Bioteknologi dan Masa Depan Kedaulatan Pangan Indonesia

Belajar di Balai Bioteknologi (foto: Pak satpam)
Hari kedua kegiatan Writingthon Puspiptek 2018 berjalan semakin menggemaskan, karena tugas yang paling menantang terhidang di depan mata. Sementara menunggu waktu dan rehat dari proses pembelajaran yang membuat keriting otakku, kulanjutkan dulu ceritaku belajar di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Kali ini aku mau sedikit membahas soal teknologi bidang pangan dan pertanian di Balai Bioteknologi yang merupakan unit kerja dari Kedeputian Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) atau Biotek.


BACA INI DULU YA: Beras Sagu dan Mimpi Kedaulatan Pangan 

Keluar dari gedung TPA, aku diantar ke Balai Bioteknologi dan bertemu dengan Pak Imron Rosidi. Balai Besar di BPPT yang disebut juga Biotek ini bertugas melaksanakan kegiatan pelayanan bioteknologi. Pelayanan dan jasa Biotek adalah sebagai berikut:
  • Produksi bibit, pupuk hayati, pupuk organik, pestisida hayati, dan pakan ternak berbasis bioteknologi.
  • Kerjasama penelitian, pengkajian, dan pengembangan kultur jaringan tanaman, bioagen, dan pakan ternak berbasis fermentasi.
  • Desain laboratorium kultur jaringan beserta fasilitas pendukungnya.
  • Pelatihan tenang kultur jaringan tanaman, produksi pupuk hayati, dan aplikasi pakan ternak berbasis bioteknologi.
  • Pengujian analitik, molekuler, dan mikrobiologi.
  • Kunjungan akademis instansi pemerintah, swasta, dan lembaga pendidikan.

Setelah berkenalan, beliau mengajakku berkeliling kantor. Pertama-tama beliau menjelaskan apa yang disebut bioteknologi bidang pertanian dan bioteknologi bidang industri. Nah, di bidang pertanian sendiri ada dua mainstrem yaitu pembibitan dan pemanfaatkan mikroorganisme di laboratorium bioteknologi. Saat ini Biotek BPPPT memiliki kultur koleksi mikroba sebanyak 25.000 isolat. Sebagian besar koleksi mikroba ini digunakan untuk industri, sementara sebagian kecilnya digunakan untuk pertanian. 

Misalnya untuk pembuatan pupuk hayati seperti biofertilizer yang fungsinya untuk mengurai posfat dalam tanah. Termasuk juga berfungsi untuk melakukan fiksasi nitrogen dalam udara oleh mikrona. Contohnya adalah N-Fert Biofertilizer, Decomic Decomposer untuk mengurai daun dan ranting sehingga siap digunakan sebagai kompos. Ada juga mikroba untuk mengurai onggok atau ampas singkong, yang diproses seperti tempe untuk dijadikan pakan apung ikan air tawar. Ada juga mikroba untuk menghasilkan hormon/fitohormon yang gunanya membantu pertumbuhan tanaman agar sehat (keren sih, tapi kepalaku jadi puyeng hahaha).

Setelah menjelaskan kepadaku dengan sangat baik hal-hal seputar mikroba, Pak Imron kemudian menunjukkan padaku metode pembibitan dengan kultur jaringan (inviltro)."Pembibitan kultur jaringan itu sampel dibuat di lab, ditsterilkan menggunakan alat sterilisasi dengan suhu 121 derajat Celcius selama 15 menit," ujar Pak Imron, saat mengajakku masuk ke ruangan sterilisasi. Dalam ruangan ini terdapat banyak sekali tabung-tabung kaca yang berisi bibit aneka jenis tanaman baik yang sudah atau belum mengalami sterilisasi. Dan, aku semakin kagum saja untuk pengetahuan baru ini.
Pembibitan kelapa sawit dengan metode kultur jaringan oleh Balai Bioteknologi BPPT
Pembibitan jahe dengan metode kultur jaringan oleh Balai Bioteknologi BPPT
Di dalam gedung laboratorium itu, Pak Imron juga mengajakku masuk ke beberapa ruangan penyimpanan bibit. Di salah satu ruangan aku melihat bibit anggrek dalam beberapa botol kaca, serta beberapa bibit tanaman lain seperti kentang dan jeruk. "Kalau sawit ini pembibitannya menggunakan kultur jaringan, dari daun yang muda," tambah Pak Imron saat menunjukkan sebuah botol berisi bibit anggrek yang membuatku terpesona dan ingin berubah menjadi peri agar bisa masuk ke dalamnya seperti Tinker Bell (khayalan aneh!)
Bibit anggek dalam toples kaca di laboratorium Balai Bioteknologi BPPT, seperti hutan di dunia lain ya

"Lain lagi dengan metode exviltro atau stek kita kembangkan untuk tanaman sektor perkebunan, holtikultura dan beberapa tanaman hias seperti anggrek. Bukan untuk tanaman pangan. Misalnya jeruk, karet, lada, dan lainnya," kata Pak Imron sembari tersenyum ramah saat kami dalam perjalanan ke greenhouse yang terletak disamping gedung Biotek. Greenhouse tersebut menyimpan berbagai jenis bibit tanaman pangan, perkebunan, holtikultura dan kehutanan sebagai bahan riset para peneliti di Balai Bioteknologi BPPT.
Tanaman lada rambat di greenhouse Balai Bioteknologi BPPT hasil metode stek
Tanaman jeruk nipis yang rimbun dan berbuah lebat di halaman Balai Bioteknologi BPPT
Bibit jeruk, karet dan anggrek hasil metode stek di greenhouse Balai Bioteknologi BPPT

TEKNOLOGI DAN MASA DEPAN PANGAN 
Pembelajaran singkatku di Balai Bioteknologi BPPT mendapat tambahan luar biasa ketika melakukan kunjungan ke kantor manajemen Puspiptek dan bertemu muka dengan kepala Puspiptek, yaitu Ibu Dr.Ir. Sri Setiawati, M.A. Dalam pertemuan singkat itu, perempuan yang tampak tegas, cerdas, berdedikasi tinggi untuk ilmu pengetahuan dan teknologi, serta bangga dengan karya anak bangsa ini menegaskan bahwa teknologi sangat dibutuhkan bangsa ini untuk menjadi bangsa yang besar, maju dan berdaya saing.
"Teknologi adalah jantung hati kehidupan, membuat dinamika masyarakat berubah dan selalu membawa perubahan, yang nggak hanya disikapi sebagai pengguna. Membangun masyarakat teknologi menjadi titik kritis bagi Puspiptek, untuk membumikan teknologi. Kita kan semua masih sebagai pengguna teknologi, belum membiasakan budaya menemukan. Kedepan kita harus jreatif kalau nggak mau tergilas. Kita harus juga menguasai teknologi karena sangat berpengaruh pada lapangan pekerjaan dan masa depan bangsa. Sekarang semua aktivitas kita menggunakan Big Data. Karenanya kita harus merubah cara pikir. Sebab percuma kalau teknologinya maju kalau pola pikir kita belum maju. Sekarang ini zaman teknologi di mana banyak peluang untuk menjadi kaya berkat teknologi, seperti Gojek," begitulah ringkasanku atas sambutan Ibu Sri yang sangat berapi-api
Karena sepertinya beliau memiliki harapan besar kepada peserta Writingthon Puspiptek 2018 untuk mampu mempopulerkan isu teknologi dan hasil-hasil penelitian para peneliti di Puspiptek kepada publik, beliau semakin keras membakar semangat kami. Dengan tegas dan berapi-api, beliau mengatakan bahwa sikap dan perilaku mencintai teknologi merupakan cara untuk mewujudkan mimpi Indonesia menjadi negara maju, karena negara maju selalu berbasis IPTEK dan Sumber Daya Manusia yang maju.
"Puspiptek ini luasnya 460 ha, dengan 50 laboratorium dan pusat penelitian. Kita juga punya 5000 pegawai dengan 500 orang peneliti dan Doktor. Ada juga lembaga-lembaga seperti LPMK, BATAN, BPPT dan LIPI. Kita juga ada reaktor nuklir disini," jelasnya bangga. 
Disamping itu, beliau juga menyayangkan sikap sebagian besar masyarakat Indonesia yang hanya cakap berdebat meributkan hal-hal tidak penting dibandingkan menulis hal-hal yang mendukung bangsa ini untuk maju. Perubahan pola pikir merupakan landasan perubahan masyarakat, salah satunya dengan kolaborasi antara Blogger dan ilmuwan dalam memasyarakatkan hasil penelitian di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bahasa populer.
Para peserta Writingthon Puspiptek 2018 bersama Ibu Kepala Puspiptek (foto: Bitread)

Menurut Ibu Sri, tulisan populer merupakan salah satu jembatan antara hasil kerja keras para peneliti dengan masyarakat umum. "Masyarakat harus mengenal teknologi hasil negeri sendiri, karena sebuah bangsa akan maju jika seluruh elemen bangsa bersatu membangun bangsanya dengan teknologi. Penulisan ini harus dalam bahasa populer, sekaligus memperkenalkan bahasa keilmuwan dengan benar. Kita harus menggelorakan semangat inovasi. Karena pada 2030 nanti kita akan menikmati bonus demografi. Dan kita harus memanfaatkan bonus demografi tersebut untuk memajukan bangsa berbasis IPTEK," ujar Ibu Sri diikuti dengan senyum bijak dan pancaran mata peuh harapan layaknya seorang ibu yang menaruh harapan besar pada anak-anaknya. 

Ada satu kalimat Ibu Sri yang menghentak kepalaku: "Mengapa kita tidak merasa resah tertinggal dengan bangsa lain dalam urusan teknologi?" Karena menurutnya, rasa cemburu atas kemajuan bangsa lain patut ditanamkan dalam kepala bangsa Indonesia. Selain dapat membangun budaya berdaya siang dengan bangsa lain, juga karena teknologi meringankan berbagai urusan dalam kehidupan. Misalnya ketika bangsa kita selalu merasa rendah diri atas karya anak bangsa, tapi justru membanggakan karya bangsa lain seakan-akan bangsa kita kerdil dan bangsa lain lebih unggul.
"Setiap orang punya kontribusi positif bagi bangsa, maka kita bisa sama-sama memajukan bangsa. harus bangga dengan bangsa sendiri, proud of my country. Salah satunya dengan bangga menggunakan produk karya anak bangsa. Tisak ada lagi persaingan indivudi. Semua elemen berkolaborasi dengan skillnya masing-masing. Berkolaborasi, kerja cerdas dan cermat. Inilah yang akan membuat bangsa kita besar," tutup Ibu Sri, masih dengan pancaran mata penuh harapan.
Penjelasan yang padat, ringkas dan berapi-api dari kepala sebuah lembaga bergengsi ini memberiku harapan baru sebagai blogger dan penulis. Beberapa tahun belakangan memang popularitas Blogger mulai naik daun, dibanding tahun-tahun sebelumnya yang suka disepelekan. Karena menjadi blogger dan penulis memerlukan kemampuan multitasking untuk menghasilkan tulisan mendalam, populer dan diterima publik.
Peluang dan tantangan pemanfaatan bioteknologi di Indonesia. Sumber: BPS via mongabay.co.id
Dalam konteks teknologi dan kedaulatan pangan, kunjunganku ke dua tempat berbeda ini memberiku pelajaran berharga bahwa keduanya memiliki hubungan erat bagai jaringan internet dengan ponsel pintar kita. Karena di era Internet of Things ini para pejuang pangan di tanah air harus melek teknologi dari hulu hingga hilir. Seperti mulai dari proses pembenihan hingga pasca panen dan pemasaran hingga ke level internasional yang semuanya digunakan dengan bantuan teknologi. 

Bahkan, bibit hasil rekayasa genetik dalam dunia bioteknologi dapat membantu meningkatkan kualitas dan kuantitas bahan pangan karena memang banyak sekali tantangan dalam sektor pertanian yang harus dihadapi seperti pertambahan jumlah penduduk, perubahan iklim dan berkurangnya lahan untuk melakukan praktek pertanian konvensional. Terlebih lagi Indonesia memiliki sumber bioteknologi yang sangat besar. Hal ini dapat mendukung masa depan bioteknologi pertanian dan kedaulatan pangan (klik disini, disini, disini). 

Proses pembelajaran di kegiatan Writingthon Puspiptek 2018 ini masih berlangsung, dengan kejutan-kejutan yang tidak terduga. Jadi, tunggu tulisanku berikutnya ya. 

Tangerang Selatan, 25 Agustus 2018

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram