebih membahagiakan bagi seorang penulis selain tulisannya berguna bagi manusia lain meski itu hanya beberapa orang saja.

MENULIS SEBAGAI ALAT PERLAWANAN
Dunia ini tidak adil dan tidak akan pernah adil. Terlebih kepada kaum perempuan. Di seluruh dunia, perempuan masih merupakan warga dunia kelas dua yang segala hal tentang kehidupannya mesti mendapat restu kaum lelaki. Bahkan, ketika Tuhan menciptakan kaum lelaki dengan segala kejahatan dalam dirinya, kaum perempuanlah yang diwajibkan untuk menjaga diri agar kejahatan dalam diri lelaki tidak bangkit dan membahayakan di perempuan. Hm, absurd sekali, bukan? Itulah mengapa sepanjang masa kita selalu mendengar kisah-kisah pedih penindasan yang dilakukan lelaki kepada kaum perempuan atas alasan perempuan tidak menurut atau bahkan berpakaian seksi. 

Perempuan yang tidak memiliki kekayaan dan kekuasaan atas dirinya sendiri, selamanya akan terbenam dalam dunia yang ditentukan lelaki atas dirinya dan anak-anaknya. Para perempuan yang memilih seumur hidupnya terjebak dalam penderitaan inilah aku ingin mengabdikan diri dengan tulisan-tulisannku. Jika aku tak mampu menolong mereka dengan kekayaan dan kekuasaan yang memang tidak kumiliki, setidaknya aku dapat berusaha melipatgandakan dukungan untuk mereka melalui tulisanku. So, menulis merupakan salah satu alat perlawanan yang mendunia!
Dua tulisanku bertema perlawanan yang lumayan hits

Berikut contoh tulisanku sebagai bentuk perlawanan: 

1. Isu kekerasan seksual, berjudul: Menghormati Vagina
2. Isu gaya hidup artis Muslimah, berjudul: Merindukan Oki Setiana Dewi yang Dulu
3. Isu hijab dan dunia artis, berjudul: Rina Nose dan Fenomena Melepas Hijab
4. Isu pelecehan seksual, berjudul: Via Vallen dan Pelecehan Seksual di Sekitar Kita
5. Isu hukum atas pernikahan anak, berjudul: Noura Hussein dan Neraka Dunia Pernikahan Anak

Oleh karena itu, didalam blog ini pembaca dapat menemui banyak sekali tulisanku yang keras dalam melawan penindasan kepada perempuan. Mulai dari bagaimana cara kita memandang tubuh kita sendiri, hingga bagaimana peran dan posisi perempuan dalam politik dan pengelolaan negara. Sebab bagiku, perempuan tidak diciptakan hanya sebatas sebagai pengelola dapur, sumur dan kasur. Perempuan merupakan ciptaan perempuan yang indah dan multi talenta, yang bahkan dapat menjadi pemimpin negara.

MENULIS UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN
Menulis merupakan pekerjaan mulia, karena harus dilakukan dengan ilmu yang mumpuni. Tulisan bagus dan berpengaruh, tentulah berasal dari ilmu tulis menulis yang mumpuni serta praktek penulisan yang berlangsung sepanjang masa. Dalam dunia blogging, kita sebagai blogger diberi banyak pilihan untuk mengembangkan tulisan menjadi seperti apa dengan tujuan apa dan sasaran tulisan tersebut siapa. 

Ada banyak sekali jenis tulisan, termasuk aturan menulisnya. Kita tidak mungkin menulis dengan mengambil semua jenis tulisan karena akan membingungkan pembaca dan diri kita sendiri. Penulis yang baik disarankan memilih 'genre' atas tulisannya sehingga ia akan selalu meningkatkan kemampuannya dalam 'genre' tersebut hingga akhirnya ia menjadi pakar. Misalnya, aku sedang memfokuskan diri di 'genre' feature alias tulisan populer dan fiksi, karena menurutku teknik menulisnya tidak terlalu sulit dan calon pembacanya paling banyak dibandingkan 'genre' lain.

Karena tidak terlalu suka mengikuti kelas menulis, sebab aku akan selalu mengantuk, maka aku memutuskan belajar mandiri. Cara efektif yang kugunakan adalah dengan membaca tulisan-tulisan dari beberapa penulis favoritku, bergabung dengan komunitas blogger dan mengirimkan tulisan ke flatform seperti Kompasiana agar agar bisa menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri bagaiman nasib tulisanku di rimba kaum penulis dengan penulis-penulis hebat dengan jam terbang tinggi se-Indonesia. Kadangkala, sebagai penulis aku merasa perlu meredam ego dengan menyandingkan tulisanku dengan tulisan orang lain, agar kita kembali menjadi bijak dan rendah hati layaknya para pemikir zaman dahulu.
Ya, blog aku merupakan rumah bagi cerita-cerita unik dan tak terlupakan

Pengembangan keterampilan selama menulis bukan hanya menulis, melainkan juga membaca, menangkap momen, menganalisa hingga menghitung kebutuhan publik akan bahan bacaan. Sehingga, sebagai blogger atau penulis aku nggak terpancing untuk menulis segala itu atau segala tema, melainkan tetap pada track yang mencerminkan kekhususan diriku dalam isu-isu tertentu yang menjadi minatku. 

MENULIS UNTUK MERENTANGKAN SAYAP KEBEBASAN
Ada banyak cara untuk bersuara dan menyuarakan pendapat. Salah satunya dan merupakan teknik yang paling tua adalah dengan menulis. Tanpa meninggalkan karya berupa tulisan, ilmu pengetahuan dari masa lampau akan hilang bersama waktu. Oleh karena itu, menulis sejatinya merupakan cara membebaskan diri dari kesulitan-kesulitan yang diciptakan manusia dalam peradaban yang dibangunnya. Menulis dan tulisan juga membuat manusia dapat berbagi kepada manusia lain tanpa harus melangkahkan kaki dari rumah, melainkan dengan sayap yang membantu karya-karyanya terbang, misalnya melalui tulisan yang diterbitkan di dunia maya seperti di blog.

Depok, 20 November 2018

Persembahan spesial untuk dunia blogging hehe. Click here!

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram