Bertani Organik Mudah dan Murah ala Hars Garden

Hartono Lokodjoyo, pemilik Har's Garden sedang melakukan penyulaman tanaman Kale


"Bertani adalah pekerjaan yang paling saya nikmati" 

-Hartono Lokodjoyo-
 
Pada siang 5 September 2018, aku tiba Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali. Karena lapar, kuseret koperku menuju area parkiran dan duduk manis di sebuah warung makan tak jauh dari pintu keluar. Kupesan menu nasi rames dan sebotol air mineral dingin. Cuaca panas sangat menyiksa, terlebih dalam keadaan lapar dan haus. Lalu sepiring nasi rames dengan semangkuk kecil kuah sup terhidang di meja. Setelah isi piring tandas dalam waktu 15 menit, aku mulai tersenyum bahagia. Perutku kenyang, hatiku senang ulala.

Dengan menumpang taksi online, perjalanan kulanjutkan ke Gianyar untuk bertemu Kak Puput, seorang teman yang direkomendasikan Mas Hartono Lokodjoyo untuk kutemui sebelum aku ke Har's Garden di Ubud. Tak terasa, perjalanan selama 1.5 jam yang dipenuhi obrolan menyenangkan dengan sang driver membuatku histeris saat tiba di depan rumah Kak Puput. Dari kaca jendela mobil, kulihat seorang perempuan tinggi semampai tengah menungguku di pintu pagar rumahnya, dengan wajah tersenyum lembut. 

"Hai Kak Puput! Aku Ika," kami bersalaman dan memperkenalkan diri masing-masing. 
"Aku Puput, temannya Mas Har," Kak Puput tersenyum manis saat memperkenalkan namanya. 
"Har's Garden jauh ya dari sini?" tanyaku penasaran. 
"Enggak sih, hanya 30 menit pakai motor. Kamu bisa motor?" tanya Kak Puput. 
"Enggak!" jawabku, kemudian tersenyum kecut. Jagoan tapi nggak bisa bawa motor? Ugh!
"Ya udah, nanti kita kesana ya. Kamu istirahat aja dulu," kata Kak Puput.

Perempuan bersuara lembut itu mengajakku masuk ke rumah mungilnya, dan kami disambut beberapa orang anak kecil yang sedang main boneka Barbie. Ah, karena aku memang menyukai anak kecil kami langsung akrab. Bahkan, beberapa bocah lelaki tak segan mencoba gel lidah buaya yang kugunakan untuk menenangkan kulitku yang kepanasan. Bali is really-really-really HOT!!!
Aku dan anak-anak kecil tetangga Kak Puput. Foto: Puput Dyah

Sayangnya, aku tak bisa berlama-lama bermain dengan anak-anak ini. Setelah berfoto beberapa kali untuk menyenangkan hati mereka, kami berpamitan. Aku dan Kak Puput melaju ke Ubud, menuju Har's Garden. Perjalanan kami tentu saja menyenangkan dan kami sempat berhenti di beberapa lokasi demi memuaskan dahagaku untuk berfoto. Terlebih, saat kami melewati area emas wisata Ubud yang sangat ramai oleh wisatawan asing yang sedang menikmati suasanan Ubud yang dikenal sebagai pusat seni dan budaya di Bali. Entah kafe, toko, pura, pasar, galeri hingga bengkel seni yang kami lalui di sepanjang perjalanan membuatku sangat terpesona. Meski ini bukan pertama kalinya aku ke Bali, tetapi ini pertama kalinya aku ke Ubud dan aku sangat terpesona, seperti seorang gadis yang jatuh cinta pada pandangan pertama ke seorang pemuda yang indah jiwa dan raganya! Oh, I love Ubud so much!

HARTONO, PETANI GIMBAL KECE DARI UBUD
Setelah melalui 30 menit perjalanan yang indah seakan-akan aku ini seorang wisatawan yang sedang melakukan eksplorasi di Ubud, tibalah kami di Har's Garden. Kulihat seorang lelaki mungil, berkulit cokelat, berambut gimbal yang mengenakan kaos oblong dan celana pendek selutut muncul dari arah hutan, menuju ke arahku dan Kak Puput. Kami bertemu di tengah kebun dan bersalaman. Aku mengenal lelaki nyentrik ini via Facebook karena terpesona oleh postingannya tentang rumah pohon miliknya di Har's Garden. Kedatanganku ke Bali adalah atas undangan beliau untuk belajar tentang manajemen kebun organik dan rumah pohon miliknya, yang sangat terkenal di kalangan wisatawan asing. 

"Kamu belajar pertanian organik dari saya, dan saya belajar menulis dari kamu," begitulah kira-kira ringkasan percakapan kami sebelum kedatanganku ke Bali.
Yeayyyy! Akhirnya aku tiba di Har's Garden. Foto: Puput Dyah

"Saya ini dari keluarga miskin di Sragen, Jawa Tengah. Ayah saya meninggal waktu saya masih kecil. Saya punya dua orang adik, yang adik satunya hasil dari pernikahan Ibu saya dan suaminya yang sekarang. Hidup saya ini susah dari kecil. Bahkan sampai usia saya 33 tahun rumah Ibu saya itu yang paling jelek di kampung saya. Saya juga sering lari terbirit-birit kalau lihat mantan pacar saya, karena saya malu jadi petani," Mas Har, begitulah aku menyapanya, menceritakan kisah hidupnya. Cerita yang sebenarnya telah dia tulis di beberapa status di akun Facebooknya. 

"Meskipun miskin ya saya ini tukang khayal. Setiap mau tidur saya mengkhayal seperti mau punya mobil Honda Jazz, mau punya rumah bagus, mau jalan-jalan ke luar negeri, mau mudah mencari uang. Bahkan saya pernah bercita-cita punya istri orang luar negeri, karena dalam khayalan saya, saya akan bekerja sebagai pemandu wisata dan saya berkenalan dengan calon istri saya karena saya seorang pemandu wisata. Selain itu saya juga kutu buku. Saya sangat suka membaca," katanya lagi. Aku tersenyum geli mendengar ceritanya. Impian Mas Har punya istri orang asing terkabul! Istrinya orang Jepang dan ia bisa membawa istrinya jalan-jalan ke luar negeri!
Hartono dan istrinya Ryoko saat mereka jalan-jalan ke Cappadocia, Turki untuk merayakan ulang tahunnya yang ke 39 tahun. Bisa begini dari bertani organik, lho. Sumber: Facebook Hartono Lokodjoyo

"Berbagai jenis pekerjaan sudah saya jalani. Mulai dari jadi musisi di kampung saya, pengamen jalanan di bus-bus dan kereta, pekerja pabrik tahu di Jakarta, perambah hutan di Kalimantan, akuntan atau kerani di perkebunan kelapa sawit di Kalimantan, menyanyi di kafe-kafe milik teman saya, tukang gembala sapi, sampai gardener panggilan. Sudah saya lakoni semua itu," ujarnya sembari memindahkan bibit tanaman ke dalam 'polybag' buatannya sendiri. 

"Saya itu dulu perokok berat. Gaji saya sebagai Gardener itu 1.5 juta. Akhir bulan hanya tersisa 500ribu. Waktu itu umur saya 29 tahun dan saya berpikir mau jadi apa saya kalau uang hasil bekerja habis untuk rokok. Akhirnya saya putuskan berhenti merokok dan uang 1 juta itu saya tabung. Saya bukan tabungan di BRI. Setelah 5 bulan saya punya tabungan 5 juta dan mulai menyewa lahan untuk membuat kebun milik saya sendiri. Itulah cikal bakal Har's Garden yang bisa kamu lihat sekarang," ujarnya dengan mata berbinar.

Aku manggut-manggut, merasa bahwa jalan hidupku jauhhhhhhhh lebih mudah dibandingan lelaki nyentrik ini. Kami tertawa bersama ketika sampai pada cerita bahwa uang hasil bekerja sebagai penebang kayu di Kalimantan habis untuk berobat karena ia terkena malaria. Atau ketika uang hasil kerjanya yang ia taruh dengan hati-hati di dompet hilang karena dompetnya terjatuh entah di mana, sampai-sampai ia merasa malu ketika bertemu ibunya, ternyata nggak punya uang sepeserpun hasil merantau ke tanah Borneo. 

"Mungkin, jalan hidup saya harus sekeras itu agar saya naik level sebagai manusia," katanya, seakan sedang menghitung pencapaian demi pencapaian dalam hidupnya, juga menertawakan kesulitan tak teratasi di masa silam.

"Saya ini hanya lulusan SMP karena keluarga saya miskin. Tapi ilmu bertani saya sudah banyak, baik dari praktek langsung maupun dari membaca buku-buku pertanian. Saya bertani bukan berdasarkan teori, tapi praktek langsung di lapangan. Ya, bisalah saya disebut praktisi. Karena saya kutu buku, saya senang membaca buku tentang pertanian meskipun seringkali begitu rumit untuk saya pahami. Karenanya saya mau orang belajar cara bertani organik seperti saya, yang mudah dan murah, tapi hasilnya melimpah. kalau saya sedang jlan-jalan bersama istri saya, tidak akan ada yang menyangka saya petani dan cuma lulusan SMP. Nih, gimbal saya ini branding saya sebagai petani," katanya. 

Aku tersenyum, merasa kagum dengan kegigihannya berjuang untuk hidup yang lebih baik, melampaui pencapaian banyak orang lulusan kampus ternama sepertiku buahahahaha.
"Awal-awal saya buka kebun sendiri, saya sukses menanam apa saja. Tapi masalahnya adalah pemasaran. Saya sudah berhasil di mengelola tanah dan tanaman, tapi saya gagal memasarkan produk saya. Sampai capek sekali saya. Pagi sampai siang saya bekerja sebagai gardener di sebuah kafe, lalu siang sampai sore saya bekerja di kebun sendiri, lalu sore sampai malam saya memasarkan produk saya. Ya tidak laku. Sampai akhirnya saya berpikir untuk merubah cara saya menjual. Keuntungan saya sekarang adalah pembeli produk kebun saya orang asing yang sangat peduli dengan kesehatan makanan mereka, makanya produk kebun Har's Garden ini laris dan menguntungkan bagi saya," katanya mantap.
Ya, beberapa kali aku menyaksikan Mas Har melayani sejumlah pembeli, yang sebagian besar berkewarganegaraan asing yang langsung datang ke kebun. Dari cara mereka berinteraksi, sepertinya mereka selalu senang dapat berbelanja pangan organik langsung di kebun organik, dan bisa berdiskusi tentang pertanian organik dengan pemilknya langsung. Bahkan pernah ada seorang konsumennya yang orang asing merasa cemburu dengan kehidupan Mas Hartono.
"Saya sudah bertemu dengan banyak orang kaya dan sukses, tapi saya tidak cemburu dengan mereka, kekayaan mereka dan kehidupan mereka. Saya justru cemburu dengan kamu dan kehidupanmu yang tenang, apa adanya dan bersahabat dengan alam."
Oh ya, saat si lelaki pengunjung itu datang ke kebun, dia sampai membuka sendalnya dan berjalan kesana-kemari nyekel seperti sang empunya kebun. Mereka bahkan melihat-lihat lokasi rumah pohon yang sangat teduh dan menenangkan.
Sebut saja Nona N, seorang langganan Mas Har yang setia

"Saya itu kan sempat membuka Gardening Class, biayanya 600 ribu per orang. Siswanya ya orang asing. Saya suka sekali kalau sedang Gardening Class. Dari seluruh jenis pekerjaan yang pernah saya jalani, bertani adalah pekerjaan yang paling saya nikmati. Makanya saya itu kalau sibuk di kebun sambil mendengarkan musik campursari, cocok sekali, membuat saya benar-benar senang dan menikmati pekerjaan saya," tutupnya. Lalu ia mencuci kakinya dengan air pancuran, dan menuju rumah pohonnya di mana Mbak Ryoko, istrinya menunggu. 

Saat itu matahari perlahan menuju ke Barat, terhalang rimbun pepohonan. Kebun sudah terlihat segar setelah disiram oleh Mas Har sebelum kami berpisah. Aku mulai menyisir kebun, memanen sejumlah sayuran dan herbal untuk kubuat menu makan malam,  menikmati tomat segar yang pecah di mulutku. Ah, rasanya begitu menyenangkan mendapatkan kesempatan menikmati langsung aneka panan sehat dan bergizi di Har's Garden. 
Beberapa jenis produk Har's Garden yang segar dan menggoda

A-Z BERTANI ORGANIK ALA HAR'S GARDEN
Bertani organik itu mudah dan murah, juga membantu menyelamatkan lingkungan dari kerusakan dari kerusakan akibat penggunaan bahan kimia yang digunakan dalam pertanian konvensional. Guru pertama dan utama dalam bertani organik adalah alam. Dengan emlihat alam, kita mendapatkan 3 pelajarana penting: 

Pertama, tanah telah memberikan nutrisi yang dibutuhkan setiap tanaman, baik unsur makro muapun mikro.  Yang perlu dipahami oleh seorang petani terkait tanah adalah kelembapan tanah, dan bagaimana mengelola tanah agar dapat memberi makan tanaman dengan unsur-unsur hara yang dimilikinya tanpa harus diberi pupuk kimia.

Kedua, tanaman harus beragam alias tidak boleh seragam. Keberagaman ini telah dicontohkan oleh alam semesta guna menjaga keseimbangan, termasuk menyangkut rantai makanan. Jadi, salah satu ciri pertanian organik adalah tanamannya yang beragam jenisnya. Contoh: untuk Har's Garden sendiri terdapat 50 jenis tanaman mulai dari sayuran, buah, herbal, hingga umbi-umbian di lahan kurang dari 1 hektar.

Ketiga, penggunaan bahan kimia justru akan merusak keseimbangan alam dan menyebakan penyakit pada tanaman. Dan pertanian organik adalah bertani tanpa menggunakan bahan kimia jenis apapun. Bertani organik adalah praktek pertanian yang murni bersahabat dengan alam.
Bunga-bungaan wajib ada lho di kebun organik, terlebih bunga yang bisa dikonsumsi

MARI MULAI BERTANI DENGAN GEMBIRA...

Pertama: siapkan lahan. Bolehlah ukurannya kurang dari 1 ha. Lahan awal boleh bekas sawah, bekas kebun karet atau dari lahan kosong. Bersihkan lahan dan mulailah mencangkul untuk membuat galengan. Karena kita tinggal di Indonesia yang beriklim tropis, maka ukuran ideal galengan adalah 0.5m x 3m (lebar 0.5m, panjang 3m) dengan tingkat kemiringan minimal 20 cm dari dasar galengan. Nah, jarak antara galengan satu dan lainnya cukup 30 cm dan harus dalam kondisi kering/tidak berair. Pemahaman soal ukuran ini penting untuk menjaga kelembapan tanah ahar tanaman tidak mudah terserang jamur.
Hartono Lokodjoyo baru saja memanen ubi manis, setelah semua umbi dikumpulkan dan sisa tanaman dibersihkan, kemudian ia mencangkul untuk membuat galengan baru. Nah, galengan baru ini dibuat dari 2 x 0.5 ukuran galengan lama, tujuannya untuk membantu sirkulasi udara dalam tanah. Setelah galengan baru terbentuk, kemudian disiram air dari siring, dan siap ditanami kembali oleh bibit baru selain ubi manis, misalnya kale atau tomat.

Kedua: pengairan. Ada dua hal tentang pengairan. Jika lahan bekas sawah, maka buatlah siring. Kuncinya: siring tidak boleh mengalir diantara dua bedengan karena akan merusak kelembapan tanah, melainkan buatlah dengan arah berlawanan. Misalnya: di Har's Garden, posisi bedengan itu memanjang dari arah Utara ke Selatan, dan aliran air siring menanjang dari arah Timur ke Barat. Posisi ini sangat ideal dalam proses penyiraman tanaman. 

Jika lahan jauh dari sumber air dan tidak siring atau sungai kecil di sekitarnya maka buatlah sumur bor dan embung buatan di tengah-tengah kebun. Konsepnya perpaduan antara sumur resapan wilayah pemukiman dan embung di wilayah pedesaan. Nah, embung dapat dibuat dari batu bata dan semen layaknya kita membuat kolam ikan, buatlah seluas 4x4m, dengan kedalaman 4 m. Buatlah sumur bor sedalam 10 meter ke dalam tanah ditengah-tengah embung, agar kelebihan air yang ditampung di embung meresap ke dalam tanah dan menjadi cadangan air didalam tanah, sehingga saat musim hujan air tidak terbuang. 

Ketiga: pembibitan. Dalam melakukan pembibitan, jangan sekali-kali merepotkan diri sendiri, membuang waktu, tenaga dan biaya. Buatlah pembibitan sesederhana mungkin dan murah meriah. 

1) Kenali jenis bibit: ada tiga klasifikasi bibit, yaitu: heirloom, hibrida dan Genetically Modified Organism (GMO). Bibit heirloom adalah bibit asli, yang diwariskan secara turun-temurun, yang penyerbukannya dilakukan secara terbuka tanpa campur tangan manusia. Bibit ini terus dijaga terus menerus kemurniannya hingga ratusan tahun. Kelebihannya: kualitas bibit ini sama dan dan memiliki rasa terbaik. Kekurangannya: masa tumbun dan penen lebih lama, dan petani harus bekerja ekstra untuk memeliharanya dari gangguan hama, bakteri dan virus. Benih jenis ini biasanya diwariskan dari masa ke masa, dan kualitas bibitnya tidak menurun, dan menghasilkan tanaman dan buah yang sama dengan generasi pendahulunya. 
Benih hibrida (bit) versus benih heirloom (butter nut squash dan kenikir merah muda)

Benih hibrida adalah benih hasil kawin silang untuk mendapatkan keunggulan tertentu. Biasanya bibit jenis ini mudah ditemui di pasaran atau toko pertanian karena memiliki kode tertentu dalam kemasannya. Misalnya benih tomat Indonesia dikawinkan dengan tomat Thailand demi mendapatkan tomat kualitas super yang diinginkan pasar. Kelebihannya: masa tanam cepat dan buahnya besar-besar. Kekurangannya: kita tidak bisa membuat bibit dari tanaman yang benihnya berasal dari benih hibrida. Jikapun kita berusaha membuat bibit, maka tanaman yang akan dihasilkan biasanya cacat. Jadi, ini benih sekali tanam.

Benih GMO alias benih yang genetikanya telah dimodifikasi secara genetis untuk menghasilkan benih keturunan super yang tahan terhadap penyekit tertentu. Benih ini steril sehingga tidak bisa dibibitkan dan sangat menguntungkan produsen benih, tapi merugikan petani dan lingkungan sekitar benih tersebut ditanam. Benih GMO yang beredar di Indonesia adalah jagung dan kedelai. Keberadaan benih ini, yang diproduksi oleh perusahaan multinasional menjadi perdebatan dunia internasional karena dianggap berbahaya baik bagi kesehatan manusia, maupun lingkungan hidup.

2) Pilihlah bibit terbaik: untuk memulai berkebun organik, sebaiknya pilihlah jenis bibit heirloom dan terbaik yang bersifat lokal. Karena tujuan dari bertani organik sendiri adalah praktek pertanian selaras dengan alam, maka tanaman yang dikembangkan sebaiknya tanaman lokal. Jikapun hendak menanam tanaman hibrida, usahakan pilihlah bibit terbaik dan komposisi jenih tanaman di kebun harus tetap lebih banyak bibit heirloom. 
Hartono Lokodjoyo memindahkan bibit ke "Polybag" ala Har's Garden yang terbuat dari kepalan tanah. Bibit yang ditabur dialam pot atau bedengan, akan dipindahkan ke "Polybag" khusus ini sampai tiba masa tanam.

3) Pembenihan:  pembenihan dapat dilakukan dengan biji atau stek. Jika dilakukan dengan biji maka cara paling murah adalah dengan menebar bibir di bedengan. Hanya saja resikonya sering diincar semut. Bisa juga ditabur di pot bunga yang telah diisi bubuk gergaji, dan resikonya adalah jamur. Setelah bibit mulai berkecambah dan muncul dua daun pertama, bibit bisa dipindahkan satu persatu ke "Polybag" khusus. Kalau ala Har's Garden sih dibuat dari kepalan tanah. Selain cepat, juga murah meriah dan mudah. Kalau bibit sudah siap tanam, ya tinggal di tanam di bedengan. Mudah, murah dan asyik, kan? 
Saat Hartono Lokodjoyo menanam bibit sawi di galengan baru. Nah, galengan ini baru saja dibuat dari dua galengan lama setelah panen ubi manis. Karena konsep bertani di Har's Garden adalah tanamlah tanah kosong tanpa perlu menunggu, maka setelah panen kita bisa langsung menanam di galengan baru. Tanah akan bekerja sesuai kodratnya saat ada tanaman diatasnya. Kuncinya: tanamlah jenis tanaman berbeda dengan tanaman sebelumnya. Misal: sebelumnya ubi, sekarang sawi atau tomat atau terong. Mudah, murah dan asyik, kan?

Tapi, jika dilakukan dengan stek cukup dengan memotong bagian ujung tanaman, sisakan dua helai daun saja, dan langsung tancapkan di tanah. Ada banyak tanaman yang pembenihannya melalui stek seperti bayam, kenikir, ubi manis, mint, ginseng jawa, daun kayu manis, rosella, dan sebagainya. Kalau singkong dengan menanam batangnya.

Keempat: pemeliharaan tanaman. Karena bertani organik tidak menggunakan bahan-bahan kimia, maka proses pemeliharaan tanaman juga tidak merepotkan dan tidak mahal. Hanya diperlukan komunikasi yang baik antara si petani dengan kebun organik miliknya, seperti seorang Ayah atau Ibu yang mengasuh anaknya. Misalnya, bedengan yang sudah dipenuhi rumput ya dibersihkan jika waktunya tiba. Atau dilakukan penyiangan tanaman dengan segera jika ada tanaman gagal tumbuh dan mati.
Hartono Lokodjoyo melakukan pembersihan bedengan dan penyiangan tanaman kale
Hartono Lokodjoyo memangkas daun atau batang tanaman yang terserang hama, agar tidak mengganggu tanaman lain yang dalam kondisi sehat. Ada jenis hama yang memakan zat hijau daun dan membuat daun menguning.

Bentuk pemeliharaan tanaman yang lain adalah penyiraman. Kalau ala Har's Garden sih tanaman dapat disiram kapan saja, tidak perlu menunggu waktu tertentu. Yang penting metode penyiramannya diserupakan dengan siraman air hujan sehingga yang tersiram bukan hanya tanah di sekitar tanaman, melainkan satu bedengan penuh. Saat musim hujan, penyiraman secukupnya saja dan biasanya tanaman dilindungi oleh plastik putih agar kelembapan tanah tetap terjaga dan air tidak masuk ke bedengan. 
Perlindungan tanaman dengan menggunakan plastik putih saat musim penghujan. Foto: Hartono Lokodjoyo

Keempat: pemanenan. Proses selanjutnya adalah pemanenan. Dalam praktek pertanian organik ala Har's Garden, pemanenan ditujuan untuk dua hal, yaitu konsumsi keluarga dan dijual. Jika untuk konsumsi keluarga, beberapa jenis tanaman dipanen dengan cara dipetik daunnya per helai atau per buah. Misalnya: sawi, kale, bayam, mint, kemangi, kenikir, daun ubi manis, daun kayu manis, dan sebagainya. Jika untuk dijual bisa dipanen dengan cara dicabut per batang. Misalnya: sawi, kale, pakcoy, selada dan sebagainya. Sawi yang pemanenanya tidak dicabut, dalam waktu 50 hari akan menghasilkan bunga dan buah calon bibit. Bunganya bisa dikonsumi untuk bahan salad, lalapan atau tumisan, sementara bijinya bisa kita tunggu sampai kering untuk dibuat cadangan bibit.  

Untuk konsumsi keluarga, sebaiknya pemanenan dilakukan menjelang kegiatan memasak atau mengolah agar kesegarannya terjaga.   Sementara jika untuk dijual lagi, sebaiknya dipanen saat konsumen telah tiba di kebun atau menjelang waktu mengantarkannya ke langganan, misal kafe, hotel, pusat perbelanjaan dan sebagainya. 
Panen untuk konsumsi keluarga dengan cara memetik per helai daun. Tanaman jadi awet

Kelima: pengolahan. Setiap orang memiliki caranya dan kesukaannya sendiri dalam mengolah dan menikmati makanan. Nah, selama belajar di Har's Garden, aku mulai belajar dan menikmati teknik mengolah makanan dengan konsep berbeda. Misalnya dengan dibuat salad alias si sayuran dan herbal dimakan mentah layaknya lalapan, tapi bukan untuk lalapan. Salad sayuran ala Har's Garden ini unik karena terdiri dari kombinasi umbi, sayuran, dan herbal yang biasanya jumlahnya lebih dari 15 jenis.
Salad sayuran ala Har's Garden: terdiri dari beberapa jenis sayuran seperti dua macam selada, krokot, ginseng jawa, bunga corriander dan sawi, pucuk daun ubi, daun kayu manis, mint, buah bit dan tempe goreng bumbu rempah. Makan nggak pakai nasi dijamin kenyang, sehat, bergizi tinggi dan membuat cantik.

Menu salad sayuran dan tempe goreng tepung diatas adalah satu dari sejumlah varian menu yang biasa disajikan sebagai sarapan pagi bagi tamu yang menginap di Har's garden Tree Houses. Hah, ternyata Har's Garden punya rumah pohon juga? Iya dong, ini salah satu bentuk kecerdasan seorang petani bernama Hartono Lokodjoyo dalam memasarkan produk pertaniannya dengan harga tinggi! Dan, menurut Mas Har nih ya, setiap petani bisa banget mengumpulkan rupiah dengan cara menjual jasa penginapan berupa rumah pohon di lokasi kebun miliknya. Ide yang keren kan untuk konservasi lahan pertanian sehingga mampu meminimalisir menjamurnya bangunan berbasis semen? 

-Oke, kalau penasaran silakan tunggu pembahasanku tentang Har's Garden Treen Houses di tulisan berikutnya ya-
Ini adalah salad buatanku. Kata Mas Har tampilan salad ini tidak menarik dan kebanyakan. Kalau disajikan ke tamu akan terlalu mengenyangkan, dan boros dressing. Aku kan suka salad banyak dressingnya, enak.

Gimana, bertani organik ala Har's Garden mudah dan murah kan? Ternyata kunci sukses Mas Har adalah karena ia sangat menikmati profesinya sebagai petani. Kemudian, niatkanlah bertani sebagai proses kebaikan antara alam dan manusia. Jika sebagai petani kita ingin menikmati pangan yang sehat dan bebas bahan kimia, demikian juga dengan orang lain. Oleh karena ini menjadi petani merupakan profesi mulia.
"Kalau lagi Gardening Class itu saya yang menikmati dan bahagia. Lagipula profesi petani organik saat ini kan sangat sedikit, sementara pertambahan jumlah penduduk dunia semakin meningkat, secara otomatis kebutuhan pangan kan meningkat juga. Jadi, saya mengambil peluang ini untuk membangun dunia pertanian yang sehat, menjawab tantangan soal permasalahan lingkungan dan pertanian, juga untuk menunjukkan kalau untuk sukses kita nggak harus menjual lahan pertanian untuk dijadikan kafe, hotel dan sebagainya. Cukup bangun saja rumah pohon yang pelayanannya berstandar hotel. Uang melimpah di dapat, lingkungan tidak rusak dan pelanggan kita bahagia karena mendapatkan pelayanan dan makanan yang unik lagi sehat."
Lelaki yang bangga menunjukkan dirinya sebagai petani eksentrik dan kece ini juga menceritakan bahwa di masa depan ia ingin kembali ke kampung halamannya di Sragen, kemudian membangun pusat pebelajaran pertanian organik. Ia bermimpi membalik keadaan di masa lalunya yang merasa rendah diri sebagai petani, kini menjadi bangga bagai seorang bangsawan. Bahwa menjadi petani itu mengagumkan. 
Hartono Lokodjoyo dan istrinya, Ryoko Mine dalam pemotretan post wedding. Si Mas Har nggak terlihat sebagai petani, bukan? Sumber: Hartono Lokodjoyo

Ya, dunia sudah berubah banyak
Profesi petani menjadi langka 
Ini peluang emas untuk kita semua
 
Akankah kita mengambil kesempatan itu untuk menyelamatkan dunia dari kelaparan dan lingkungan hidup dari kehancuran akibat praktek pembangunan yang tidak berkelanjutan? 

Depok, 3 Oktober 2018

Taman bunga corriander, enak buat salad dan bumbu ayam goreng lho. Foto: Puput Dyah

DISCLAIMER

1. Seluruh konsep tentang pertanian dalam tulisan ini berasal dari proses pembelajaran, diskusi, wawancara dan praktek langsung di Har's Garden

2. Jika pembaca memiliki pertanyaan terkait praktek pertanian organik, silakan tulis di kolom komentar ya. Nanti pertanyaannya kusampaikan ke Mas Har untuk beliau jawab. 

3. Karena tulisan ini merupakan embrio sebuah buku tentang pertanian organik, aku mau tanya nih sama pembaca: apakah melalui tulisan ini pembaca mengerti tentang pertanian organik dan berminat menjadi petani organik? Jika tulisan ini sulit dimengerti, mohon masukannya ya (silakan tulisan masukan pembaca di kolom komentar) Karena untuk penulisan buku, kita ingin yang mudah dimengerti pembaca sehingga bahasanya harus sederhana dan mudah dipahami. Tulisan ini semacam eksperimen awal hehe.

4. Mau main ke Har's Garden? Boleh banget. Kontak aja pemiliknya via FB: Hartono Lokodjoyo



8 comments

  1. Menurutku cara bertutur enak mba. Bahasanya sederhana dan mengalir. Mudah dipahami.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ety, terima kaish sudah mampir. Alhamdulillah, senang kalau tulisannya bisa dipahami

      Delete
  2. Waaaah kereeeen bangeeet mbak, terus di akhir aku kepincut sama " bunga corriander, enak buat salad" Baru tauuuuuu looh oooo

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hi Revi, terima kasih sudah mampir. Iya nih itu juga pengalaman pertama kali. Awalnya sih meras agimana gitu, eh beberapa hari kemudian merasa tuh daun dan bunga corriander enak juga haha

      Delete
  3. Seneng bacanya, jadi makin semangat buat bercocok tanam. Aku masih punya lahan yang cukup luas dan nganggur. Kayaknya bisa niru mas Har nih buat bertani organik. Biar bisa bikin salad dari hasil kebun sendirii. Ooh senangnyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Ika Puspita, terima kasih sudah mampir. Hayuk atuh kita mulai berkebun organik meski di lahan kecil. Percaya deh makan dari hasil kebun sendiri rasanya nikmat luar biasa.

      Delete

follow me on instagram