Sensibility Line Sebagai Pertarungan Liar Imajinasi Made Wiradana

Aku dan para pengunjung pameran lukisan "Sensiblity Line" oleh Made Wiradana. Foto: Puput Dyah

"The purpose of art is washing the dust 
of daily life off our souls."

-Pablo Picasso- 
Bali sangat panas bagai panggangan daging di musim pesta. Aku merasa terbakar, seperti sekerat daging domba berlemak sebelum disajikan ke piring. Panas gila! tapi mau bagaimana lagi, Gianyar tempatku tinggal sementara saat berkunjung ke Bali memang sangat dekat dengan wilayah pantai, dan udara dengan kelembapan tinggi memang bagai panganggan daging tadi. Alhasil, baru beberapa hari di Bali aku sudah kena demam tinggi. Panas Mak! Anakmu demam tinggi Mak!

Karena demam membuatku merasa mati gaya, aku memutuskan untuk libur belajar di kebun organik yang menjadi tujuan kedatanganku ke Bali. Yeahh, alasannya jelas aku tidak ingin memanggang tubuhku yang panas di kebun sayuran pas siang bolong pula. Bisa rubuh menjadi arang gosong aku Mak! Ya udah, akhirnya istirahat saja di rumah Kak Puput sembari mencicil sejumlah deadline tulisan untuk blog ini hehe. 

Tapi eh, Kak Puput memberi informasi bahwa ada pembukaan pameran lukisan di Sanur. Ajaibnya, aku merasa langsung sehat! Selepas Maghrib, kami berdua pun meluncur ke Sanur, membonceng motor bernama MIO, membelah arus jalanan yang seperti arena balap F1. Dan sampailah kami di sebuah hotel, di mana didalam area hotel itu ada sebuah galeri seni, namanya Santrian Gallery. Setelah merapikan diri, menyemprotkan sedikit parfum, masuklah kami ke dalam kerumunan pengunjung yang tengah mendengarkan sambutan dari seorang lelaki berpakaian adat khas Bali. 
We are here!

Ini pameran isinya sepertinya seniman kelas kakap, fotografer dan jurnalis. Mata, pikiran dan tubuhku otomatis dalam mode skrining orang-orang di sekitarku.
Da aku mah apa tuh, hanya rakyat jelata yang ketiban rezeki sampai di kegiatan kece seperti ini.
Motoran dari Gianyar ke Sanur demi acara ini nih hehe

Ya udah deh aku dan Kak Puput masuk ke dalam, memperhatikan lukisan yang seluruhnya tentang interaksi hewan-hewan dan manusia; berfoto dan sedikit melakukan perenungan tentang makna yang tersirat dibalik setiap lukisan. Yah, sebagian aku mengerti maknanya, dan sebagian lagi enggak. Tetapi, setiap orang memiliki kebebasan sih untuk menafsirkan karya seni meski melenceng jauh dari makna aslinya alias makna milik si pembuat karya seni. Toh, setiap orang memiliki latar belakang hidup dan pandangan yang berbeda-beda. Sebagaimana terhadap agama, tidak ada paksaan dalam menerima dan memaknai karya seni. Jadi, aku bersenang-senang sesuka hati, membiarkan imajinasiku bertualang di lautan imajinasi sang seniman, dan membangun taman tafsirku sendiri berdasarkan pengalaman hidup dan mimpi-mimpiku sendiri.

Oh ya, kabarnya Pak Made Wiradana ini menyiapkan diri selama setahun untuk mengadakan pameran tunggal ini. Karya-karyanya kali ini terinspirasi dari lukisan primitif di gua-gua yang sering kita baca dari dokumen sejarah, lukisan minimalis, tumpang tindih dan sarat informasi tentang interaksi hewan-hewan dan manusia. Bahkan, agak sulit menafsirkan hewan apa sih yang sedang ditampilkan dalam setiap lukisan. Misalnya ada hewan bertubuh sapi tapi berkepala babi hutan, dan lainnya. Dan rata-rata hewan yang ditampilkan disini adalah hewan berkaki empat, beberapa jenis burung dan ikan.
Lukisan ini berjudul "Ancient Shark" dan lukisan paling favoritku. Foto: Puput Dyah

Lukisan berjudul Ancient Shark adalah favoritku! Dia umpama si lubang hitam yang siap 'menguyah' apa saja masuk kedalam dirinya, untuk melipatgandakan energinya, menjadi yang terbesar dan terkuat diantara segala yang tercipta. Kali lain, saat aku kembali memandangi lukisan ini kok jadi ingat kisah perahu Nabi Nuh yang konon dibuat diatas gunung untuk menyambut banjir bandang yang akan melumat kehidupan di wilayah lembah, yang disebut-sebut sebagai rumah penyelamat bagi kehidupan kedua yang kita jalani sekarang ini. Yah, apapun tafsirannya atas lukisan ini, si hewan besar ini benar-benar menarik perhatianku.

"Eh, bisa nggak ya kita foto barang Pak Made?" tanyaku pada Kak Puput. Ingin dong punya kenangan berfoto dengan seniman terkenal, siapa tahu memicu nasib baik untuk masa depanku di bidang seni lukis.
"Hmmm," Kak Puput sepertinya ragu. Maklum banyak yang berfoto dengan beliau itu seniman terkenal, jurnalis atau ya teman-teman sang seniman sendiri. 
"Ya udah lah kalau nggak bisa, kita keliling aja yuk," kataku pada akhirnya, kecut. 
"Cari minuman, yuk!" ajak Kak Puput, menuju sebuah pintu, yang ternyata membawa kami pada bagian luar galeri yang menampilkan lukisan lain bertema burung Garuda. 

Nah, karena ada dua lukisan sama besar dengan warna merah meyala, aku sontak aja nyeletuk begini: 
"Ini Garuda jantan dan itu Garuda betina, ya?" karena di lukisan kedua si Burung Garuda seperti sedang mengandung janin Garuda hahaha. Demikianlah kepolosanku dalam memaknai lukisan tersebut. Terutama karena sepasang mata si Burung Garuda yang mengandung janin Garuda itu merah menyala. Hm, apakah ini bermanka sang garuda sedang dalam bahaya sebagaimana halnya kehidupan bangsa kita yang selalu diancam bahaya dari segala penduru baik soal alam dan kemanusiaan? Entahlah.
"Hmmm," Kak Puput cuma senyum-senyum kecil aja. Lalu kami subuk memotret. 
Aku dan lukisan bertema Burung Garuda. Foto: Puput Dyah

Setelah puas dengan lukisan Burung Garuda yang merah menyala, kami melanjutkan petualangan di bagian lain, tujuannya ya cari minum. Eh ternyata, ada banyak lukisan juga. Bahkan ada sebuah lukisan  yang diincar seorang pengunjung. Lalu Pak Made menempelkan kertas berwarna oranye untuk menandai bahwa lukisan itu telah memiliki pembeli. Kemudian Pak Made dan sang pembeli berfoto bersama. Aku dan Kak Puput menyaksikan momen itu dengan bahagia. Bayangkan saja, baru hari pertama pameran alias pembukaan, sejumlah lukisan sudah laris di tangan pembeli. 

Oh ya, memang di sejumlah lukisan ada burung Garuda. Ternyata, sang seniman terinspirasi dari lagu "Garuda di Dadaku" yang dipulerkan oleh grup band Netral, yang sangat familiar di telinga orang Indonesia. Mungkin sebagai pertanda juga bahwa beberapa tahun belakangan ini, bangsa Indonesia sedang dirundung aneka masalah mulai dari bencana alam, kisruh politik, masalah kemiskinan dan kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan dan segudang masalah kebangsaan lainnya yang seakan-akan merobek-robek Garuda sebagai lambang negara.

"Lukisan bukannya haram ya dipajang di rumah, apalagi ada babinya? Tuh lihat babi semua itu dalam lukisannya," sebuah suara mengejutkanku. Telah berdiri seorang lelaki berperawakan gemuk, berkulit putih, bermata sipit khas orang Tionghoa, dengan rambutnya yang sedikit lagi menuju kebotakan maksimal, mengenakan batik lengan pendek bermotif bunga dengan warna merah menyala. 
"Hah? Saya nggak bilang begitu," kataku spontan. 
"Iya, kan nggak boleh pajang lukisan. Haram katanya," lanjutnya dengan senyum tipis, sepasang matanya nyaris tenggelam dilumat pipinya sendiri. 
"Ih kan saya nggak bilang begitu," kataku. 
Aku agak syok sih ada orang nggak dikenal nyamperin, trus tiba-tiba bicara demikian. 

Eh, kemudian beliau menunjukkan beberapa fotoku di layar kameranya. Aku dan Kak Puput sontak tertawa geli. Oh, ternyata beliau ini seorang fotografer. Terlihat dari gayanya yang santai, tapi ternyata tangannya bergerak lincah mengoperasikan kamera. Hasilnya benar-benar keren! 

Usut-punya usut mungkin beliau mau menjahiliku karena setelah lama baru kusadari bahwa aku adalah satu-satunya pengunjung pameran yang berjilbab!
Terpesona menyaksikan foto kami di kamera Pak Tjandra. Foto: Puput Dyah

Saat kami kembali masuk ke ruang pameran, aku, Kak Puput dan seorang pengunjung pameran lain mendekat ke arah Pak Tjandra. Aku sempat melihat cara Pak Tjandra dalam memotret si pengunjung yang kumaksud. Akhirnya kami mengobrol dan sesekali cekikikan memperhatikan foto candid sejumlah pengunjung yang berhasil diabadikan Pak Tjandra. Lalu beliau memberi kami kartu namanya. Beliau mengaku memotret sejak masih berusia muda dan memiliki banyak pengalaman memotret mendiang Presiden Soekarno!  Wah, aku langsung terbengong-bengong dong!
Kisah yang kompleks dalam 3 kanvas besar. Foto: Puput Dyah
Dari 10 lukisan, 4 diantaranya sudah terjual

Jadi, apa sih makna tunggal karya dalam pameran ini sehingga disebut sebagai Sensibility Line? 

Jadi, dalam proses melukis seluruh karya yang dipamerkan dalam pameran tunggal ini, Pak Made Wiradana benar-benar membebaskan imajinasinya menjadi liar, membuat garis-garis menuntunnya untuk menciptakan aneka bentuk hewan dan manusia yang berinteraksi dalam lingkungan. Ia sedang menciptakan karya dengan pondasi kejujuran dan kebebasan. Bagi sang seniman sendiri garis merupakan napas pertama dan utama dalam karyanya. Ia mempertahankan dan mengembangkan teknik melukis dengan imajinasi bebas yang pada awalnya terinspirasi dari lukisan di situs bersejarah Gola Leang-Leang, Maros, Sulawesi Selatan.  

Nah, Pak Made Wiradana ini memang dikenal sebagai seniman dengan karya yang khas. Beliau ini lulusan Institut Seni Indonesia(ISI), Yogyakarta. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Sanggar Dewata Indonesia dan alumnus Institut Seni Indonesia. Sebagai seniman berprestasi, beliau pernah mendapat sejumlah pengharhaan nasional dan internasional, seperti penghargaan karya lukis terbaik FSR ISI Yogyakarta, Sketsa Terbaik FSR ISI Yogyakarta, finalis Philip Morris 1998 dan 2000, serta Ambassador Award of Indonesia-Belgium, 2006. Yang teranyar, beliau menyabet medali emas dalam Asian Art Biennial Hong Kong, 2018. Wah, Indonesia bangga ya memiliki seniman berprestasi seperti beliau.
Made Wiradana (tengah) dipotret bersama dua orang pengunung dan seorang gadis kecil.


Berikut ini adalah video yang dibuat dengan sangat sederhana 
untuk mengenang kegiatan manis ini. Semoga pembaca suka...

 

Jadi, demikianlah ceritaku tentang kunjunganku ke pembukaan pameran lukisan karya Made Wiradan di Bali, pada 7 September silam. Mudah-mudahan kelak ada kesempatan lagi mengunjungi dan menikmati pameran karya seni lainnya. Sebab aku menyukai seni sebagai meditas rasa selain menulis. 

Depok, 3 Oktober 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram