5 Fakta Mencengangkan tentang Wijatnika Ika

Waktu aku ke Bali. Foto: Puput Dyah

Ahahahai! Tantangan menulis blog di hari ke 6 semakin mencengangkan dan membuatku tertawa-tawa sendiri saat memikirkan ha-hal apa yang harus kubeberkan ke publik tentang diriku. Hm, baiklah akan kuguncang dunia mengenai fakta tentang diriku. Soal siapa diriku, bolehlah di-kepo-in dulu profil aku ya. Klik aja di gambar perempuan manis di bagian kanan blog yang sedang jalan-jalan di suatu tempat dengan langit biru nan indah bagai lukisan.

BACA DULU BPN DAY5: Media Sosial, Dunia Lain Nan Spektakuler yang Membuatku Penasaran

Fakta tentang diriku yang akan kuungkapkan dalam tantangan menulis ini, sudah kupilih yang baik-baik saja agar pembaca terinspirasi. Aku khawatir jika menyajikan fakta agak tidak baik, nanti pembaca meninggalkanku karena muak dengan diriku. Berikut ini adalah 5 fakta tentang Wijatnika Ika alias aku yang kalian cintai dan sayangi ini eaaaa: 

1. NAMA "WIJATNIKA" BERASAL DARI MIMPI 
Jadi, namaku sesuai dengan Akta Kelahiran adalah "Wijatnika" dan kupikir orangtuaku pelit sekali memberiku nama hanya satu suku kata saja. Kenapa nggak ditambah dengan "Putri" atau "Aisyah" atau "Dian" atau "Kikan" atau kata apalah yang menunjukkan nama cantik bayi perempuan. Karena sesungguhnya dengan nama ini aku sering dikira lelaki orang orang yang baru mengenalku, bahkan oleh para driver Gojek.

Jadi, Ayahku mengatakan bahwa namaku berasal dari mimpi yang dialami beliau seminggu menjelang kelahiranku ke dunia ini. Saat itu kedua orangtuaku telah menyiapkan sjeumlah nama cantik dan panjang untukku, yang Jawa banget deh. Eh, ternyata dari alam mimpi sana ada bisikan bahwa si bayi yang akan lahir berjenis kelamin perempuan dan harus diberi nama Wijatnika. Udah gitu aja, nggak pake tambahan "Ika" atau "Aisyah" atau "Dian" dan sebagainya. Nah, arti dari namaku adalah Anak Pertama yang Mulia. Sebuah arti nama yang berat, karena makna kata "Mulia" selalu berkaitan dengan pekerjaan-pekerjaan besar yang memberi manfaat bagi masyarakat dan dunia. 

2. AKU SANGAT SUKA TIDUR
Sleeping is the best medicine for me. Karena dengan tidur aku dapat beristirahat total dari segala aktivitas, termasuk otakku yang suka overthinking. Tidur untuk manusia nocturnal dan punya imsomnia sepertiku merupakan anugerah tak terkatakan indahnya, apalagi kalau bisa mencapai 8 jam sehari. Entah siang atau malam, pokoknya kalau bisa tidur nyenyak aku merasa sangat berbahagia.

3. AKU MENYUKAI MASAKAN RUMAHAN
Lidahku merupakan lidah sederhana yang menyukai masakan sederhana yang dibuat dengan penuh cinta, alias masakan rumahan. Kok bisa? Karena masakan rumahan diolah dengan cinta dan diberikan dengan cuma-cuma. Yang memasak dan memakan merasa ringan hati, senang dan tidak ada transaksi apapun terkait makanan ini. Rasanya jelas berbeda dengan makanan yang kita beli, karena tujuan di penjual adalah menjual dan kita membelinya. Karena itu, aku selalu hormat kepada mereka yang selalu menyempatkan diri mengisi kehangatan keluarga dengan masakan buatan mereka sendiri. Dan aku tuh punya banget mimpi punya suami yang juga pandai memasak dan mertua yang jago masak hehe.
Salad sayuran, herbal, bunga, beet dan tempe goreng yang lezat di Hars Garden, Ubud, Bali

4. MENULIS MEMBUATKU BAHAGIA
Bagiku, menulis serupa meditasi rasa. Menulis membuatku merasa bahagia, bebas, lepas dan berguna sebagai manusia. Menulis juga membuatku paham bagaimana proses belajar harus dilakukan, seperti membaca bacaan bermutu dan inspiratif, hingga megolah bahan tulisan agar nyaman bagi diriku sendiri sebagai penulisnya dan orang lain yang membaca tulisanku. Menulis juga memberiku energi lebih dalam melakukan kebaikan. 
Ketika konsistensi menulis membawaku pada acadmey menulis prestisus tanah air. Aku semakin bahagia.

5. AKU INGIN MENIKAH TAHUN 2019 (TOLONG DIAMINKAN YA)
Dulu waktu masih SMA aku ingin menikah di usia 22, dan menikahnya dengan seseorang yang sedang kutaksir waktu itu, kakak kelasku sendiri hahaha. Pokoknya sebagai gadis desa aku mikirnya sederhana aja, pas menjelang selesai kuliah aku menikah dan punya foto wisuda dengan kekasih dunia akhirat. Tapi pas udah kuliah dan punya banyak sekali kesibukan, aku jadi lupa tuh dengan mimpi menikah muda hahaha.

Semakin bertambah usia aku semakin aware tentang pernikahan dan hal-hal terkait dengannya. Sebab ternyata dunia pernikahan begitu kompleks dan bisa menghancurkan pasangan yang menikah jika tidak dibangun dengan visi-misi yang benar lagi strategis. Ya, pernikahan bukan soal cinta-cintaan, melaikan sebagai bentuk kerjasama sepasang manusia yang diikat oleh hukum agama dan negara. Sederhananya, pernikahan adalah sebuah perjanjian. 

Dulu, sebagai remaja labil yang terpengaruh sekali cerita-cerita tentang dunia percintaan, aku mengidamkan menikah dengan seseorang karena cinta. Ya, murni karena cinta. Sebab cinta merupakan esensi tertinggi kehidupan ini. Tetapi kini, pandanganmu mulai naik level. Bahwa cinta hanyalah satu dari sekian syarat utama dua insan mengikat janji untuk hidup bersama sebagai suami istri, kemudian membentuk keluarga. Ada banyak sekali komponen yang perlu dipikirkan dalam pernikahan, termasuk salah satunya: rasisme. 

Rasisme dalam pernikahan biasanya berawal dari pandangan sempit bahwa sebaiknya perempuan dari suku A menikah dengan lelaki dari suku A karena sifat dan karakternya serupa. Atau dalam budaya tertentu, pernikahan hanya boleh dilakukan dengan orang dari suku yang sama bahkan dari trah keluarga tertentu saja, demi menjaga kesucian darah kaum bangsawan. 

"Jangan nikah sama cowok Padang, mereka pelit meripit kayak jin iprit!" 
"Nikahnya sama orang Jawa aja yang santun, penurut dan lemah lembut."
"Jangan nikah sama orang Sunda, mereka itu pemalas dan suka selingkuh."
"Jangan nikah sama Bule nanti kamu jadi liberal!"

Dan masih banyak lagi labeling lainnya yang seringkali nggak masuk akal soal pernikahan yang katanya berdasarkan cinta yang universal itu. Padahal, semakin jauh nasab kita dengan pasangan, maka akan semakin baik dalam menghasilkan keturunan. Bukan saja secara fisik, melainkan tingkat kecerdasan. Karena kalau kita menikah dengan nasab atau jalur keleluargaan yang berdekatan justru berbahaya. Semakin dekat jalur darah itu maka semakin berbahaya bagi keturunan yang dihasilkan. Menikah dan pernikahan itu ternyata nggak seindah dalam dongeng-dongeng percintaan Walt Disney!

Nah, kini aku memiliki pandangan khusus dan terbuka soal pernikahan. Aku mulai membangun kerangka pikir yang logis dan stratregis jika dalam waktu dekat ini aku menikah, agar dapat dipadukan dengan si Dia yang kelak menjadi pasanganku. Dan diatas segala usaha yang kulakukan untuk menemukan pasanganku, aku menyerahkan kepada Tuhanku urusan ini. Sebab hanya Tuhan yang mampu memberiku petunjuk dalam menemukan belahan jiwaku yang dengannya masa depanku akan semakin cerah. Pembacaku, doakan saja tahun depan aku menikah ulala. 

Ya udah, gitu aja cerita untuk hari ini.

Depok, 25 November 2018
Persembahan spesial untuk dunia blogging hehe. Click here!

2 comments

  1. Wah jadi pingin punya nama Dian ya? Eaa:). Aamiin menikah th 2019 dg cowok yg suka masak dan mertua suka masak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Dian, ya kan nama Dian artinya bagus, asyik kan kan kalau namaku jadi Wijatnika Dian hehehe.

      Delete

follow me on instagram