Danone Blogger Academy 2018: Paket Komplit Kelas Blogging Persembahan Danone dan Kompasiana

Peserta Danone Blogger Academy 2018 yang berbahagia. Foto: Kompasiana

"I can shake everything as I write; 
my sorrows disappear, my courage is reborn."

-Anne Frank- 

Bagiku, menulis serupa meditasi rasa. Menulis bukan hanya tentang menyulam sudut pandang dan kehendak menyampaikan suatu pesan kepada dunia. Selalu ada keindahan dalam proses menulis, seperti membangkitkan benih kehidupan yang terkubur didalam semesta imajinasi, membimbingnya menjadi semacam bunga mekar yang membuat wajah dunia tersenyum karena kehadirannya. Dalam menulis aku juga menemukan ketenangan batin, harapan baru, sudut pandang unik tentang hidup dan pembelajaran yang tak pernah selesai. Writing means freedom.

Maka beruntunglah aku ketika berkesempatan menjadi bagian dari kegiatan Danone Blogger Academy 2018, yang diselenggarakan atas kerjasama Danone Indonesia dan Kompasiana. Terlebih, kegiatan tahun ini mengusung isu "Nutrisi Menyeluruh untuk Hidup Berkelanjutan" yang sangat berkaitan erat dengan salah satu minatku, yaitu pangan dan pembangunan berkelanjutan. Jodoh banget, iya khan?

Secara garis besar kegiatan ini merupakan sekolah singkat untuk para blogger terpilih. Kelasnya ada indoor dan outdoor, plus ada malam kelulusan. Pembelajaran yang dilakukan terbagi menjadi 3 isu utama, yaitu: masalah kesehatan lingkungan dan gizi, bermedia sosial, dan bagaimana membuat konten yang bermutu sekaligus mudah dipahami pembaca secara umum. Hm, gampang-gampang susah sih. Apalagi ini isu kesehatan yang dalam setiap pembuatan kontennya harus berbasis data resmi seperti dari Kementerian Kesehatan, WHO atau sumber lain yang terpercaya. 
Yeayyy! Dua kelas telah dilalui dengan gembira. Foto: Kompasiana

MEMAHAMI ISU KESEHATAN DENGAN BENAR
Menulis isu kesehatan tidak boleh sembarangan, apalagi hanya berdasarkan opini atau pendapat. Oleh karena itu, penyelenggara menghadirkan sejumlah pakar di bidang kesehatan dan gizi untuk membantu para peserta memahami bagaimana menggunakan data untuk menulis isu kesehatan. 

Terkait isu kesehatan pada bayi dan balita, serta pemenuhan gizi kami mendapat pemaparan sangat padat dan bergizi dari Dr. Doddy Izwardy, Direktur Gisi Masyarakat Kementerian Kesehatan. Isu yang paling krusial adalah mengenai status prevalensi balita stunting di Indonesia yang dalam kondisi kronis. Padahal, jika pada generasinya para balita itu stunting, akan berpengaruh besar pada masa depannya termasuk masa depan bangsa secara keseluruhan. Kita bahkan dapat mengalami masalah perekonomian serius karena balita stunting akan tumbuh sebagai SDM berkualitas rendah. 

BOLEH BACA INI DULU: 5 Strategi Pencegahan Stunting

Materi ini kemudian dimatangkan oleh pemaparan dari dr. Clara Yuliarti, dokter anak di RS Cipta Mangunkunsumo dan dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang menjelaskan secara spesifik mengenai gizi. Khususnya pemenuhan gizi di 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang merupakan investasi awal di masa emas kehidupan manusia. Jika pemenuhan kebutuhan anak di masa ini bagus maka masa depannya bagus, dan jika sebaliknya maka berkemungkinan menderita stunting. Fakta bahwa prevalensi balita stunting Indonesia yang ada di angka 29.6% sangat mengkhawatirkan, karena ada diatas cut point WHO yaitu 20%. Sebab merekalah yang digadang-gadang akan menjadi generasi produktif pada 2030, ketika Indonesia mengalami bonus demografi.

Paparan padat bergizi dari kedua pakar gizi, ditambah lagi dengan materi tentang pangan dan air. Isu pangan yang dibawakan oleh Prof. Dr. Ir Ali Khomsan, Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga IPB ini secara garis besar menggambarkan bagaimana kita mampu mengakses pangan yang aman dan sehat untuk mewujudkan hidup sehat. Cara paling sederhana yang dapat dilakukan misalnya dengan mengetahui kandungan gizi pada kemasan makanan, atau memahami cara menanam tanaman dengan benar agar tidak perpapar bahan kimia atau bakteri dari kotoran hewan. Keamanan pangan sangat penting bagi kesehatan diri dan keluarga. 

Selanjutnya, dr. Diana Sunardi, Dokter Spesialis Gizi Medik RSCM mematangkan keseluruhan pemaparan tentang pangan dan gizi, yaitu tentang hidrasi. Setiap orang harus memahami soal hidrasi karena cara hidup sehat yang paling mudah dan murah adalah dengan menjaga asupan air bagi tubuh. Karena 70%komponen dalam tubuh manusia adalah air, maka jika kita kekurangan air 2% saja sudah mampu merusak keseimbangan seperti mudah pusing, mual, tidak konsentrasi dan bisa jadi mudah marah.  

BACA INI JUGA YA: Merawat Air Serupa Merawat Cinta

Materi yang tak kalah penting disampaikan oleh Dr.Ir. Nana Mulyana Arifjaya, Dosen Hidrologi dan Pengelolaan DAS IPB, tentang air sebagai sumber kehidupan. Keseluruhan pemahaman kita tentang gizi dan pangan tidak terlepas dari air. Sehingga, sangat penting bagi masyarakat untuk turut berperan menjaga keseimbangan ekosistem agar sikslus hidrologi air berjalan ideal untuk menunjang kehidupan manusia. 

MEMBUAT KONTEN ISU KESEHATAN AGAR MENARIK
Jujur saja, menulis isu kesehatan itu tricky karena benar-benar harus bersumber pada data yang resmi, masuk akal dan dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.  Sebelumnya dr. Clara memberi contoh bagaimana masyarakat yang tidak paham soal gizi memamerkan di media sosialnya tentang menu Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang justru menyalahi standar WHO dan Kementerian Kesehatan. Akibatnya, banyak masyarakat percaya dan itu melipatgandakan kekeliruan dalam pemenuhan gizi anak di periode emas 1000 HPK. 

Kehadiran Wisnu Nugroho sebagai Chief Editor kompas.com memberikan pencerahan mengenai bagaimana sebaiknya sebuah konten, khususnya tulisan dibuat dengan gaya bertutur agar mudah dipahami pembaca. Meskipun tentu saja tidak menapikan bagaimana penulis berusaha menampilkan data yang dibutuhkan dengan benar berdasarkan riset.


Secara ringkas, Mas Wisnu menjelaskan bahwa untuk membuat konten kreatif seorang blogger/penulis harus memposisikan dirinya dalam keadaan rendah hati dan skeptis terhadap sebuah isu, sehingga memudahkannya untuk melakukan riset. Infomasi yang diperoleh selama riset dapat menjadi sumber pengetahuan, yang kemudian diramu secara kreatif untuk menghasilkan bacaan yang dapat dipahami orang awam sekalipun. Seorang penulis harus mau merepotkan dirinya untuk menelan kesulitan pembaca dalam memahami sebuah teks. Misalnya, saat hendak menulis kita membayangkan seperti apa sih pembaca yang akan membaca tulisan kita. Dengan memikirkan kebutuhan pembaca, maka kita akan mampu secara rendah hati membuat sebuah konten yang sederhana, kreatif dan tepat sasaran.

Nah, di era digital yang disebut juga sebagai Internet of Things, konten sebuah pesan harus juga menyesuaikan dengan tools atau perangkat yang disediakan zaman. Yang saat ini sedang populer di kalangan generasi muda misalnya video blog. Orang-orang muda lebih nyaman dengan menikmati pesan dalam bentu audio-visual daripada tulisan. Sehingga seorang blogger mau tidak mau harus mampu menjawab tantangan ini: menyediakan konten kesehatan dalam bentuk video blog yang kreatif, menarik dan terpercaya

Untuk menjawab kebutuhan pembelajaran, kelas #DanoneBloggerAcademy2018 ini menghadirkan seorang content creator terkenal, yaitu Meizal Rossi yang membagi tips dan triknya dalam membuat konten vlog yang ringkas, padat, memikat, dan tepat sasaran. Yeayy! Aku pun belajar bagaimana membuat vlog yang kreatif. 

Dan ini dia video vlog pertama yang kubuat setelah mengikuti kelas yang diampu Vlogger terkenal Meizal Rossi. Maaf ya kalau belum bagus...


Terakhir, nggak seru dong menulis sebuah artikel tanpa foto. Sebab, sebuah tulisan tanpa foto ibarat makan sepiring nasi hangat tanpa rendang. Nah, nggak tanggung-tanggung nih guru kita kali ini adalah Bang Arbain Rambey, fotografer senior Harian Kompas. Pembelajaran dengan Bang Arbain sangat menyenangkan karena langsung praktek hari itu juga. Foto hasil praktek langsung dinilai untuk dilihat dimana letak kekuatan, kekurangan dan pesan yang tergambar dari sebuah foto. Keren sekali kami ini, bukan?


LALU, KAMI AKAN TRIP KE YOGYAKARTA DAN KLATEN...
Setelah menjalani fase menulis offline selama 3 hari yang padat bergizi sampai-sampai lupa bersantai, kali ini kami peserta #DanoneBloggerAcademy2018 akan melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah tempat di Yogyakarya dan Klaten, Jawa Tengah. Selain bertujuan untuk belajar di lokasi kerja Danone di lapangan, juga untuk bersenang-senang dong, seperti main river tubing untuk menikmati anugerah penciptaan air serupa merawat cinta eaaa. 

Jadi, nantikan ceritaku selanjutnya ya....
Salam sehat!

Depok, 11 Oktober 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram