Lost in Bali for Happy Me

Ke pantai, mencari pangeran berkuda putih. Foto: Puput Dyah

“To awaken alone in a strange town is one of 
the pleasantest sensations in the world.” 

-Freya Stark-

Hm, terakhir ke Bali tahun 2015 untuk urusan pekerjaan. Itu pun ke Bali bareng rekan-rekan kerja dan nggak bisa main saking sibuknya dengan pekerjaan. Rasanya percuma berkunjung ke Bali, eh cuma tinggal di hotel karena terpenjara pekerjaan. Ke Bali kali ini sebenarnya juga agak kurang pas waktunya, soalnya Bali wilayah pesisir yang panas plus musim kemarau adalah perpaduan yang really-really-really HOT tak tertahankan! Tapi ya mau gimana lagi, namanya juga ke Bali atas undangan orang penting. Jadi, terbanglah aku ke pulau Dewata yang indah tiada tara itu.

Hari pertama di Bali. Foto: Puput Dyah
Rencananya aku di Bali hanya 5 hari, tapi eh jadi 12 hari. Alhasil jadi rajin nyuci agar stok pakaian bersih selalu tersedia. Hm, lagi berhemat juga jadi sangat berusaha untuk tidak belanja pakaian dan itu sulit, karena kawasan Ubud merupakan etalase seni termasuk tekstil. Ugh! Dan, akibat lanjutannya adalah mau tak mau harus mengalami salah kostum ke kegiatan tertentu karena kekurangan pakaian. 

Jadi, tujuanku sebenarnya ke Bali adalah belajar pertanian organik di Har's Garden, sebuah kebun organik plus rumah pohon romantis milik petani nyentrik bernama Hartono Lokodjoyo. Karena biasanya pagi hari Mas Har ini melayani tamu-tamu yang menginap, jadinya aku belajar di kebun siang sampai sore hari. Hm, boleh kok membayangkan bagaimana kulitku menjadi gosong bak batu kali!

Happy me! Foto: Puput Dyah
 
Nah, jadinya pagi sampai siang atau malam sepulang dari kebun, aku dan Kak Puput melakukan semacam eksplorasi sekitar Gianyar, Ubud, dan Sanur. Kami berdua motoran gitu, merasa seperti turis lokal yang merdeka melancong ke seantero Bali. Kami main ke pantai, museum, pembukaan pameran lukisan, mencari warteg murah dan enak, ke pura, mengagumi mata air yang bisa langsung diminum, menerka pohon beringin jantan dan betina, curhat soal percintaan, masak memasak, jatuh tertimpa motor yang kami kendarai,  hingga kehujanan dalam perjalanan pulang. Pada satu malam kami kehujanan sehingga basah kuyup, sementara pada malam yang lainnya nyaris mengalami nasib naas. Saat itu, sebuah truk didepan kami menyenggol dahan pohon yang telah lapuk. Lantas si dahan jatuh. Jarak motor kami ke dahan yang jatuh begitu dekat sampai Kak Puput bingung. Saat perempuan penyabar itu berusaha mengerem laju motornya, eh kendaraan kami malah terjungkal. Gubrak! Prakk!

"Oh My God! Kakiku ketimpa motor!" Begitu teriakku, merasa geli dengan diri sendiri, sembari memegangi kaki kananku yang tertimpa badan motor, dan kupikir baik-baik saja alias tidak patah atau remuk redam bagai ayam geprek. Orang-orang yang hendak menolong kami pun tertawa mendengar teriakan seorang korban kecelakaan motor ringan yang tidak biasa. Sampai di rumah Kak Puput tertawa terbahak-bahak sembari meledekku Oh My God! Kakiku ketimpa motor! Yah, ini kecelakaan yang lucu dan unik hahaha.

Satu: Makan Sehat di Har's Garden
Oho! Jelas ini petualangan pertama dan utama. Bayangkan saja ada sekitar 50an jenis sayuran, buah, herbal dan umbi di kebun organik yang luasnya kurang dari 1 ha ini. Wajar dong ketika pertama kali tiba di lokasi aku langsung memetiki buat tomat dan memakannya tanpa rasa bersalah. Pokoknya, selama 10 hari aku belajar di kebun, mungkin sudah sekitar 1.5 kg tomat ranum tandas masuk perutku hehe. This garden is a kind of food paradise!
Salad dengan kurang lebih 15 macam sayuran, herbal, bunga dan umbi buatan Mas Har, pemilik Hars Garden yang biasanya disajikan sebagai menu sarapan pagi bagi tamu yang menginap di rumah pohon. Saladnya unik dan enak, karena ternyata mengandung beberapa wild vegetables yang selama ini kita anggap sebagai rumput alias gulma.

Sehari-hari, aku juga belajar masak pada Mas Har. Misalnya bagaimana sih teknik merebus daging ayam agar bisa awet dalam freezer selama seminggu. Atau bagaimana sih membuat ayam goreng corriander yang pada awalnya bau tanaman herbal itu kuserupakan dengan si walang sangit! Atau bagaimana sih cara membuat bubur kacang hijau dengan aneka rempah. Atau bagaimana sih cara menumis sayuran yang enak dan sehat, juga cara membuat sambal kacang yang cocok untuk sayuran yang direbus dan sayuran mentah. 

Cerita tentang Har's Garden klik disini yaBertani Organik Mudah dan Murah ala Har's Garden

Bersama Garuda. Foto: Puput Dyah
Untung saja aku hanya 10 hari belajar di Har's Garden. Coba kalau sebulan, bisa gundul itu kebun aku petikin semua untuk kujadikan bahan pelajaran memasak hahahaha. Lagipula, aku kan si manusia penyuka sayuran.

Dua: Ke Sanur, Ke Pameran Lukisan
Hari itu 7 September yang panas menggila dan aku demam tinggi, sampai-sampai batal belajar di kebun. Tapi eh, karena merasa baikan, setelah Maghrib aku dan Kak Puput melaju ke Sanur demi menghadiri pembukaan pameran lukisan. 

Ceritanya klik disini ya: Sensibility Line, Sebagai Pertarungan Liar Imajinasi Made Wiradana

Setelah merasa bahagia membersihkan debu-debu kehidupan yang melubangi hati dengan menikmati karya seni, kami berdua mencari makan malam. Kak Puput yang memang juga seorang Tourist Guide membawa kami ke sebuah warung kecil, yang katanya enak dan disukai wisatawan. Namanya "WARUNG KECIL" dan memang warungnya kecil yang terletak di Jl. Duyung No 1, Sanur. "Kalau pagi orang ngantri beli sarapan," kata Kak Puput mengawali cerita kepopuleran warung kecil yang ternyata menyediakan banyak sekali jenis makanan. Ajib sekali tenaganya, ya khan?

Udah malam sih dan warungnya hampir tutup. Tapi mungkin karena melihat wajah kami berdua memelas kelaparan, si empunya warung membuatkan pesanan kami, yaitu: Nasi Goreng Ayam dan Tuna Sandwich. Nyam-nyam-nyam kami berdua sepakat bahwa nasi gorengnya lezat, yang ternyata dimasak menggunakan minyak wijen. Nih warung sangat direkomendasikan untuk wisatawan!
Tuna Sandwich ala Warung Kecil Bali yang kumakan bareng Kak Puput. Foto: @warungkecilbali

Tiga: Masuk ke Rumah Hantu Bertopeng
Ekplorasi selanjutnya kami lakukan dengan mengunjungi museum topeng bernama Setia Darma House of Mask and Puppets. Museum ini dibangun oleh Hadi Sunyoto, seorang pebisnis sekaligus pelestari budaya yang mengumpulkan aneka topeng dan patung dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan, bangunan tempat menyimpan koleksinya saja berbentuk rumah Jawa seperti Joglo, dan bangunan lain berbentuk rumah-rumah di Jawa.

Kompleks museum ini luas banget lho. Pas masuk, kita akan disambut oleh bangunan besar tempat latihan menari, trus ada cafe yang makanan dan minumannya enak. Ada juga teater terbuka tempat melakukan kegiatan seni, toko cinderamata dan tentu saja beberapa unit bangunan rumah bagi si topeng dan patung. Lokasinya juga hijau dan rimbun oleh pepohonan dan senantiasa dijaga kebersihannya oleh pekerja di sana. Nyaman banget!
Reog Ponorogo. Foto: Puput Dyah

Karena antusias, masuklah aku ke setiap bangunan. Aku memperhatikan setiap jenis karya seni didalamnya, memotret dan membaca keterangan yang ditempel diatas selembar kertas. Awal-awal sih enggak seram-seram amat karena aku masuk berbarengan dengan beberapa wisatawan dari Meksiko dan seorang pemandu wisata.  Meskipun di sudut-sudut tertentu di bangunan itu kurasakan energi negatif yang ditolak tubuhku, apalagi aku masuk sendirian karena Kak Puput memilih menungguku di luar bangunan.Aku takuuuuuut!

Cekrak-cekrek happy rasanya dapat menyaksikan kekayaan budaya nusantara. Sampai akhirnya, Kak Puput memperlihatkan beberapa foto yang menunjukkan kalau ada sejumlah makhluk ghaib yang katanya hendak berkomunikasi denganku. 

"Kamu itu ceria, jadi mereka suka sama kamu," ujar Kak Puput yang nyaris enggak pernah masuk ke dalam bangunan, karena di tahu didalamnya banyak mahkluk ghaib. Bahkan mereka menempati setiap benda baik topeng, patung maupun wayang. Katanya, sejumlah makhluk ghaib itu berkerumun disekitarku, mencoba berkomunikasi denganku, karena aku dalam keadaan bahagia, ceria dan penuh energi baik.

"Anjrit! Jadi deg-degan nih aku!" kataku sembari memperhatikan  beberapa foto berlatar belakang topeng dengan ekspresi berbeda saat aku masuk, saat aku mengelus-ngelusnya, dengan ketika aku berposes gembira seolah-olah hendak membuka pintu. Gara-gara penampakan yang membuat bulu kudukku merinding dan tubuhku berkeringat dingin, aku ogah memasuki bangunan terakhir yang menyimpan koleksi patung jenis lain. Aku sudah nggak sanggup, khawatir pingsan di dalam museum trus tuh para mahkhluk ghaib benar-benar menampakkan dirinya untuk kukenali. Nanti aku bisa trauma!

Empat: Batal ke Istana Tampaksiring, Main ke Tirta Umpul deh
Oh ya, aku penasaran sekali dengan Istana Kepresidenan di Tampak Siring. Karenanya, pagi sekali kami berangkat berharap tidak kehilangan kesempatan menginjakkan kaki ke salah satu Istana Kepresidenan yang ada di Republik ini. Tapiiiiiii, karena kami belum mendaftar enggak jadi masuk deh, kata para penjanganya harus daftar dulu via website secara online seminggu sebelum kunjungan. Hm, kecewa berat nih kan udah motoran jauh!
Menari di bawah rindang pohon beringin jantan. Foto: Puput Dyah

Ya udah, akhirnya kami memutuskan masuk ke Cagar Budaya Tirta Umpul. Itu lho, kompleks cagar budaya yang letaknya pas banget di bawah istana Tampak Siring, yang terkenal dengan kolam pemandian air suci. Sering banget orang posting foto lagi mandi di Tirta Umpul. Tapi kalau lagi haid nggak boleh, ntar airnya bau amis darah. Ugh! 

Aku dan Kak Puput hanya melihat-lihat dan menikmati suasana sekitar. Terlebih ada sebuah pohon beringin yang rindang, menghalangi cahaya matahari mengenai kami para pengunjung. Lokasi tempat pengunjung bercengkerama dan mengenakan kain khsusus sangat sejuk dan nyaman. Oh ya, ternyata banyak sekali Umat Hindu yang berkunjung ke Tirta Umpul, menyempatkan diri berdoa di tempat ibadah di bagian bawah pohon beringin, yang terlarang bagi siapapun masuk ke dalamnya kecuali untuk beribadah. Dan diantara para pengunjung yang begitu ramai, beberapa orang perempuan menyunggi satu baskom besar pisang Bali dan menawarkannya kepada pengunjung.
Sesisir pisang terjual, semua senang. Horeeee!!!

"35.000 saja, Mbak," kata salah seorang penjual yang menawariku membeli dagangannya dengan memancingku mencicipi satu buah pisang. Tapi, eh buset tiga puluh lima ribu satu sisir? Ya mahal banget atuh! Lagipula aku dan Kak Puput bisa makan pisang di dapur Har's Garden. Akhirnya, setelah agak kecewa dengan penolakanku, si ibu berhasil merayu wisatawan asal India untuk membeli dagangannya. Aku hanya tersenyum saja melihat kebahagiaan antara penjual dan pembeli sesisir pisang Bali yang mungil tapi manis. Happiness is sweet like a banana.

Lima: Menikmati Keindahan Ubud Terrace
Hari kesepuluh, pembelajaranku di Har's Garden selesai karena sang empunya dan istrinya mau berangkat jalan-jalan Tur Asia untuk merayakan hari ulang tahun Mas Har. Keren kan kalau petani sukses mah, merayakan ulang tahun aja keliling Asia nyaris 1 bulan lamanya! Karena itu pula, aku harus berpisah dengan Kak Puput yang akhirnya harus tinggal di Har's Garden, menjadi penanggung jawab sementara bisnis kece tersebut. Aku, pindah basecamp baru ke Ubud Terrace, sebuah bungalow di tengah kota Ubud. Ini sih atas permintaan Mbak Annie Nugraha, sang pengusaha perhiasan dan blogger yang aku sangat tahu beliau takut tinggal sendirian di bungalow itu. Ternyata Mbak Annie, takut kesepian dan makhluk ghaib!
Ubud Terrace yang indah, asri, bersih dan nyaman. Foto: Annie Nugraha

Kami menginap di bungalow cantik ini selama dua malam, sebelum pindah ke Sanur. Di dua malam itu kami menginap di dua kamar berbeda. "Ih, nggak ada TV. Sepi, ya!" keluhnya. Meski TV tidak terlalu berguna di kamar sebuah hotel atau bungalow, tapi lumayan loh dapat djadikan teman untuk mengurangi rasa sepi. Apalagi suasana sekitar Ubud Terrace ini sepinya keterlaluan bagai di tengah hutan! Ditambah lagi nggak ada hairdryer, colokan listrik minim, shower ketinggian, ranjang khas Bali yang tingginya seperti hendak memanjat pohon kelapa dan kekurangan lainnya. Ya udah, kami menghibur diri dengan mengobrol ngalor ngidul dan mendengarkan lagu lawas yang dibawakan Rhoma Irama, Ikke Nurjanah, Iis Dahlia, dan lainnya sampai tubuh kami menagih jatah istirahat. 

Pikiran Liar: Hm, apa sebaiknya aku membuka lowongan pekerjaan jenis baru ya? Yaitu, menjadi teman panggilan bagi manusia-manusia takut penampakan makhluk ghaib saat mereka dalam urusan pekerjaan dan jalan-jalan. Kan asyik bisa mengunjungi banyak tempat, menginap di banyak hotel bagus, makan enak dan mungkin membuka peluang besar pada masa depan cemerlang. Mau mencoba tantangan ini? Monggo. Tidak perlu membeli hak paten atas ide liarku.

Enam: Main ke Monkey Forest Hingga Berburu Halal Burger
Bali Bohemian. Foto: Annie Nugraha
Sebenarnya aku udah malas sekali melakukan eksplorasi. Bukan hanya karena sudah terlalu lelah berkegiatan dari pagi hingga malam selama 10 hari sebelumnya, kulitku yang mulai gosong dan butuh perawatan ekstra. Dan kini baru kusadari bahwa alergiku kambuh. Aha! Aku ingat, aku dan Kak Puput sempat membuat menu dari ikan asin dan ikan teri, yang dibawa Mas Har sewaktu pulang jalan-jalan dari Karimunjawa. Alhasil, selama dua hari kakiku bengkak seperti ibu hamil, kemudian ibu jari tangan kananku bruntusan dan sangat gatal. Dan kini alerginya pindah ke wajah! Banyak banget bruntusan kecil-kecil yang menghilangkannya harus dengan hati-hati agar tidak iritasi.

Tapi, udah jauh-jauh ke Bali dan ada Mbak Annie masa iya nggak jalan-jalan. Ya udah, akhirnya setelah sarapan pagi kami berdua main ke Monkey Forest dengan berjalan kaki karena perubahan manajemen membuat pintu masuk hanya ada 1 saja. Ngos-ngosan deh jalan kaki. Setelah puas main-main sama monyet yang menggemaskan tapi sok cuek, kami kelelahan dan mampir dulu di resto bernama Bali Bohemian. Gluk! Gluk! Gluk! Minuman yang segar dan manis pun tandas. Lalu mampir ke sana ke mari karena mbak Annie ingin membeli beberapa barang, mampir juga ke kolam bunga teratai yang terkenal itu dan cekrek-cekrek-cekrek, lalu pergi dengan perasaan bahagia. So, happiness means taking a great picture.
Mengagumi teratai mekar di Puri Taman Saraswati, Ubud. Foto: Annie Nugraha

Lalu, kami berdua kembali ke jalan menuju Ubud Terrace. Tapi kali ini tujuannya mencari lokasi Ubud Halal Burger. Mbak Annie ingin sekali makan burger itu dan aku setiap hari melewati lokasinya. Karena kami sama-sama tidak bisa mengendarai motor, dan sangat tidak mungkin memesan taksi di tengah jalanan yang padat, akhirnya kami memutuskan jalan kaki.Bayangkan saja kami berjalan kaki di jalanan menanjak. Uuuggghhh! Rasanya kakiku mau patah dan seluruh tubuhku terbakar karena cuaca Ubud yang sangat panas. Nekat nggak sih jalan kaki 200 meter di tengah cuaca sangat panas? Tapi eh, sempat berhenti ding karena kita makan gelato durian Medan. 

Tulisan Mbak Annie Nugraha: Halal Ubud Burger | Resto Sahabat Muslim di Ubud, Bali

Yeayyyyy! Akhirnya kami temukan si Ubud Halal Burger yang lokasinya pas di pinggir jalan, nggak jauh dari pasar tradisional Ubud. Kami percaya ini produk 100% halal, trus ada fasilitas Mushola juga. Burgernya enak, kentang gorengnya enak dan es tehnya segar. Btw, es teh boleh refill lho. Alhasil, karena lambungku kecil aku jadinya kekenyangan. Karena sibuk meredakan tubuh yang kekenyangan burger dan 2 gelas es teh, aku nggak minat lagi berfoto-foto. Biarlah Mbak Annie yang energik melakukan segalanya heha.

Tujuh: Pizza Hitam Enak Sambal Matah di The Hub Bali
Siang hari, tak lama setelah kami sampai di rumah Mbak Fuli, sang pengusaha silver Mbak Annie mengajakku bertemu dengan teman-temannya di The Hub Bali, sebuah tempat nongkrong baru yang ciamik dan modern, dengan instalasi seni yang menggoda untuk mengeluarkan jurus memotret dan dipotret, dan menu yang menggoda untuk segera dinikmati dengan penuh kegembiraan. Nah, karena kami belum makan siang, Mbak Annie pesan Pizza Sambal Matah yang rasanya enak banget. Rotinya berwarna hitam yang renyah dan gurih, topingnya suiran ayam dan sambal matah. Ajib, enak sekali! Sayangnya karena aku si lambung kecil, nggak bisa makan banyak melainkan hanya dua potong saja.


Nongkrong di The Hub Bali hanya 2 jam, tapi foto-foto yang kami hasilkan sampai menguras memori ponsel saking banyaknya. Sebentar-sebentar Mbak Annie bilang gini, "Ika, tolong fotoin disini ya," katanya sambil memberikan ponselnya padaku. Walau usianya mendekati 50 tahun si Mbak masih sangat energik melebihi anak muda sepertiku.

Delapan: Nonton Crazy Rich Asian dan Cerita Hantu
Setelah ketemuan dengan dua orang teman Mbak Annie di The Hub Bali, makan enak dan puas foto-foto, kamu berdua melanjutkan perjalanan ke Plaza Renon. Jadi, di Plaza itu Mbak Annie dan rekan-rekannya membuka toko perhiasan. Brand perhiasan Mbak Annie namanya Fibi Jewelry yang fokus di perpaduan batu alam dengan wire alias kawat yang dirangkai sedemikian rupa hingga berbentuk sangat cantik. Sebelumnya, Mbak Annie sudah banyak cerita bagaimana ia memulai usahanya di bidang perhiasan, melakukan berbagai pelatihan, hingga ikut di kegiatan perdagangan internasional seperti di Jepang, China, dan Eropa Timur. Termasuk, bagaimana menangani rekan bisnis yang mangkir dari perjanjian kerjasama. Run a business is not easy as we see at some Korean Dramas

Setelah nonton film yang kisahnya opera sabun banget tapi jadi keren karena bernafas Asia (alias Singapura), kami berdua makan malam di sebuah resto langganan Mbak Annie. Dannnn, dimulailah cerita serem mbak Annie tentang para makhluk ghaib dan kejadian ghaib yang memaksa otakkku untuk bekerja keras mencernanya, sampai rasanya keriting.

Sembilan: Ke Bengkel Aneka Keramik
Rencananya, hari terakhir di Bali akan kami habiskan dengan mengunjungi UC Silver sebuah toko kerajinan perak terkenal di perbatasan Ubud-Sanur, yang kalau dari jalan terlihat sekali bangunannya sangat artistik dan mengesankan. Sayangnya, kami kesiangan dan memilih mampir ke Kevala Ceramic dan Philip Lakeman Ceramic. Di Kevala Ceramic sepasang mataku dimanjakan oleh aneka produk keramik yang artistik dan cantik yang rasanya semua ingin kubawa pulang. Maklum saja, aku merupakan penyuka produk-produk keramik dan merasa sangat bahagia melihatnya. 
Menikmati keindahan produk Kevala Ceramic. Foto: Annie Nugraha

Nah, Philip Lakeman Ceramic bertetangga dengan Kevala Ceramic. Hanya saja, PLC fokus di produksi keramik untuk interior dan eksterior, bukan di perkakas rumah tangga. Dan, koleksinya terlihat ceria nan penuh warna sampai-sampai aku, Mbak Annie dan Mbak Fuli keasyikan foto-foto untuk mengenang keindahan karya tangan dingin Pak Philip. 

BIAYA-BIAYA SELAMA DI BALI:
Berikut adalah gambaran besar biaya yang kukeluarkan selama Lost in Bali:
 
Aku bukan Pecalang lho

Pesawat Jakarta - Bali - Jakarta : Dibayarin Mas Har
Tempat tinggal 1: Rumah Kak Puput, Gianyar
Tempat tinggal 2: Ubud Terrace, nebeng mbak Annie Nugraha
Tempat tinggal 3: Rumah Mbak Fuli di Sanur
Bensin motor : Sekitar RP. 100.000
Sol sepatu 1: Rp. 20.000
Ojek 1x : Ubud, Rp. 50.000
Tiket wisata 1: Tirta Umpul, Rp. 50.000
Tiket wisata 2: Monkey Forest, Rp. 50.000
Tiket bioskop : Crazy Rich Asian, Rp. 65.000
Makan 1 : Bandara Ngurah Rai, Rp. 30.000
Makan 2 : Warung Kecil, Sanur Rp. 50.000
Makan 3 : Warteg Jawa, Ubud Rp. 35.000
Makan 4 : Kafe langganan Mas Har, ditraktir Mas Hartono
Makan 5 : Bali Bohemian, ditraktir Mbak Annie
Makan 6 : Halal Burger, ditraktir Mbak Annie
Makan 7 : Plaza Renon, Rp. 135.000
Makan 8 : The Hub, ditraktir temannya Mbak Annie
Makan 9 : Mie Kepiting Sanur, ditraktir Mbak Annie
Makan 10 : Bandara Ngurah Rai, 150.000
Mendongak, mencari wajahmu di langit

Makan lainnya : Masak
Camilan lainnya : Rp. 100.000 

Ahahai! Ceritanya kepanjangan ya? Tapi seru kan? Dan aku masih ingin ke Bali untuk kesekian kalinya lagi, sebab masih banyak tempat keren yang belum sempat kukunjungi seperti Desa Panglipuran, Taman Nasional, Bali Zoo, Bali Swing dan banyak tempat kerena lainnya. Mudah-mudahan masih ada umur, tenaga, waktu dan biaya untuk kembali ke Bali. Bukan sekadar memuaskan hasrat memenuhi kilometer perjalanan yang kita tempuh untuk jalan-jalan, melainkan untuk menikmati keindahan yang tercipta sebagai perpaduan ciptaan Tuhan dan kreasi manusia.  

Akhir kata, kuucapkan terima kasih atas kebaikan semua orang selama perjalanan singkatku di Bali. Untuk Kak Puput yang baik hati dan setia menjadi sopir karena aku nggak bisa mengendarai motor; untuk Mas Hartono atas semua pembelajaran berharga tentang kehidupan; untuk Mbak Annie Nugraha untuk semua cerita, dan kegilaan yang kita lakukan bersama; untuk mbak Fuli atas tumpangannya menginap di rumah beliau; untuk semua anak kecil yang kutemui, yang menerbitkan kebahagiaan tersendiri di hatiku.. Dan untuk semua pihak yang tidak dapat kusebutkan satu persatu.

Depok, 5 Oktober 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram