5 Strategi Pencegahan Stunting: Menyelamatkan Bonus Demografi 2030

Anak-anak generasi masa depan (sumber: viva.co.id)

 STUNTING. Kata aneh yang sedang tren nih sampai Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla langsung turun tangan. Bahkan memandatkan kepada 13 Kementerian/Lembaga untuk 'mengeroyok'  stunting di 160 Kabupaten/Kota Prioritas. 

Demi apa coba?

SEJAK DARI RAHIM IBU
Sepertinya, sejak dalam kandungan Ibu setiap anak Indonesia diberi tahu bahwa negerinya begitu subur makmur hingga dikenal dunia sebagai Jamrud Khatulistiwa. Bahkan karena kesuburan tanahnya yang tiada tandingannya di muka bumi, tersebutlah analogi terkenal di mana tongkat kayu dan batu saja bisa jadi tanaman. Karenanya, setiap anak yang lahir di tanah yang gemah ripah loh jinawi ini adalah anak yang diberkati Tuhan, sebab begitu lahir langsung menikmati keindahan dan kemakmuran secuil surga di bumi, yang membuat bangsa-bangsa lain di dunia cemburu. Nah, hidup di tanah semacam ini secara otomatis menyediakan kemakmuran tidak terhingga. Semua tersedia dengan mudahnya mulai dari kebutuhan sandang, pangan dan papan. Indah sekali ya ditakdirkan sebagai manusia Indonesia. 

Eits! Jangan senang dulu. Karena ternyata anugerah Tuhan berupa negeri yang subur makmur dengan kekayaan di darat dan laut yang melimpah ini tidak serta merta membuat seluruh rakyat Indonesia sejahtera serta terbebas dari masalah. Ada satu masalah yang dibawa oleh sebagian besar orag Indonesia sejak dari rahim ibu. Masalah ini sangat kompleks dan ruwet seperti benang kusut, karena merupakan warisan sejak puluhan tahun silam: ANAK INDONESIA MENGALAMI STUNTING!

Berikut adalah definisi stunting, mengacu pada Kementerian Kesehatan, yaitu: 
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga ia lebih pendek dari anak seusianya. Stunting diawali oleh kekurangan gizi kronis sejak dalam rahim ibu dan baru dapat dideteksi saat anak berusia 2 tahun. Stunting disebabkan oleh empat faktor utama, yaitu 1)praktek pengasuhan yang tidak baik; 2) kurangnya akses ibu hamil dan balita ke makanan bergizi; 3) terbatasnya akses kepada/dan layanan kesehatan; dan 4) kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.
Nasib buruk para balita penderita stunting diawali oleh kurangnya pemahaman ibu dan ayah dalam mempersiapkan dan menjalani masa kehamilan, alias asal hamil dan asal punya anak! Karena  pada dasarnya, sejak konsepsi di rahim ibu si calon bayi membutuhkan nutrisi tinggi dari tubuh ibu, sebab perkembangan pada masa ini sangat pesat mulai dari pembelahan sel hingga pembentukan organ tubuh, terutama perkemangan otak. Kondisi ini disebut sebagai critical window atau masa kritis perkembangan janin di rahim ibu, dan merupakan kunci berkualitas atau tidaknya calon seorang manusia.
Critical Window atau Masa Kritis perkembangan janin (sumber: exposingtruth.com)

Nah, kegagalan memenuhi kebutuhan nutrisi ibu hamil dan janin selama masa kehamilan ini menjadi cikal bakal balita stunting, karena perkembangannya terhambat sejak dalam kandungan. Terlebih lagi jika setelah melahirkan kehidupan bayi tidak didukung dengan asupan nutrisi tinggi, pola asuh yang tidak baik hingga sulitnya akses pada layanan kesehatan, air bersih dan sanitasi. Kegagalan orangtua dan komunitas dalam membantu perkembangan bayi di 1.000 hari pertama kehidupannya merupakan kegagalan pertama investasi sumber daya manusia baik secara individu maupun kebangsaan. Sedih deh!

Dalam jangka panjang penderita stunting akan mengalami masalah terkait tingkat kecerdasan, kerentanan terhadap penyakit, menurunkan produktifitas, hingga menghambat pertumbuhan ekonomi nasional, dan meningkatkan kemiskinan serta kesenjangan. Wah, bahaya sekali! Bagaimana kita dapat mencapai tujuan Indonesia sehat kalau keadaannya gawat begini?
Prevalensi balita stunting secara nasional periode 2016
Stunting merupakan masalah dunia, terutama di negara miskin dan berkembang. Karena bagaimanapun juga faktor pendidikan, ekonomi dan kebijakan negara memberi pengaruh pada akses ibu dan balita pada sumber pangan bergizi, layanan kesehatan, air bersih dan sanitasi.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh katadata.co.id ternyata stunting di Indonesia dalam level kronis, bahkan kondisinya jauh di bawah Vietnam, Malaysia dan Thailand! Kondisi ini diukur dari prevalensi yang ditetapkan Badan Kesehatan Dunia yaitu WHO, di mana jika prevalensi stunting di suatu daerah melebihi angka 20% maka kondisinya kritis. Nah, ekonografik diatas menunjukkan bahwa kondisi stunting di seluruh wilayah Indonesia terbilang parah. Nyaris seluruhnya berada diatas 20%, dan di beberapa wilayah seperti Kalimantan Selatan, Gorontalo, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Timur hingga Papua Barat menduduki posisi sangat parah karena angkanya diatas 30% dan mendekati 40%. 

Data berikut menunjukkan bahwa masih ada 29,6% anak Indonesia mengalami stunting, yang sebarannya sebanyak 48,8% adalah keluarga miskin dan 29% adalah dari keluarga kelas menengah dan kaya. Secara nasional masih ada 13 provinsi dengan prevalensi stunting kronis dibawah standar WHO yaitu 20% (baca disini). Kondisi ini menempatkan Indonesia sebagai 5 besar negara dengan balita stunting dari 10 negara dengan kasus stunting terparah, dan kecerdasan anak-anak Indonesia ada di urutan ke 64 dari 65 negara!

Bagi individu si anak, stunting akan berdampak buruk dalam jangka panjang. Karena ia telah kehilangan asupan nutrisi yang tepat di 1000 hari awal kehidupan dan usia emas, maka ia terancam menderita penyakit kronis, performa yang buruk di sekolah dan kehidupan sosial, hingga ancaman pendapatan rendah karena kinerja yang buruk saat telah bekerja. Dampak yang lebih buruk lagi mengancam nih, yaitu Income Penalty alias kehilangan Produk Domestik Bruto (PDB) yang berasal dari rendahnya kinerja generasi produktif secara fisik dan pola pikir dalam membangun perekonomian bangsa. 

Prevalensi stunting yang sangat tinggi alias kronis di seluruh penjuru tanah air, ternyata mengancam bonus demografi pada 2030 nanti. Mengapa demikian? Karena stunting menurunkan kapasitas intelektual anak dan menurunkan daya saing SDM Indonesia. Hingga tahun 2017, prevalensi balita stunting di Indonesia masih di kisaran 29.6%. Riset yang dilakukan katadata.co.id menunjukkan bahwa stunting berdampak buruk dengan menurunkan PDB sebesar 3% dengan kerugian ekonomi mencapai Rp. 300 triliun per tahun. Kondisi ini agak menakutkan, karena stunting yang tidak diatasi akan membuat Indonesia kehilangan satu generasi produktif alias hanya membesarkan generasi sia-sia yang justru dapat membawa kemunduran dan kehancuran bangsa karena menurunnya produktifitas warganya. Beuh, ngeri sekali ya!
Bonus demografi merupakan kondisi saat struktur penduduk didominasi oleh kalangan usia produktif, dan hanya terjadi sekali saja dalam sejarah sebuah bangsa. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah penduduk usia produktif yang bekerja dan menurunnya jumlah tanggungan usia non produktif, serta meningkatnya kualitas hidup. Indonesia akan mengalami bonus demografi antara tahun 2020-2035, yang diawali dengan ledakan penduduk pada 2025 menjadi 248,8 juta jiwa, dengan jumlah kenaikan sebanyak 29 juta jiwa dari tahun 2015 alias 10 tahun saja. Pada tahun 2025 jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) akan mencapai angka 193,5 juta jiwa (baca disini). Bonus demografi inilah yang diharapkan menjadi generasi terbaik menuju Indonesia Emas 2045
 Lalu, apa yang harus kita lakukan? 

SINERGI NASIONAL PENCEGAHAN STUNTING
Stunting Summit yang diselenggarakan di Jakarta pada Maret 2018 ,membagikan tugas bersama untuk menangani masalah stunting secara nasional yang melibatkan 13 Kementerian/Lembaga (K/L), yang secara serempak mengatasi stunting per 10 desa di  lebih 160 Kabupaten/Kota prioritas.  Sehingga diharapkan program keroyokan ini mampu mengatasi masalah stunting di lebih dari 1.000 desa (baca disini).

 
Kerja sinergi penanganan stunting juga dilakukan melalui intervensi gizi, yaitu:  

1. Intervensi Gizi Spesifik dengan kontribusi 30% ditujukan pada 1.000 hari pertama kehidupan yang dilakukan oleh sektor kesehatan seperti Posyandu, Puskesmas dan Rumah Sakit. Sasarannya adalah ibu hamil, ibu menyusui dengan anak usia 0-6 bulan, dan ibu menyusui dengan anak usia 7-23 bulan. 

2. Intervensi Gizi Sensitif dengan kontribusi 70% ditujukan untuk pembangunan di luar sektor kesehatan, yang menjadi support system bagi kehidupan ibu dan bayi. Sasarannya adalah sarana dan prasarana untuk mendukung kehidupan ibu dan bayi seperti fasilitas sanitasi dan air bersih, akses pada KB, pemberian Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), pemberian bantuan sosial bagi keluarga miskin, manajemen gizi dalam bencana hingga pemberdayaan perempuan.
160 Kabupaten/Kota Prioritas penurunan stunting di seluruh Indonesia

Secara nasional dan dengan bersinergi antara Kementerian dan Lembaga negara telah ditetapkan sebanyak 160 Kabupaten/Kota sebagai lokasi prioritas penurunan angka stunting agar kondisinya tidak lagi kronis. Sebaran yang merata di seluruh wilayah Indonesia menunjukkan bahwa kita sedang berpacu dengan waktu, untuk menjawab tantangan masa depan yaitu bonus demografi 2030 dengan menyiapkan SDM yang sehat, berkualitas dan berdaya saing tinggi. 

Nah, semua usaha itu tentu saja tak lepas dari 10 Pesan Kesehatan Jokowi karena isu kesehatan merupakan tanggung jawab banyak sektor, termasuk pihak swasta dan masyarakat umum. Semua harus bekerja sama mewujudkan Indonesia Sehat.

5 STRATEGI PENCEGAHAN STUNTING: 
Balita stunting bukan hanya menjadi masalah bagi keluarga, melainkan masalah bangsa dalam jangka panjang, karena seyogyanya setiap warga negara harus menjadi sumber daya manusia sehat dan berdaya saing tinggi. Oleh karena itu, diperlukan upaya strategis pencegahan stunting melalui kolaborasi banyak pihak mulai dari keluarga, sektor swasta hingga pemerintah. Berikut adalah strategi untuk pencegahan stunting: 

1. Pendidikan Gizi Bagi Calon Orangtua
Pihak pertama yang paling bertanggung jawab atas kesehatan anak adalah ibu dan ayah, di mana proses pengasuhan anak harus dilakukan sejak janin dalam kandungan.  
Pada masa kehamilan dan pertumbuhan janin, seorang Ibu harus memperhatikan asupan gizi tinggi bagi dirinya yang secara otomatis akan menjadi makanan bagi janin. Hal ini penting mengingat rentang dari masa konsepsi, kehamilan hingga kelahiran, ibu dan janin memerlukan gizi mikro dan protein, serta energi untuk mendukung pertumbuhan otak, yang juga menentukan pertumbuhan tinggi dan berat badan potensial saat bayi lahir.
Proses ini disebut sebagai 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) alias masa emas, waktu investasi terbaik pada diri calon seorang manusia. 
   
Pada 0-6 bulan pertama setelah kelahiran hingga usia 2 tahun, bayi harus mendapat asupan nutrisi langsung dari Air Susu Ibu (ASI) Ekslusif sebagai investasi awal dan tepat waktu. Baru kemudian hingga usia 2 tahun anak diberi tambahan nutrisi sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya. Nah, jika investasi ini terlambat maka kita akan menghasilkan generasi dengan mutu SDM yang rendah

Sehingga, sangat penting bagi seorang ibu untuk memperhatikan isi piringnya terutama ketika mengandung. Isi piring yang menjadi makanan dan minuman ibu harus bergizi tinggi yang standarnya telah ditetapkan Kementerian Kesehatan yang komposisinya terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan. Dilengkapi dengan minum 8 gelas air sehari dan olahraga minimal 30 menit per hari.
Isi piring ibu membantu ibu memiliki kualitas ASI yang baik lho
Dalam rangka memenuhi kebutuhan isi piring ibu, mau tak mau keluarga harus mampu menyediakan sumber pangan bergizi.
Yang paling mudah adalah dengan menyiapkan tabungan khusus sebelum menikah, untuk digunakan saat mempersiapkan kehamilan sehingga tidak terlampau memberatkan secara ekonomi. Dengan konsep ini orang akan berpikir dua kali untuk asal menikah dan asal memiliki anak, apalagi menikah dini tanpa bekal pengetahuan dan finansial mumpuni untuk mempersiapkan kelahiriran manusia baru melalui pernikahan.

Cara lainnya adalah dengan mengonsumsi pangan lokal dengan sumber gizi tinggi yang dapat diakses dengan biaya murah agar sumber makanan dekat dari rumah dan tidak harus mengeluarkan biaya untuk membelinya. Konsep ini sangat murah meriah dan tidak memberatkan bagi keluarga dengan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Bahkan Presiden Jokowi mengatakan salah satu cara terbaik untuk mencegah stunting dan meningkatkan asupan pangan bergizi adalah dengan mengonsumsi pangan lokal yang tersedia di lingkungan sekitar rumah, yang harganya terjangkau dan tentu saja segar karena tidak terpapar polusi. 

2. Alokasi Dana Desa untuk Pencegahan Stunting
Pada 2017, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi menerbitkan "Buku Saku Desa Dalam Pencegahan Stunting" sebagai sebuah upaya pencegahan dan penurunan stunting dari desa.
  

Terdapat tiga landasan penting mengapa pencegahan stunting dimulai dari desa, yaitu: .  

Pertama, Penanganan stunting merupakan prioritas pembangunan nasional melalui Rencana Aksi Nasional Gizi dan Ketahanan Pangan. 

Kedua, Sesuai dengan UU tentang Desa, maka terhadap upaya penanganan stunting yang sudah menjadi prioritas nasional sangat memungkinkan bagi Desa untuk menyusun kegiatan-kegiatan yang relevan dan yang bersifat skala desa melalui APBDes.  

Ketiga, Rujukan Belanja Desa untuk penanganan stunting diperkuat dengan telah dikeluarkannya Permendesa No.19 Tahun 2017 tentang Prioritas Penggunaan Dana Desa. Penanganan stunting melalui berbagai intervensi memuat 10 menu prioritas dalam penggunaan Dana Desa tahun 2018. 

Dua hal paling pokok adalah ketersediaan air bersih skala desa dan sanitasi lingkungan; dilanjutkan dengan peningkatan kapasitas dan keterampilan kader kesehatan; perawatan dan/atau pendampingan ibu hamil, melahirkan dan menyusui; pemantauan pertumbuhan dan penyediaan makanan tambahan/sehat untuk peningkatan gizi bayi, balita dan anak sekolah; pengadaan, pembangunan, pengembangan hingga pemeliharaan sarana dan prasarana di bidang kesehatan; penyelenggaraan pemberdayaan masyarakat dalam promosi kesehatan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS); dan promosi hidup sehat.  

Bahkan, jika mengikuti saran Wakil Presiden Jusuf Kalla, boleh juga Kepala Desa yang berhasil mencegah dan menurunkan prevalensi stunting di desanya diberi penghargaan oleg Gubernur atau langsung dari Kementerian Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (baca disini). Dengan demikian setiap Kepala Desa di lokasi prioritas penurunan stunting dapat meningkatkan kinerjanya dan cermat dalam penggunaan alokasi dana desa yang diprioritaskan untuk pencegahan stunting.

3. Posyandu: Garda Terdepan Pencegahan Stunting
Masyarakat Indonesia dipastikan mengenal Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu) yang secara berkala melakukan kegiatan pemeriksaan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Termasuk memberikan penyuluhan kesehatan, pemberian vaksin dan vitamin, penimbangan berat badan hingga jadi wadah curhat para ibu tentang kondisi kehamilan atau anak mereka. Aku cukup familiar dengan aktivitas para petugas kesehatan dan kader kesehatan melalui Posyandu. Maklum salah satu Bibiku adalah kader posyandu dan tetangga depan rumah bidan yang sangat disukai para ibu karena kegigihannya mempromosikan kesehatan.

 

Pemerintah juga menyadari bahwa peran posyandu sangat penting sebagai garda terdepan pembangunan kesehatan yang pernah sangat populer di era pemerintahan Presiden Soeharto, di mana program ini dijalankan oleh kader-kader yang punya komitmen tinggi untuk mewujudkan Indonesia sehat. Jika Posyandu digalakkan lagi, maka akan sangat penolong pemerintah dalam mendekatkan program-program pencegahan stunting dengan masyarakat yang menjadi sasaran yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita dan anak sekolah. Termasuk memantau perkembangan bayi di periode emas 1.000 hari pertama kehidupan. Jika Posyandu melakukan perannya dengan baik, maka mimpi Indonesia sehat bisa kita raih dengan gemilang.   

4. Social Responsibility: Kemitraan untuk Pencegahan Stunting
Masyarakat umum juga harus ikut andil dalam pencegahan stunting, karena anak stunting berdampak menghasilkan generasi dengan SDM rendah yang sangat merugikan sektor swasta dan dunia ketenagakerjaan. Terdapat tiga pilihan mekanisme yang bisa dilakukan dunia usaha dalam membantu pemerintah mencegah dan menurunkan stunting, yaitu: 1) Kerjasama melalui kegiatan atau program yang bersifat filantropi, sponsorship ataupun charity; 2) Dunia Usaha menjalankan program secara swadaya  bersama mitra pelaksana; dan 3) Partisipasi dalam kemitraan kerja bersama Pemerintah dunia usaha dan masyarakat. 


Pemerintah telah menetapkan 6 jenis program kemitraan dengan dunia usaha untuk pencegahan dan penurunan stunting, dalam konteks Intrvensi Gizi Spesifik dan Intervensi Gizi Sensitif. Keenam program tersebut dapat diselenggarakan dengan sejumlah skema kemitraan baik dalam bentuk bantuan tunai dari mitra kepada penerima manfaat, maupun disampaikan melalui pengelola dana melalui pembiayaan program-program yang ditetapkan pemerintah untuk pencegahan dan penanganan stunting.

5. Program "Sahabat Sehat" untuk Pencegahan Stunting
Strategi terakhir ini murni ide yang muncul di kepalaku, yaitu tentang mendekatkan hubungan sosial dan persahabatan antar ibu hamil atau anak. Caranya sangat sederhana sekali, yaitu dengan mengadopsi konsep Sahabat Pena yang populer di era 1990an. Bedanya, program "Sahabat Sehat" ini berlokasi di lingkungan ketetanggaan atau RT/RW agar keterjangkauan lokasi tidak menyulitkan peserta program.

Contoh 1: Sahabat Sehat Antara Dua Orang Ibu
Ibu Ani (35) bertetangga dengan Ibu Rina (30) yang sedang hamil 2 bulan. Ibu Ani termasuk orang berkecukupan sehingga bisa membantu Ibu Rina mengakses makanan bergizi agar janin dalam kandungan Ibu Rina berkembang dengan sehat.  Sebulan sekali, Ibu Ani membelikan paket makanan bergizi untuk Ibu Rina seperti susu, vitamin, kacang-kacangan, dan makanan bergizi lainnya. Ibu Rina dapat menerima paket dari Ibu Ani setiap bulannya sembari mengabarkan perkembangan kesehatan dan janin dalam kandungannya. Akhirnya dua ibu yang bertetangga ini pun sering terlibat diskusi tentang kesehatan ibu dan anak. Mereka sama-sama bersemangat menantikan kelahiran bayi Ibu Rina sebagai investasi masa depan bangsa Indonesia.  

Contoh 2: Sahabat Sehat di Kalangan Anak-Anak
Kirana (10) adalah anak dari keluarga berkecukupan yang selalu membeli mainan, meski mainan di rumahnya sudah banyak. Atas saran Ibu Bidan, Kirana menjadi Sahabat Sehat bagi Johan (3) yang orangtuanya hanya seorang buruh bangunan. Setiap sebulan sekali, Kirana membelanjakan uang tabungannya untuk membelikan Johan paket makanan bergizi mulai dari susu, telur, vitamin, buah-buahan, kacang-kacangan, dan sebagainya. Kini Kirana tahu fungsi uang selain untuk membeli mainan, yaitu untuk membantu Johan tumbuh sebagai bocah kecil yang sehat, ceria dan cerdas. Johan pun senang karena masih kecil sudah ada tetangga baik yang memperhatikannya.
Program ini selayaknya dibuat dan dipantau oleh kader kesehatan hingga aparat desa, untuk mengukur sejauh mana peran anggota masyarakat dalam mencegah dan menurunkan stunting. Selain untuk menguatkan modal sosial masyarakat sejak di level ketetanggaan, juga untuk menguatkan sikap tolong menolong dalam mewujudkan Indonesia Sehat dan bebas balita stunting. Dengan cara sederhana ini, kukira kita dapat dengan cepat menurunkan prevalensi balita stunting secara nasional. Untuk memulai gerakan ini, bisa dibicarakan di momen Jumatan, Misa, Pengajian, pertemuan keluarga hingga arisan. 
Nah, jika modal sosial kita sudah terbangun dengan baik, bukan mustahil bahwa tingkat kepedulian antara anggota masyarakat akan meningkat, sehingga masalah-masalah sosial yang dihadapi akan berkurang secara signifikan.

Contoh 3: Sahabat sehat dari kalangan Crazy Rich
Stunting sangat erat kaitannya dengan kondisi ekonomi dan pendidikan keluarga, terlebih ayah dan ibu. Keluarga miskin dan berpendidikan rendah, berkemungkinan besar 'asal punya anak' dan mengandalkan takdir untuk tumbuh kembang si anak. Oleh karena itu, subdisi silang dalam masyarakat sangat diperlukan jika kita memang peduli dengan nasib bangsa secara keseluruhan. 

Terlebih lagi kalau ada anggota masyarakat yang merupakan golongan kelas atas alias Crazy Rich Citizen, maka mereka sangat berkewajiban membantu anggota masyarakat yang kesulitan keuangan dalam membeli pangan bergizi bagi ibu hamil dan balita. Caranya adalah dengan memberikan mereka opsi untuk menjadi orangtua asuh atau adopsi, sehingga pembiayaan bisa langsung diberikan dari si pengadopsi kepada ibu dari janin atau balita yang diadopsi.
Crazy Rich Citizen harus membantu masyarakat miskin dalam rangka menurunkan prevalensi stunting dengan menjadi orangtua asuh bagi janin dan balita (sumber: www.nylon.com.sg)

Bagaimanapun juga, kalangan Crazy Rich Citizen ini memiliki kelimpahan keuangan yang sangat mampu jika diperbantukan dalam urusan mencegah atau mengurangi prevalensi stunting. Selain untuk kembali memasyarakatkan nilai-nilai kebaikan dan gotong royong, juga untuk membantu memperkecil kesenjangan/gap antara warga negara yang sangat kaya dengan yang sangat miskin.

PENUTUP
Stunting adalah masalah yang kompleks. Setiap calon ayah dan calon ibu wajib memahami persoalan ini, sebagai bahan pembelajaran untuk tidak mengulang kesalahan yang sama generasi sebelumnya yang kurang melek literasi kesehatan. Sebagai bahan pembelajaran bagi pembaca, silakan mengunduh bahan bacaan dibawah ini: 



Mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat untuk kita semua. Upaya sekecil apapun jika dilakukan bersama-sama, insya Allah dapat membantu Indonesia melawan stunting dengan melakukan pencegahan sejak dini dan penanganan pada kasus yang ada. Semuanya demi masa depan Indonesia Sehat.

Lampung, 24 September 2018


Disclaimer: 
Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam Kompetisi Media Massa dan Media Sosial bertema: "Indonesia Sehat Melalui Pencegahan Stunting dan Perlindungan Imunisasi" oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia






10 comments

  1. makasih sharingnya, betul ya, selain ortu juga perlu banyak info ke masarakat luas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Tira, terima kasih sudah mampir. Perlu banget ini, khususnya para perempuan dan ibu karena ternyata kehamilan harus direnanakan termasuk bagaimaana Ibu hamil makan agar nggak melahirkan anak yang gagal tumbuh alias stunting atau mengalamai masalah kesehatan lain.

      Delete
  2. Arikelnya padat dan compact Mak! Nice.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Ekalagi, terima kasih sudah mampir. Iya nih habis nulisnya nyambi sedih gitu melihat data-data yang ada tentang stunting.

      Delete
  3. mencegah stunting, memang harus dimulai dari ibu, mulai pra kehamilan hingga anak diusia pertumbuhan ya mak ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Bunda Sugi, terima kasih sudah mampir. Iya Bu, ketika pertama kalinya saya melakukan pembelajaran tentang isu ini, saya langsung berpikir dalam bahwa masa depan rumah tangga dan anak-anak saya kelak harus dimulai dari diri saya. Sehingga mencari pasanganpun harus yang satu visi misi soal ini.

      Delete
  4. walau panjang artikelnya enak di baca..good job! smoga berhasil meanng ya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Riza, terima kasih sudah mampir. Dan terima kasih karena merasa nyaman membaca tulisanku. Soal menang atau enggak itu urusan lain, tetapi nikmat menulis adalah kalau tulisanku bermanfaat dan menyenangkan bagi pembaca.

      Delete
  5. Wah makasih sharenya mba, ak baru tau detail secara gampang maksud stunting ya dari post ini mba...hehe. wah kedepannya kalau daku mau promil kudu perhatikan gizi banget"nih biar anak ga stunting...ksian anaknya kan jdnya kalau dia stunting :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Leevi, terima kasih sudah mampir. Alhamdulillah, senang seklai jika tulisan ini mampu membantu pembaca paham tentang stunting. Iya, karena ternyata punya anak bukan hanya urusan punya anak, tapi tentang membangun sebuah bangsa dan peradaban

      Delete

follow me on instagram