Gandeng Tangan Keluarga dan Sekolah pada Penyelenggaraan Pendidikan di Era Kekinian

Kreativitas guru dalam penyelenggaraan pendidikan kepada murid-muridnya (sumber: jpp.go.id)

Masih lekat dalam ingatanku saat Ayahku mengajariku mengeja huruf dan angka sebelum aku masuk sekolah atau mengaji di Taman Pendidikan Al-Quran (TPA). Sebagai orangtua tunggal, Ayah membimbingku secara khusus untuk memulai pelajaranku antara pukul 18.00-19.00 WIB, setelah beliau pulang bekerja. Ayah mengirimku ke sekolah karena beliau paham pengetahuannya yang terbatas dan ingin agar puterinya mendapat pendidikan memadai dari guru-guru serta pergaulan dengan teman-teman. Sebab, selain mengajariku soal pendidikan akademis, Ayah tak pernah lupa mengajariku berbagai hal dalam kehidupan seperti soal tata krama, sopan santun, tanggung jawab hingga kemandirian. Salah satunya tentang menghormati guru.

Ayahku sangat menghormati profesi guru sebagaimana terhadap ulama. Karena menurut beliau, guru sangat berjasa dalam mendidik umat manusia untuk terbebas dari alam pikir yang gelap menuju terang benderang oleh pengetahuan. Guru adalah jembatan antara pengetahuan dan manusia yang membutuhkan pengetahuan guna menerangi hidupnya bermanfaat bagi kehidupan dan tidak salah langkah. Ayah selalu mewanti-wanti agar aku menghormati semua guruku dengan penghormatan paling mulia, serta tidak boleh melawan apalagi merusak nama baik guru.

Oleh karena itu, aku merasa heran terhadap berbagai kasus kekerasan yang dilakukan sejumlah orangtua terhadap guru-guru yang mendidik anak mereka di sekolah. Atau bahkan kekerasan hingga pembunuhan yang dilakukan murid kepada gurunya sendiri. Tentu kita masih ingat kisah meninggalnya guru honorer di SMA Trojun, Madura bernama Budi setelah dipukul muridnya sendiri (baca disini, disini, disini). Atau kisah tentang seorang guru sekaligus kepada sekolah SMP 4 Lokak, Sulawesi Utara yang kepalanya dihantam meja kaca oleh orangtua salah satu muridnya karena kesalah pahaman (baca disini). Atau tentang seorang guru SDN 31 Meliau, Sanggau, Kalimantan Barat yang dianiaya oleh orangtua muridnya sendiri karena si orangtua tak terima anaknya sering mendapat teguran dari sang guru (baca disini). Serta kasus kekerasan lain terhadap guru yang sangat memiriskan hati, seakan-akan penyelenggaraan pendidikan gagal membangun karakter murid, karena jumlahnya yang banyak dengan peristiwa berulang sehingga tidak mungkin lagi disebut sebagai kasuistis (baca disini). 


Membaca kisah kekerasan yang dialami guru atau murid di sekolah membuatku teringat dengan cerita seorang teman. Ia adalah seorang ayah dari 3 anak yang semuanya beranjak remaja, di mana yang bungsu sedang menjalani tahun terakhirnya di Sekolah Menengah Atas (SMA). Rupanya anak lelakinya yang bungsu memilki karakter berbeda dengan dua anaknya yang lain, di mana ia merupakan pembangkang, pemberontak, keras kepala dan sangat sulit diatur. Menurut temanku, anaknya sering membuat masalah di sekolah padahal sejak di rumah ia dan istrinya telah meminta anaknya untuk belajar dengan giat, bersikap sopan pada guru dan berperilaku baik agar masa depannya cerah. Tapi ternyata si anak tetap saja membandel. 
"Bukan sekali dua kali saya ini dipanggil pihak sekolah karena kelakuan anak saya yang nomor tiga, dek Angga. Sampai bosan dan malu saya karena sering menghadap gurunya di sekolah. Sampai suatu hari saya dapat laporan kalau Angga mengutil di sebuah minimarket dan mereka menunggu reaksi saya apakah anak saya harus dilaporkan ke polisi atau bagaimana, kan dia masih dibawah umur. Malu sekali saya ketika gurunya Angga melaporkan perbuatan anak saya, rasanya gagal saya jadi orangtua," teman saya yang bernama Pak Macho memulai ceritanya dengan mimik wajah campuran antara sedih, terharu dan lucu. 

"Maka saya bilang biarkan saja dek Angga dilaporkan ke polisi supaya dia kapok bikin masalah. Ya kalau nakal biasalah anak muda, lha ini ngutil di minimarket! Saya dan istri saya kan tidak pernah mengajarkan dia mencuri! Bagaimana bisa anak saya mengutil?! Pas ditanya alasannya katanya buat iseng aja, sebab di saku celananya ternyata masih ada sejumlah uang yang cukup untuk membeli jajan. Astaga naga rasanya mau pecah kepala saya mendengar anak saya bilang begitu! Malu juga sama semua orang! Apa saya ini salah mendidik anak saya sendiri atau bagaimana? Lalu dia bermalam di kantor polisi. Saya dan istri sepakat tidak menjenguknya supaya dia berpikir tentang perbuatannya. Saya minta adik saya yang menjenguk dan membawakan selimut. Setelah beberapa hari ditahan di sel dan mendapat banyak wejangan, baru dia nangis di pangkuan saya dan minta maaf. Pingin ketawa sekaligus marah saya kalau ingat kisah itu," katanya dengan senyum ringan. 
Kisah-kisah diatas, termasuk kisah temanku tentang anaknya tentu saja menggelitik pikiran. Bukan rahasia umum bahwa para orangtua berpikiran dengan mengirimkan anaknya ke sekolah maka segala urusan berkaitan dengan kecerdasan akademis, perilaku dan tata krama anaknya beres di tangan guru. Para orangtua beranggapan bahwa karena mereka telah membayar biaya sekolah yang mahal, maka wajar jika memiliki ekspektasi yang tinggi soal hasil yang diperoleh dengan menyekolahkan anak-anak mereka. Sebab, waktu mereka sudah habis digunakan untuk bekerja, salah satunya demi membayar biaya sekolah anak. 

Sementara di sisi lain, guru dan institusi pendidikan hanyalah perangkat pendidikan nomor dua setelah keluarga. Maka sangat salah kaprah jika orangtua membebankan pendidikan anak-anak mereka kepada guru dan sekolah, terlebih soal pendidikan karakter. Bagaimanapun juga, beban seorang guru di sekolah yang harus mendidik puluhan siswa dalam satu kelas sangat berat jika dibandingkan dengan beban orangtua mendidik anak mereka yang jumlahnya dapat dihitung jari. Sungguh tidak adil membebankan pendidikan anak sepenuhnya kepada guru dan sekolah, bukan? 

Peran Guru dan Sekolah di Era Kekinian
Menjalani profesi sebagai guru tidaklah mudah, apalagi dengan sistem pendidikan di Indonesia yang masih bongkar pasang. Ditambah dengan gaji rendah, beban kerja tinggi dan tuntutan moral yang luar biasa ketat. Guru selalu dituntut menjadi teladan kehidupan. Jika guru melakukan sedikit kesalahan, maka hukuman sosial akan menimpanya. Seakan-akan seoang guru merupakan sosok suci tanpa dosa bagai seorang Rasul. 

Sesungguhnya, guru dan lembaga pendidikan seperti sekolah adalah penolong para orangtua dalam mendidik anak mereka berbagai keterampilan akademis dan karakter. Sebab, untuk sekian banyak keterampilan akademis tidak mungkin diajarkan oleh orangtua secara keseluruhan, meskipun para orangtua berpendidikan tinggi. Demi menciptakan generasi bangsa yang berkualitas dan berdaya saing, guru bertugas menyiapkan anak didik yang memiliki kecakapan yang diperlukan di abad ini, yaitu: berpikir kritis dan analitis, kreatif dan inovatif, komunikatif dan kolaboratif. Kecakapan tersebut harus dimiliki anak bangsa dari Sabang sampai Merauke  agar Indonesia semakin berkualitas.  



Kecakapan tersebut tentu saja tidak diperoleh dengan simsalabim, melainkan dengan berbagai upaya yang dilakukan guru. Sebab guru kekinian tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, melainkan berperan dalam banyak hal. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sendiri telah menetapkan peran guru masa kini, yang cerdas dan berkarakter. 

Pertama: Sebagai pengajar, guru harus mampu menyampaikan mata pelajaran agar dimengerti dan dipahami anak didik. Tentu saja dengan berbagai metode untuk membuat suasana belajar menjadi menyenangkan dan menggembirakan. Bahkan tak jarang, para guru menggunakan metode belajar yang lucu agar anak didiknya tidak bosan belajar.

Kedua: sebagai katalisator, guru harus mampu mengidentifikasi, mengenali dan mengoptimalkan potensi anak didik. Karena sangat penting mengetahui potensi dan bakat anak didik, agar kedepan anak tersebut dapat mengoptimalkan kemampuannya sehingga dapat meneruskan pendidikan sesuai dengan potensinya, dan mungkin tumbuh dengan percaya diri dalam menggapai cita-cita. 

Ketiga: sebagai penjaga gawang, guru harus mampu membantu anak didik menyaring pengaruh negatif. Sebab sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak sekali anak sekolah yang suka berbuat onar dan menciptakan masalah karena pengaurh negatif teman sebaya atau lingkungan luar sekolah. Misalnya anak suka merokok di sekolah, ikut tawuran antar sekolah, berbuat kriminal seperti merusak fasilitas publik dan vandalisme, terlibat pergaulan bebas hingga narkoba, berbuat buruk pada teman sekolah hingga melawan guru. Peran guru di bagian ini tentu sangat berat karena seakan-akan guru bertanggung jawab penuh pada moral dan karakter setiap anak. 

Keempat: sebagai penghubung, guru harus mampu menghubungkan anak didik dengan sumber-sumber belajar yang beragam baik didalam maupun di luar sekolah. Disini guru dituntut kreatif, sebab anak didik zaman sekarang yang melek informasi dan teknologi merupakan generasi yang haus akan kreatifitas dan mudah sekali bosan dengan teknik pembelajaran yang monoton. 

Kelima: sebagai fasilitator, guru harus mampu membantu anak didik dalam proses pembelajaran, menjadi teman diskusi dan bertukar pikiran. Sebab di zaman keterbukaan seperti sekarang, metode belajar satu arah tidak lagi berlaku. Guru dan murid seringkali diposisikan sebagai dua pihak yang dapat terbuka satu sama lain sehingga murid dapat terbuka dan tanpa rasa takut mendiskusikan banyak hal dengan guru, termasuk soal mata pelajaran, hingga tentang masa depan. 

Wah, berat sekali ya tugas seorang guru. Sehingga memang tidak pas dan tidak adil jika para orangtua membebankan 100% kecakapan akademis, karakter dan moral anak mereka kepada guru di sekolah. Dengan tuntutan peran yang idealis begitu, ditambah dengan jumlah murid yang banyak dengan masalahnya masing-masing, seorang guru pastilah harus memiliki karakter superman atau wonder women. Tentu saja itu tidak mungkin, karena guru adalah manusia biasa yang memiliki banyak kekurangan. Dengan demikian, para orangtua harus sadar diri bahwa tugas mendidik anak-anak terutama soal karakter dan moral adalah tugas utama mereka sebagai orangtua dan keluarga si anak didik, dan bukan tugas utama guru atau lembaga pendidikan tempat anak sekolah.   

Peran Keluarga Dalam Tri Pusat Pendidikan
Setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini adalah anugerah terindah bagi keluarganya, sehingga mereka harus dibesarkan dengan kasih sayang dan diberikan bekal kehidupan berupa pendidikan yang baik. Mereka juga merupakan benih potensial yang dapat tumbuh sebagai orang besar di masa depan, dan mungkin pemimpin hebat yang mampu membawa kehidupan manusia ke dalam masa kegemilangan dan kemakmuran. Maka tak heran, jika para orangtua kerap memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya, termasuk memasukkan mereka ke sekolah terbaik meski harus membayar biaya yang sangat mahal. 

Tetapi mungkin sebagian orangtua lupa bahwa keluarga merupakan tempat yang pertama dan utama setiap anak mendapatkan pendidikannya, terutama tentang karakter dan moral. Setiap anak meniru apa yang diucapkan, dilakukan dan diajarkan orangtua di rumah sebelum mereka menerima pelajaran lain di sekolah. Karena sehebat apapun sebuah lembaga pendidikan dan guru-guru yang ada didalamnya, tidak akan mampu mengambil alih peran keluarga sebagai pendidik yang utama bagi anak-anaknya. Hanya dengan membayar sekian rupiah biaya pendidikan, bukan bebarti 100% karakter, moral dan kemampuan akademis anak menjadi tanggung jawab sekolah. Karena sangat tidak adil jika setiap orangtua menaruh beban mendidik anak-anak mereka di pundak orang lain.



Di era kekinian, orangtua harus sadar bahwa keluarga merupakan salah satu dari tri pusat pendidikan. Di mana peran keluarga, sekolah dan masyarakat harus terintegrasi guna menciptakan lingkungan yang baik bagi setiap anak. Ketiganya merupakan bagian yang memiliki peran sama penting dalam sekosistem pendidikan yang bersinergi. Sekolah tidak mungkin mengambil tanggung jawab orangtua dalam mendidik anak mereka, sebab fungsi sekolah hanya sebagai sentral sumber-sumber belajar.  Ibu Yohana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengatakan bahwa, "baik buruknya karakter/perilaku anak di masa datang sangat ditentukan oleh pola pengasuhan yang diberikan keluarganya dan lingkungan terdekatnya." 

Oleh karena itu, alangkah baiknya jika keluarga dan orangtua tidak lagi memandang bahwa pendidikan anak mereka sebagai tanggung jawab utama sekolah. Terlebih, di era kekinian para orangtua bisa menjadikan sekolah sebagai sahabat keluarga, dalam upaya membantu optimalnya pendidikan anak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bahkan telah memberikan ruang khusus bagi para orangtua untuk bersahabat dengan sekolah melalui laman Sahabat Keluarga. Yaitu laman yang dibangun untuk mewujudkan kemitraan antara keluarga, sekolah sebagai satuan pendidikan dan masyarakat. Melalui laman tersebut  diharapkan terbangun ekosistem pendidikan, yang terdiri atas orang tua, kepala sekolah, guru, komite sekolah, dewan pendidikan, pegiat pendidikan dan masyarakat keseluruhan,  yang cerdas dan berkarakter. Melalui laman tersebut juga, orangtua dapat memperoleh praktik baik pendidikan keluarga dan menularkannya ke orangtua lain sehingga dapat menjadi fasilitas belajar bersama. Orang tua juga dapat belajar dari pengalaman orang tua lain yang berhasil mendidik anak-anaknya hingga berhasil. 

Laman Sahabat Keluara yang dapat diakses di sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id


Karena menyadari bahwa kemitraan ini penting, para orangtua bahwa bisa mengakses berbagai informasi laman Sahabat Keluarga, yang didalamnya tersedia berbagai pembelajaran dan cerita para orangtua, mulai dari level PAUD hingga lintas usia. Didalamnya ada juga Forum Keluarga yang merupakan wadah bertukar pikiran tentang pendidikan keluarga, yang bisa diikuti setiap orangtua dari Sabang sampai Merauke. Di laman tersebut, orangtua juga bisa mengunduh buku dan majalah sebagai bahan belajar, atau mengirimkan tulisan tentang pengalaman menjadi orangtua, atau dapat mendengar suara anak melalui berbagai dokumentasi kegiatan anak. Melalui lama tersebut orangtua juga bisa mengunduh lagu-lagu dan dongeng sebagai media pembelajaran. Hingga menyampaikan pengadua terkait pendidikan. Menyenangkan, bukan? 

Atau bisa juga melalui melalui akun media sosial baik melalui Youtube, Facebook, Twitter dan Instagram Sahabat Keluarga. Di akun Youtube Sahabat Keluarga telah tersedia ratusan video yang bisa menjadi media pembelajaran orangtua seperti tentang gizi, manajemen konflik, mencegah perundungan hingga terorisme, tumbuh kembang anak dan sebagainya. Terdapat juga animasi dan dongeng yang dapat menjadi media belajar bersama anak dan orangtua.

Yuk bergandeng tangan pada penyelenggaraan pendidikan di era kekinian, agar anak-anak kita kelak menjadi generasi yang berkarakter, berdaya saing dan mengharumkan nama bangsa. Keluarga, sekolah dan masyarakat harus menjadi ekosistem yang saling bersinergi dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing bersama #sahabatkeluarga

Depok, 12 Agustus 2018

Wijatnikaika Official

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #