Dari Bandar Lampung sang Tapis Berseri ke Jakarta si Jantung Hati ke Depok si Kota Petir

Di Masjid UI Depok bersama Mbak Katerina. Foto: Arif

Hai dunia, apa kabar? Karena sudah masuk musim penghujan, jadi agak was-was kalau mau pergi kemana-mana. Seringkali pas udah dandan cantik dan rapi, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya disertai petir dan guntur. Ya udah deh, ganti kostum karena di musim penghujan sebaiknya kita menggunakan outfit yang simpel dan tidak merepotkan diri sendiri. Terlebih kalau kita ini merupakan rakyat jelata pengguna transportasi publik.

Di hari ke 7 tantangan menulis blog dari Blogger Perempuan Network ini tema sebenarnya adalah 5 warung makan/ restoran favorit beserta reviewnya. Hm, berhubung aku bukan tipe orang yang hobi makan diluar (kan aku addicted to homemade meals), maka tema tulisan kali ini kuganti dengan tema pengganti yang juga ditentukan oleh BPN. Nah, kali ini aku mau menceritakan sedikit tentang kota-kota yang pernah aku tinggali. 

BACA DULU BPN DAY6 YA: 5 Fakta Mencengangkan Tentang Wijatnika Ika 

Hm, belum banyak sih kota-kota yang pernah kutinggali. Jumlahnya dapat dihitung jari. Meski demikian, aku merasa bangga kepada diriku sendiri karena selama kurang lebih 15 tahun ini aku dapat survive di kehidupan kota yang keras tanpa sanak saudara, melewati berbagai tantangan dan rintangan yang tak mudah untuk ditaklukkan, termasuk mendapatkan berbagai kesenangan dan pengalaman baik yang selamanya akan kukenang.

1. Bandar Lampung sang Tapis Berseri
Aku lahir dan dibesarkan di Kabupaten Lampung Barat. Setelah menghabiskan belasan tahun hidup di lingkungan perdesaan dan taman SMA, aku memilih meninggalkan kampung halamanku untuk melanjutkan pendidikan. Waktu itu tahun 2003 dan aku mulai tinggal di kota Bandar Lampung, ibukota Provinsi Lampung untuk memulai kuliah di Universitas Lampung. Saat itulah babak baru kehidupanku dimulai, sebagaimana banyak anak rumahan lain yang tiba-tiba tinggal sendiri di kota asing demi melanjutkan pendidikan. 

Secara resmi, kota yang berjuluk Tapis Berseri ini lahir pada tahun 1682 dan merupakan salah satu kota berusia tua di tanah air yang awalnya berpusat di wilayah pesisir, di Teluk Betung. Pada masa pendudukan Belanda nih,  Bandar Lampung masih bernama Tanjung Karang. Nama Tanjung Karang masih digunakana hingga hari ini sebagai nama lain dari Bandar Lampung karena memang telah akrab di telinga warga sejak lama. 

BACA JUGA: Sejarah dan Profil Kota Bandar Lampung

Nah, Bandar Lampung ini merupakan kota yang berjuluk "Tapis Berseri" alias kota yang: Tertib, Aman, Patuh, Iman, Sejahtera, Bersih, Sehat, Rapih, dan Indah. Ini merupakan pesan yang sangat dalam bagi penduduk maupun non penduduk Bandar Lampung, bahwa kota ini harus nyaman dan ramah bagi setiap orang. Terutama sekali mengingat stigma orang non Lampung yang seringkali menganggap Lampung sebagai wilayah yang tidak aman.
Pemandangan di salah satu sudut kota Bandar Lampung pada malam hari. Sumber: bandarlampungkota.go.id

Kota Bandar Lampung merupakan Ibukota dan Pusat Pemerintahan Provinsi Lampung. Kota ini kecil saja dan kota biasa yang sangat panas karena lokasi di wilayah pesisir, tak jauh dari Teluk Lampung. Selain itu, kota ini juga memiliki masalah lingkungan seperti pencemaran sungai walaupun pernah mendapatkan penghargaan Adipura, sebuah penghargaan dari Kementerian Lingkunga Hidup untuk kota-kota terbersih di Indonesia. 

BACA JUGA: Mengintip 12 Tempat Wisata di Bandar Lampung

Aku tinggal di kota ini selama 7 tahun sejak 2003-2010. Ada rasa haru yang tak mampu kujelaskan dengan kata-kata mankala harus berpindah dari kota yang telah memberiku pelajaran hidup yang banyak sekali sebagai seoran perempuan muda yang haus akan ilmu pengetahuan, berbagai opportunity untuk membuat hidup menjadi lebih baik. 

Aku masih ingat hari itu, hanya beberapa hari saja setelah Hari Raya Idul Fitri 2010 aku terbang ke Jakarta menggunakan pesawat Garuda Indonesia, untuk mengikut Pre-Acadmeic Traini dari beasiswa internasional sebelum aku melanjutkan studi ke Belanda (dan ternyata nggak jadi ke Belanda wkwkwkwk). Lucunya, waktu itu aku kehabisan uang dan kehabisan pulsa. Gara-garanya kelebihan bagasi yang banyak sekali karena aku membawa hampir seluruh barang-barang di kosan. Aku masuk ke pesawat nomor wahid di tanah air itu dengan uang Rp.15.000 di tangan, menuju Jakarta yang segala sesuatu mahal dan serba uang. Ya udah lah, bokeknya kan cuma sehari doang karena tiba di Jakarta aku tahu aku akan mendapat uang bulanan dari pemberi beasiswa dan uang pengganti segala urusan yang menggunakan uang pribadiku sebelum berangkat ke Jakarta.

2. Jakarta si Jantung Hati
Rasanya aku tidak pernah mermimpi untuk tinggal apalagi bekerja di Jakarta. Meski Jakarta nampak indah seklai dilihat dari kotak kecil bernama televisi, tetapi sudah menjadi rahasia umum bahwa hidup di kota ini sangat keras. Dengan bermodal Rp. 15.000 bisakah kiranya aku memulai hidup yang baik di Jakarta? Nah, untunglah ada teman dari Medan yang tiba di Bandara Internasional Soekarno Hatta pada waktu yang bersamaan dan kami pun bersama-sama melanjutkan perjalanan menuju tujuan kami. 

Selama di Jakarta aku tinggal di Jl. Salemba, di sebuah kontrakan bersama 5 orang teman dari Gorontalo, Sumatera Selatan, Jawa Tengah, Sulawesi Selatan dan Yogyakarta. Kami memilih ngontrak di rumah penduduk agar bisa berhemat dan bisa berjalan kaki saja ke kampus UI di Salemba, untuk belajar di LBI UI. Sebagai penerima sebuah beasiswa internasional yaitu International Fellowship Program (IFP) dari The Ford Foundation, kami mendapat jatah 6 bulan untuk belajar bahasa Inggris seperti TOEFL, IELTS dan IBT, serta bimbingan khusus membuat Study Objective untuk diajukan ke kampus impian di tanah asing.
Aku dan teman-temanku penerima beasiswa IFP pada tahun 2011, saat kamu mengunjungi pameran pendidikan tinggi yang dihadiri berbagai perwakilan kampus kelas dunia dari berbagai negara. Foto: IIEF

Singkat cerita, aku gagal ke kuliah di Belanda dan diterima di UI. Ya udah, aku pindah ke Depok dan tinggal di kos-kosan tak jauh dari kampus UI Depok, di area Margonda Raya. Meski aku tinggal di Depok sejak akhir 2011, aku masih banyak melakukan berbagai aktivitas di Jakarta sampai hari ini. Sebab bagaimanapun juga, Jakarta merupakan magnet yang sangat kuat dalam menarik jiwa-jiwa yang haus akan pengetahuan, keterampilan, berjaringan dengan banyak orang kreatif dan hebat dan hal-hal lainnya. Dibalik segala kekurangan Jakarta sebagai kota metropolitan dunia yang tengah berbenah, aku memiliki banyak kenangan manis di kota si Doel ini.

3. Depok si Kota Petir
Aku mulai tinggal di Depok sejak September 2011 saat perkuliahan di UI dimulai, hingga saat ini. Hmmm, sudah lama juga ya. Dan mungkin tahun depan aku akan meninggalkan kota ini, untuk membangun kerajaanku di tanah yang lain entah di mana. Pada bulan-bulan terakhir aku di kota Petir ini akan kumanfaatkan dengan baik, agar aku meninggalkan kota yang teah menjadi rumahku selama 7 tahun ini dengan kenangan manis di hati.
Aku dan teman-temanku semasa kuliah di FISIP Uni. Foro: Ferdiand

Oh ya, saat awal-awal aku tinggal di kota Depok beberapa hal tidak serapi atau sebagus sekarang. Misalnya, dulu stasiun UI masih berantakan, belum berdiri apartemen sehingga kos-kosan di sekitar Margonda selalu penuh, transportasi publik masih mengandalkan angkot atau ojek pangkalan dan taksi. Kampus UI juga dalam proses perbaikan di banyak sisi. Kini, Depok menjadi kota satelait Jakarta yang mulai dijamuri dengan sejumlah apartemen yang sedang proses pembangunan; stasiun yang mulai ramah, rapi dan tersistem; beberpa gedung baru di kampus UI sudah berfungsi, dimana-mana ada pemadangan para driver berjaket hijau, dan area hangout Margo City semakin keren aja, termasuk menjamurnya kafe-kafe yang memanjakan dahaga anak nongkrong untuk hangout atau sekadar nebeng wifi gratissan bermodal segelas kopi. Buat kalangan mahasiswa, Depok cukup ramah di kantong kok.

BACA JUGA: 10 Tempat Wisata di Depok yang Wajib Dikunjungi

Oh ya, Depok ini dikenal juga sebagai kota Petir loh karena kalau hujan lebat ya ampun itu langit bergemuruh seperti sedang mengalami peperangan dahsyat. Petir menyambar-nyambar dan guntur menggelegar, bagai ada batu super besar yang menggelinding di atas sana. Bikin penasaran sekaligus mengerikan. Julukan ini bukan diberikan sebagai candaan lho! Karena berdasarkan penelitian wilayah Bogor dan Depok merupakan wilayah dengan petir terganas di dunia! Di tahun 2016 ada ada 700.000 sambaran petir di kedua kota yang terkenal adem dibanding Jakarta ini. Uhhh ngeri banget kan?
Kota Depok ternyata memiliki frekuensi petir tertinggi dan terganas di dunia! Sumber: tempo.co

Saat memulai tulisan ini, kota Depok masih diguyur hujan lebat sampai-sampai aku tidak bisa keluar kosan dan membeli makan. Sudah beberapa hari ini hujan lebat mengguyur seakan tiada habisnya, disertai sambaran petir dan guntur yang mmebuat bulu kuduk merinding takut. Untunglah ada stok bahan makanan di kulkas kosan sehingga aku bisa memasaknya dan menyelamatkan perutku yang keroncongan. 

BACA JUGA: Traveling ke Kota ini Dijamin Nggak Bakal Kapok

Oh ya, meski nggak terkenal ternyata banyak banget tempat wisata di Depok yang belum kunjungi. Salah satunya Agrowisata belimbing dewa, dan memang Depok menjadikan buah belimbing sebagai ikon kotanya. Saat masuk ke kota Depok dari arah Pasar Minggu, di gerbangnya akan terlihat hiasan berupa buah belimbing. Wah, sepertinya aku harus segera membuat list kunjungan ke berbagai tempat keren di Depok pada bulan-bulan terakhirku di kota ini. 

Kota ini hanya berjarak 30 menit dari Jakarta menggunakan komuterline alias kereta dalam kota. Sehingga wajar sekali banyak orang yang tinggal di Depok merki bekerja di Jakarta. Kota Depok lumayan nyaman dibandingkan Jakarta yang masih ruwet. Oleh karena ini, wajar sekali kiranya jika banyak pengembang properti mulai melakukan berang dagang di kota mahasiswa ini. Selain menyasar mahasiswa, mereka juga menyasar para pekerja untuk memenuhi unit-unit apartemen mereka mulai dari apartemen khusus perempuan hingga apartemen yang dijamin bebas dari transaksi obat terlarang didalamnya. Mungkin, 5 atau 10 tahun lagi Depok akan menjadi metropolitan baru di tanah air. 

Depok, 26 November 2018
Persembahan spesial untuk dunia blogging. Klik disini ya.

2 comments

  1. setelah menikah aku tinggal di kuningan , ahnay dua tahun dan pindah ke cirebon sampai sekarang,crb bagiku sdh bagian hidup

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Tira. Wah asyik dong di Cirebon katanya banyak makanan enak. Aku sih masih mengira-ngira akan menikah dengan siapa dan akan tinggal di mana setelah itu buahahahahaha

      Delete

follow me on instagram