Enam Belas Jam Belajar NVIVO 12 Plus Bersama Dosen Universitas Hasanuddin, Makassar

Aku dan para dosen kece dari Universitas Hasanuddin, Makassar (foto: Bumi Wiyata Hotel)



Diantara banyak profesi mengagumkan di dunia ini adalah menjadi akademisi sekaligus peneliti. Sudah punya gelar akademis nan keren, kedudukan sosial tinggi, kesempatan kerja terbuka lebar, dihormati anak-anak muda haus ilmu pengetahuan, hingga bisa jalan-jalan keliling dunia sebagai peneliti atau dalam rangka mengikuti berbagai konferensi bergengsi. Belum lagi orang-orang dengan profesi ini mendapat tempat mulia di sisi Tuhan karena ilmu yang mereka bagikan dan kesediaan mereka mendidik generasi bangsa menjadi cerdas dan berdaya saing. 

Namun, dibalik nama besar itu profesi dosen sekaligus peneliti ini menggunung lho. Salah satu tugas akademis seorang dosen adalah melakukan penelitian. Bukan saja untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat, juga untuk meningkatkan kualitas para pendidik di tanah air. Hasil penelitian para dosen biasanya dipublikasikan dalam jurnal, baik jurnal milik kampus tempat sang dosen mengajar, atau jurnal nasional dari suatu lembaga tertentu, hingga jurnal internasional bergengsi yang terindeks SCOPUS, pangkalan data pustaka yang mengandung abstrak dan sitiran artikel jurnal akademik. Pangkalan data yang dimiliki oleh Elsevier, yang merupakan salah satu penyedia informasi ilmiah, teknis, dan medis terbesar di dunia dan perusahaan teknologi yang didirikan tahun 1880. Produk-produknya seperti jurnal The Lancet dan Cell, koleksi jurnal elektronik ScienceDirect, seri jurnal Trends dan Current Opinion, dan pangkalan data sitiran daring Scopus membuat Elsevier mampu menerbitkan sekitar 400.000 artikel dari 2.500 jurnal. Sementara itu Elsevier juga menyimpan lebih dari 13 juta dokumen dan 30.000 buku elektronik. 

Menjadi dosen itu nggak mudah lho. Beban kerja yang tinggi ditambah urusan administrasi yang ribet membuat mereka harus mengorbankan waktu jika hendak melakukan penelitian. Apalagi gaji dosen kecil lho, nggak sebanding dengan beban kerja dan tuntutan profesionalitas di dunia akademisi yang di mata publik begitu mentereng dan mulia. Bahkan, banyak yang menganggap bahwa menjadi dosen dan peneliti bisa kaya raya. Meski sebenarnya para dosen ini jungkir balik dalam menjalankan tugasnya. Kalau aku mah nggak sanggup jadi dosen hehehe...

Bagi seorang dosen, melakukan penelitian itu sangat penting. Apalagi kalau misalnya hendak naik tingkat menjadi guru besar, apalagi Professor. Hasil penelitian para dosen ini harus diterbitkan dalam jurnal internasional terindeks Scopus dan namanya dikenal dunia sebagai peneliti berkualitas. Untuk menjadi seorang Professor harus melakukan sebuah penemuan atau paten. Nah, kalau para Professor ini berhenti berkarya sesuai tugasnya yang ditetapkan pemerintah, maka segala tunjangan untuknya akan dihentikan dan sang Professor sendiri akan dikenal sebagai Professor tidak berkualitas alias "Professor Titel". Padahal untuk bisa menerbitkan sebuah hasil penelitian di Jurnal Internasional, para peneliti harus membayar mahal hingga ratusan USD per 1 karya ilmiah. Udah capek banget meneliti, menuliskannya dalam bahasa Inggris, harus pula bayar mahal. Ternyata kompleks banget ya profesi dosen. Tuntutannya selangit.  

Mengapa dosen atau bahkan Professor malas meneliti sehingga nirkarya? Salah satu jawabannya adalah karena melakukan penelitian itu sangat melelahkan, menyedot energi dan waktu hingga dana tak sedikit! Apalagi kalau pengolahan data penelitian yang bergunung-gunung diolah secara manual. Oleh karena itu, sangat penting bagi dosen dan peneliti di Indonesia untuk terus update informasi bagaimana caranya membuat proses penelitian menjadi mudah dan tidak memakan banyak waktu. Dan di zaman digital seperti ini, dunia penelitian terus mengalami kemajuan termasuk diciptakannya aplikasi pengolahan data untuk memudahkan para peneliti mengelola data penelitian yang menggunung. Salah satu aplikasi yang dikembangkan dan mulai banyak digunakan adalah NVivo. 

SELAYANG PANDANG APLIKASI NVIVO
NVivo merupakan satu aplikasi atau sofware yang digunakan untuk melakukan pengelolaan dan analisa data kualitatif. Terlebih apabila data yang dihasilan proses penelitian sangat banyak, dengan jenis dan sumber data yang beragam. Aplikasi ini dikembangkan pertama kali oleh Tom Richards di Universitas La Trobe, Melbourne, Australia yang kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh istrinya, Lyn Richards sebagai aplikasi untuk penelitian ilmu sosial. Pada tahun 1995 barulah keduanya membangun QSR International dan merilis versi pertama NVivo pada 1999. Perjalanan panjang penyempurnaan aplikasi ini dilakukan oleh QSR International dengan melakukan kerjasama dengan berbagai kampus dan perusahaan besar di seluruh dunia. Perjalanan panjang tesebut akhirnya membuahkan hasil manis dimana pada Maret 2018 perusahaan tersebut merilis versi terbaru yaitu NVivo 12 yang dapat mendukung pengelolaan data riset metode campuran (kualitatif dan kuantitatif). 


Bagaimana NVivo bekerja dan memudahkan peneliti mengelola dan menganalisa data penelitian? Tentu saja harus belajar menggunakan aplikasi tersebut. Tetapi, salah satu syarat menggunakan aplikasi ini adalah bahwa kita memang paham dan biasa melakukan penelitian baik kuantitatif maupun kualitatif, atau metode campuran. Karena pemahaman kita soal data yang sedang diolah yang akan menentukan apakah pengelolaan data yang kita lakukan menggunakan NVivo benar atau salah. NVivo adalah aplikasi, sebuah alat bantu. Inti dari kegiatan pengolahan data ini tetap terletak pada pemahaman sang peneliti atas data miliknya sendiri.

KALI INI KELAS YANG CERIA
Nah, dalam rangka membantu mempopulerkan aplikasi Nvivo di Indonesia, aku dan teman-temanku membuat pelatihan pengelolaan data riset kualitatif dan metode campuran menggunakan aplikasi NVivo 12 plus, alias versi terbaru. Sebagai periset kualitatif, aku dan teman-temanku sadar bahwa saat ini para akademisi dan peneliti di Indonesia cukup mengalami kesulitan dalam meningkatkan kualitas mereka khususnya menelurkan hasil penelitian karena melakukan penelitian itu melelahkan. Tujuannya untuk membantu peneliti mengenal dan kemudian menggunakan aplikasi ini, sehingga performa mereka dalam dunia penelitian meningkat signifikan. 

Untuk kali kesekian pelatihan yang aku dan teman-temanku lakukan, yang terbaru adalah 90% pesertanya merupakan dosen bergelar Doktor dan Professor dari Universitas Hasanuddin, Makassar. Saat mengetahui identitas mereka, aku dan teman-temanku sempat deg-degan, khawatir bahwa performa kami dalam menjadi fasilitator tidak optimal. Kemudian satu orang lainnya merupakan dosen dari Universitas Muslim Indonesia dan satunya lagi seorang kandidat Doktor dari sebuah universitas di Jepang. Terlebih, aku harus berpacu dalam melodi saat mengurus segala printilan persiapan dan proses pelatihan. 

Bagaimana rasanya memfasilitasi pelatihan para dosen bergelar Doktor dan Professor? Sumpah, aku deg-degan sekali. Meski kemudian aku berusaha membuat suasana cair dengan melemparkan sejumlah lelucon dikala rehat atau mempersilakan mereka ngemil dan menkmati secangkir kopi. 

Mengenalkan Areopagus Indonesia, lembaga riset tempatku kini berkarya
Eh ternyata masih bisa ketawa-ketiwi ditengah pembelajaran yang kompleks dan menegangkan
Serius banget nih pesertanya

Serius level dewa
Inilah wajah serius para kandidat Doktor, Doktor dan Professor saat belajar Nvivo 12 plus
SINAR TERANG DUNIA PENELITIAN
Satu harapan baru terbangun setelah kegiatan pelatihan selesai, bahwa kedepan kami harus mensosialisasikan kegiatan ini lebih kencang lagi. Bukan semata-mata ingin sukses menyelenggarakan sebuah kegiatan secara profesional, melainkan juga ingin sekali membantu meringankan beban kerja para peneliti tanah air agar mereka semakin giat menelurkan karya dan dikenal dunia internasional sebagai peneliti produktif. 

Hayuk Akang belajar NVivo dengan Neng Ika (foto: Bumi Wiyata Hotel)
Nah, bagi teman-teman yang ingin mengikuti pelatihan penggunaan aplikasi NVivo 12 plus, silakan kontak aku di email: wijatnikaika@gmail.com atau langsung ke website areopagusindonesia.com. Mudah-mudahan kita dapat bekerjasama dalam memajukan dunia penelitian tanah air.  

Depok, 3 September 2018 

LET'S JOINT THE NEXT CLASS


Wijatnikaika Official

1 comment:

PART OF

# # # # #