Kenangan Indah di Hars Garden Treehouse, Penginapan Ramah Lingkungan di Ubud, Bali

Sakura House, nama salah satu Hars Garden Tree House di Ubud, Bali. Foto: Hars Garden

"Setiap rumah adalah puisi. Dan engkau adalah rumahku.
Kelak, engkau dan aku adalah puisi paling indah di semesta."

Rumah Pohon. Apa yang tergambar di benak kita saat mendengar rumah pohon? Hm, bisa jadi kita mengira semacam rumah-rumahan mungil tempat nongkrong di ketinggian seperti di film "Heart" yang dibintangi Irwansyah, Acha Septriasa dan Nirina Zubir. Atau mungkin serupa rumah sebuah suku di Papua yang dibangun di pohon nan tinggi, yang saat melihatnya saja kita merasa takut rumah itu akan meluncur ke tanah saat angin berhembus dengan kencang. 

Rumah Pohon bukan hal baru di dunia arsitektur. Ia telah ada sejak zaman dahulu kala. Fungsinya bukan hanya sebagai tempat tinggal yang puitis lagi penuh estetika. Sebab di zaman ini, rumah pohon bahkan bisa menjadi solusi hunian hingga penginapan ramah lingkungan. Nah, sewaktu ke Bali bulan September lalu tujuanku memang untuk melihat seperti apa sih rumha pohon milik seorang petani nyentrik bernama Hartono Lokodjoyo. Aha! Buat yang belum baca postinganku tentang tujuan perjalanan ke Bali boleh dibaca dulu disini ya: 

Tentang perjalanan ke Bali: Lost in Bali for Happy Me
Tentang Hars Garden: Bertani Organik Mudah dan Murah ala Hars Garden
Happy me at Hars Garden. Foto: Puput Dyah

Jadi, Mas Hartono ini pernah juga mengelola sebuah villa dengan istrinya. Tapi karena tempat hunian semacam itu sudah terlalu banyak di Bali, akhirnya mereka menjualnya trus membangun rumah pohon. Awalnya sih mereka membangun rumah pohon dua lantai untuk tempat tinggal mereka, baru kemudian membangun tiga unit rumah pohon lainnya. Dua unit untuk disewakan sebagai penginapan, dan satu unit lainnya berfungsi sebagai dapur dan ruang makan. Sekaligus juga dapat berfungsi sebagai ruang pertemuan dan ruang tamu.
"Saya bangun rumah pohon di Hars Garden ini tahun 2017. Sebelumnya saya tinggal di villa milik istri saya. Ini percobaan pertama saya. salah satunya untuk menjawab tantangan dari kampanye Bali Not For Sale. Karena menurut saya, kampanye itu tidak bagus karena tidak memberikan solusi bagi tanah-tanah di Bali yang terus saja dijual yang akhirnya merusak tatanan lingkungan di Bali sendiri," ujar Mas Har.
Bagi Mas Har, sebagai petani lulusan SMP saja ia mengerti bahwa sangat tidak mungkin kampanye semacam Bali Not For Sale itu berhasil jika masalah utama dalam kehidupan masyarakat Bali tidak diatasi. Misalnya, mengapa orang Bali memilih menjual tanahnya alih-alih menyewakan? atau mengapa orang Bali menghambur-hamburkan uang untuk menyabung ayam kemudian harus menjual tanah demi membayar utang alih-alih manampar diri dengan kesadaran baru bahwa tanah itu seharusnya tidak dijual? Bagi Mas Har, masuknya investor asing ke Bali kemudian mendirikan bangunan untuk hotel, kafe, restoran dan sebagainya bukan semata salah mereka. Hilangnya sawah-sawah orang Bali bukan salah orang asing, melainkan orang Bali sendiri. 
"Saya sudah merasakan berhasil dari Hars Garden ini. Saya punya kebun organik yang menghasilkan. Saya juga punya rumah pohon yang menghasilkan. Hidup saya berkecukupan untuk seorang petani yang menyewa tanah. Tanah ini saya sewa, bukan punya saya. Makanya saya ingin pemilik tanah di sekitar saya belajar pada saya. Coba mereka bangun satu rumah pohon itu ditengah sawah, pasti laris. Tidak perlu bangun hotel pakai semen. Cukup pakai kayu. Kita harus bersahabat dengan alam. Itu baru namanya solusi untuk Bali not for Sale," katanya lagi seraya memandang sekeliling, dimana sawah-sawah di area Ubud mulai beralih fungsi menjadi bangunan dari semen.  
Saat mendengar cerita Mas Har, aku merasa terbangun dari mimpi. Bukan mimpi dikecup pangeran pujaan hati lho, tapi dari kenyataan bahwa sektor pariwisata yang tidak selaras dengan alam telah mengubah Bali. Bukan hanya karena banyak areal persawahan di Bali yang sudah beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan dari semen, juga karena kebersihan lingkungan yang tidak terjaga. Selama perjalanan ke Bali ini banyak sekali kutemui tumpukan sampah di sekitar sungai dan di pinggir jalan. Rasanya aneh sekali jika masyarakat Bali yang dikenal bersahabat dengan alam sudah kehilangan rasa untuk memperlakukan alam dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.
Hartono Lokodjoyo, pemilik Hars garden dengan sarapan sehat ala Hars Garden. Foto: Hars Garden

"Orang luar negeri itu kan ke Bali karena mereka ingin melihat sawah-sawah yang hijau, yang mereka lihat di foto-foto. Kasihan juga pas sampai disini ternyata sawah-sawahnya sudah tinggal sedikit. Seperti di Ubud ini, banyak sawah mulai hilang digantikan bangunan semen," tunjuk Mas Har pada beberapa lokasi persawahan di sekitar Hars garden yang memang telah beralih fungsi menjadi hotel, bungalow dan restoran.

RUMAH POHON, RUMAH MASA DEPAN
Rumah Pohon milik Hars Garden dibangun berbiaya minim, yaitu Rp. 60 juta per unit, berbahan dasar kayu kelapa berusia ratusan tahun dari Sulawesi. Tambahan Rp. 10 juta untuk furniture. Jadi total satu unit rumah pohon di Hars Garden adalah Rp. 70 juta. Dengan sewa per malam seharga Rp. 580.000 (yang tentu saja naik saat peek season) bisa dibayangkan bahwa bisnis ini dapat balik modal dalam waktu cepat. Apalagi jika ditambah dengan popularitasnya di mata klien. Lihat saja gambar di bawah ini, Rumah Pohon Hars Garden sudah full booked hingga akhir tahun!
Rumah Pohon Hars Garden udah full book nih sampai akhir tahun 2018. Sumber: airbnb

Nah, dengan pendapatan Rp. 40 juta per bulan hanya dari Rumah Pohon, wajar dong kalau pemiliknya bisa merayakan ulang tahunnya dengan tur keliling Asia selama sebulan? belum lagi ditambah dari penjualan produk kebun, gardening class, cooking class dan lain-lain. Jadi petani smart enak ya, penghasilannya jauh melampaui eksekutif muda Jakarta yang kerjanya jor-joran kepala jadi kaki, dan kaki jadi kepala, trus waktu kerjanya fleksibel pula.
"Dari luar, penampilan Hars Garden ini biasa saja. Orang paling melihatnya kebun saya ini biasa saja. Tapi penghasilan saya jauh lebih wah. Caranya adalah buat produk kita ini  disukai oleh konsumen, sampai mereka ingin datang lagi atau memperpanjang sewa. Misalnya mereka yang memang mencari penginapan ramah lingkungan untuk menenangkan diri. Kita juga harus melayani mereka dengan ramah dan baik, dan jangan lupa setiap menemani mereka sarapan pagi, kita sampaikan apa tujuan saya membangun Hars Garden ini, seperti misalnya untuk mendidik masyarakat tentang berbisnis tanpa merusak lingkungan," ujar Mas Har lagi saat mengajakku berkeliling kebun.
Aktivitas Mas Har sebagai petani dan pebisnis sangat biasa. Pagi-pagi sekali sekitar pukul 7.30 ia menyiapkan sarapan untuk tamu-tamunya. Menu yang ia buat untuk sarapan terbilang unik dan sederhana, yang sepertinya tidak akan pernah kita dapati bahkan jika menginap di hotel bintang lima sekalipun. Pertama-tama Mas Har membelah kelapa muda dan menaruh airnya di gelas kaca. Kemudian menyiapkan buah-buahan seperti nanas, jeruk, semangka dan buah naga, kemudian disajikan di piring keramik putih. Selanjutnya, ia menyiapkan bumbu rempah untuk membuat tempe goreng dan menyiapkan salad sayuran. Nah, salad sayuran ala Hars Garden ini unik karena terdiri dari belasan jenis sayuran, herbal, bunga, hingga umbi-umbian. Pokoknya sehat dan rasanya nempel terus di lidah. 
Sarapan sehat dan unik ini hanya ada di Hars Garden lho. Eh, aku sudah bisa membuatnya hanya untukmu eaa
"Setiap tamu di Hars Garden saya kasih sarapan dengan air kelapa muda, karena ini air terbaik. Lalu sepiring buah-buahan dan salad sayuran. Untuk karbohidratnya saya ganti-ganti. Misal hari ini tempe goreng, besok singkong goreng dan lain-lain"
Aku sempat membantu Mas Har di dapur saat menyiapkan sarapan untuk tamu. Ada tuh seorang tamu dari Jepang yang saat datang ke Bali langsung menginap di Hars Garden. Karena biasanya tamu asal Jepang atau China nggak lancar berbahasa Inggris, maka Mbak Ryoko alias istri Mas Har turun tangan untuk mengobrol bersama sang tamu dalam bahasa Jepang. Trus lucunya lagi, kalau tamunya couple, Mas Har menyajikan sarapan buah untuk mereka dalam satu piring, katanya biar romantis ulalala. Tamu senang, rezeki bertandang pantang pulang
Hm, sedap menggoda bukan menu sarapan pagi di Hars Garden ini? Foto: #harsgarden

Setelah mengobrol dengan tamu, biasanya Mas Har mulai mengurus kebun. Entah mencangkul, menyiram, menyulam tanaman mati, menanam bibit, atau melayani pembeli yang biasanya datang langsung ke kebun. Saat tamu check out pada pukul 12 siang, Mas Har juga mengantar mereka hingga ke gerbang Hars Garden seraya berterima kasih karena telah menginap di Rumah Pohon miliknya. Setelah tamu check out, Rumah Pohon dibersihkan oleh staf Hars Garden. Bahkan nih ya, kalau ada tamu yang menginap lebih dari 3 hari diberi sambutan khusus, berupa bunga indah di lantai kamar. Apalagi kalau yang sedang honeymoon, ah pasti pelayanannya jauh lebih romantis.
Mas Har menyiapkan bunga untuk menyambut dua orang tamu dari China yang akan menginap selama 5 malam
Aku bantuin Mas Har dong, sekaligus belajar kalau nanti aku punya bisnis Rumah Pohon sendiri. Foto: Puput Dyah

Kemudian pada pukul 2-4 sore selain mengurus kebun, Mas Har juga menyambut tamu yang datang. Biasanya Mas Har langsung mengambil ransel tamu perempuan dan menggendongnya, seraya memimpin para tamu menuju rumah pohon. Para tamu senang karena kedatangan mereka langsung disambut sang pemilik dengan ramah.
"Saking senangnya tamu-tamu itu saya layani, mereka sering kasih saya tips. Kalau yang belanja biasanya kasih tips lima puluh ribu, kalau yang menginap kasih tips dua ratus ribu. Lucu memang karena biasanya yang dikasih tips kan karyawannya, lha ini saya, bosnya hahaha," Mas Har tertawa terkekeh-kekeh mengenang kelucuan  tamunya sendiri
FASILITASNYA OKE PUNYA DONG
Meski ini Rumah Pohon, tapi fasilitas dan pelayanan harus setara hotel dong. Semua dimulai dari utilities dan pelayanan. Pertama kali aku masuk ke Rumah Pohon Hars Garden ini, yang kurasakan adalah kenyamanan. Ruangannya bersih dan unik karena ada pohon yang melintas di tengah ruangan, ranjang yang bersih dan empuk, kamar mandi yang standar hotel plus air panas dan air dingin, ruangan full cahaya karena banyak dinding kaca, pemandangan dari kamar maupun balkon yang nyaman dan menenangkan hati, udara yang sejuk, dan suasana sekitar yang nyaman. Makanya, wajar banget kalau kebanyakan yang menginap disini adalah pasangan karena suasananya pas untuk sayang-sayangan dan menciptakan kenangan indah bersama. Love, lah!
Pemandangan dari salah satu Rumah Pohon di Hars Garden yang romantis dan menenangkan, bukan? Pas banget memang buat pasangan buat liburan bersama, penulis yang mencari ketenangan dalam merampungkan deadline atau jomblo yang berdoa dalam khidmat untuk segera ddipertemukan dengan jodohnya prikitiw. Foto: Puput Dyah

Sebagai penginapan seharga Rp. 580.000 per malam di kawasan Ubud, fasilitas Hars Garden Tree House boleh dibilang memanjakan. Saat kaki melangkah memasuki area hutan mini, mulut kita akan sontak berdecak kagum karena agak sulit menemukan suasana seperti hutan. Ketika pintu rumah di buka, sepasang mata kita akan serta merta merasa dimanjakan oleh kasih sayang. Melihat ranjang empuk yang bersih dengan suasana romantis, air mineral dingin alami, apalagi kalau ada hiasan bunga dilantai, belum lagi bunga di vas dan di kamar mandi. Kalau lelah bisa langsung memanjakan diri dengan mandi dibawa air hangat, mau pipis atau pup juga nyaman bagai di hotel, wastafelnya bagus, ada hair dryer, handuk bersih, dan tentu saja semua kenikmatan duniawi itu ditambah dengan pemandangan di sekitar yang asri. Benar-benar membuat serasa tinggal di tengah hutan. 
Fasilitasnya lengkap, kan? Ada wifi yang kencang pula. Foto: Hars Garden

Menurutku ya, suguhan yang paling menyenangkan dan ajaib adalah kerlip cahaya kunang-kunang pada malam hari, juga nyayian binatang malam yang bersahut-sahutan, entah mereka itu binatang apa saja. Oh, sungguh indah dan romantis, bagai dibius keindahan nirawana. Tinggal sendirian saja merasa begitu menyenangkan bagai terbang ke beranda surga. Terlebih buat mereka yang tinggal bersama pasangan, pasti keindahannya menempel terus di kepala. Kalau itu pasangan bikin bayi, kayaknya langsung jadi deh hehe.
 
MAU MENCOBA? BOOKING AJA DI AIRBNB.COM
Rezeki seorang manusia memang telah ditetapkan. Tinggal si manusia merusaha sekuat tenaga menjemput rezekinya, agar tidak disambar orang. Setelah mendengar kisah hidup Mas Har yang pahit getir sejak kecil, wajar jika Tuhan memberinya hadiah ini. Karena memang kerja keras akan berbuah manis. Mungkin ada juga yang mengatakan bahwa bisnis Mas Har ini lancar karena ia membangunnya di Bali, dan karena istrinya orang Jepang. 

"Saya ini cuma lulusan SMP. Saya ke Bali ya karena ada iming-iming pekerjaan menggembala sapi 50 ekor. Karena gagal kaya dari menggembala sapi, lantas saya menjadi gardener di Jogja Kafe, lalu menyewa lahan untuk membangun kebun sendiri. Saya bertemu istri saya tahun 2012, saat saya sudah punya Hars Garden ini. Istri saya waktu itu belanja ke sini, trus jadi langganan, dan kami sering diskusi tentang kebun organik. Kalau kami akhirnya menikah ya itu takdir Tuhan. Kalau ada orang bilang saya sukses karena istri saya orang Jepang, wah keliru itu. Ini semua usaha saya. Istri saya ya punya bisnis sendiri, dan Hars Garden ini saya kelola sendiri. Hanya saja, karena istri saya ini lebih terpelajar dari saya, dia bantu saya membuat website, lalu kami daftarkan bisnis kami di airbnb, juga mengurus keuangan dengan detail sekali," ujar Mas Har, menepis anggapan bahwa kesuksesannya mendompleng istrinya yang memang wanita karir sejati. Sebab sehari-hari istrinya memiliki kegiatan sendiri dan tidak pernah ke kebun kecuali untuk memanen sayuran yang hendak dimasaknya.
Untuk memasarkan Rumah Pohonnya, Mas Har bergabung dengan airbnb

TIPS: karena hanya ada 2 unit rumah pohon yang disewakan, sebaiknya booking jauh-jauh hari banget. Misalnya 6-3 bulan sebelumnya, karena Hars Garden Treehouse selalu full booked. Terutama saat musim liburan alias peek season.

Trus, gimana transportasi ke Hars Garden? Gampang banget. Kalau dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai tinggal pakai Grabcar aja ke alamat seperti gambar diatas, nyampe deh dalam  2 jam. Kalau misalnya dari Ubud kota gimana? Kalau pakai Grab Bike, ya tinggal oder aja langsung ke alamat yang dituju. Kalau misalnya bawa kendaraan sendiri ya jangan lupa menggunakan perangkat Google Maps ya. Intinya kalau udah masuk Jl. Sri Wedari ya tinggal ikutin jalan aja. Lokasinya nggak jauh kok dari rumah spiritual Anand Ashram. 

Melihat betapa larisnya Rumah Pohon di Hars Garden, trus aku tanya deh ke  Mas Har mengapa nggak bangun beberapa unit lagi, misalnya jadi 5 unit gitu, pasti deh setahun dapat Rp. 1 miliar. Ditanya demikian Mas Har tersenyum saja, lalu tertawa kecil lalu mengupas kulit tebu dengan giginya (btw, Mas Har itu suka banget ngemil tebu dan saking kuat giginya, mengupas kulit tebu menggunakan gigi kriuk kriuk kriuk, dan tebu merupakan camilan favoritnya sejak kecil)
"Bisa. Saya bisa bangun Rumah Pohon seperti ini atau lebih baik dari ini sebanyak yang saya mau. Saya juga bisa kaya raya, kan? Tapi kan masalahnya nanti waktu saya untuk menikmati hidup jadi berkurang karena harus sibuk mengurusi bisnis. Istri saya itu kalau hari Minggu maunya saya antar jalan-jalan. Bukan saya tidak bisa, tapi saya tidak melakukannya. Biarlah orang lain saja yang melakukannya, biar semakin banyak rumah pohon seperti ini dimana-mana. Karena menurut saya hal paling sulit dalam hidup ini adalah mengendalikan keinginan. Saya ini sudah berkelimpahan dan merasa cukup," ujarnya. 
Ah, senang sekali mendengar konsep menjemput rezeki ala Mas Har. Ia tidak mengambil semua yang mampu diraihnya untuk menjadi yang terkaya. Melainkan membagi kelimpahan itu kepada orang lain yang mau menjadikannya sebagai peluang usaha yang bersahabat dengan alam. Dan ya, sebenarnya lelaki gimbal dan nyentrik ini sedang menantang kita semua yang sering bicara soal penyelamatan lingkungan tapi nggak justru mampu menunjukkan bagaimana menjaga lingkungan dengan cara yang benar kecuali berkata-kata saja sampai berbusa-busa. 

Berikut ini adalah review dari mereka yang pernah menginap di Hars Garden Tree House:
Seperti di luar negeri, ya? Ini di Ubud, lho
Mungkin si Mbak sedang menikmati sensasi menjadi bidadari yang besantai di beranda surga
Sedapnyaaaaaa
Senyum bahagia di Hars Garden
Senyum bahagia seorang pengunjung di bersama pemilik Hars Garden. Foto: Hars Garden

Hm, akhirnya tulisanku sampai juga di bagian akhir. Panjang sekali ya. Tapi hm hm hm langsung ingin terbang ke Bali buat menginap di Hars Garden, kan? Karena sekeren-kerennya fasilitas yang memanjakan wisatawan di seantero Bali, Hars Garden Tree House merupakan yang unik, nyentrik, otentik, berbeda, dan bersahabat dengan alam dengan cara sederhana plus murah meriah. Berkelimpahan dalam melayani tapi tidak merusak bumi.  

Depok, 10 Oktober 2018


6 comments

  1. Design rumahnya mirip rumah rumah di Pinterest, cakep banget ya.. tapi disitu banyak nyamuk dan serangga serangga lainnya nggak mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Yoanna, terima kasih sudah mmapir. Enggak ada nyamuk malah, heran aku juga.

      Delete
  2. Mbaaa, baca ini aku lgs mutusin kalo liburan thn depan ama keluarga harus ke bali hahahaha. Nginep di rumah pohon. Baru bbrp hari lalu anakku nanya rumah pohon itu seperti apa. Asik ga tinggal di sana

    Aku jd bisa ngajakin dia ngerasain tinggal di rumah pohon ginii :p. Dulu pas kecil, efek dr membaca novel anak enid blyton, ada bbrp yg ceritanya petualangan di rumah pohon. Dan kayaknya seruuuy. Sebagai anak2 aku srg imajinasi sendiri gmn rasanya kalo bisa tibggal di sana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Fanny, terima kasih sudah mampir. Boleh tuh nginap disana, bisa sekalian ambil gardening class. Pasti anak-anak senang. Cek dari sekarang tuh karena suka full booked. Soalnya itu rumah pohon cuma 2 unit aja

      Delete
  3. Replies
    1. Hai Mbak Tira, iya nih nyaman banget di area Rumah Pohon Hars Garden ini

      Delete

follow me on instagram