Bertani Asyik Tanpa Takut Kulit Bersisik

Para petani perempuan memanen padi dengan gambira di Banjit, Way Kanan, Lampung. Foto: Rinto Macho


Di zaman "Internet of Things" ini masihkah ada 
warga dunia yang bercita-cita menjadi petani? 



Pertanyaan ini seringkali menyapa pikiran manakala membaca perkembangan dunia yang semakin melek teknologi. Manusia abad ini telah sampai pada posisi yang tidak terlalu sulit menghasilkan uang jika mampu menguasai teknologi. Menjadi endorser di Instagram  hingga Youtuber membuat generasi muda mampu melampaui pencapaian generasi pendahulunya dalam hal finansial tanpa perlu berusah payah mengelola kebun atau sawah warisan orangtuanya.

Sebab, jika uang merupakan alasan utama manusia bekerja melalui berbagai profesi, maka abad ini dimenangkan oleh mereka yang menguasasi teknologi. Contohnya, Youtuber Ria Yulianti yang lebih dikenal dengan nama Ria Ricis yang berpenghasilan miliaran rupiah setiap bulannya dari berbagai video yang ia unggah di Youtube. 

Dalam usia 23 tahun, ia telah didapuk sebagai Youtuber terkaya se-Indonesia dan merupakan Youtuber perempuan pertama asal Indonesia yang mendapatkan penghargaan Gold Button dari Youtube. Keberhasilannya sebagai orang kaya muda dalam waktu kurang dari 5 tahun membuatku mengerti bahwa dunia modern memberikan kita begitu banyak pilihan dan kesempatan untuk sukses, sebuah posisi yang dikejar seluruh manusia sejak mereka mengenal uang. 


Nah, jika peradaban masa kini telah membawa kita pada cara pandang berbeda tentang profesi dan finansial, lantas bagaimana nasib profesi lainnya yang cenderung memiliki pola pikir tradisional seperti petani? Akankah pada suatu hari nanti profesi petani benar-benar mengalami penurunan dalam jumlah signifikan bahkan musnah? Jika hal demikian terjadi, siapakan yang akan memberi makan warga dunia? 

***

Aku lahir dari keluarga dan tumbuh di lingkungan petani. Masa kecilku dipenuhi oleh kenangan tentang wangi getah rerumputan yang dikoret dari sela-sela batang kopi, warna areal persawahan yang menghijau lalu menguning, aliran sungai yang meliuk jika dilihat dari perbuktian, burung-burung yang berterbangan memenuhi langit, kerbau yang berkubang nyaris sepanjang hari, gonggongan anjing yang menyertai tuannya saat berangkat ke dan pulang dari kebun, gemeretak kayu terbakar yang berubah menjadi arang dan abu untuk membakar singkong atau talas, ulat yang menggerogoti daun terong, pepaya matang di pohon yang dimakan kelelawar, musim buah jambu air, panen jamur kuping di pepohonan tumbang dan lembab, hingga mengincar rebung yang bersembunyi di balik rimbun bambu.

Belasan tahun silam, aku merasa sangat bahagia sebagai anak petani. Biasanya saat libur sekolah aku akan menyertai orangtuaku ke kebun kopi kami yang berjarak 7 km dari kampung yang biasa kami tempuh dengan berjalan kaki. Kebun itu terletak di badan gunung sebuah hutan lindung yang sosoknya terlihat menjulang lagi jumawa dari halaman rumah kami. Pada saat musim hujan, aneka jamur akan bermunculan. Aku sangat suka memanen jamur kuping dan memasaknya untuk makan siang dengan aneka sayuran yang dipetik di areal kebun seperti pucuk labu siam, cempokak, leunca, terong, dan kecipir. Memetik jamur di musim hujan merupakan kenangan terindahku sebagai anak petani.
Jamur Kuping, bahan pangan yang membuatku bahagia sebagai anak petani. Foto: Shutterlock
 
Sepertinya, kenangan itu menggambarkan bahwa kehidupan petani begitu filosofis, makmur, bersahabat dengan alam, berkecukupan dan bahagia. Orang-orang kota sering bilang bahwa orang desa alias si petani hidupnya begitu nyaman dengan anugarah alam yang murni. Meski sebenarnya mereka tidak tahu bahwa di kepala para petani terjadi pertempuran tentang utang pupuk yang menumpuk, kalkulasi hasil panen yang jauh dari harapan, harga komoditas yang turun drastis akibat kelebihan panen atau kebijakan impor pangan, kerugian fatal akibat serangan hama hingga bencana alam, dan sebagainya. 

Petani adalah salah satu profesi yang tidak dijamin asuransi baik dirinya secara individu maupun lahan pertaniannya. Padahal menjadi petani bagai berjudi dengan alam semesta yang selalu menyediakan kejutan tentang iklim, cuaca dan musim diluar perhitungan manusia. 

Oleh karena itu, kujamin bahwa tidak satupun keluarga petani yang mengharapkan anak-anak mereka menjadi petani. Sebagaimana yang diinginkan keluargaku atasku, agar aku naik derajat dengan menjadi pekerja kantoran atau pegawai negeri sipil. Menjadi petani merupakan profesi bukan pilihan bagi mereka yang tidak memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi dan meraih mimpi melalui profesi lain. Bahkan, diakui atau tidak, profesi petani seringkali direndahkan dalam pergaulan sosial. Telah lama sekali dan bisa dibilang turun temurun, mereka yang berprofesi sebagai petani dan anak dari keluarga petani 'dibuat' malu untuk menegakkan kepalanya dengan bangga sebagaimana profesi lain seperti dokter, arsitek, pegawai negeri sipil, hingga pilot. 

Lihatlah di sekeliling kita, siapa petani yang dengan bangga membusungkan dadanya dan menegakkan kepalanya dengan mengatakan kepada dunia bahwa ia seorang petani? Jarang sekali, bukan?

"Jangan jadi seperti Bapak yang bodoh ini, Nak! Kamu harus sekolah tinggi dan kerja yang bagus. Nasib petani memang selalu begini," ujar Ayahku yang ingin aku sekolah tinggi agar tidak menjadi petani, lebih dari 15 tahun silam.
Aku cocok kan jadi petani cantik? Foto: Rinto Macho

"Nanti kalau kamu sudah selesai kuliah, kamu kerja di bank aja. Kantornya bagus, seragamnya bagus, gajinya bagus. Pokoknya hidup kamu harus bagus, nggak seperti Nenek yang miskin sejak lahir sampai bau tanah begini," ujar mendiang Nenekku nyaris ratusan kali, yang berharap aku bisa bekerja di sektor perbankan yang menurut beliau sangat keren karena kantornya bagus, seragamnya rapi, dan mendapat gaji bulanan.

Aku menyukai suasana dan wangi wilayah pedesaan. Tetapi, aku tidak ingin menjadi petani. Aku ingin menggapai ambisiku untuk sukses di kota, menikmati hidup dengan profesi yang mentereng dan membanggakan keluargaku. Sejak merantau pada tahun 2010, telah kurasakan bagaimana menjalani hidup yang keras di jantung Indonesia, demi mengejar satu kata yang disebut 'sukses'. Ya, aku mendapatkan apa yang kuinginkan mulai dari pengalaman, uang, jaringan orang-orang hebat hingga berbagai peluangan pengembangan diri yang tidak mungkin kudapatkan jika aku tinggal di desa. 

Namun, ada kalanya aku merasa was-was. Bahwa kehidupan kota yang selalu membuat stress di ujung hari akan menghancurkan diriku sendiri. Aku tidak bahagia. Selain itu, semakin hari kota semakin padat, tentu sebagian besarnya oleh orang-orang desa yang merantau, mengais rezeki melalui berbagai profesi dari pegawai perusahaan ternama hingga pemulung sampah. Tenaga kerja produktif dari desa berbondong-bondong pindah ke kota. Desa menjadi sepi, seperti tak menjanjikan kehidupan yang baik. Meski sebenarnya seluruh sumber daya alam yang dikekelola berbagi perusahaan besar di kota merupakan berasal dan komoditas asli dari desa di seluruh Indonesia. 

Gamang menyelimuti kalbu. Apa yang akan terjadi selepas masa-masa seperti ini? Haruskah kuteruskan berjuang di kota, berdesak-desakan dengan jutawaan warga lain dalam mencari rezeki. Atau, haruskah aku kembali ke desa dengan menangggung resiko dicibir karena lulusan universitas nomor wahid di tanah air malah menjadi petani?  

BERTANI MUDAH DENGAN PEKARANGAN EKOLOGIS
Ditengah kegamangan yang tak berkesudahan itu aku bertemu dengan teh Nissa Wargadipura, pemilik dan pengasuh Pesantren Ekologi Ath-Thaariq. Pesantren yang berdiri di lahan kurang dari 1 ha di kaki gunung Guntur, Garut, Jawa Barat ini dikenal juga sebagai Green Pesantren karena konsep pengelolaan yang mensejajarkan posisi mengaji kitab Allah dalam teks dan hamparan alam semesta. Pesantren yang memiliki proses pembelajaran berbeda dari pesantren pada umumnya ini telah lama dikenal luas, bahkan sering diliput berbagai media cetak dan elektronik. 

Teh Nissa dan suaminya Ustadz Ibang, memulai pesantren ini 10 tahun silam setelah perempuan yang merupakan aktivis Serikat Petani Pasundan itu mengalami masalah hebat saat melahirkan puteri ketiganya. Usut punya usut, Teh Nissa mengalami penebalan rahim yang disebabkan olah pola makan yang tidak sehat. Peristiwa yang nyaris merenggut nyawanya dan bayinya itu kemudian menjadi landasan untuk menjalani pola hidup lebih sehat dengan merombak total konsep makan, bertani dan berinteraksi dengan alam. 
"Teknologi pertanian dan industri makanan modern telah menjebak kita menjadi konsumen yang asal makan, tanpa peduli asal makanan dan berakibat fatal bagi kesehatan," ujar ibu tiga anak itu memulai cerita. 
Dalam kunjunganku ke Pesantren, memang benar terlihat bagaimana perempuan yang sangat gesit, idealis dan pemimpi tersebut menunjukkan bahwa laboratorium hidup yang diasuhnya selama 10 tahun adalah dunia pertanian yang berbeda. 

"Bertani itu harus dimulai dengan konsep memuliakan alam, Mbak Ika." Ujarnya mantap. Perempuan yang sangat suka mengenakan pashmina sebagai kain penutup kepala itu berkeliling menunjukkan bagaimana seluruh tanaman di lahan pesantren dikelola dengan penuh penghormatan dan cinta. Sepasang matanya yang lembut dan keibuan serupa kebanggaan yang tak ternilai tentang kerja keras mengembalikan kearifan lokal warisan nenek moyang ditengah gempuran praktek pertanian modern yang cenderung merusak tanah, air dan rantai makanan.

Kepadaku ia menunjukkan bayam rambat yang berdaun lebat lagi hijau, dengan biji-bijinya yang berwarna hijau tua dan hitam. Kemudian kami bergeser menuju bagian dekat pintu bagian belakang rumah yang dipenuhi tanaman tomat yang sedang ranum, bayam Perancis berdaun selebar telapak tanganku, batang kemangi tua dengan bunganya yang berwarna cokelat lagi siap panen, rumpun-rumpun kecil daun bawang diantara tanaman tomat dan pohon jambu klutuk yang buahnya masih kecil lagi mentah. Sementara di sisi luar kebun adalah areal persawahan yang baru dipanen dan rumah-rumah mungil khas pedesaan dengan gunung Guntur menjulang jumawa di kejauhan. Tak lupa diatas kami adalah payung semesta berupa langit biru bersih dengan gumpalan awan putih tipis, dan hembusan angin dingin yang menusuk kulit. 

Teh Nissa saat memberikan tur keliling pesantren

Selain dikenal sebagai pemilik pesantren kece ini, perempuan yang tak pernah berhenti belajar ini juga menjadi pemulia benih lokal. Dalam perjalanan hidupnya sebagai pengasuh sebuah pesantren dengan konsep Pekarangan Ekologis, Teh Nissa juga memperdalam ilmunya dengan belajar langsung kepada Dr. Vandana Shiva, yaitu seorang ekofeminis, penulis buku, peraih nobel perdamaian dan penggagas bank benih lokal di India. Bersama dua perempuan aktivis pangan dari Jawa Timur, Teh Nissa belajar langsung di Earth University di Doon Valley, Uttarakand, India Utara tentang agroekologi dan pertanian organik. Kini, pembelajaran itu telah dibaginya kepada berbagai komunitas di Jawa hingga Aceh. 

"Pesantren Ath-Thaariq ini luasnya kurang dari 1 hektar, tapi mampu menghidupi seluruh keluarga pesantren setahun penuh. Kami tanam berbagai jenis tomat untuk camilan anak-anak, ada juga pohon cherry. Kalau mau akan tinggal ambil apa yang mau dimakan.Sumber karbohidratnya kita punya pagi, pisang dan ganyong. Semua tinggal petik sejengkal dari rumah, Mbak Ika." Perempuan itu tersenyum penuh rasa syukur sampai-sampai sepasang matanya yang nyaris ternggelam itu masih memancarkan sinarnya dengan indah. Ia terlihat begitu puas dan bahagia. 

Dalam pertemuan kami, terdapat juga diskusi kecil tentang kondisi pertanian dan petani di Indonesia yang semakin tahun kondisinya cenderung memprihatinkan. Selama 4 tahun antara 2014-2017, telah terjadi penurunan jumlah angkatan kerja di sektor pertanian, perkebunan, perkebunan, kehutanan dan perburuan sebesar 1,2 juta orang, di mana jumlah petani kini turun dari 40,8 juta orang pada 2014 menjadi 39,6 juta orang pada 2017. 

Orang-orang muda enggan bertani dan mewarisi lahan pertanian keluarganya, ditambah lagi dengan berkuranganya lahan pertanian untuk keperluan non pertanian seperti perumahan dan kawasan industri.  

"Petani kita itu salah didik, Mbak Ika. Puluhan tahun kita didorong untuk swasembada pangan dengan tujuan dijual. Padahal, nenek moyang kita dulu bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sisanya baru dijual untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Makanya petani jaman dulu selalu punya lumbung pangan. Kita contek orang Baduy deh, masih setia mereka dengan konsep itu. Sebelum kita bicara soal swasembada pangan, kita harus mampu melewati tantangan berdaulat pangan. Dan tantangan ini harus mampu dijawab dengan kesejahteraan keluarga petani sendiri," dan pernyataan ini menohokku karena aku paham betul bagaimana keseharian keluarga petani yang jauh dari ukuran sejahtera. 

"Harusnya yang namanya petani itu sudah selesai dengan urusan berdaulat pangan bagi  keluarganya sendiri. Petani harus mampu menjawab tantangan itu selama setahun penuh bagi keluarganya sendiri, baru melangkah ke swasembada pangan, jangan terbalik pola pikirnya," penjelasan Teh Nissa kini menampar kesadaranku soal konsep bertani yang dipahami secara umum. Aku mengangguk paham, sembari mengikuti langkah kaki Teh Nissa menuju kebun sayuran.

Di lahan kurang dari 1 hektar yang disebutnya sebagai kebun acak kadut ini, keluarga pesantren menanam puluhan jenis sayuran, herbal, buah, umbi dan bunga. Ada blok khusus untuk pembibitan tanaman yang terletak di bagian belakang kamar kedua puteri Teh Nissa, ada kebun aneka herbal di dekkat teras yang banyak menanam koleksi herbal lokal seperti binahong. Sementara di bagian lain ada juga kebun dengan aneka jenis tanaman mulai dari kecipir, bunga telang ungu, unga rosella, bunga matahari, sereh, jeruk, dan sebagainya. Sementara ada tanaman kecipir dan oyong yang merambat di dinding Musholla dua lantai yang terbuat dari bambu. 
"Kalau kita perlu tomat, bisa langsung metik di halaman belakang. Begitu juga kalau butuh sawi atau daun mint, semua tinggal petik di kebun pesantren. Ada juga bayam, kuru-kuru, kacang-kacangan, bunga telang, sereh dan sebagainya, lengkap kebun kami. Kami mengajarkan keluarga kami dan warga sekitar untuk memanfaatkan lahan sebagai sumber pangan. Selain murah meriah, juga terjamin kualitasnya. Dan kita nggak sakit-sakitan karena pangan kita lokal, sesuai dengan karakter tubuh kita. Makanya saya sehat dan jarang sekali sakit, karena makanan kami disini sehat," ujar teh Nissa Wargadipura. 
Pembelajaran tentang kedaulatan pangan di pesantren tersebut hendak mengajarkan kepada kita bahwa makanan yang terbaik bagi tubuh kita adalah pangan lokal, yang juga menunjukkan bagaimana sebuah keluarga berdaulat mengatur menu di meja makan tanpa terbebani kondisi ekonomi atau pangan yang didatangkan dari daerah lain. Karena memang gaya hidup sehat dimulai dari meja makan keluarga, bukan dari program pemerintah. 
Aku saat memanen tomat di belakang dapur pesantren. Foto: Budi

Ya, keluarga Pesantren Ath-Thaariq ini merupakan potret keluarga petani yang berdaulat pangan sejengkal dari rumah. Bertani dengan konsep yang asyik dan menyenangkan, mengelola bumi sembari berzikir memuja Sang Pencipta. 

KE UBUD, BELAJAR BERTANI DI HARS GARDEN
Aku masih belum puas. Aku harus mampu meyakinkan diriku sendiri bahwa jika kelak memilih bertani maka aku tidak akan terperosok ke jurang kemiskinan. Maka aku menuju Ubud, Bali untuk belajar di Hars Garden. Sebuah kebun organik milik Hartono Lokodjoyo, petani nyentrik lagi sukses yang kukenal lewat Facebook. Aku penasaran mengapa petani sepertinya dapat jalan-jalan keliling Indonesia bersama istrinya begitu seringnya seakan-akan bertani merupakan hobi yang dapat dikerjakan dengan menjentikkan jarinya saja. Apakah ia petani dengan lahan puluhan hektar? 

Penerbangan dari Cengkareng ke Denpasar berjalan lancar tanpa hambatan. Setelah sampai di bandara, kulanjutkan perjalanan ke kota Gianyar menggunakan taksi online selama 90 menit. Dilanjutkan dengan bersepeda motor selama 30 menit ke Hars Garden di Ubud bersama Kak Puput, seorang perempuan muda yang bekerja di Hars Garden. Perjalanan ke Hars Garden sangat menyenangkan karena aku melewati jantung wisata Ubud yang dipenuhi wisatawan mancanegara yang sibuk berlalu lalang menikmati suguhan kota seni itu. Terlebih, aku dapat menyaksikan sejumlah pohon raksasa seperti beringin yang rimbun dengan akar gantung menjuntai bagai pepohonan dari negeri asing. Maklum, sejak kecil aku ini jarang sekali melihat pohon teramat besar.

Saat aku memasuki Hars Garden dibawah naungan langit biru dan cuaca panas terik, kulihat lelaki mungil berkaos putih dengan celana pendek selutut berjalan dari arah hutan kecil menujuku. Ia lelaki berperawakan mungil berkulit cokelat dengan rambut gimbal yang diikat. Di pergelangan tangan kirinya melingkar sebuah jam yang aku yakin harganya sangat mahal, yang nyaris tidak mungkin dibeli petani miskin. Ia berjalan santai beralaskan sandal jepit dan membawa sebuah toples plastik. Kupikir, ia akan memanen sayuran untuk makan malam yang akan dibuat istrinya.
Bahagianya aku saat bertemu Mas Har di Hars Garden, bersanam anjing kesayangannya. Foto: Puput Dyah

"Apa kabar?" tanya lelaki yang kusapa Mas Har ini dengan senyum hangat. 
"Alhamdulillah baik," jawabku dengan senyum senang karena telah sampai di kebun terkenal ini demi bertemu dan belajar kepada petani terkenal dan sukses.  

Setelah saling menanyakan kabar masing-masing, aku duduk di saung. Lelaki itu kemudian meladeni seorang asing yang membeli beberapa jenis sayuran dan ubi, sementara aku mengemil tomat yang kupetik sendiri dari kebun. Saat transaksi selesai ia tersenyum bahagia. Kulihat, ia menghitung segepok uang yang kemudian ia masukkan kedalam saku celananya. Petani kaya nih. 

Mas Har, begitulah aku menyapanya mulai bercerita:

"Saya ini dari keluarga miskin di Sragen, Jawa Tengah. Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil. Saya punya dua orang adik, yang adik satunya hasil dari pernikahan Ibu saya dan suaminya yang sekarang. Hidup saya ini susah dari kecil. Bahkan sampai usia saya 33 tahun rumah Ibu saya itu yang paling jelek di kampung kami. Saya juga sering lari terbirit-birit kalau lihat mantan pacar saya, karena saya malu jadi petani," Mas Har memulai pembelajaran dengan menceritakan masa kecilnya. 

Cerita yang sebenarnya telah dia tulis di beberapa status di akun Facebook miliknya. Aku tersenyum kecut. Ya, sejak dulu profesi petani memang selalu dipandang rendahan bahkan si petani seringkali merasa rendah diri jika membandingkan dirinya dengan orang lain yang berprofesi bukan sebagai petani. Seakan-akan menjadi petani merupakan kutukan takdir bagai kasta terendah pada masyarakat dengan strata sosial tertutup.
Produk pertanian di Hars Garden yang siap jual ke konsumen

Dengan sepasang mata sayu seakan-akan sedang menyaksikan layar bioskop yang menampilkan kehidupan masa kecilnya, ia menceriakan tentang mimpi-mimpi masa kecilnya. "Saya ini kutu buku dan sangat suka berkhayal menjelang tidur," ujarnya dengan senyum malu, sembari memilin-milin rambut gimbalnya yang kini diurainya. 



Katanya, sejak kecil ia suka berkhayal menjaid orang kaya. Jelas khayalan itu dipacu kesulitan hidup yang dialaminya sebagai orang miskin. Dalam khayalannya ia memimpikan rumah megah, mobol Honda Jazz, keliling berbagai tempat indah di penjuru dunia, bekerja sebagai pemandu wisata, hingga memiliki istri orang asing. Kebiasaan mengkhayal berlanjut hingga ia remaja. Seperti berkhayal bertemu musisi idolanya yaitu Slank untuk berfoto dan membuat lagu bersama. Ia juga berkhayal menjadi orang yang diberikan Tuhan kemudahan untuk mencari uang.  

Dalam mewujudkan mimpinya itu, lelaki berusia 39 tahun ini mengaku pernah menjalani berbagai profesi mulai dari musisi kelas kampung yang tampil di setiap acara hajatan, pengamen di bis kota dan kereta, pekerja di pabrik tahu di Jakarta, penebang kayu di rawa-rawa di pedalaman Kalimantan hingga terserang malaria, buruh tani di perkebunan sawit, kerani yang korup hingga penjual narkoba. Sungguh, kisah hidup yang ajaib dan keras. 
Saat Hartono Lokodjoyo menanam benih lettuce atau selada

"Saya ke Bali ini karena tertarik dengan tawaran memelihara lima puluh ekor sapi dengan lahan yang sangat luas, sampai puluhan hektar. Saya hitung dalam dua tahun saya bisa kaya raya. Tapi perkiraan saya meleset dan akhirnya saya bekerja sebagai gardener di Jogja Kafe di kampung sebelah itu. Gaji pertama saya waktu itu satu koma lima juta, sudha besar untuk ukuran waktu itu," ujarnya dengan suara renyah, seakan sedang mentertawakan masa lalunya yang selalu dianggapnya sebagai jalan yang memang telah Tuhan sediakan untuknya agar sampai ke posisinya yang sekarang. 
"Saya itu dulu perokok berat. Gaji saya sebagai gardener itu 1.5 juta. Akhir bulan hanya tersisa 500ribu. Waktu itu umur saya 29 tahun dan saya berpikir mau jadi apa saya kalau uang hasil bekerja habis untuk rokok. Akhirnya saya putuskan berhenti merokok dan uang 1 juta itu saya tabung. Saya bukan tabungan di BRI. Setelah 5 bulan saya punya tabungan 5 juta dan mulai menyewa lahan untuk membuat kebun milik saya sendiri. Itulah cikal bakal Hars Garden yang bisa kamu lihat sekarang," ujarnya dengan mata berbinar seperti bintang utara.
Wah! Keren sekali lelaki ini dapat berhenti merokok total demi mewujudkan mimpinya untuk memiliki lahan pertanian sendiri. Kami beradu pandang dalam senyum. Kisah hidup ini tentu saja kisah baik yang sejatinya mampu menginspirasi orang-orang miskin untuk tidak menghamburkan uang demi membeli rokok, sebuah kenikmatan yang sia-sia belaka. 
"Awal-awal saya buka kebun sendiri, saya sukses menanam apa saja. Tapi masalahnya adalah pemasaran. Saya sudah berhasil di mengelola tanah dan tanaman, tapi saya gagal memasarkan produk saya. Sampai capek sekali saya. Pagi sampai siang saya bekerja sebagai gardener di Jogja kafe, lalu siang sampai sore saya bekerja di kebun sendiri, lalu sore sampai malam saya memasarkan produk saya. Ya tidak laku. Sampai akhirnya saya berpikir untuk merubah cara saya menjual. Keuntungan saya sekarang adalah pembeli produk kebun saya orang asing yang sangat peduli dengan kesehatan makanan mereka, makanya produk kebun Har's Garden ini laris dan menguntungkan bagi saya," katanya mantap.
Proses kerja keras dan jatuh bangun sebagai petani organik mengantarkannya pada pengetahuan yang berbeda dari petani dan petani organik kebanyakan. Dalam pandanganku, lelaki nyentrik yang rendah hati ini merasa semakin bersyukur kepada Tuhan karena diberikan kemampuan untuk mengelola bumi dengan benar sehingga mendatangkan kemakmuran baginya dan keluarganya. 
"Saya sudah pernah menjalani berbagai jenis pekerjaan seperti yang saya ceritakan ke kamu. Tapi, bertani adalah pekerjaan yang paling saya nikmati," ujarnya bangga.  
Pengakuan yang mengejutkan ini memang dapat kubenarkan manakala selama 10 hari lamanya aku belajar langsung kepadanya di lahan pertanian. Mas Har bertani dengan gembira. Hal ini ditunjukkan dengan caranya dalam memperlakukan tanah, tanaman, bibit, air, hingga proses memanen. Tak lupa ia membawa ponselnya dan menyimpannya di saku celana pendek selutut. Ia memerlukan ponsel itu sebagai media untuk mendengarkan musik jenis campursari. Ya, Mas Har bertani sembari mendengarkan musik campursai!

Lelaki yang mulai bertani sendiri dengan menyewa lagan warga Ubud sejak 2008 ini tidak ujug-ujug sukses. Selain pernah mengalami kesulitan memasarkan produknya, ia mengalami hambatan lain yang membuatnya sangat kecewa. Bahwa sebidang tanah yang disewanya dan telah dikelolanya dengan baik, dicabut sewanya oleh pemilknya tampa alasan yang jelas. Mas Har merasa waktu, energi dan dana yang telah diinvestasikan sia-sia belaka. Sehingga, ia mulai selektif dalam melakukan perjanjian sewa-menyewa lahan. 

"Awalnya kebun Hars Garden ini ada tiga lahan. Yang induknya disini. Tapi susah saya memantau dua kebun lainnya. Saya sudah bayar pekerja untuk kelola kebun, tapi hasilnya tidak sepadan. Akhirnya ya, saya kelola satu kebun ini saja. saya maksimalkan," ujarnya. 
Kebun itu pula yang mempertemukannya dengan jodohnya. 

Pada 2012 saat ia tengah asyik di kebun, ada seorang wisatawan asing asal Jepang yang belanja sayuran organik di kebunnya untuk 2 paket. Namanya Ryoko Mine, seorang sutradara dan wanita karir di bidang pertelevisian Jepang yang bosan menjalani hidup ala perkotaan, dan main ke Bali untuk melihat peluang baru. Setelah hari itu, mereka sering terlibat diskusi tentang pertanian organik hingga perihal lain. Menikahlah mereka pada 2014 dan tercapailah mimpi masa kecil Mas Har untuk menikah dengan orang asing. 

"Mbak Ryoko itu dulu punya Villa dan kami sempat tinggal disana setelah menikah. Tapi karena konsepnya sama dengan kebanyakan villa, maka villa kami tidak begitu laku. Setelah kunjungan ke Jepang dan melihat sebuah rumah pohon di lokasi syuting, kami pun akhirnya membuat rumah pohon di Hars Garden," ujar Mas Har dengan mata berbinar. 
Hartono Lokodjoyo dan istrinya Ryoko Mine saat melakukan sesi post wedding dalam sebuah plesiran di tanah air. Ia tidak terlihat seperti petani, bukan? Sumber: Hartono Lokodjoyo

Ya, Mas Har dan istrinya tinggal di sebuah rumah pohon dua lantai di Hars Garden. Kemudian mereka membangun dua unit rumah pohon lain yang disewakan melalui www.airbnb.com, sebuah situs yang menyediakan informasi tentang tempat tinggal rasa lokal bagi turis dari seluruh dunia. Kedua unit rumah pohon itulah yang mengisi sebagian besar pundi-pundi Rupiah miliknya.



Selain untuk menjalani hidup dengan bahagia dan bersahabat dengan alam. Ketiga rumah pohon dibangun di lahan pertaniannya sebagai salah satu kritik pada gerakan Bali Not For Sale yang menurutnya tidak memiliki solusi yang jelas. Padahal menurutnya, solusi mendasar dari masalah menyusutya lahan pertanian di Bali karena Bali tidak memiliki solusi yang dapat menjawab kebutuhan ekonomi dan pembangunan sektor wisata yang berkelanjutan. 
"Saya sudah merasakan berhasil dari Hars Garden ini. Saya punya kebun organik yang menghasilkan. Saya juga punya rumah pohon yang menghasilkan. Hidup saya berkecukupan untuk seorang petani yang menyewa tanah. Tanah ini saya sewa, bukan punya saya. Makanya saya ingin pemilik tanah di sekitar saya belajar pada saya. Coba mereka bangun satu rumah pohon itu ditengah sawah, pasti laris. Tidak perlu bangun hotel pakai semen. Cukup pakai kayu. Kita harus bersahabat dengan alam. Itu baru namanya solusi untuk Bali not for Sale," katanya lagi seraya memandang sekeliling, dimana sawah-sawah di area Ubud mulai beralih fungsi menjadi bangunan dari semen. 
Untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 39, ia dan istrinya jalan-jalan keliling Asia nyaris sebulan lamanya. Mereka keliling Thailand, Vietnam hingga Turki.

"Di hari ulang tahun saya yang ke 39, saya mau berdoa di masjid Biru di Turki untuk semua orang agar dimudahkan jalan hidupnya oleh Tuhan," ujarnya di hari ke 10 pembelajaranku di Hars Garden. Sebagai petani berlahan sempit dan menyewa pula, ia telah menikmati kelimpahan hidup yang harus dirayakan dengan keliling dunia. 

By the way, apakah pembaca bisa menerka berapa penghasilan Mas Hartono Lokodjoyo dari kebun mungilnya lengkap dengan dua unit rumah pohon yang disewakan?

Yuk kita hitung: 

- Harga sewa satu unit rumah pohon adalah Rp. 580.000 per malam dikali 2 unit. 

  (Dan rumah pohon Hars Garden ini selalu full booked, bahkan hingga awal 2019)

- Gardening class Rp. 600.000 per orang

- Traditional Cooking class Rp. 400.000 per orang

- Making Coconut Oil Class Rp. 400.000 per orang

- Paket sayuran rata-rata Rp. 60.000 per kantong (tergantung jenisnya)

- Penyewaan motor Rp. 70.000 per motor per hari

- Selisih promosi tour wisata Ubud dan lain-lain. 


Jadi petani smart ternyata seru ya, ada banyak cara menghasilkan uang. Meskipun Mas Har hanya petani biasa lulusan SMP, tetapi level pengalaman, pengetahuan dan penghasilannya telah melampuai petani kebanyakan. Maka, sangat wajar jika kukatakan bahwa aku sangat merasa beruntung dapat berkenalan dengannya dan belajar langsung di Hars Garden.
Seru-seruan di Hars Garden. Foto: Puput Dyah

Sebelum meninggalkan Ubud, kutatap langit biru dengan awan putih berarak bagai sedang merayakan sebuah karnaval kesucian. Kepada Tuhan aku memohon kehidupan yang baik dan petunjuk untuk melakukan hal-hal baik bagi diriku dan dunia. Jika diizinkan, aku juga ingin menjadi petani asyik dan bahagia, seperti kedua guruku. Bertani asyik, banyak duit dan nggak takut kulit bersisik. Siapa mau ikut?

Tulang Bawang Barat, November 2018

DISCLAIMER: 
Tulisan berjudul sama telah diterbitkan pertama kali di Kompasiana, sebagai Tugas Akhir penulisan karya dalam kegiatan Danone Blogger Academy 2018 yang diselenggarakan atas kerjasama Kompasiana dan Danone Indonesia.
  

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram