Menangkal Hoax Dengan Ngaji Literasi Media

Ilustrasi (sumber: shutter stock)

"Kehadiran ponsel pintar membuat euforia manusia menjadi-jadi. Nah, orang-orang yang literasinya rendah terkait media sosial jadi mabuk oleh kata-katanya sendiri yang dia tebar di dunia maya."

-Lukman Hakim Saifuddin-


Bulan Ramadan lalu pertama kalinya aku berjumpa dengan Menteri Agama Bapak Lukman Hakim Saifuddin, dan istri beliau Ibu Trisna Willy dalam kegiatan Kompasiana Perspektif "Menag Bercerita: Melawan Hoax, Menjaga Hati". Acaranya adalah tentang menangkal hoax dan apa yang sudah dilakukan Pak Menteri secara pribadi dalam menangkal berita bohong, khususnya di media sosial. "Dunia maya adalah hasrat dunia baru yang menjebak," kata Pak Lukman dan kata-kata itu sontak menohokku, tepat di jantung hati. Kata 'menjebak' membuatku teringat dengan tulisanku sendiri saat mereview novel karya mbak Okky Madasari yang berjudul 'Kerumunan Terakhir' yang berkisah tentang orang-orang yang hancur hidupnya karena jebakan dunia maya.

Pak Menteri mengingatkan agar kita tidak mudah baper/terpancing emosi saat bermain media sosial, karena menurutnya dunia maya merupakan dunia main-main yang seharusnya dihadapi dengan santai seperti sedang liburan di pantai. Sikap baper saat bermain media sosial selain dapat dengan mudah menyebarkan virus hoax, juga membuat kita cenderung mudah stress, hilang akal dan merusak hati. Ah iya juga ya, sebab jiwa yang sehat adalah pondasi bagi tubuh yang kuat.
"Kita ini adalah generasi yang hidup di dua dunia, yaitu dunia nyata dan dunia maya. Selain itu, kehadiran ponsel pintar membuat euforia manusia menjadi-jadi. Nah, orang-orang yang literasinya rendah terkait media sosial jadi mabuk oleh kata-katanya sendiri yang dia tebar di dunia maya. Bayangkan saja, seorang pendiam di dunia nyata bisa begitu beringas di dunia maya!"
Nongkrong bareng Menteri Agama bersama rekan-rekan Kompasianer pada Juni 2018 di Jakarta

"Melawan hoax itu sama dengan menjaga hati. Nalar dan pengalaman hidup adalah landasan verifikasi berita. Sebab berita harus dipertanggung jawabkan. Jangan jadi bagian dari penyebar hoax," Pak Lukman menegaskan dengan semangat, karena memang selain melaksanakan tugas dan fungsi yang berat sebagai Menteri Agama di era penuh hoax ini, ia juga memiliki kewajiban menggunakan media sosialnya dalam menangkal hoax. No hoax, we happy!

Nah, karena tugas seorang Menteri Agama itu sulit, aku berandai-andai #BilaAkuJadiMenag dan sedang mendapat tugas dari Presiden untuk melibas habis wabah hoax yang melanda masyarakat Indonesia. Bayangkanlah, bangsa Indonesia baru saja memiliki Menteri Agama seorang perempuan, lajang pula (bukan iklan mencari pangeran tampan ya hehe) dan akan memulai tugas menangkal hoax dengan tegas, cepat, tepat dan memiliki efek jera. 

Karena Kementerian Agama merupakan lembaga negara yang selayaknya menjadi contoh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, mengingat inilah satu-satunya lembaga negara yang mengurusi kehidupan agama dan spiritual warga negara. Maka, segala upaya menangkal hoax dari dimulai dari dalam tubuh Kementerian Agama sendiri, mulai dari tingkat pusat hingga kantor wilayah di seluruh Indonesia. Upaya ini jelas harus mencerminkan nilai-nilai utama seperti Integritas, professionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan. Sungguh berat memang mengejawantahkan pesan Tuhan tentang menjadi suri tauladan dalam kehidupan akhir zaman.
Setiap perubahan baik harus dimulai dari keluarga besar Kementerian Agama (sumber: kemenag.go.id)

1. Satu Hari Satu Posting Konten Positif 
Sebagai Menteri Agama di era digital, aku punya akun media sosial dong, yaitu Twitter. Karena tanggung jawab menangkal hoax ini pertama-tama ada di pundakku, maka aku akan memposting minimal satu tweet positif setiap hari. Ini adalah trik asyik yang sederhana, yang langsung dapat diikuti oleh seluruh pegawai di lingkungan Kementerian Agama yang kupimpin. Bisa dibayangkan betapa melimpahnya konten positif yang akan meramaikan dunia maya dan menjadi trending topic nasional dengan trik ini? 

Tentu saja dampaknya akan semakin berlipat ganda jika setiap tweet positif itu di-retweet oleh netizen yang peduli dengan upaya berjamaah menangkal hoax. Belum lagi bila metode ini diterapkan oleh pegawai yang menggunakan Instagram dan Facebook. Ah, pasti seru sekali karena akan membuat para penyebar hoax misuh-misuh karena kehilangan massa.

2. Ngaji-Literasi Media Keluarga Besar Kementerian Agama
Sebagai Menteri Agama, aku memandang bahwa sangat tidak mungkin menangkal hoax di tanah air tercinta ini jika tidak dibarengi dengan upaya meningkatkan literasi media bagi keluarga besar Kementerian Agama. Sebuah upaya yang sistematis dan cerdas harus juga dimulai dengan menyamakan isi kepala dan tujuan bersama: bahwa seluruh keluarga besar Kementerian Agama melek literasi media, paham bahaya hoax, memiliki keinginan menangkal hoax dan tahu bagaimana cara menangkal hoax dengan asyik. Selain itu, upaya menangkal hoax juga harus tepat sasaran dan memiliki efek jera.

Mari kita mulai dengan terlebih dahulu menghitung jumlah orang dalam keluarga besar Kementerian Agama. Berdasarkan dokumen berjudul Kementerian Agama Dalam Angka 2017, berikut adalah jumlah keluarga besar Kementerian Agama dari tingkat pusat hingga daerah: jumlah pegawai Kementerian Agama adalah sebanyak 232.874 orang (Kantor Pusat, Kantor Wilayah, PTKN, Balitbang & Diklat, dan UPT Asrama Haji); pegawai di 71 Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri adalah sebanyak 18.359 orang; pegawai di 3 Balai Litbang dan 14 Balai Diklat adalah sebanyak 868 orang; ditambah lagi dengan pegawai di 1.690 MIN, 1.444 MTSN dan 764 MAN.
Keluarga Besar Kementerian Agama (sumber: dokumen Kementerian Agama Dalam Angka 2016)

Sumberdaya manusia yang melimpah di lingkungan Kementerian Agama merupakan kekuatan tersendiri yang harus diberdayakan dalam menangka hoax. Jumlah ini belum ditambah dengan anggota keluarga dari pegawai di lingkungan Kementerian Agama. Jika kita rata-rata setiap pegawai di lingkungan Kementerian Agama adalah keluarga batih yaitu Ayah, Ibu dan dua orang anak, maka jumlah yang sudah kuuraikan diatas akan semakin berlipat ganda. 

Jika kubuat program "ngaji literasi media" setiap satu kali per bulan mulai dari kantor pusat, kantor wilayah, balai diklat & balai litbang, perguruan tinggi hingga sekolah di lingkungan Kementerian Agama, maka jumlah warga negara Indonesia yang melek literasi media akan sangat melimpah. Jika para pegawai ini sudah melek literasi, minimal mereka akan mewariskan pengetahuan itu kepada anggota keluarganya masing-masing, sehingga jumlah warga negara yang melek literasi media akan semakin melimpah bagai bintang di langit. Upaya baik akan indah dan mencerahkan, bukan?

3. Ngaji-Literasi Media  Bersama Lembaga Keagamaan
Saat program "Ngaji Literasi Media" di lingkungan Kementerian Agama sudah berjalan, maka langkah selanjutnya adalah melakukan hal serupa bersama seluruh lembaga keagamaan yang ada di Indonesia. Yah, meski tidak semua warga negara Indonesia religius, tetapi sebagian besar orang Indonesia masih mempercayai nasehat dan kata-kata dari tokoh agama yang mereka anut dibanding orangtua, guru, apalagi motivator dan selebriti. 

Saat ini, Indonesia memiliki sebanyak 239.497 unit Masjid dan 257,361 unit Mushalla; 60.170 unit Gereja Kristen; 11.021 unit Gereja Katolik, 2.354 unit Vihara, 24.837 unit Pura dan 552 unit Kelenteng. Jika dalam satu kali dalam sebulan para pemuka setiap agama memberikan ceramah atau pelajaran tentang pentingnya menangkal hoax kepada umat masing-masing, maka bisa dipastikan memberi pengaruh positif yang berlipat ganda. Bagaimanapun juga, orang-orang yang datang untuk beribadah masih percaya pada kebaikan nilai agama yang mereka anut dan takut akan siksa yang Tuhan berikan. 

Upaya ini dapat diperkuat dengan memasukkan materi "Literasi Media" dalam pertemuan-pertemuan organisasi keagamaan yang lebih fleksibel dan biasanya banyak dihadiri oleh anak muda. Dalam konteks umat Islam misalnya, Kementerian Agama dapat bekerjasama dengan Pemuda Muhammadiyah atau Muslimat NU dan lain sebagainya.

4. Memanfaatkan The Power of Social Influencer
Di era digital ini peran para social influencer sangat penting. Sebagian besar mereka adalah anak muda yang melek teknologi dan sangat suka mengekspresikan diri melalui berbagai kanal media sosial seperti Youtube dan Instagram. Selain karena karya mereka menghasilkan uang melimpah dan popularitas lintas negara. Para Social Influencer ini memiliki dunianya sendiri, dengan sejumlah aturan yang unik dan tentu saja memiliki jutaan pengikut, dan mereka semua adalah anak muda, generasi produktif bangsa ini! Konten media sosial mereka selalu dinantikan, gaya mereka diikuti hingga menjadi inspirasi. Bahkan, bisa jadi pengaruh para Social Influencer ini jauh lebih dahsyat dibandingkan dengan nasehat orangtua dan tokoh agama. 


#BilaAkuJadiMenag maka akan kuundang para Social Influencer ini ke kantor Kementerian Agama dengan agenda khusus membahas kerjasama antara Kementerian Agama dan para Social Influencer untuk menangkal hoax. Coba saja Anda bayangkan ceriwisnya Ria Ricis, Nissa Sabyan atau Arie Kriting saat mengajak para remaja menangkal hoax melalui sebuah video di Youtube. Atau bijaknya Maudy Ayunda, Iqbaal Ramadhan dan Nikita Willy yang mengajak netizen menangkal hoax melalui sebuah postingan di Instagram. Atau peran para mamah muda seperti Dian Sastro, Chelsea Olivia, Sabai Dieter, Gisella Anastasia dan Merry Riana yang dapat membantu melipat gandakan upaya menangkal hoax di lingkungan sosial mereka, bahkan saat momen arisan atau mengantar anak ke sekolah. Netizen bisa klepek-klepek dengan nasionalisme mereka, bukan?

5. Laporkan Berjamaah Konten Negatif dan Hoax
Nah, ini trik asyik yang terakhir. Karena menebar hoax merupakan kejahatan, maka salah satu upaya menangkal hoax sekaligus memberi efek jera kepada pelakunya adalah dengan melaporkan konten negatif tersebut beramai-ramai alias gotong royong. Bukan berarti setiap penyebar konten hoax harus ditangkap polisi dan dijebloskan ke penjara seperti banyak kasus yang sudah ditangani pihak kepolisian. Melainkan sebagai upaya serangan balik dari orang-orang baik pada orang-orang jahat. 

Bagaimana, lima trik asyik menangkal hoax ini benar-benar asyik dan sederhana, bukan? Kita pasti ingat sebuah peribahasa, "Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing," di mana kerjasama menangkal hoax ini akan terasa berat jika dilakukan oleh Menteri Agama sendirian. Jika kita percaya bahwa diri kita adalah orang baik dan orang-orang dalam lingkaran sosial kita adalah orang baik, dan kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan. Maka tidaklah mustahil upaya berjamaah kita atas nama Tuhan dan kemanusiaan untuk menangkal hoax akan mencapai sukses gilang gemilang.   

Depok, 1 Agustus 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram