Yayoi Kusama: Menyulap Trauma Masa Kecil Menjadi Seni Kontemporer Berkelas Dunia

Pemandangan di salah satu sudut Museum MACAN saat pameran karya Yayoi Kusama

"My art originates from hallucinations only I can see. I translate the hallucinations and obsessional images that plague me into sculptures and paintings. All my works in pastels are the products of obsessional neurosis and are therefore inextricably connected to my disease. I create pieces even when I don’t see hallucinations, though.”

- Yayoi Kusama-

Setelah berhasil mencari-cari waktu luang, akhirnya pada 4 September kesampaian juga dong mengunjungi pameran karya seniman Jepang bertajuk "Yayoi Kusama: Life is The Heart of a Rainbow" di Museum MACAN (Museum of Modern and Contemporary Art of Nusantara) di bilangan Kebon Jeruk, Jakarta. Pameran ini menghadirkan lebih dari 130 karya seniman eksentrik tersebut yang dibuat sepanjag 70 tahun. Kabarnya, pameran ini sendiri diorganisir oleh National Gallery Singapore dan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, Brisbane, Australia yang berkolaborasi dengan Museum MACAN.  

Nah, Museum MACAN merupakan museum baru yang sedang menarik perhatian publik karena kehadirannya menjadi warna tersendiri diantara museum-museum lain yang telah lama berdiri di Jakarta. Koleksinya berfokus ke seni modern dan kontemporer dari seniman Indonesia dan dunia, dan pastinya digawangi seniman-seniman muda berkelas dunia. Gemes-gemes gimana gitu deh karena kini Indonesia memiliki museum super keren yang mampu memikat anak muda untuk semakin meminati dan mencintai seni.

SIAPA SIH YAYOI KUSAMA? 
Perempuan eksentrik ini merupakan seniman kontemporer Jepang di bidang pematungan dan instalasi yang paling berpengaruh di dunia. Karyanya yang lain meliputi seni lukis, seni pertunjukan, film, mode, syair, fiksi dan lain-lain. Karya-karya Yayoi Kusana beraliran konseptual yang membawa unsur feminisme, minimalisme, surealisme, Art Brut, seni populer, dan ekspresionisme abstrak. Uniknya lagi nih, karya-karyanya ini dipadukan dengan konten otobiografi, psikologi, dan seksual. Perjalanan hidupnya dan karya-karyanya sangat mengagumkan sebagai bagian dari kritik sosial, sekaligus memperlihatkan sisi rapuhnya sebagai manusia yang mungkin imajinasinya begitu tak terbatas (baca disini).
Yayoi Kusama di usia senja (sumber: artguide.com.au)

Melihat karya-karya Yayoi memang seperti ditarik masuk kedalam dunia entah berantah, yang sama sekali berbeda dengan imajinasi banyak seniman. Karya seni ciptaan Yayoi ternyata sangat erat hubungannya dengan kondisi kejiwaannya, di mana sejak usia 10 tahun ia kerap mengalami halusinasi, yang merasa bahwa pandangannya terhalangi oleh pola 'dots' dan 'nets'
Untuk menolong dirinya sendiri dari halusinasi berkepanjangan, Yayoi menggunakan seni sebagai alat meditasi. Termasuk sebagai alat pemberontakan pada kedua orangtuanya yang melarangnya melukis, sebab ia memang mencintai seni. 
Jepang dikenal sebagai bangsa yang konservatif dan pada tahun 1940an negara itu memang sedang mengalami masa-masa sulit akibat Perang Dunia II, terutama setelah kota Nagasaki dan Hiroshima porak-poranda oleh bom atom yang dijatuhkan tentara sekutu. Kehidupan keluarga dan sosial menjadi sulit, sehingga berpengaruh pada kondisi psikis Yayoi kecil. Ia mengalami gangguan mental yang disebut Rijinsho, dimana ia kerap mengalami halusinasi, dimana selalu ada aura antara dirinya dan objek di sekitarnya, termasuk binatang atau bunga yang berbicara kepadanya. Ia memilih menggambarkan halusinasinya melalui gambar, meski dilarang keras orangtuanya melukis, karena pada masa itu menjadi seniman merupakan pilihan ngawur, sangat tak sesuai dengan kebutuhan sosial sebuah masyarakat yang keras akibat perang.
Dinding Perjalanan Hidup Yayoi Kusama dan bunga dalam imajinasinya (foto: Pengunjung B)

Keseriusan Yayoi dalam seni membuatnya meninggalkan Jepang menuju Amerika Serikat pada 1957, saat ia masih berusia 27 tahun. Ia pergi ke Amerika bukan hanya untuk membesarkan seninya karena menurutnya seni barat lebih bebas, juga untuk melepaskan diri dari budaya Jepang yang menurutnya feodal dan merendahkan perempuan

Bahkan, karya seninya selalu bernuansa seksual yang berangkat dari pengalaman masa kecilnya di mana ia menyaksikan ibunya menjadi korban kekerasan ayahnya yang suka berselingkuh. Pada masa kecilnya itu, sang ibu kerap meminta Yayoi memata-matai ayahnya yang sedang berselingkuh sehingga ketika dewasa ia tidak tertarik pada hubungan seksual, dan karya-karya seninya seakan mengungkapkan bahwa ia manusia aseksual. 

Selain itu, karena ia benci perang, ia mencoba menggunakan karya sebagai alat kampanye perdamaian universal. Pada 1960an misalnya ia dan rekan-rekannya membuat pameran dadakan di Jembatan Broklyn dan Central Park, yang pesertanya seluruhnya telanjang, sebagai salah satu upaya menentang Perang Vietnam. Berbagai upaya Yayoi dalam melakukan kritik sosial melalui seni membuahkan hasil dan pada masa itu ia merupakan satu-satunya seniman Jepang yang diterima di dunia internasional (baca disini).

Foto oleh: Pengunjung C
Kesuksesannya sebagai seniman level internasional ternyata tidak membantunya sembuh dari halusinasi. Semakin dewasa, kondisinya semakin memburuk dan akhirnya ia didiagnosis menderita sejumlah masalah kejiwaan, yaitu: bipolar disorder, obsessive compulsive disorder, schizophrenia hingga Basedow’s disease.  

Pada 1977, setelah ia kembali ke Jepang dan berkarya di tanah airnya sendiri ia dengan sukarela memeriksakan dirinya di sebuah rumah sakit jiwa Seiwa, di Tokyo dan tinggal disana secara permanen untuk membantu menyembuhkan halusinasinya. Ia bahkan membangun studionya tak jauh dari rumah sakit yang telah menjadi rumahnya. Makanya nggak heran dalam kunjunganku ke pameran ini,  sejumlah pengunjung sempat menertawakannya sebagai seniman gila. 

Dan memang sih, karya-karyanya yang serba polkadot berasal dari halusinasi yang dialaminya seperti kilatan cahaya, aura warna-warni, pola polkadot, hingga bunga yang seakan-akan bicara padanya. Mungkin karena ia memiliki masalah kejiwaan akut, karyanya menjadi indah, berbeda dengan karya seniman-seniman waras yang cenderung tidak menggigit dan kurang radikal (baca disini).

Karya Yayoi memang luar biasa. Yang paling terkenal adalah "Infinity Mirrored Room: Gleaming Lights of the Souls" yang membuatnya didapuk sebagai seniman perempuan Asia pertama yang mengedepankan pop-kontemporer di tahun 1960an, dan tentu saja kemampuannya melampuai genre seni yang sedang naik daun saat itu. Karena karyanya itu, Yayoi menjadi seniman perempuan paling laris dan karya-karyanya telah dipamerkan di banyak museum di seluruh dunia. Meski kita di Indonesia termasuk sangat telat dalam menghadirkan karya Yayoi, tak apa. Karena pada akhirnya karya seni akan menemukan jalan untuk sampai pada penikmatnya. Beruntung ya kita di Indonesia sempat menjadi satu dari sjeumlah dunia yang menggelar pameran karya Yayoi Kusama yang indah.

Ternyata nih, Yayoi juga memiliki minat di bidang mode dengan mendirikan brand sendiri pada 1960an, termasuk melakukan gerakan sosial memadukan fesyen dan seni. Tepatnya pada tahun 1968 dia mendirikan Kusuma Fashion Company Ltd, lalu pada 2009 ia merancang ponsel berbentuk tas tangan tentu saja dengan bintik-bintik alias polkadots yang menjadi ciri khasnya, dan hanya untuk 1.000 unit saja. Tahun 2011 ia merancang karya seni khusus untuk enam edisi khusus Lipgloss milik brand Lancome dan membuat rancangan awal berbagai produk spesial bekerja sama dengan brand ternama Louis Vuitton. Produk tersebut laris manis saat diluncurkan pada 2012 hingga enam toko dibuka secara dadakan untuk memenuhi minat pembeli (baca disini, disini).
Seorang pengunjung menikmati dinding perjalanan hidup dan karir Yayoi Kusama di Museum MACAN
"Flower That Bloom at Midnight" alias si bunga dalam imajinasi Kusama, bunga berkaki empat
Entah ini sepasang kekasih atau adik kakak, tapi si Mbak berbaik hati memotretku juga
Potongan salju yang putih membuat hati merintih perih
Ini ruangan favoritku dengan karyanya yang apik tapi menggelitik, membawa ke kenangan masa kecil
Karya di ruangan "Love Forever" ini sangat ajaib dan menggelitik
Seri "My Eternal Soul" yang penuh warna merupakan koleksi lukisan Yayoi Kusama yang terbaru

Inilah sejumlah gambar terpilih dari kunjunganku ke pameran karya Yayoi Kusama yang melegenda di Museum MACAN. Rasanya belum puas sebab hari itu pengunjung lebih banyak berfoto daripada menikmati karya seni yang disediakan. Bahkan untuk di spot tertentu, sama sekali nggak bisa melakukan meditasi karena batas waktu yang diberikan pihak museum hanya 1 menit, benar-benar demi keperluan foto. Bahkan ada sepasang kekasih dengan si perempuan berdandan begitu stylish yang serasi dengan wajah imutnya yang menggemaskan, justru menjadikan si cowok sebagai instagram boyfriend. Sewaktu kami mengantri untuk masuk ke ruangan lain, aku kepoin tuh HP di cewek dengan koleksi foto yang sangat banyak dan tentu saja keren. Asyik juga punya cowok jadi foto, kalau kemana-mana kenangan indahnya dobel baik di momen maupun di foto hehe. 

RUANG SEKSUALITAS
Dalam pameran di Museum MACAN, ada satu ruangan yang hanya boleh dimasuki oleh pengunjung yang berusia diatas 18 tahun, termasuk dengan larangan memotret atau mengambil video. Didalamnya dipamerkan sejumlah koleksi yang bukan lukisan, melainkan berbagai foto atau potongan koran saat Yayoi Kusama dan teman-teman aktivisnya melakukan berbagai gerakan protes dalam kondisi telanjang. Salah satunya flyer berjudul "Body Festival" bertarikh 1967.
Yayoi Kusama dan mode eksentriknya pada tahun 1967 (sumber: dazeddigital.com)
Sebagai seniman eksentrik dan radikal kelas dunia, Yayoi Kusama memang nampak memadukan antara tubuh dan karya-karyanya. Di mana tubuh manusia memiliki kedudukan sentral dalan karya-karyanya, yang bahkan menunjukkan kesatuan antara sang seniman dan karyanya, dan menjadi salah satu bentuk pendekatannya dalam berkarya. 

Antara tahun 1960-1970an, ia melebarkan karyanya dari lukisan dan patung ke serangkaian kegiatan "Happening" di berbagai lokasi di Amerika dan Eropa. Happening sendiri merupakan karya dalam bentuk protes dan perayaan, yang dilatarbelakangi pengalamannya sebagai anak-anak yang hidup dalam suasana perang, yang juga dikenal sebagai perpaduan seni dan aktivisme untuk mendorong perdamaian dunia.

Ada banyak sekali dokumentasi mengenai gerakan "Happening" ala Yayoi Kusama dan rekan-rekannya, tapi ya nggak aku masukkan disini lah, khawatir tulisan ini kena libas trus aku diciduk Pak Polisi. Soalnya, gerakan ini tuh benar-benar berisi ketelanjangan sebagai protes sosial dan Yayoi Kusama melukis pola polkadots di tubuh para seniman.  Tapi, kalau pembaca penasaran ya monggo langsung melakukan pembelajaran virtual mandiri saja via sejumlah link berikut ya: disini, disini, disini, disini, dan disini
Foto oleh: Pengunjung B

Aku belajar banyak dari kisah hidup dan perjalanan karir perempuan yang sebentar lagi berusia 90 tahun ini, bahwa masalah apapun yang terjadi dalam diri dan hidup kita bukanlah akhir dari segalanya. Karya seni bahkan diakui Yayoi Kusama menyelamatkan dirinya dari kemungkinan bunuh diri karena bagaimanapun halusinasi berkepanjangan tentu sangat mengganggu. Dan trauma masa kecil yang terus menerus menerornya sampai membuatnya menjadi perempuan aseksual, bukanlah perkara sederhana. Peristiwa tersebut pastilah sangat mengguncang batinnya.


Selain itu, upaya Yayoi bertahan hidup melalui seni memberiku semangat baru, bahwa karya seni tidak hanya sekadar produk pajangan yang indah dipandang mata. Seni dapat menjadi cara untuk melakukan meditasi, berdamai dengan diri sendiri, menenggelamkan diri ke dalam dunia serba tidak terbatas bernama imajinasi. Bahkan, melalui metode tertentu seni dapat digunakan sebagai media mempromosikan keadilan sosial dan perdamaian dunia. Ah, dunia yang damai dan tanpa perang begitu indah bagai di surga, bukan? 

Bali, September 2018

8 comments

  1. bagus ya museum macan sayang wkt itu saya gk sempet2 mau kesana rame terus !

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Riza, terima kasih sudah mampir. Iya, namanya juga Museum untuk menampilkan koleksi seni modern dan kontemporer.

      Delete
  2. Bisa indah gitu yaaa.. luar biasaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Icha, terima kasih sudah mampir. Iya, karya-karyanya eksentrik, unik, melampauai batas, meneenggelamkan ego, mengajak kita mengangkasa pada imajinasi tak terbatas, dan tentu saja membuat terkagum-kagum saking indahnya.

      Delete
  3. Karya2nya lucu, dia merubah penderitaan menjadi karya yg indah, kita bisa menyarankan orang2 yg bermasalah kejiwaan untuk menyalurkannya kebidang seni mungkin bisa meredakan keluhNannya syukur2 bisa menyembuhkan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ina, terima kasih sudah mampir. Sebenarnya setiap orang berkemungkinan memiliki masalah kejiwaan atau mental. Hanya saja, sedikit saja yang iklhas mengakui dan mempublikasikannya. Padahal masalah kejiwaan dan mental dampaknya bisa berbahaya bagi kehidupan. Bahkan lho, kita bisa mengenali masalah kejiwaan dan mental yang kita alami sendiri dengan mengingat-ingat bagaimana perlakuan keluarga dalam membesarkan kita.

      Delete
  4. Ketika menulis Phi, saya diberitahu seseorang kalau saya keliru. Katanya, tidak mungkin ada penderita bipolar yang sekaligus menderita schizophrenia. Saya mengernyitkan dahi karena memiliki pendapat berbeda.

    Tulisanmu membuatku merasa benar. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mas Pringadi, terima kasih sudah mampir. Orang bilang masalah mental dan kejiwaan itu sebagai penyakit, sehingga mereka diperlakukan tragis. Padahal mereka hanya melihat dan mengalami apa yang tidak dilihat dan dialami orang lain, yaitu sesuatu diluar kelaziman yang dapat dicapai oleh panca indra.

      Delete

follow me on instagram