#AkuSiapBersikap, Seni Bersikap Dalam Melawan Hoaks dan Pelintiran Kebencian di Era Internet of Things

"Perbedaan bisa dikepangkan" kampanye melawan kebencian yang indah

"From the deepest desires often come the deadliest hate."

-Socrates-

Kitab suci mengabarkan bahwa manusia merupakan makhluk paling mulia, yang kedudukannya lebih tinggi dibanding ciptaan Tuhan yang lain, bahkan malaikat yang dijamin bersih dari dosa. Kabarnya, para malaikat diperintahkan Tuhan bersujud kepada si manusia. Oh, menjadi manusia begitu istimewa, bukan?

Betul memang soal keistimewaan makhluk bernama manusia. Sebab ilmu pengetahuan yang dimilikinya sebagai bawaan lahir membuatnya mampu menciptakan warna-wani kehidupan yang sama sekali berbeda dengan spesies jenis lain seperti hewan dan tumbuhan. Manusia menmbangun peradaban dengan kota-kota yang indah, istana-istana megah, nyanyian, tarian, puisi, karya seni yang keindahannya tak lekang oleh zaman, hingga teknologi yang mencapai planet lain di tata surya. Manusia memang tercipta sebagai makhluk yang keren!

Tapi, dalam dunianya yang terkesan melampaui kehidupan makhluk lain, ternyata ada juga sisi gelap manusia yang merusak. Sejak dulu, nenek moyang kita dikenal suka berperang untuk merebut daerah kekuasaan yang berlimpah makanan atau untuk mempertahankan kelompoknya dari serangan kelompok lain. Bahkan pertumpahan darah yang melibatkan ribuan pasukan sering juga dipicu hasrat mendapatkan seorang perempuan! Belum lagi soal berita bohong dan fitnah yang menimbulkan kematian bagi orang yang tidak bersalah, seperti kisah pembunuhan sejumlah perempuan cerdas yang diduga penyihir. Atau pelintiran kebencian dari satu pihak ke pihak lain atas nama agama, suku bangsa, budaya, warna kulit dan sebagainya, yang sepertinya melawan warna-warni alami kehidupan.

Mengapa manusia yang diciptakan dengan kasih sayang Tuhan, penghormatan seluruh ciptaanNya yang lain serta yang dibekali ilmu pengetahuan, mampu melakukan tindakan-tindakan yang dipenuhi kebohongan, kepalsuan, hingga kebencian? Untuk apa manusia melakukan semua itu? Apakah dengan berbohong, membagi berita bohong atau memelintir kebencian manusia bisa mendapatkan tujuan lain yang ia kejar, namun melukai pihak lain? 

BACA JUGA: Menangkal Hoax dengan Ngaji Literasi Media

Beberapa hari silam, aku melihat satu postingan di Instagram @Drawmama yang menampikan ilustrasi seorang ibu sedang mengepang rambut panjang anak perempuannya, diantara bunga-bunga cantik di alam semesta. Ada pesan bagus disitu, yang berbunyi: perbedaan bisa dikepangkan. Sejak lama aku tertarik dengan mural karya Mariskha Soekarna dkk karena temanya sangat kritis dan tidak biasa, sekaligus indah dan membuai perasaan. Ketertarikan atas karya itulah yang membawaku pada akun lain yaitu @akusiapbersikap yang merupakan kampanye bersama untuk melawan hoaks dan pelintiran kebencian yang akhir-akhir ini nyaris merusak persatuan dan kesatuan bangsa. Sebab mengerikan sekali jika jalinan kebangsaan yang telah kita bangun dan jaga sedemikian lama, hancur karena hasrat tak tertahankan untuk saling membenci.



#Repost @akusiapbersikap • • • • • Perbedaan Bisa Dikepangkan 2018 Karya mural dari Marishka Soekarna (@drawmama), Muralis yang ikut dalam kampanye #AkuSiapBersikap yang mengajak anak muda untuk mengambil sikap dalam menghadapi pelintiran kebencian dan hoaks. Melalui karya mural ini, Marishka Soekarna menyebutkan bahwa kegiatan mengepang dan dikepang merupakan perwakilan dari sikap toleransi. Salah satu wujudnya, selama proses pengepangan, yang dikepang harus bisa duduk dan diam. Sedangkan yang mengepang, juga perlu mengendalikan suasana agar yang dikepang tidak merasa bosan atau bisa duduk diam selama proses. Interaksi yang saling terkendali antara kedua pihak ini turut juga mewakili sikap saling menghormati. Rambut anak yang panjang berantakan, dibuat rapi dengan dikepangkan menjadi simbolisasi sederhana akan perbedaan-perbedaan yang dapat dikendalikan. Kepang sendiri tidak 'membuat jadi satu', tetapi 'menyatukan beberapa bagian rambut menjadi satu'. Kedua karakter, yaitu Ibu dan Anak, juga menjadi perwakilan generasi: yang tua dan muda. Melalui penggambaran dua generasi ini, Marishka percaya bahwa peran penting generasi tua adalah turut mengajarkan sikap-sikap toleran kepada generasi muda. Hubungan Ibu dan Anak ini pun mewakili konsep yang Marishka percayai bahwa sikap toleransi itu penting untuk mulai diajarkan dari rumah/keluarga. Bagaimana pun juga, keluarga adalah ruang belajar anak yang paling dini. Mural ini bisa ditemukan di Universitas Budi Luhur. Bila ketemu di jalan, jangan lupa selfie dan unggah dengan tagar #AkuSiapBersikap. #AkuSiapBersikap #antihoaks #antikebencian #antipelintirankebencian #pelintirankebencian #drawmama #mural
A post shared by Marishka Soekarna (@drawmama) on

Mural dari @drawmama itulah yang menarikku untuk melangkahkan kaki ke kampus Universitas Budi Luhur di Ciledug, Jakarta Selatan pada Kamis 29 November 2019. Aku ingin merasakan dan menikmati suasana yang dibangun dalam kampanye isu penting yang kini membuat was-was banyak kalangan. Berangkatlah aku dari kota Depok ke Ciledug dalam suasana langit mendung bagai wajah suram seorang perempuan muda heha. Terlebih, seorang teman merekomendasikan kegiatan ini untuk kuhadiri karena dia tahu aku menyukai hal-hal terkait seni. Selama ini aku mulai menjadikan seni ala aku sebagai alat kampanye keadilan sosial.

Aku tiba sore hari (tentu saja karena aku ini sibuk buahahaha) dan saat sampai di lokasi kegiatan terlihat ramai oleh anak-anak muda yang berkumpul untuk mengikuti sesi diskusi. Narasumber dan peserta sedang melakukan tanya jawab hangat tentang hoaks dan pelintiran kebencian yang marah di dunia maya, terutama pada tahun politik. Keguncangan di dunia maya yang berdampak sangat besar di dunia nyata, ternyata bukan isapan jempol semata sebab bagi sebagian orang merupakan sebuah bisnis menggiurkan. Ya, bisnis menghancurkan persatuan dan kesatuan bangsa sendiri. .

BACA JUGA: Kenali isu Hoaks dengan Mudah

Sebenarnya secara teori kepalaku udah penuh lah oleh materi ini. Karena sebelumnya aku sudah mengikuti kegiatan dengan teman-teman Kompasiana dan Menteri Agama yang secara khusus bicara soal hoaks dan ujaran kebencian di dunia maya, pada Juni 2018 lalu. Juga di kegiatan Danone Blogger Academy 2018 pada akhir September lalu. Meskipun demikian, kegiatan ini menarik dalam konteks lain karena melibatkan karya seni seperti mural, foto dan film. Sebab sejak masa lampau, seni telah digunakan sebagai alat gerakan sosial yang ampuh.
Diskusi seru dibawah mural ibu dan anak perempuannya dengan pesan mendamaikan perbedaan

Dalam kegiatan ini aku bertemu dengan seorang teman. Setelah diskusi selesai kami ngobrol sebentar sebelum kegiatan dilanjutkan, yaitu menonton film dokumenter-drama. Dalam obrolan itu ia menjelaskan mengapa kegiatan dilakukan di Universitas Budi Luhur.
"Lumayan sulit untuk menempatkan mural di ruang publik. Yang menyanggupi teman-teman di Budi Luhur, di tempat kita diskusi itu tadi. Kita butuh untuk promosi #akusiapbersikap. Orang-orang kan motret, posting di sosial media, disebar kemana-mana," katanya. 
Sejujurnya aku agak kaget sih ternyata muralnya hanya sedikit. Aku kira satu dinding besar di tengah-tengah kampus hehehe. Trus aku juga agak kecewa dengan diriku sendiri karena datang kurang awal, alhasil aku nggak bisa berfoto bersama si mural menggemaskan itu. Padahal tujuan utamaku ikut kegiatan ini ya berfoto sama mural keren nan artistik.
Diskusi isu serius diantara warna-warni indah memang menjadi indah

Kekurangan di acara ini sih tiadanya teman untuk cecentilan mengumpulkan bahan promosi untuk blog dan media sosial. Sebab para mahasiswa dan panitia yang coba kuajak berkomunikasi terkesan malu-mlau kucing (miawwww). Karena ya kurang greget aja kegiatan dengan tujuan mulia seperti ini sepi promosi atau sepi posting di media sosial, bahkan nggak jadi trending topic di Twitter. Padahal, kalau panitia bikin lomba media sosial di twitter atau Instagram dalam rangka mempopulerkan kegiatan ini akan lebih seru. Bayangkan aja, jika ada 100 orang yang dengan konsisten bikin 10-25 tweet selama kegiatan berlangsung dijamin jadi trending topic tuh dan bisa menarik perhatian netter lebih banyak.
Suasana diskusi penuh warna si senja yang muram di Universitas Budi Luhur

Setelah Maghrib, acara dilanjutkan dengan menonton film dokumenter-drama karya film maker Bani Nasution. Filmnya singkat saja, tetapi sangat menusuk. Dan para mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi yang hadir banyak berpendapat soal bagaimana sebuah film dibuat untuk memberikan pendidikan kepada publik, bukan untuk mempertajam perbedaan. Suasana diskusi semakin seru manakala pendapat serta kelakar renyah Bani Nasution menjadi warna tersendiri bagaimana salah seorang pemuda di tanah air memandang perbedaan, hoaks dan pelintiran kebencian dalam kehidupan sehari-hari yang ia jalani. Misalnya, soal perang batin seorang anak dalam memutuskan pilihan politik yang berbeda dengan kedua orangtuanya, atau tetangga satu kampung, yang jika tidak dihadapi dengan santun dapat merusak hubungan kekeluargaan. 

Ya, perbedaan dapat mengarahkan pikiran dan hati manusia ke jalan lain yang berbeda dengan pikiran dan hati manusia lain, meski itu keluarga atau kerabat sendiri. Pesan moralnya adalah, bahwa perbedaan apapun yang kita alami dalam hidup, seperti pilihan politik jangan sampai kita jadikan Tuhan sehingga merusak hidup kita sendiri (contohnya sudah banyak, bukan?). Perbedaan adalah rahmat dan berkah kehidupan, itulah harta karun tak terhingga dalam penciptaan manusia di semesta raya ini. 

PELINTIRAN KEBENCIAN, APAAN SIH? 
Kata 'benci' dan 'kebencian' sejatinya sudah bikin telinga kita merah karena risih, sepasang mata kita berkaca-kaca karena sedih dan mungkin hati kita deg-degan karena takut. Lantas bagaimana dengan kebencian yang dipelintir? Duh, patah hati aja bikin hidup terpelintir sedemikain rupa sampai sudah tidur, malas makan dan jerawatan. Gimana dengan kebencian yang dipelintir. Kalau aku sih merasa takut. Kalau pembacaku takut nggak?
 


Belakangan ini kamu pasti sering mendengar kata pelintiran kebencian, tapi apakah kamu mengetahui apa itu sesungguhnya pelintiran kebencian dan bagaimana bentuknya? . Menurut konsep yang dirumuskan oleh Cherian George (2017) pelintiran kebencian adalah 'rekayasa ketersinggungan yang sengaja diciptakan dan digunakan sebagai strategi politik yang mengeksploitasi identitas kelompok untuk memobiliasi pendukung dan menekan lawan'. . Biar kamu lebih memahaminya, mari kita simak kejadian berikut ini: Di India, Love Jihad adalah mitos yang mendefinisikan usaha umat Muslim di India untuk memualafkan umat Kristen dan Hindu melalui cinta dan pernikahan. Mitos ini berhasil disebarkan dan mendorong ketakutan dan kebencian massa terhadap umat Islam yang digunakan tim sukses partai Hindu konservatif India untuk meraup suara. Ini adalah salah satu contoh pelintiran kebencian. . Nah, mungkin tanpa sadar kamu telah menjadi korban atau bahkan menjadi bagian dari pelintiran kebencian dan turut melestarikannya. Apakah kamu mau seperti itu terus? Mari mengambil sikap dalam menghadapi pelintiran kebencian dan hoaks! #AkuSiapBersikap #antihoaks #antikebencian #antipelintirankebencian
A post shared by #AkuSiapBersikap (@akusiapbersikap) on

Nah, hoaks dan pelintiran kebencian tidak boleh beranak pinak. Harus ada kekuatan massa yang menghalau dan mengehntikan virusnya yang mematikan. Karena virus ini menyerang 'mind' dan 'soul' yang benar-benar merusak inti kehidupan spesies bernama manusia. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjadi bagian dari gerakan ini. 

Aku sudah mendukung gerakan #akusiapbersikap, kamu kapan? 
Senang juga bisa menjadi bagian dari gerakan ini, meskipun sumbangsihnya hanya posting foto di media sosialku. Karena bisa jadi, tindakan sederhanaku dapat menginsiprasi sebuah perubahan di lingkungan yang lebih besar dalam rangka mengurangi tindakan-tindakan tidak perlu dalam membuat atau menyebarkan berita hoaks dan pelintiran kebencian. Terlebih, sesi diskusi antara pengunjung dengan film maker Bani Nasution memberi warna tersendiri, tentang bagaimana seharusnya kita mengendalikan pikiran dan jari-jemari kita sendiri ketika berhadapan dengan suatu isu agar tidak bertindak keliru dan menyebabkan hati dipenuhi debu, lantas peluru menderu di langit kita yang biru.
 



A post shared by Wijatnika Ika (@wijatnikaika) on

Sampai disini dulu ya ceritaku untuk hari ini. Mudah-mudahan gerakan semacam ini bisa digaungkan di banyak tempat dan menyasar lebih banyak lagi orang. Terutama di tahun politik yang panas menggelitik ini, kita harus menjadi bagian yang mendinginkan suasana. Yuk ah bicara kebenaran dan be happy together!

Depok, 30 November 2018

6 comments

  1. Di dalam banyak sejarah, seni memang seringkali digunakan sebagai alat untuk melawan. Kalau menurut saya, keberadaan seni dan era IoT ini memang harus dikolaborasikan untuk membuat hal-hal kecil yang mampu mengubah sesuatu yang besar. Harusnya, saya datang ya kak Ika?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahai iya segarusnya kamu ikut pasti jadi seru. Mungkin kapan-kapan mereka adakan acara ini di kampus atau tempat lain...

      Delete
  2. Iyaaa nih,stop hoax harus didukung, sudah nyebarin hoax, kebencian hingga memperkeruh keadaan. Semoga pada sadar diri yaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat sendiri, dan tentunya dengan mendukung gerakan semacam ini

      Delete
  3. Replies
    1. Mari kita lakukan mulai dari diri sendiri dan dari saat ini...

      Delete

follow me on instagram