Bilangan Fu, Cinta dan Warisan Pengetahuan Purba Dalam Diri Setiap Manusia

Bilangan Fu dengan desain sampul yang unik


"Didalam tidur aku bertanya apakah hu apakah fu. Bunyi yang sublim itu. Bunyi yang dibawa burung hantu penjaga bunga-bunga dan mata air. Mata air yang berual-bual dan kedalamannya menyimpan pelus-pelus rahasia, makhluk air yang menghubungkan orang dengan leluhur mereka di dasar samudera selatan. Di kedalaman laut itu, biru gelapnya adalah kedamaian yang menentramkan." (Bilangan Fu, hal. 169)

Adalah Sandi Yuda, pemuda dari kota yang melarikan diri dari dunianya yang menurutnya palsu ke desa di lembah Watugunung demi menikmati keintiman dengan semesta. Dia menyukai langit, bisikan angin nan misterius, gunung batu nan kokoh dan menabung kerinduannya pada Marja, kekasihnya yang cantik. Sebagai pribadi yang idealis dan kritis, ia merasa telah menemukan dunia yang memberinya makanan untuk jiwanya yang kering kerontang dalam kehidupan modern yang palsu, yang lebih banyak dikendalikan acara televisi alih-alih pikiran murni manusia sebagai mahkluk dengan pengetahuan-kemampuan berfikir-kemampuan memilih. Ia menolak menjadi boneka peradaban modern.

Sebagai bagian dari kelompok pemanjat tebing yang merasa diri gagah, Yuda muda lumayan congkak sih terutama ketika dia selalu menang taruhan dengan teman-temannya. Sampai suatu ketika ia bertemu dengan Parang Jati, pemuda desa yang memutar balikan seluruh pandangan Yuda tentang rahasia dibalik penciptaan, cinta, perempuan, alam semesta, mata air, manusia cacat, hingga mitos legendaris tentang penguasa Laut Selatan. Mereka bertemu secara tak sengaja di sebuah toko peralatan panjat milik si Fulan, teman Yuda yang sudah menjadi lelaki kebanyakan alias jadi suami dan ayah yang baik. Saat itu Yuda tercengang ketika Jati memesan seperangkat alat pemanjatan bersih yang harganya cukup mahal.

Ternyata, Parang Jati adalah lelaki paling tampan di desa, yang dianugerahi Tuhan memiliki 12 jari di tangan dan kakinya. Entah dia anak siapa. Selagi bayi, ia ditemukan Nyi Manyar, penjaga mata air Watugunung dalam sebuah keranjang yang tersangkut di mata air ke 13. Ia kemudian diangkat anak oleh seorang spiritualis bernama Suhubudi dan mendapatkan kenyamanan hidup layaknya Putra Mahkota sebuah kerajaan kecil. Ia tumbuh sebagai pemuda cerdas, kritis dan bijaksana karena asuhan yang memberinya asupan bergizi untuk tubuh, jiwa dan pikirannya. Maka, semakin sering Yuda terlibat diskusi dengannya tentang Watugunung dan kehidupan desa, semakin jatuh hati pemuda itu kepada sang pangeran kecil. 

Dari Parang Jati pula ia mendapatkan pandangan baru tentang clean climbing alias pemajatan bersih, yang ketika melakukan pemanjatan seorang pemanjat haruslah memperlakukan gunung batu dengan penuh kelembutan selayaknya seorang lelaki yang mengasihi gadis pujaan hatinya. Pemuda yang dipujanya karena memiliki sepasang mata bidadari itu juga memberinya cara baru dalam memandang Watugunung yang jika dilihat dari angle yang benar akan serupa kemaluan perempuan dalam ukuran raksasa. Pemuja Watugunung seolah tengah merayu-rayu untuk kembali ke rahim ibu. Seperti kisah Oedipus yang menikahi ibunya sendiri, atau Sangkuriang yang tergila-gila pada Dayang Sumbi. 

Pertemuan Yuda dan Parang Jati sepertinya memang perjodohan semesta, agar keduanya saling melengkapi dalam proses pembelajaran mengenai hidup. Jika Yuda sangat memuja hal-hal meterialis, sebaliknya Parang Jati mengajaknya terbang jauh ke dalam kebajikan-kebajikan dengan segala tandanya yang terhampar di semesta raya dan kehidupan manusia. 

Misalnya, ketika mereka sampai pada kisah Pandawa dengan Yudhistira yang menjadikan Drupadi, istrinya sendiri sebagai taruhan saat berjudi dengan Kurawa, sepupu sekaligus musuhnya. Kita semua yang pernah membaca kisah Mahabarata pastilah tahu kisah Drupadi yang diselamatkan para Dewa ketika ia hendak ditelanjangi di tengah meja judi karena suaminya kalah. Kain yang menutupi tubuhnya tak pernah habis. Drupadi diberkati.
"...pengalaman telah mengajari aku membaca kisah-kisah. Kisah yang menyodorkan kebajikan ideal adalah kisah ideologis. Yaitu, kisah yang buruk. Kisah yang baik tak mungkin menyodorkan kebajikan ideal. Ia selalu mengandung ketegangan dalam moral ceritanya. Karena itu, kisah yang baik mengajarkan kepada kita untuk tak mencari moral cerita. Orang yang selalu mencari moral cerita adalah seorang ideolog. Ia tak akan menemukan.  Ia hanya akan memaksakan..." (hal. 111)
Pandangan ini berlanjut pada kritik atas pembaca kisah Mahabarata. Tentang relasi suami-istri, antara Pandawa yang dipimpin Yudhistira dengan istri mereka, Drupadi yang jelita.
"Ketika membaca lakon Yuhdistira Kalah Dadu, seorang ideolog yang memuja Satria akan meloncat pada kesimpulan bahwa perempuan mulia adalah perempuan yang menerima apapun perbuatan suaminya, bahkan ketika dirinya menjadi bidak di meja taruhan. Orang demikian tak bisa menerima bahwa satria dan para nabi bisa salah...Pokok kisah ini bagiku bukan ajaran bagaimana menjadi istri yang baik...bahwa seorang satria harus berani menanggung kegilaannya sendiri." (hal. 111)
Sebagai manusia berperi kemanusiaan, Yuda tidak setuju jika seorang lelaki mempertaruhkan istrinya di meja judi. Meski, dalam pikiran kotornya ia bahkan membayangkan bagaimana ia kalah taruhan dengan Parang Jati dan menjadikan Marja, kekasih hatinya, menjadi tumbal taruhan. Yuda penasaran bagaimana menyaksikan Marja bercinta dengan Parang Jati, sahabat barunya. Tentu saja taruhan itu hanya bisa terjadi jika Marja setuju menjadi barang taruhan. 

Yuda mencintai dan mengagumi Marja. Bukan karena gadis itu molek bak Miss Universe apalagi serupa bidadari kahyangan dalam banyak dongeng. Justru karena Marja adalah jenis perempuan yang berani menunjukkan apa yang dia mau dan bukan tipe perempuan yang mau disetir lelaki. Ia adalah perempuan yang punya pendapatnya sendiri, hobi sendiri dan tak masalah menjadi berbeda dengan isi kepala kekasihnya. Meskipun memang, Yuda selalu mawas diri agar tidak terjebak dalam 'jebakan' perempuan untuk meneruskan hubungan mereka ke level pernikahan. Sebab baginya, pernikahan merupakan jenis penjara yang menjadikan lelaki kehilangan kebebasannya karena harus bertransformasi menjadi suami, ayah dan pekerja yang bertanggung jawab dalam ukuran masyarakat kebanyakan. 

Dalam perjalanan menyelami pertemanannya dengan Parang Jati, percintaannya dengan Marja dan pembelajarannya tentang Watugunung, Yuda juga harus berhadapan dengan sejumlah perstiwa ganjil di desa. Misalnya kematian Kabur bin Sasus akibat gigitan anjing gila dan kebangkitannya dari kubur yang kemudian dikaitkan dengan kemunculan Hantu Cekik saat kemarau panjang. Hingga dinamika politik dan pembunuhan mereka yang dituduh sebagai dukun santet, dan kematian Penghulu Semar, seorang alim nan bijakasan yang menjadi panutan seisi desa. 

Banyak peristiwa ganjil di desa, termasuk tergabungnya Parang Jati dalam sirkus manusia cacat yang dimiliki oleh Suhubudi, ayah angkatnya sendiri. Saduki Klan namanya. Grup sirkus yang berisi 13 manusia unik yang mungkin mengalami proses keterlambatan pertumbuhan di rahim ibu, termasuk perempuan muda bernama Dayang Sumbi yang merupakan selir Suhubudi. Parang Jati 'dipaksa' Suhubudi menjadi bagian dari grup sirkus karena ia berjari 12 dan bilangan 12 merupakan bilangan purba yang hendak dipopulerkan oleh Sububudi yang merasa dunia telah dikendalikan oleh pemuja bilangan 10. Suhubudi adalah pemuja bilangan 12 dan ia terobsesi pada segala hal tentang bilangan 12. 

Perempuan muda itu dinamai Dayang Sumbi dan ia tidak bisa berbicara. Kasih sayang dan penghormatan Suhubudi kepada istrinya dilakukannya dengan menciptakan area sunyi di padepokannya, di mana setiap orang yang diizinkan masuk ke area dalam akan puasa berbicara melalui suara dan kata. Melainkan berkomunikasi dengan tulisan.Tidak ada yang tahu mengapa ia dinamakan Dayang Sumbi dan dari mana dia berasal. Yang semua tahu bahwa ia satu-satunya kecantikan di padepokan Suhubudi, yang pada kemudian hari menjadi pusat belajar aktivis lintas agama untuk berdiskusi mengenai dinamika kehidupan keagamaan yang terjadi di Indonesia. Ternyata, sang jelita juga anggota Saduki Klan. 

SPIRITUALISME KRITIS
Sebagai pemeluk Islam, sang agama monoteis yang kuimani sebagai agama penyempurna semua firman Tuhan yang pernah turun ke bumi, aku merasa diriku cukup kritis. Bukan kritis untuk mengkritisi firman Tuhan dan teladan Nabi, juga ajaran para Imam. Aku kritis pada praktek keagamaan, yang menurutku seringkali didominasi berdasarkan kepentingan sekelompok manusia. Sejak aku bisa berfikir, sikap kritis itu muncul. Pertama-tama soal hijab, dan lucunya aku pertama kali berhijab karena jika tidak maka aku akan masuk neraka. Keluargaku dan lingkunganku mengajarkan agama kepadaku bukan sebagai jembatan mengenal Tuhanku sebagai Sang Pencipta dan Sang Pemelihara, melainkan sebagai cara untuk terhindar dari siksa neraka. Kini, kupahami cara beragama seperti itu mengerikan sekali!

Membaca Bilangan Fu sebenarnya seperti terlempar pada keseharian, di mana kita sering mempertanyakan hal-hal yang dianggap tabu untuk ditanyakan, didiskusikan dan dikritisi. Kita dididik untuk manut dan patuh pada pada apa yang diterima orang kebanyakan. Dalam mengenal Tuhan dan pesanNya dalam ciptaanNya pun kita seringkali dipaksa untuk hanya memahami teks kitab suci, dan lupa bagaimana agama diturunkan Tuhan sebagai Standar Operational Procedure (SOP) agar manusia hidup dengan benar dan damai, bukan melukai atas nama Tuhan dan agama. Dengan paksaan, mengimani Tuhan tidak lagi nikmat, melainkan takut. Sungguh takut yang pengecut. Takut terjebur ke neraka ciptaan manusia: perbedaan yang dipertentangkan, dipersalahkan, dihujat, bahkan dijadikan senjata dalam dunia politik.

Dalam Bilangan Fu, dengan cerdas Ayu Utami menghadirkan pertentangan di dunia nyata kedalam fiksi kritis ini, seperti pertentangan nilai yang dipercayai oleh Kupukupu (yang namanya berubah menjadi Farisi, setelah kembali sekolah di luar negeri) dengan Parang Jati yang tidak menjelaskan agamanya apa, tetapi begitu intim dengan alam dan segala kebijaksanaannya. Terlebih ketika Parang Jati mendaftarkan aliran kepercayaan yang dipimpinnya kepada pemerintah, yang dimata Kupukupu dianggap menyalahi Pancasila. Sebab aliran itu disebutnya sebagai sinkretisme yang bertolak belakang dengan iman kepada Tuhan Yang Esa, panduan beragama resmi yang diizinkan pemerintah. 

Puncaknya adalah ketika terjadi penemuan kerangka mayat Kabur bin Sasus dan Penghulu Semar, yang sebelumnya dinyatakan hilang dari kubur masing-masing di sebuah goa. Penemuan menggegerkan tersebut dituding sebagai praktek pemujaan kepada berhala sehingga kelompok Kupukupu menyeret Parang Jati setelah menelanjanginya sebagai penghinaan. Peristiwa pengadilan massa yang dilakukan kelompok Kupukupu kepada Parang Jati bertepatan dengan musim kemunculan Manusia Ninja sebagai mesin pembunuh misterius mereka yang diduga sebagai dukun santet. 
"Di antara pilar-pilar Romawi yang kurus itu Parang Jati didudukkan di sebuah kursi... dan tangannya masih terikat oleh jerat yang mulai menyendat darahnya... Kepala Desa Pontiman Sutalip, yang menempuh jalan kompromi, mempersilakan Farisi mengajukan tuntutannya... Tegak tubuhnya menyiratkan kemenangan. Dan di matanya, dari celah matanya, ada sebersit tenaga dari masa lalu yang menyorot kecil tajam bagai pisau. Sebab pesakitan di hadapannya adalah lelaki yang bersekongkol dengan berhala jahannam penguasa laut selatan. Sang Nyi Ratu Kidul..." (hal. 519)
"Parang Jati. Darah mengalir lirih dari tepi mulutnya yang kini kebiruan. Ia memandang, di sekelilingnya hanya ada orang-orang yang barangkali tidak pun mengenal dia untuk membenci dia, namun yang begitu haus pada kekuasaan dan kebenaran. Orang-orang yang tak mau atau tak sanggup memanggul misteri, sehingga mereka menjatuhkannya ke tanah. Menjelmalah pengadilan dan kekuasaan. Kekuasaan selalu membelenggu. Dia kini telah dibelenggu." (hal. 520)
Pengadilan itu kemudian mempertentangkan antara bilangan satu (1) yang merujuk pada Tuhan Yang Esa, satu-satunya dan tiada selainNya; dan bilangan nol (0), sebuah pertentangan tak seimbang antara penghayat kepercayaan yang sendirian dan menganut agama monoteis yang berkelompok. Mereka adalah manusia muda dengan darah muda bergejolak dalam diri masing-masing, bagai magma yang bergemuruh di perut bumi. Ada usaha melerai memang, untuk menunjukkan bahwa Kepala Desa lebih suka menyelesaikan masalah warganya dengan kompromi. Dua sahabat Yuda yang merupakan tentara, datang untuk menyelamatkan nyawa Parang Jati dari pengadilan massa.

Tetapi, dalam perjalanan matilah Parang Jati oleh peluru pembunuh misterius tersebut dalam sebuah penculikan tiba-tiba.  Suara ledakan dari arah gunung memanggil jiwa Yuda untuk menemui sahabatnya terkasih yang kini berlumuran darah dibawah kerlip bintang. Lelaki tampan dengan sepasang mata bidadari itu menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan Nyi Manyar, perempuan penjaga mata air yang menemukannya dulu tersangkut di mata air ke 13 sebagai bayi mungil, dalam sebuah keranjang, bagai bayi Musa yang diselamatkan perempuan-keluarga Firaun.

Kematian Parang Jati mengubah banyak hal. Misalnya berpisahnya Yuda dan Marja, karena lelaki itu berpendapat kekasihnya terpukul dengan kematian Parang jati yang diduganya memiliki keintiman dengan Marja. Juga berubahnya sikap Kupukupu yang semula begitu ekstrem dalam memaksakan pandangan keagamaannya, menjadi lelaki muda nan bijak pengganti Penghulu Semar, gurunya yang mati ditembak Manusia Ninja.

JADI, APA ITU BILANGAN FU? 
Juga soal Postmodernisme dalam novel Bilangan Fu (DISINI). Sebab memahami Bilangan Fu mengharuskan kita membuka pikiran agar bebas dan tidak tersekat nilai yang akan menghalangi proses pembelajaran. Ia sangat erat kaitannya dengan perjalanan hidup manusia, yang banyak sekali dikisahkan melalui dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi atau Nyi Ratu Kidul dengan para Raja Tanah Jawa yang menjadi suaminya, tentang pernikahan anak dan ibunya sendiri hingga proses penyebaran Islam oleh Sultan Agung Mataram. 

Bilangan Fu juga mengajak kita untuk mengenali nilai-nilai yang menghidupi keseharian nenek moyang kita dalam dunia pertanian dan peternakan di masa lampau. Misalnya, bilangan 12 berkaitan dengan musim pada dunia pertanian, sementara bilangan 10 berkaitan dengan musim bunting-beranak pada hewan-hewan ternak. Ini tentang kosmos. Tentang semesta yang seringkali diterjemahkan manusia dengan memahami kejadian-kejadian versi lokal di mana mereka lahir, tumbuh, berkembang dan membangun peradaban. Karenanya ia bukan penyimpangan pada agama monoteis.
Bagan Pranata Mangsa karya Susuhunan Pakubuwana VII. Sumber: wgusiswoyo.com

Pembelajaran mengenai bilangan misalnya dapat kita temui dalam masyarakat Jawa yang memiliki sistem penanggalan sendiri yang disebut Pranata Mangsa, yang seminggu terdiri dari 5 hari. Penanggalan ini berbeda dengan penanggalan Gregorian (kalender Gregorius) berdasarkan garis edar matahari dan penanggalan Hijriah berdasarkan peredaran bulan yang masing-masing memiliki 7 hari dalam seminggu dan 12 bulan dalam setahun. 
Kalender Gregorian. Sumber: steemit.com
Kalender Hijriah/Islam. Sumber: muslimvillage.com dan wikiwand.com

Pranata Mangsa sebagai penanggalan versi Jawa dibuat berdasarkan pengalaman masyarakat pertanian, sementara penanggalan Gregorian dan Hijriah didasarkan pada pergerakan benda langit.  Meski demikian, Pranata Mangsa dengan uniknya dapat menyesuaikan diri dengan penanggalan modern yang dipakai seluruh manusia di dunia. Jawa, masyarakatnya dan nilai-nilanya kehidupannya selalu luwes, bukan? Jadi, bayangkanlah diri kita sebagai bagian dari masyarakat Jawa yang masing menggunakan Pranata Mangsa, yang juga menggunakan kalender Gregorian dan Kalender Hijriah. Kita mengikuti kosmos dengan sudut pandang berbeda, tetapi tetap mampu menjalani kehidupan yang disediakan semesta dengan gembira. 


Apakah pembaca ingin tahu lebih banyak tentang Ayu Utama berikut karya dan pemikirannya? Silakan menuju link di bawah ini, dan mari berfikir kritis selayaknya manusia yang dianugerahi Tuhan kemampuan berfikir kritis:
Instagram: @ayuutami
Twitter: @BilanganFu
Wikipedia: Ayu Utami 

Bilangan Fu lahir karena keresahan Ayu Utami terkait meningkatnya kekerasan atas nama agama paska Reformasi tahun 1998. Kritik atas dinamika kehidupan keagamaan dan politik di masa-masa transisi dan setelahnya disampaikan dengan memikat melalui tokoh Paang Jati, sandi Yuda, Marja dan tokoh lain. Bahkan, ditekankan didalamnya bahwa cinta dan hasrat antara sepasang lelaki dan perempuan tak melulu kotor sebagaimana yang kita sangkakan selama ini. Ada yang lebih tinggi dari cinta yang melulu menikmati keindahan ragawi. Dialah cinta yang halus antara Parang Jati dan Marja, jenis cinta yang berbeda sebagaimana yang dialami oleh Sandi Yuda dan Marja yang meledak-ledak dan panas. 

TENTANG EKSISTENSI PEREMPUAN
Hal yang juga menarik dari cerita dalam Bilangan Fu adalah kritik atas pandangan tentang perempuan. Baik itu perempuan dalam kisah dongeng seperti Dayang Sumbi, Drupadi atau Nyi Ratu Kidul penguasa laut selatan, juga perempuan dalam kehidupan nyata seperti Nyi Manyar, Marja, Dayang Sumbi istrinya Suhubudi. 

1) Nyi Ratu Kidul 
Sosok perempuan/Ratu yang disebut sebagai penguasa laut Selatan ini mengisi ingatan orang Indonesia sebagai jin, setan dan sebagainya. Kisahnya identik dengan klenik, berhala, pemujaan non-agama monoteis dan perkawinannya dengan setiap Raja Jawa (pewaris tahta Mataram). Ia seringkali disebut sebagai pemberi legitimasi bagi setiap Raja Jawa yang berkuasa, hingga istri yang sedih karena tidak bisa kembali menjadi manusia. Ia digambarkan berkuasa atas lelaki, sekaligus lemah karena 'menghamba' sebagai istri Raja yang lemah dan tanpa kekuasaan.
"Pada hari-hari tertentu, orang-orang dari dalam dan luar Watugunung masih melarung sesaji ke laut Selatan di sekitar pantai ini...Kekuatan laut Selatan merupakan pusat kepercayaan puba bangsa Jawa...Dan doneng-dongeng tentang Segara Kidul tersimpan di sepanjang  pantai selatan pulau Jawa. Dari masa yang sangat jauh. Pada sebuah zaman yang tak diketahui, para pujangga purba menggambarkan Sang Laut sebagai seorang ratu..." (hal. 257)
Ketika sang Ratu bersuamikan Sultan Agung Mataram, ada sebuah kisah ketika sang ratu sedih karena orang-orang yang berbicara buruk tentangnya. Makan berkunjunglah sang Raja ke pantai Selatan demi menghibur istrinya.
"...Pada batu bernama Parang Kusuma Sang Ratu menjemputnya. Sang Raja berjalan bergandengan tangan dengan Nyi Rara Kidul menjelajah lautan sekana berjalan di darat...Dikisahkan bahwa mereka bersatu padu. Llau Nyi Rara memberitahukan bahwa usia Raja telah dekat. Karena itu Nyi Rara memohon agar Kanjeng Sultan meninggalkan Mataram dan hidup bersamanya di sini, selamanya. Sampai hari kiamat kelak....Raja menolaknya dengan halus. Sebab, dia adalah manusia. Semua leluhurnya berada di Mataram. "Aku ini manusia. Jin dan peri, setan dan iblis, tidak sama dengan manusia." Ketika inilah sang ratu menangis, menyesalli keberadaan dirinya yang bukan lagi manusia..." (hal.262)
Kisah berlanjut di mana sang Ratu memohon agara sang Raja yang kekuasannya begitu hebat mengubahnya menjadi manusia kembali, agar ia bisa mendampiginya. Namun, Sang Raja mengatakan bahwa ia tak mampu mengubah takdir Tuhan. Bertangis-tangisanlah mereka berdua, dan berpisah untuk selamanya.
"...Percintaan antara Raja dan Ratu dibangun indah dan mengharukan... sebab mengandung kesedihan. Namun, dibalik plot cerita kita bisa melihat ketegangan mengenai identitas dan posisi Sang Ratu Laut Selatan yang belakangan terjadi dalam masyarakat Jawa. Ratu yang pada awalnya diterima sebagai pemberi legitimasi kerajaan Jawa, pelan-pelan ditepikan menjadi sekedar permaisuri penasihat ulung, lalu sebagai Nyi Rara, yang meski ghaib dan berkuasa tetapnya menyesali keadannya, ke-bukanmanusiaannya..." (hal. 263)
Hm, menyedihkan dan menyesakkan dada, bukan kisah Nyi Ratu Kidul ini?

3) Betari Durga
Dikisahkan, pada awalnya Betari Durga adalah perempuan jelita bernama Uma, istri dari Betara Guru. Pada suatu pagi, sang Betara Guru terbangun dengan ide untuk menguji kesetiaan istrinya. Maka ia pergi menyepi di sebuah gunung dalma waktu yang lama sehingga membuat kerinduan di hati istrinya memuncak. Maka sang istri menyusulnya. Di tengah perjalanan, ia bertemu dengan seorang tukang sampan yang bersedia membantunya menyeberang sungai dengan syarat diberikan kesempatan mencicipi tubuh sang dewi yang molek membuat siapapun meneteskan air liur. Demi bertemu dengan suami terkasih, ia memenuhi syarat itu. Maka gagallan ujian kesetiaan itu dan Dewa Siwa mengutuknya menjadi raksasi perempuan buruk rupa yang suka memakan manusia. 
"Jati termenung...dalam dirinya ada rasa keadilan yang terganggu. Mengapa Uma dihukum padahal ia mengorbankan sesuatu demi menemui kekasih hatinya? Dewi Uma membiarkan Sudra yang cabul itu menyetubuhi dia. Tentu bukanlah kenikmatan, melainkan penderitaan, yang ia rasakan. Tapi Betara Guru memilih tubuh ketimbang hati istrinya...Istri bagi sang Betara semata tubuh, bukan jiwa. Dan itu ia buktikan melalui sebuah ujian yang diterapkan tanpa sepengtahuan yang diuji." (hal. 286) 
3) Dayang Sumbi
Masyarakat Sunda khsususnya mengenal Dayang Sumbi melalui dongeng tentang terciptanya gunung Tangkuban Perahu yang dipercaya berasal dari perahu nyaris jadi yang dilemparkan Sangkuriang dalam amarah, pada suatu malam ketika ia dikerjai Dayang Sumbi agar gagal dalam ujiannya membendung Sungai Citarum menjadi sebuah danau.
"Ia adalah putra dari seorang perempuan yang bersetubuh dengan seekor anjing...Pada kisah Sangkuriang, kedua kekasih itu belum menikah. Untuk menghindari pernikahan, Dayang Sumbi menuntut mas kawin yang musykil. Ia meminta Sangkuriang membendung sebuah sungai yang maha deras. Citarum purba namanya. Sungai itu harus dibendung menjadi danau. Semua itu harus dikerjakan dalam semalam. Tak hanya itu, Sangkuriang juga harus menyelesaikan sebuah bahtera untuk mereka bercinta diatas danau.... Perhatikan beda pria dan wanita...Pria cuma menginginkan persetubuhan. Tapi, perempuan menginginkan bahtera lengkap dengan danaunya!" (hal. 56)
Tragis tapi menarik, karena dongeng Sangkuriang-Dayang Sumbi ini berasal dari masa ratusan tahun silam yang sepertinya telah dibuat dekat dengan hanya puluhan tahun kebelakang. Sebab, dongeng itu harus bisa dibuktikan denga jejak-jejak geologis yang direkam tanah. 

4) Dewi Sinta
Ia merupakan Permaisuri dari Prabu Watugunung. Pada suatu hari Sang Prabu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri, dan dewi Sinta berniat mencari kutu di kepala suaminya. Alangkah terkejutnya sang demi manakala mendapati tanda di kepala suaminya yang mirip dengan tanpa di kepala anak lelakinya yang pernah dipukulnya pada saat ia kecil. Tahulah ia bahwa lelaki yang menjadi suaminya merupakan putranya sendiri.

Demi bisa menceraikan diri, ia meminta syarat maha berat kepada sang Prabu, yaitu ia ingin agar suaminya mengambil istri lagi dari kalangan bidadari. Sang Prabu tentu saja senang, meski untuk mendapatkan bidadari harus dilakukan dengan melakukan peperangan, alias merebutnya dari lelaki lain. Maka demi menyanggupi permintaan istrinya, Prabu Watugunung menyerang surgaloka dan menimbulkan kekacauan.

"Usaha kedua pria, Sangkuriang dan Watugunung, untuk memenuhi permintaan kekasih menimbulkan bencana alam, huru-hara, sebelum akhirnya terjadilah permukaan bumi yang baru....dorongan inses itu menimbukan khaos, sebelum akhirnya menimbulkan kosmos yang baru...Dalam Sangkuriang, kosmos yang baru itu adalah bentang alam. Dalam Watugunung, kosmos yang baru itu adalah siklus waktu...Mitos memang agak konyol, tapi ternyata mengandung pertanyaan filosofis." (hal. 58)
4) Nyi Manyar
Ia adalah perempuan dengan kekuatan khusus, yang lembut sekaligus baja. Ia adalah penjaga mata air, pawang hujan sekaligus pembaca tanda-tanda alam yang sangat dihormati warga desa. Ia adalah ibu yang menemukan bayi Parang Jati dan Kupukupu di pusaran mata air ke 13, keduanya dalam diletakkan dalam keranjang rotan berselang 3 tahun lamanya. Ia adalah ibu asuh yang menyaksikan pertumbuhan Parang Jati dan Kupukupu dalam kebisuan, dari kejauhan, untuk dibesarkan dua keluarga berbeda.
"Seorang perempuan tampak telah berdiri di sana. Ia mengenakan kebaya sederhana dan rambutnya yang hitam digelung tanpa sasak. Wanita itu masih menampakkan raut ayu berwibawa, meskipun usianya telah mendekati lima puluh. Ia sedang menatap ke paras air di dekat kakinya. Ia menoleh ketika Suhubudi tiba." (hal. 219)
 Ini adalah kisah penemuan bayi Parang Jati dalam sebuah keranjang.
"Tersangkut dekat lumut pakis dan berbatu sebuah keranjang dari serat pandan. Di dalamnya ada seonggok bayi lelaki yang masih merah.  Manyar mengambilnya dan menggendongnya. "Dia anakku," katanya sambil tersenyum kepada Suhubudi.... Manyar mengambil tangan si bayi, membiarkan jemari mungil  anak itu menggenggam telunjuk dewasanya. Disodorkannya tangan lembut kecil itu pada pandangan lelaki yang baru datang.  Manyar menggeleng. "Ini anakku. Namanya Parang Jati," ujarnya sambil tersenyum. Lalu ia serahkan bayi itu ke pelukan Suhubudi. "Peliharalah." (hal. 220)
Melalui berbagai kisah, Bilang Fu menceritakan Nyi Manyar sebagai seorang perempuan dengan kebijaksanaan tiada tanding, pandai membaca tanda alam dan telah mewarisi pengetahuan dalam aliran darahnya. 

5) Marja 
Gadis muda ini tipikal gadis kota yang berpikiran bebas dan terbuka, berkemauan keras, mandiri, manja saat memerlukan kasih sayang kekasihnya, dan tentu saja memiliki kejutan yang membuat Sandi Yuda makin cinta. Ia juga digambarkan sebagai tipe perempuan yang 'panas' saat bercinta dan tak segan mengendalikan permainan. Bahkan dijelaskan bahwa Sandi Yuda tidak mempermasalahkan wajahnya yang biasa saja, sebab yang terpenting mereka saling cinta dan saling menghangatkan saat kerinduan melanda. Marja juga tipe gadis yang ramah dan pandai bergaul, di mana ia diceritakan mampu memikat anak-anak di desa saat mengajari mereka Bahasa Inggris, dan mendapat hadiah cincin spesial Kecubung Pengasihan dari sepasang Bapak dan Ibu Kepala Desa. 

Pembaca penasaran dengan sosok Marja, bukan? Segeralah membaca Bilangan Fu dan temukan keistimewaan gadis itu. Bisa jadi ia adalah penggambaran sosok masing-masing kita dengan karakternya yang istimewa. 

PENTING MEMBACA BILANGAN FU
Sebagai pembaca buku, aku tidak mampu membayangkan jika hidupku dijauhkan dari buku-buku bermutu. Sebab bagiku, buku bukan sekadar bahan bacaan di kala penat atau alat untuk menjaga kesehatan otak. Buku adalah teman hidup yang mengajak kita kritis tentang banyak hal, termasuk kritis dalam membaca diriku sendiri sebagai manusia. Buku juga menjadi alatku untuk bertemu dengan banyak orang hebat dan pemikiran mereka tanpa perlu melangkahkan kaki dan mengunjungi berbagai tempat di dunia, di mana si penulis tinggal dan berkarya. 

Dan tentu saja, membaca buku merupakan meditasi rasa.

Bilangan Fu adalah fiksi kritis yang sangat kurekomendasikan untuk siapapun yang ingin mengenal lingkungan tempat ia tinggal dan menjalani hidup. Tak masalah jika beragama Islam, Kristen, Hindu, Budha, Konghucu atau penganut aliran kepercayaan sekalipun. Toh, buku ini tidak mengajak pembaca untuk membenci agama atau aliran kepercayaan atau bahkan takhayul dan mitos. Melainkan mengajak kita berpikir kritis atas pikiran dan perbuatan diri sendiri, sebab setiap manusia harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Mungkin, itulah makna lain dari 1 (satu).

Tanah Lada, November 2018

2 comments

follow me on instagram