Pekarangan Ekologis: Solusi Strategis dan Kekinian Dalam Mendorong Kebangkitan Petani Muda

Belajar wirausaha tani pada Ibu Herliati Hilman sang seniman pangan (sumber: ajourneybespoke.com)

Dewasa ini kita mungkin sering mendengar soal keluhan harga komoditas pertanian yang mahal, bahkan tak jarang harus impor dari negara tetangga karena pasokan dari petani lokal berkurang oleh satu dan lain hal. Belum lagi keluhan berkurangnya jumlah anak muda yang berminat jadi petani, minimal meneruskan usaha pertanian milik keluarganya. 


Kondisi ini semakin diperparah dengan berkurangnya jumlah lahan produktif untuk pertanian karena telah beralih fungsi menjadi kawasan dengan peruntukan lain seperti perumahan, perkebunan, industri, jalan raya hingga bandara.

Selama 4 tahun antara 2014-2017, telah terjadi penurunan jumlah angkatan kerja di sektor pertanian, perkebunan, perkebunan, kehutanan dan perburuan sebesar 1,2 juta orang, di mana jumlah petani kini turun dari 40,8 juta orang pada 2014 menjadi 39,6 juta orang pada 2017 (baca disini). 

Berdasarkan pantauan tirto.id, fenomena ini disebabkan oleh beberapa hal. Pertama,  semakin menjauhnya warga negara Indonesia dari profesi petani dan dunia pertanian, termasuk mereka yang merupakan anak petani atau sarjana pertanian. Bukan saja karena minimnya transfer keterampilan pertanian dari orangtua kepada anak-anak dalam rumah tangga petani. Juga karena telah terjadi pergeseran makna sukses, sehingga anak-anak petani yang didorong untuk sekolah tinggi semakin dijauhkan dari praktek pertanian oleh keluarga, sekolah, institusi pendidikan tinggi, pemerintah dan masyarakat tempat tinggalnya sendiri.

Kedua, sektor pertanian kalah saing dengan industri pengolahan yang memiliki daya serap tinggi terhadap angkatan kerja produktif sehingga banyak pemuda desa yang bermigrasi ke kota menjadi buruh. Selain itu, pernah ada anggapan bahwa semakin berkurang jumlah petani makan semakin berkurang pula jumlah kemiskinan karena rumah tangga petani dianggap miskin. Bahkan, ada pula pendapat bahwa semakin berkurang jumlah petani, berarti semakin efektif penerapan teknologi di sektor pertanian, di mana tenaga kerja digantikan oleh mesin. Padahal, pertanian merupakan sektor yang menjadi ujung tombak kedaulatan pangan dan penyedia 40% lapangan pekerjaan.
Petani perempuan pada musim panen padi di Banjit, Way Kanan, Lampung (foto: Rinto Macho)

Ketiga, kemajuan teknologi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia, termasuk membuka berbagai peluang untuk menciptakan pekerjaan baru. Generasi muda yang melek informasi dan teknologi tentu saja memanfaatkan peluang ini untuk melakukan berbagai perubahan dan lompatan dari generasi sebelumnya, termasuk soal pekerjaan. Sejumlah pekerjaan yang saat ini sedang populer di kalangan anak muda yaitu pengiklan produk atau endorser di Instagram, buzzer isu politik, content creator dan video creator. Hanya bermodal kemampuan menggunakan berbagai aplikasi ponsel pintar, hingga kecerdasan berkata-kata, generasi muda telah menciptakan lapangan pekerjaan bagi dirinya sendiri dan membuat mereka kaya raya dalam sekejap. Jika anak muda lulusan pertanian dapat meraup penghasilan hingga miliaran rupiah seperti menjadi Youtuber atau Endorser produk-produk ternama, buat apa repot-repot menjadi petani? 

Seorang temanku, yaitu Antropolog dan Blogger terkenal Yusran Darmawan bahkan pernah membuat sebuah tulisan yang menyayat hati soal mulai luruhnya kebanggaan generasi muda negeri agraris ini soal pertanian. Tulisan apiknya yang berjudul "Malu Aku Jadi Petani Indonesia" menampar kita semua yang selama ini dibesarkan sebagai anak petani tapi tumbuh dewasa dengan perasaan malu sebagai petani. Termasuk soal gagalnya kita dalam menanamkan kebanggaan pada mereka yang berprofesi sebagai petani, dibandingkan profesi lain. Padahal sejatinya petani merupakan profesi mulia karena telah memberi makan seisi negeri.
"Nggak usah berharap besar masa depan petani Indonesia akan cemerlang seperti para petani Thailand sana kalau sarjana pertanian aja nggak mau menjadi petani. Padahal menjadi petani kan nggak harus punya lahan puluhan hektar seperti tuan tanah. Bertani di pekarangan kan bisa dan banyak yang sukses. Mari kita berpikir progresif dan mulai bertani di lahan sempit saja, biar mental kita jadi mental produksi bukan mental peminta-minta, biar hemat uang belanja juga. Saya mulai belajar lagi soal pertanian dan pentingnya mendidik anak muda untuk tidak malu menjadi petani muda," ujar temanku yang terheran-heran melihat banyaknya sarjana pertanian yang memilih berprofesi lain, bukan jadi petani.
Menyikapi krisis petani yang semakin tahun semakin parah ini, kemudian banyak pihak yang berlomba-lomba mengadakan berbagai kegiatan yang dianggap mampu mendorong minat anak muda untuk menjadi petani, hingga membuat forum-forum akademis yang membicarakan masa depan pertanian Indonesia. Pada akhirnya, kita khawatir dengan menurunnya jumlah rumah tangga petani karena itu dirasa tidak cocok dengan klaim sebagai negeri agraris. Selain itu, kukira kita tak akan kuat menanggung malu apabila ternyata sebagai negeri agraris, bahan makanan kita harus dipasok dari negara tetangga seperti Thailand atau Vietnam. 

Aku dan Kisah Generasi 90an Dilarang Menjadi Petani
Aku berasal dari keluarga petani. Pada tahun 1950an, almarhum kakek yang seorang veteran tentara rakyat memboyong keluarganya ke Lampung melalui program Badan Rekonstruksi Nasional (BRN) dan menempati wilayah yang kini bernama kabupaten Lampung Barat. Bersama keluarga transmigran lainnya, kakek mendapatkan sebidang tanah untuk memulai hidup baru dan diperbolehkan menggarap lahan hutan semampunya untuk dijadikan kebun kopi. Jadilah beberapa hektar kebun dan sejumlah petak sawah. Teknologi yang diterapkan sangat sederhana dan tradisional, sehingga hidup sebagai petani memang melelahkan karena selalu menghabiskan waktu sebagai mesin untuk mengurus sawah dan kebun agar tidak kelaparan. Kalau ada kelebihan pangan sisa panen, bisa dijual. Saat itu, konsep intensifikasi pertanian yang didorong teknologi pertanian paling mutakhir belum sehebat sekarang. Aku bahkan masih ingat bagaimana fungsi kerbau saat membajak sawah, atau ani-ani untuk memanen padi, atau cangkul dan sabit untuk membabat rumput, atau tangki penyemprot pupuk yang dipanggul di punggung. Semua serba sederhana. Para petani beranjak tua dalam keadaan lelah, bungkuk dan tetap miskin.

Sepertinya memang sudah takdir jika menjadi petani berarti sulit menjadi kaya raya, kecuali dapat mengelola lahan hingga puluhan hektar atau menjadi petani cerdas. Tetapi bagaimana bisa petani menjadi cerdas jika membayar sekolah saja tidak mampu, apalagi mengakses berbagai pelatihan keterampilan jika informasinya saja tidak ada. Maka tak heran, sebagai generasi tahun 1990an aku termasuk yang menjadi korban doktrin keluargaku sendiri, bahwa menjadi petani itu hanya pilihan terakhir dalam kehidupan, nasib kaum lemah dan bodoh yang tidak sekolah. Bukan sekali dua kali aku mendapat nasehat bahwa jika dewasa sebaiknya menjalani profesi lain saja, dan jangan pernah menjadi petani. Bagi keluargaku, kesempatan sekolah bagi anak-anak mereka adalah serupa pembebasan dari profesi petani yang miskin lagi bodoh menuju profesi lain yang membanggakan, menjanjikan kesejahteraan dan memberikan status sosial tinggi.
"Jangan jadi seperti Bapak yang bodoh ini, Nak! Kamu harus sekolah tinggi dan kerja yang bagus. Nasib petani memang selalu begini," ujar Ayahku yang memang tidak lulus Sekolah Dasar (SD) karena harus menghabiskan waktunya membanting tulang menggantikan peran kakek yang sakit, sebagai kepala keluarga untuk sepasang orangtua dan 5 saudara kandung. 

"Nanti kalau kamu sudah selesai kuliah, kamu kerja di bank aja. Kantornya bagus, seragamnya bagus, gajinya bagus. Pokoknya hidup kamu harus bagus, nggak seperti Nenek yang miskin sejak lahir sampai bau tanah begini," ujar Nenekku nyaris ratusan kali, yang berharap aku bisa bekerja di sektor perbankan yang menurut beliau sangat keren. 
Selain Ayah dan Nenek, nasehat serupa datang dari Paman dan Ibuku. Salah seorang Pamanku yang berprofesi sebagai guru SD mengatakan sebaiknya aku menjadi guru agar kehidupanku lebih baik. Sementara Ibuku menginginkanku menjadi seorang dokter agar secara ekonomi hidupku lebih sejahtera dan status sosialnya mentereng.
"Ibu ini dulu ingin jadi bidan lah. Tapi ada daya Bapak, kakekmu itu, meminta ibu cukup sekolah sampai SD saja toh perempuan akan tinggal di rumah mengurus suami dan anak. Waktu itu ibu nurut saja, namanya juga anak kecil. Sekarang menyesal jadinya karena harus hidup jadi petani begini. Panas-panasan ngurus kebun supaya bisa makan. Makanya dulu Ibu ingin kamu sekolah tinggi biar jadi dokter. Jangan seperti Ibu dan Bapak yang jadi petani miskin," ujar Ibuku sembari mengelus dada, merasa menyesal menjadi petani.
Ibuku saat mencabut singkong di kebun kami
Nah, bayangkanlah bahwa nasehat semacam ini juga diterima jutaan anak lain di seluruh Indonesia yang orangtuanya atau Kakek-Neneknya muak hidup miskin lagi bodoh sebagai petani. Lagipula, sektor pertanian merupakan sektor yang dinilai rendahan di negeri ini, di mana para petani tidak memiliki status sosial tinggi. Orang-orang yang berprofesi sebagai petani, kedudukan sosialnya kalah jauh dibandingkan mereka yang berprofesi sebagai dokter, tentara, politisi, bidan, guru, arsitek, pilot, model, pramugari, peneliti, dosen, karyawan, artis, bahkan buruh pabrik.

Maka, sangat tidak heran ketika banyak rumah tangga petani yang kehilangan asetnya berupa tanah atau kebun demi mendukung pendidikan anak-anak mereka yang tidak ada hubungannya dengan sektor pertanian. Tak sedikit yang menjual puluhan hektar sawah atau kebun hingga puluhan ekor ternak demi membiayai pendidikan anaknya yang calon dokter, pilot, arsitek, hakim, pengacara, teknisi dan sebagainya. Mereka adalah jenis orangtua yang telah muak hidup susah dan tidak memiliki status sosial karena berprofesi sebagai petani. Mereka tidak ingin nasib serupa menimpa keturunan mereka. Pokoknya, tidak peduli jika jumlah lahan pertanian di Indonesia berkurang atau pemerintah harus impor komoditas pertanian dari negara tetangga, yang penting anak keturunan mereka tidak menjadi petani. Sebab, sebagian besar keluarga petani menganggap bahwa jika anak-anak mereka juga menjadi petani merupakan langkah mundur. Buat apa menjadi petani jika tidak dihargai dalam kehidupan sosial, selalu hidup dalam kemiskinan, menghabiskan tenaga serta usia bertarung dengan musim, bahkan tidak mendapat asuransi pertanian? 

Pekarangan Ekologis: Inovasi Pertanian ala Pesantren Ekologi Ath-Thaariq
Pada bulan Juli tahun 2017 lalu aku berkunjung ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq di kabupaten Garut, Jawa Barat. Pesantren ini didirikan 8 tahun silam oleh sepasang suami istri yaitu Ustadz Ibang dan Teh Nissa Wargadipura setelah mengalami tragedi paska kelahiran anak ketiga mereka yang berdarah-darah. Bukan apa-apa, ternyata kelahiran yang nyaris merenggut nyawa anak dan ibu tersebut disebabkan oleh pola makan yang salah selama puluhan tahun, yang meninggalkan kearifan lokal nenek moyang. 
Teknologi pertanian dan industri makanan modern telah menjebak kita menjadi konsumen yang asal makan, tanpa peduli asal makanan dan berakibat fatal bagi kesehatan.
Maka, sepasang suami istri itu melakukan perubahan besar-besaran dari keluarga kecil mereka sendiri, dimulai dari mengubah pola pikir tentang tanah, pertanian dan sumber pangan. Berbekal lahan seluas 800 meter persegi, mereka membangun pesantren ekologi, yaitu sebuah lembaga pendidikan berbasis Islam dan pertanian dengan konsep agroekologi. Pesantren yang berlokasi di kaki gunung Guntur ini dibangun khusus sebagai laboratorum pertanian berbasis kearifan lokal di mana seluruh anggota keluarga pesantren menggantungkan hidupnya dari asupan pangan yang ditanam oleh mereka di lahan pesantren. Sumber pangan yang pesantren hasilkan berbasis benih lokal, dengan tingkat keragaman hingga 400an jenis dan dirawat dengan teknologi sederhana.
"Untuk sawah kami yang pola tanamnya bergilir bisa panen beberapa kali dalam setahun. Kami bajak sawah kami dengan bantuan bebek-bebek, lalu setelah panen kami gunakan sekam dan jerami sebagai pupuk alami untuk tanah kami agar tanaman lain tumbuh dengan gembira. Konsep pertanian kami adalah bertani dengan menghidupkan tanah terlebih dahulu. Kalau tanah memiliki kehidupan setara dengan lahan subur di pegunungan, maka tanaman apapun yang kami tanam tumbuh dengan subur dan sehat. Kami satu keluarga pesantren ini tidak lagi was-was dengan makanan kami karena kami yang menanam, memelihara, memanen dan mengonsumsinya. Insya Allah sehat lahir dan batin," ujar Teh Nissa saat mengajakku berkeliling area pesantren dan mempersilakanku memetik tomat ranum yang ditanam tepat dibelakang rumah, bahkan dapat dijangkau dari jendela ruang makan. 
Dalam perjuangannya menjadi petani yang bahagia hanya beberapa langkah dari rumah, Teh Nissa belajar kepada banyak ahli bidang pertanian dan lingkungan hidup. Salah satuanya adalah dengan mengikuti kursus bidang agroekologi dan pertanian organik di Earth University di Doon Valley, Uttarakand, India Utara dalam kegiatan bernama "A-Z of Agroecology and Organic Food System". Bersama petani dan komunitas lain dari seluruh dunia, Teh Nissa dididik langsung oleh Dr. Vandana Shiva, yaitu seorang ekofeminis, penulis buku, peraih nobel perdamaian dan penggagas bank benih lokal di India. Vandana telah membantu lebih dari 45 komunitas petani di 18 negara bagian di India untuk mendirikan bank benih lokal dan menjadi petani mandiri dan berdaulat atas pangan. Sebanyak lebih 500.000 orang petani telah dilatihnya.
Teh Nissa saat memberikan tur keliling pesantren kepada para pengunjung pesantren

Dalam pandangan Teh Nissa, menjadi petani dan bertani bukan melulu soal memenuhi kebutuhan pangan keluarga, komunitas dan seisi negeri, melainkan juga soal berdaulat pangan. Sebab menurutnya sangat bodoh jika menjadi petani yang hanya bertani, tetapi tidak paham soal kedaulatan pangan. Menurut Serikat Petani Indonesia (SPI), kedaulatan pangan harus mengikuti prinsip-prinsip dasar dimana semuanya harus pendukung petani sebagai pihak pertama. Mulai dari alat produksi yaitu tanah, benih, model dan skala produkdi, distribusi, pasar, dan energi harus berpihak pada petani. Konsep ini berbeda dengan ketahanan pangan yang hanya berpatokan pada ketersedian bahan pangan. Kedaulatan bermakna 'berdaulat' dimana petani sebagai penghasil pangan diberi kesempatan dan perlindungan hukum untuk menjadi terdidik dalam upaya memimpin gerakan kemandirian pangan sejak dari komunitas lokal sehingga mampu menjaga ketersediaan pangan lokal dan nasional. 

"Bertani itu harus dimulai dengan konsep memuliakan alam, Mbak Ika." Ujar Teh Nissa.
"Bagaimana itu?" tanyaku.
"Pertama-tama, kita tidak memposisikan alam sebagai mesin penghasil produk pertanian. Kita harus memperlakukan alam sebagai sahabat karena toh kita bagian dari alam. Kita muliakan alam dengan tidak merusaknya dengan pupuk kimia, kita rawat tanah kita dengan memberinya nutrisi yang tepat, barulah setelah itu kita bisa menanam dan memetik hasilnya. Kita sayangi tanah dan tubuh kita sendiri dengan benih lokal, bukan yang GMO. Tanamlah tanaman yang beragam di pekarangan mulai dari rempah, sayuran, bunga, herbal, buah-buahan dan yang lainnya. Kalau mau makan tinggal petik. Merdeka rasanya bisa berdaulat pangan sejengkal dari rumah," tambahnya. 

"Lalu bagaimana dengan peran lembaga pemerintah yang punya hasil penelitian soal pertanian dan teknologi pertanian seperti BPPT yang dalam naungan Puspitek? Atau misalnya Dinas Pertanian setempat?" tanyaku kemudian. Kukira tidak mungkin pemerintah melakukan penelitian bidang pertanian dan pangan jika sejalan dengan kedaulatan pangan, serta kebutuhan dasar para petani. 

"Kalau untuk pertanian skala besar ya bisa lah kita bergantung ke teknologi pertanian, dengan mesin-mesin pembajak atau memanen yang massive. Saya juga kan belajar sama para ahli pertanian, bahkan sampai ke India. Tapi kan sebagian besar petani Indonesia itu petani dengan lahan kecil, satu hektar dua hektar, ya kira-kira mirip dengan luas lahan pesantren ini. Petani-petani kecil ini yang banyak tumbang dan ini yang harus kita didik dengan konsep yang saya terapkan di pesantren. Saya maunya pemerintah itu, disamping melakukan penelitian soal teknologi pangan dan pertanian untuk pertanian skala besar, juga tidak lupa mengangkat kembali kearifan lokal pertanian warisan nenek moyang kita. Harusnya kita bisa kerjasama untuk membuat petani bangga menggunakan teknologi lokal sebagai inovasi pertanian, " ujar Teh Nissa penuh semangat sembari menunjuk sawah nan hijau.

  
"Konsep apa yang tepat, Teh? Terutama masalah kita kan jumlah petani muda semakin berkurang. Anak muda tidak mau menjadi petani karena dianggap nggak menjanjikan. Saya saja yang anak petani tidak pernah mendapat transfer pengetahuan soal keterampilan pertanian, makanya saya tidak bisa bertani," ujarku semakin penasaran. Karena bagaimanapun juga konsep yang diterapkan Pesantren, harus fleksibel bila ingin diadaptasi oleh berbagai komunitas jika tujuannya memang membela eksistensi petani kecil. 

"Gini mbak Ika, bayangkanlah ada berapa juta orang petani di Indonesia dengan lahan kurang dari satu hektar seperti punya pesantren ini? Kalau mereka bertani sendiri-sendiri, ya nggak bakal maju. Kita sesama petani harus saling mengikat diri dan belajar bersama, kita bangun komunitas di lingkungan kita sendiri. Tujuannya untuk saling menguatkan, berbagi pengetahuan, berbagi benih dan bahkan sampai membuat pasar khusus untuk menjual produk pertanian kami. Apalagi kalau petaninya anak muda, lebih seru lagi. Kita belajar dan jualannya pake aplikasi. Semua serba ada di ponsel pintar kita," katanya meyakinkanku.

"Tapi kan dalam konteks swasembada, pemerintah maunya petani itu menanam komoditas pertanian yang dapat memenuhi kebutuhan pangan nasional. Kalau lebih baru deh ekspor. Apakah mungkin konsep yang diterapkan di pesantren bisa menjawab tantangan itu?" tanyaku lagi saat kami berjalan menuju area kebun herbal yang jumlahnya lebih dari dua puluh jenis, dan keseluruhannya merupakan herbal lokal seperti sambung nyawa, kumis kucing, jahe, kunyit dan sebagainya. 

"Petani kita itu salah didik, Mbak Ika. Puluhan tahun kita didorong untuk swasembada pangan dengan tujuan dijual. Padahal, nenek moyang kita dulu bertani untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga, sisanya baru dijual untuk memenuhi kebutuhan komunitas. Makanya petani jaman dulu selalu punya lumbung pangan. Kita contek orang Baduy deh, masih setia mereka dengan konsep itu. Sebelum kita bicara soal swasembada pangan, kita harus mampu melewati tantangan berdaulat pangan. Dan tantangan ini harus mampu dijawab dengan kesejahteraan keluarga petani sendiri. Kan lucu kalau keluarga petani tapi kebutuhan sayuran sehari-hari aja mereka beli ke warung karena pekarangan rumahnya kosong melompong dari tanaman pangan. 

Atau misalnya karena mereka hanya menanam tanaman monokultur, seperti menanam padi saja tapi tidak menanam jenis pangan lainnya. Dan itu yang banyak terjadi pada petani kita. Harusnya yang namanya petani itu sudah selesai dengan urusan berdaulat pangan bagi  keluarganya sendiri. Petani harus mampu menjawab tantangan itu selama setahun penuh bagi keluarganya sendiri, baru melangkah ke swasembada pangan, jangan terbalik pola pikirnya," penjelasan Teh Nissa kini menampar kesadaranku soal konsep bertani yang dipahami secara umum. Aku mengangguk paham, sembari mengikuti langkah kaki Teh Nissa menuju kebun sayuran.


Selain soal berdaulat pangan dan kesehatan, pendirian pesantren ini juga ternyata bermaksud mengikat para pemuda untuk berkarya di desa, tidak pergi ke kota menjadi pekerja di kota dan meninggalkan desa dalam kesepian tanpa karya dan sumber daya manusia yang cerdas. Kalau dipikir-pikir kekhawatiran Teh Nissa ini memang benar, sebab saat ini tren anak muda yang meninggalkan desa untuk sekolah dan bekerja di kota semakin meningkat. Parahnya, setelah sekolah di kota para pemuda terpelajar itu enggan kembali ke desa, apalagi demi menjadi petani. Maka, inovasi pertanian ala Pesantren berupa pekarangan ekologis dan kekhawatiran itu menjadi alasan kuat bahwa trik bertani asyik dapat mengembalikan minat anak muda untuk pulang ke desa dan menjadi petani. Aku juga suka konsep Teh Nissa soal bertani yang membahagiakan, asyik dan gaul dalam perspektif anak muda, sekaligus upaya menjaga keseimbangan alam. 

"Terima kasih ya Teh Nissa untuk semua pembelajaran pentingnya," ujarku. 
"Kapan Mbak Ika mulai bertani sendiri? Buatlah juga di Lampung yang konsepnya mirip Pesantren Ath-Thaariq ini atau dimodifikasi dengan hasil pembelajaran di komunitas lain. Mbak Ika harus mampu menjadi contoh biar anak-anak muda di sana tertarik bertani yang gaul dan asyik," nasehat Teh Nissa membuatku tersenyum penuh harapan. 

Rasanya, tidak sia-sia kulakukan perjalanan jauh ke pesantren ini. Aku mendapatkan pelajaran penting tentang inovasi pertanian yang tak melulu soal pertanian modern. Melainkan upaya kembali menegakkan kebanggaan mengolah tanah dan pangan berbasis teknologi lokal yang diwariskan nenek moyang. 

Bertani dan menjadi petani bukan lagi soal seberapa luas lahan pertanian yang dikelola, seberapa banyak hasil panen, atau seberapa besar keuntungan hasil penjualan. Bertani dan menjadi petani adalah tentang merayakan kebersamaan dengan alam, mencintai alam dan tubuh kita sendiri dengan mengonsumsi bahan pangan yang sehat, rukun dengan anggota komunitas sebagai rekan belajar, berdamai dengan musim, serta bekerja sama dengan generasi muda dalam menjaga kelangsungan nilai dan tradisi warisan leluhur dalam sektor pertanian.  

Petani Muda, Teknologi Pertanian dan Peran Puspiptek
Praktek pertanian sudah lama dijauhi dan ditinggalkan anak muda, terlebih mereka yang telah mengenyam pendidikan tinggi dan memiliki peluang lebih besar untuk menjalani profesi non pertanian. Selain karena doktrin keluarga dan masyarakat bahwa menjadi petani berarti berarti miskin, bodoh dan langkah mundur. Juga karena tidak adanya dukungan komprehensif pemerintah pada dunia pertanian, layaknya petani di Belanda, Jepang atau Thailand.

Salah satu tantangan mendasar mengapa anak muda malas menjadi petani adalah tidak memiliki aset berupa tanah dan modal untuk mengurus lahan pertanian. Karena konsep bertani yang selama ini digembor-gemborkan adalah lahan yang luas dengan sejauh mata memandang disuguhi keindahan tanaman pertanian yang subur. Anak muda mana yang memiliki tanah seluas itu kecuali mendapat warisan dari orangtuanya? Jikapun ada, jumlahnya pasti jauh lebih kecil dibandingkan dengan yang sama sekali tidak memiliki tanah. Oleh karena itu, mendorong anak muda untuk memulai usaha pertanian dengan memanfaatkan pekarangan rumah adalah solusi kekinian.
Santri sekaligus kader petani muda di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq sedang memanaen bunga telang ungu untuk dikeringkan sebagai bahan teh herbal yang saat ini banyak diminati (foto: Nissa Wargadipura)

Mengapa pekarangan ekologis kutawarkan sebagai metode re-inovasi yang cocok bagi calon petani muda untuk mulai bertani? Sebagai anak petani yang didoktrin untuk tidak menjadi petani, aku mencoba melihat masalah ini dari sudut pandangku sebagai generasi muda yang 'digagalkan' secara sengaja menjadi generasi petani. Yang kupelajari dari gerakan komunitas pertanian skala kecil seperti yang dilakukan oleh Pesantren Ekologi Ath-Thaariq adalah bahwa kita harus mengumpulkan dan merekatkan potensi kecil yang terserak, yaitu petani-petani kecil dengan lahan kurang dari 1 hektar yang biasanya menyatu dengan pekarangan rumah atau tak jauh dari rumah. Praktek pertanian harus didekatkan dengan rumah karena fungsi pertanian adalah sebagai sumber pangan utama keluarga, agar keluarga memproduksi sumber pangannya sendiri. Disinilah peran petani muda diletakkan. Bukan saja demi meningkatkan upaya berdaulat pangan dan menghindari kelaparan dengan menggerakkan ekonomi desa kembali ke pangan lokal. Juga sebagai upaya membantu petani muda untuk mulai bertani tanpa modal besar yang memberatkan. 

Kukira, menjadi petani tidak harus memiliki lahan puluhan hektar, juga tidak wajib memiliki mesin pertanian paling mutakhir guna mendukung proses bertani agar efektif dan efisien. Kita bisa bertani di lahan sempit seperti pekarangan rumah tanpa harus keluar banyak biaya apalagi membayar upah buruh tani, seperti yang dilakukan Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut serta komunitas lain yang tersebar di seluruh Indonesia. Konsep ini sedang tren di wilayah perkotaan termasuk menjamurnya komunitas anak muda yang gemar berkebun. Bahkan pesantren yang mengelola lahan kurang dari satu hektar itu dapat menghasilkan bahan pangan dan benih yang mereka jual ke publik. Bayangkan saja dampak positifnya bila pertanian semacam ini digalakan di seluruh Indonesia.
Ilustrasi untuk Black Garlic (sumber: wsj.com)

Melalui Badan Pengkajian dan Pengembangan Teknologi (BBPT), lembaga pemerintah seperti Puspiptek dapat mendorong para petani muda melalui penerapan teknologi pertanian dan pengolahan hasil pertanian. Terlebih saat ini Puspiptek telah mewadahi lembaga bernama Technology Based Incubation Center (TBIC) yang merupakan sarana untuk menginkubasi calon pengusaha pemula yang berbasis teknologi. Menurutku lembaga ini unik, karena masyarakat luas termasuk petani muda bisa mengajukan produknya untuk diteliti dan dikembangkan secara lebih mendalam sebelum dipasarkan. Bagi anak muda yang melek teknologi dan informasi kehadiran lembaga ini sangat menarik dan menguntungkan. Bertani kini tidak lagi menjadi asal bertani, tetapi bersandingan dengan teknologi sehingga produk yang dihasilkan tepat guna dan tentunya sehat. Hasil inkubasi TBIC seperti Black Garlic dan Beras Sehat misalnya, menjadi contoh yang dapat memicu semangat anak muda untuk bertani (baca disini). Sebab, dunia anak muda biasanya dipenuhi dengan kreasi dan inovasi, tetapi minim perhatian dalam proses inkubasi.

Proses inkubasi produk pangan dan pertanian ini sangat penting. Bukan hanya memicu semangat petani muda untuk terus melakukan inovasi dalam teknologi pertanian dan pangan. Juga dapat mendorong lahirnya konsep 'one community one product' dimana para petani muda bertani secara berkelompok, menggabungkan fungsi sejumlah pekarangan untuk memproduksi satu atau beberapa jenis bahan pangan yang akan diajukan ke TBIC. Bertani cerdas model begini selain dapat mendorong kebangkitan para petani muda, juga dapat menstimulasi lahirnya berbagai komunitas petani muda untuk Indonesia Jaya!

Epilog dan Harapan
Tulisan ini memang dimaksudkan untuk membangun kesadaran kolektif kita tentang kearifan lokal yang banyak ditinggalkan dalam praktek pertanian. Petani, sebagai ujung tombak penyedia kebutuhan pangan bangsa ini harus diletakkan pada posisinya yang terhormat. Pertama, bahwa keluarga petani harus berdaulat pangan dan terhindar dari kelaparan, sebelum meminta mereka memenuhi kebutuhan pangan nasional. Sebab, bukan rahasia umum bahwa pada puncak musim kemarau dan penghujan, keluarga petani justru mengalami kelangkaan pangan karena rusaknya lahan pertanian diterjang dinamika alam. Atau karena sibuk bertani satu produk yang akan dijual, keluarga petani lupa menanam komditas untuk konsumsi keluarga sehingga harus membeli bahan pangan.  

Kedua, bahwa lembaga seperti BPPT yang bernaung di Puspiptek tidak hanya mendukung petani bermodal besar dalam konteks teknologi dan keterampilan bertani. Juga harus merangkul para petani kecil, yang bahkan hanya mampu bertani di pekarangan rumah, untuk mendapatkan perhatian dan peningkatan keterampilan serupa. Prestasi para petani kecil dan komunitas petani juga harus mendapatkan apresiasi memadai sebab turut serta memajukan pertanian Indonesia. Besar atau kecilnya skala praktek pertanian bukan lagi persoalan, jika semua potensi diberdayakan sesuai kadarnya untuk sama-sama membesarkan pertanian Indonesia. 

Mengakhiri tulisan ini, aku teringat pesan seorang teman yang merasa menyesal karena baru mulai bertani setelah 30 tahun lamanya malang melintang dalam dunia pemberdayaan komunitas. Ia berkata kepadaku begini:
"Mbak Ika, mumpung masih muda, mulai tetapkan langkah dan pilih di mana dirimu akan berkarya. Mulai bangun pelan-pelan konsep bertani yang Mbak Ika cita-citakan. Bangun komunitasmu sendiri, juga konsep yang akan dikembangkan. Lalu jalankan dan promosikan. Kita learning by doing lah ya. Jadilah suluh bagi anak-anak muda untuk mulai gemar bertani, meski hanya bermodal lahan pekarangan. Kalau kita sudah kuat modal kita kerjasama membuat sebuah sekolah khusus pertanian bagi petani-petani di desa yang tidak mampu kuliah di jurusan pertanian, itu mimpi saya beberapa tahun kedepan," ujarnya sembari menemaniku memetik buah markisa.
Sebagai putri dari keluarga petani yang tidak mendapatkan transfer keterampilan pertanian dan didorong untuk berprofesi lain diluar sektor pangan dan pertanian, aku merasa begitu bahagia ketika memiliki kesempatan belajar tentang bertani yang asyik melalui berbagai komunitas. Tentu saja salah satunya dari Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut. Setelah pembelajarn selama bertahun-tahun bersama beberapa komunitas petani yang bertani dan berdaulat pangan dengan lahan pekarangan, maka tahun ini aku memantapkan diri akan membuat inovasi serupa di kampung halamanku di Lampung. Terutama setelah mengetahui bahwa ada lembaga Technology Based Incubation Center (TBIC) yang bernaung di Puspiptek. Mungkin, beberapa tahun kedepan aku dan komunitasku akan mengajukan produk inovasi kami untuk diinkubasi di TBIC sebelum dipasarkan.

Depok, 5 Agustus 2018

6 comments

  1. keren, banayk temanku yang bisa menjadi petani yang berhasil , kebanyakan yg berhasil adalah petani baru yang mau gagal dan bangkit kembali. Petani yang sdh turun temurun itu yg susah maju krn terbiasa dibantu pemerintah dan gak mau usaha yg keras, toh kalau gagal ada bantuan dr pemerintah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Tira, terima kasih sudah mampir. Iya, banyak juga petani yang malas belajar karena terbiasa mendapat bantuan pemerintah. Mungkin peran para Penyuluh Pertanian kurang optimal ya...

      Delete
  2. Orang-orang di desa memilih pergi ke kota atau menjadi buruh pabrik. Harapan mereka ingin hidup lebih baik daripada menjadi petani di desa. begitulah potret warga desa di tempatku mba.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Rochma, terima kasih sudah mampir. Iya betul banget karena selama ini kehidupan petani nyaris nggak pernah makmur, makanya anak muda memilih bertarung hidup di kota...

      Delete
  3. Iya, ya, yang mestinya yang dicukupi kebutuhan pangan pribadi dulu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Afifah, terima kasih sudah mampir. Iya, seharusnya petani memberi makan didinya sendiri terlebih dahulu sebelum membri makan bangsa hehe...

      Delete

follow me on instagram