5 Buku yang Kurekomendasikan Kamu Baca tentang Agama, Cinta, Hingga Penelusuran Jejak Nenek Moyang Manusia ke 1 Juta Tahun Silam

Yuk baca buku bareng aku di perpustakaan keren ini

Yeayyyy! Hari ke 10 tantangan menulis blog dari Komunitas Blogger Perempuan Network akhirnya tiba! Sejujurnya, tantangan menulis ini sangat membantuku untuk konsisten menulis. Bukan hanya soal disiplin menulis, melainkan juga menjaga semangat agar berusaha melakukan upaya terbaik guna menghasilkan tulisan terbaik, yang ramah, renyah, menghibur dan menginspirasi pembaca. Nah, tema di hari ke 10 ini adalah tentang 5 buku/film/musik yang dapat aku rekomendasikan kepada pembaca sekalian. Karena aku lebih banyak bersahabat dengan buku daripada film dan musik, aku pilih buku deh. Mau tahu alasannya, meski membaca buku kan lebih capek daripada nonton film?

BACA DULU BPN DAY9: Tersebutlah 5 Top Blogger Favoritku dan Sebaiknya Kamu Membaca Mereka juga

Aku suka buku. Karena menurutku, buku adalah sahabat dan guru yang tidak pernah memarahiku. Buku memberikan banyak kontribusi pada proses perubahan sudut pandangku tentang diriku, kehidupanku dan banyak hal. Membaca buku seperti sedang mengobrol dengan penulisnya. Bahkan kadang-kadang, saat aku membaca novel yang kusukai, aku merasa sedang berjalan di kota atau desa di mana cerita berlangsung, seakan-akan aku membuntuti setiap kegiatan yang dilakukan para tokoh dalam cerita. Membaca buku sangat seru, bukan? 

1. History of the Arabs
Rasanya tumbuh di keluarga dan lingkungan Muslim pernah membuatku congkak dan merasa paling tahu tentang Islam dan dunia Arab, padahal aku belum pernah ke Arab dan tidak pandai berbahasa Arab. Mungkin sikap pongah itu berasal dari sedikitnya sumber pengetahuan tentang dunia Arab saat Islam diajarkan di madrasah dan sekolah sebagai sebuah agama, norma dan nilai yang harus dipatuhi jika ingin selamat dari neraka. 

Aku lupa kapan tepatnya bersua dengan buku ini kemudian tertarik untuk membacanya. Dan belum selesai sampai sekarang. Bukunya padat berisi dan sangat informatif. Kadangkala harus menghela nafas untuk beristirahat. Otak aku juga capek kalau harus menelan informasi sepadat buku ini dalam waktu singkat. Hanya saja memang sejak halaman pertama aku merasa jatuh hati dengan buku ini, yang konon menjadi rujukan indul paling otektik dalam studi tentang sejarah Islam di dunia. Buku ini banyak digunakan di kampus-kampus besar di dunia, khususnya untuk studi Islam dan Timur Tengah.
Buku keren, tapi belum selesia aku baca karena isinya sangat padat dan informatif.

Aku mendapatkannya di Toko Buku Cak Tarno, sebuah toko buku yang khusus menjual buku-buku bertema Humaniora yang jadi langganan mahasiswa maupun dosen UI. Buku ini adalah salah satu yang direkomendasikan beliau ke para pelanggannya, termasuk aku. Bukunya tebal dan berat, meski tak setebal atau seberat isinya. Aku bersyukur dipertemukan dengan buku ini, karena cukup mampu membuka cakrawala berpikirku sebagai seorang Muslim dan manusia Indonesia dalam memandang Islam dan Timur Tengah sebagai tempat diturunkannya para Nabi dan Rasul.
 
2. The Museum of Innocence
Orhan Pamuk adalah penulisnya. Lelaki Turki yang selamanya terikat pada kota yang dicintainya sejak kecil, yaitu Istanbul. Aku telah membaca beberapa novel karya lelaki yang menurutku overthinking dan introvert ini, seperti Snow, My Name is Red, Istanbul Memoir of a City, The Museum of Innocence dan The Red Haired Woman. Namun, dari novel-novelnya yang kelas dunia tersebut, yang selama ini memberi kesan mendalam padaku adalah yang berjudul The Museum of Innocence, sebuah novel cinta yang tidak biasa, intim, detail, emosional, membuat gregetan dan tentu saja menyenangkan. Sebagaimana hidup, cinta terkadang tidak adil. Entah hidup atau cinta yang tidak adil, tetapi kisah-kisah cinta tak sampai namun "terkesan" membuat tokohnya bahagia kerap menjadi legenda dunia. 
Satu-satunya buku yang pernah kubaca sebanyak 6 kali
 
Aku membeli novel ini dari sebuah lapak buku online di Facebook. Aku mendapatkan edisi bahasa Inggris dengan sampul keras, cetakan tahun 2009 oleh penerbit Alfred A. Knof, New York. Sepertinya buku ini milik seseorang yang kemudian di jual ke lapak buku. Aku bersyukur mendapatkan buku ini, karena kualitas kertasnya bagus jika dibandingkan dnegan buku-buku Orhan Pamuk yang lain, edisi terjemahan Indonesia yang biasanya kertasnya mudah rusak. 

BACA JUGA: The Museum of Innocence and Fusun Love Story

Sejak pertama kali membaca novel Orhan Pamuk, yaitu Snow, aku jatuh hati pada cara bertutur lelaki ini. Ide ceritanya sangat menarik, selalu berkaitan dengan masyarakat Turki dalam pertentangan nilai Timur dan Barat, Islam dan non-Islam, Asia dan Eropa dengan detail, mencengangkan, emosional bahkan membuat bulu kuduk merinding. Lelaki yang juga merupakan aktivis kemanusiaan ternama di negeri pemilik Masjid Biru itu menghadirkan The Museum of Innocence untuk memberika pilihan bacaan kepada masyarakat tentang bagaimana cinta berlaku dalam kehidupan, yang bertolak belakang dengan pesan-pesan tunggal cinta dalam cerita-cerita Wal Disney. Oh ya, silakan nikmati review aku untuk novel ini dengan klik link diatas ya. 

Aku telah 6 kali membaca novel ini, dari halaman pertama sampai halaman akhir. Meski aku tahu plot dalam ceritanya, aku selalu saja penasaran sejak lembar pertama. Semakin aku membaca ulang, semakin aku mengerti bahwa kisah dalam novel ini dangat intim, dalam, muram, dan menyajikan informasi menarik tentang berbagai museum di dunia, yang dalam ceritanya dikunjungi si tokoh utama selama 15 tahun lamanya sampai membuat perusahannya gulung tikar. Bagiku, ini novel terbaik yang pernah kubaca hingga saat ini, dan sangat kurekomendasikan untuk dibaca juga oleh para pembacaku yang baik hati.

3. Self Driving
Akan menjadi apa dan siapa kita di dunia ini? Selembar daun jatuh yang mengikuti kemana arus sungai membawa atau serupa ikan salmon yang menantang arus untuk menjalani kehidupan yang lebih baik di sebuah musim tertentu, untuk memenangkan pertarungan atas ganasnya alam? Manusia, merupakan ciptaan Tuhan yang pernah disangkal penciptaanNya oleh para malaikat, karena mungkin mereka tidak tahu bahwa spesies ini mampu melakukan hal-hal tak terbayangkan oleh seluruh makhluk hidup ciptaan Tuhan. 
Buku yang cerdas dan menggerakkan

Buku ini menjelaskan dengan renyah dan ringan bagaimana sebaiknya manusia memimpin dirinya sendiri dalam pertaruangan hidup yang ganas ini, dimulai dengan mengendarai kapal kehidupannya sendiri sebagai sang nahkoda. Telah banyak di dunia ini manusia-manusia yang menjadi "driver" dan mengendalikan percaturan dunia di tangannya, melalui kata-kata, karya, kepemimpinan dan kebijakan mereka. Kini, selagi masih ada waktu sebaiknya kita mulai menentukan langkah untuk menjadi pengubah dunia atau sekadar penikmat segala perubahan spektakuler yang terjadi dalam kehidupan.

4. Pendidikan Kaum Tertindas
Hm, siapakah yang disebut kaum tertindas itu? Menurut paulo Freire, selama ini kaum tertindas tertindas tenggelam dalam mitos yang dibangun kaum penindas. Karenanya, pendidikan seharusnya dimaksudkan sebagai pembebasan kesadaran, di mana si manusia dipancing untuk berdialog, membiarkan mereka mengucapkan sendiri perkataannya-idenya-pendapatnya, mendorong mereka untuk menamai, bahkan mengubah dunia. Pembebasan adalah tugas kemanusiaan, di mana mereka yang selama ini dibiarkan mengemis harus diberi kesempatan untuk bangkit dan mengubah dunia. Tangan-tangan kita atau mereka yang selama ini tunduk untuk mengertajakan apa yang penindas perintahkan, menjadi tangan-tangan yang menciptakan sendiri sebuah perubahan besar bagi dunia dan kemanusiaan.
Buku bagus untuk mereka yang ingin tahu alasan mengapa kita harus terdidik agar tidak ditindas

Buku ini menjadi penting bagi siapapun yang ingin mengetahui ini dari pendidikan. Di mana pendidikan sendiri bukan merupakan sekolah atau institusi yang terkait dengan sekolah, melainkan ruang-ruang di mana kita bebas menentukan kita ingin mendengar apa, mengucapkan apa, melakukan apa, dan melakukan perubahan yang bagaimana bagi diri kita sendiri, komunitas tempat kita tinggal hingga dunia.
  
5. The Leadership Secrets of Genghis Khan
Saat lahir ia diberi nama Temujin. Anak lelaki dari sebuah suku terhormat di padang rumput Mongolia. Ia lahir dari keluarga pemimpin dan sejak kecil diproyeksikan sebagai calon pemimpin sukunya, bahkan sejak kecil ia telah dipersilakan memilih sendiri calon istrinya di masa depan, seorang gadis yang harus kuat, cantik, dan mampu mendukung kepemimpinannya di masa depan. Namun sayangnya, Ayahnya mati diracun musuh saat ia masih kecil. Kehilangan pegangan membuat hal milik keluarganya dirampas anggota suku lain. Bahkan, dia dikejar-kejar karena hendak dibunuh. Selama beberapa tahun Temujin kecil bersembunyi di gunung dan merengi diri tentang apa yang harus dia lakukan untuk membalaskan dendam keluarganya, menolong ibunya dan tumbuh sebagai pemimpin masyarakat padang rumput sebagaimana telah diproyeksikan. 

Singkat cerita, dari berbagai rintangan yang ia hadapi, ia berhasil mendapatkan kekuata berkat cara cerdasnya memikat hati orang, termasuk dengan seorang sahabat-darah yang sangat kaya, berpengaruh dan kuat. Maka ketika kepemimpinannya diakui masyarakat padang rumput, ia mendapat gelar "Genghis Khan," dan mimpinya untuk mempersatukan masyarakat padang rumput Mongolia dalam satu hukum kemudian membawanya pada penalukan demi penaklukan lain hingga menyasar Eropa Barat.
Buku yang bagus bagi calon pemimpin

Lelaki yang dipuja di Mongolia ini dikenal sebagai penakluk haus darah oleh negara-negara taklukkannya. Namun, memang siapa di masa itu yang tidak menggunakan pedang untuk saling menaklukkan? membunuh? merampas? menghancurkan negeri-negeri? Bedanya, Genghis Khan tidak mengangkat pedang atas nama agama, tetapi atas dasar ingin mempersatukan manusia dibawah hukum yang telah dibuatnya dalam mempersatukan bangsa-bangsa di Asia kala itu

Oleh karena itu, para sejarahwan tidak berfokus pada banjir darah yang ia tinggalkan di negeri-negeri taklukannya. Melainkan efektifitasnya dalam memimpin. Sebab dia seorang buta huruf dan tidak pernha sekolah, karena sebagian besar hidupnya dihabiskan di gunung untuk bersembunyi dari musuh-musuh yang menginginkan kematiannya. Daya tahan dan daya lenting itulah, kemudian keberhasilanya yang gemilang ditelusuri oleh para pakar dunia untuk merumuskan seperti apa sebenarnya bentuk kepemimpinan lelaki ini.
 
BONUS: 
Saat ini aku baru mulai membaca buku fenomenal dan menggelitik karya Yuval Noah Harari, yaitu Sapiens dan Homo Deus. Dua judul, dua buku, dan dua intisari yang sama-sama menantang manusia yang hidup abad ini, alias kita si generasi "Internet of Things" untuk berpikir tentang hal-hal yang terjadi di bumi hingga ke 1 juta tahun silam. Sekilas, di awal-awal, kita seakan digiring kedalam pemahaman untuk membenarkan Teori Darwin yang mengatakan bahwa nenek moyang manusia modern adalah sejenis kera. Namun, lembar demi lembar selalnjutnya memberikan kita sebuah tiket untuk bertualang ke alam masa lalu, hingga ke 10.000 atau 70.000 atau 500.000 atau 1 juta tahun silam? 
Lagi baca buku Sapiens dulu, akan dilanjutkan dengan Homo Deus

Sebuah pertanyaan: apakah kondisi fisik manusia zaman sekarang benar-benar sama dengan manusia zaman dahulu di 1 juta tahun silam itu? Ataukah terjadi sesuatu dengan tubuh spesies bernama manusia? Cara kita melihat tentu saja dengan mempelajari ras manusia. Coba saja mengapa sebagian orang sangta tinggi, bekrulit gelap dan kasar; sementara sebagian lainnya sangat mungil, bermata sipit, pemakan ikan dan sangat santun. Dan perbedaan lainnya, hingga masuk ke panjang usus, perubahan gigi, bentuk hidung, warna rambut dan sebagainya. Itulah yang membuat ilmuwan dunia, khususnya para peneliti biologi tak pernah berhenti mencari tahu bagaimana sesungguhnya rupa nenek moyang manusia si penguasa peradaban di bumi pada jutaan tahun silam yang sangat jaug itu?

Pusing? Ya udah, anggap saja sedang melakukan petualangan ke kotak pandora.

Depok, 29 November 2018
Persembahan spesial untuk dunia blogging. Klik disini ya

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram