Beras Sagu dan Mimpi Kedaulatan Pangan


Beras. Siapa sih warga negara Indonesia yang nggak kenal bahan pangan satu ini? Bahkan kita sudah nggak asing lagi dengan pernyataan semacam ini tentang beras: "Udah makan segala rupa kalau belum makan nasi ya belum makan." Makanya, sangat tidak heran jika banyak orang yang makan nasi dengan lauk mi kuah, sambal kentang, rendang singkong, atau bihun goreng. Mungkin hal ini disebabkan oleh doktrin politis selama puluhan tahun yang menyanjung beras sebagai makanan utama orang Indonesia. Kemudian beras menjadi komoditas pertanian yang ditanam gila-gilaan dan menggilas sumber pangan lain seperti sagu dan berbagai jenis umbi-umbian. 

Karena "sistem" menggerakkan masyarakat untuk menanam padi dan makan nasi, rezim Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden Soeharto bahkan pernah membuat sebuah program bernama "Proyek Pengembangan Lahan Gambut Satu Juta Hektar" di Kalimantan Tengah pada tahun 1995 (klin disini). Kebijakan ambisus tersebut digadang-gadang untuk meningkatkan produksi beras nasional yang sempat turun pada tahun 1984, padahal sebelumnya yaitu selama 10 tahun berturut-turut Indonesia swasembada beras. Meski niat awalnya baik yaitu untuk mengantisipasi kelangkaan pangan, program tersebut ternyata gagal dan malah mengorbankan lahan hutan yang kemudian ditelantarkan begitu saja (klik disini, disini). Kini, kita jadi sering impor beras. 

Hm, karena orang Indonesia sudah puluhan tahun "dibiasakan" mengonsumsi beras, jadinya kita lupa bahwa ada sumber pangan lain yang tak kalah hebat nilai gizinya dari beras, yang justru sering kita anggap sebagai bahan makanan substitusi atau hanya sekedar camilan. Karenanya, keluarga-keluarga Indonesia suka stress kalau harga beras naik entah karena petani gagal panen atau karena sebab lain. Padahal, tanpa beras pun kita masih bisa hidup dan makan enak nan bergizi. Gara-gara beras nih sumber karbohidrat lain seperti sagu, ganyong, talas, singkong, ubi, dan sebagainya dilupakan. Akibat sistem yang salah sejak era Orde Baru, kita menerima dampak yang menyengsarakan hingga Kabinet Kerja Presiden Jokowi saja tak mampu mengurai masalah soal beras, dan isu sektor pertanian menjadi semakin kusut (baca disini). Dan saat ini, kita mewarisi masalah tersebut ditengah kebutuhan sekitar 250 juta warga negara yang butuh makan.  

Lalu, sampai kapan kita akan bergantung pada beras sebagai sumber pangan? Bukankah bangsa kita yang sangat kaya sumber daya alam memberikan kita kelimpahan bahan pangan yang tersedia sepanjang tahun, dari Sabang sampai Merauke? Mengapa kita nggak move forward saja dari beras ke pangan lain? Lagipula, saat ini nasi sering dituding sebagai penyebab diabetes karena kandungan gula yang tinggi. Hm, misalnya beras sagu yang kandungan gizinya lebih tinggi, aman bagi penderita diabetes dan cocok dengan mereka yang sedang menjalani diet untuk menunjang gaya hidup sehat.

Beras Sagu yang terbuat dari tepung sagu dan beras mereh di laboratorium PTA-BPPT, Puspiptek.
MAKAN ENAK TANPA TAKUT DIABETES
Selama ini sagu dikenal sebagai sumber pangan khas warga negara Indonesia di bagian timur negeri. Kita mengenal sagu sebagai bahan pembuat menu papeda atau berbagai jenis camilan khas Indonesia Timur. Meskipun kini tepung sagu sudah mulai naik daun fungsinya yaitu sebagai bahan pangan pengganti nasi. Misalnya, saat aku berkunjung ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut pada 2017 lalu, aku berkesempatan menikmati menu dari mi sagu sebagai pengganti nasi saat waktu makan tiba. Rasanya enak dan mengenyangkan, terlebih saat dinikmati dengan lauk nan lezat.

Uniknya lagi, sagu kini telah disulap menjadi beras analog, yaitu beras yang dibuat dari bahan selain padi namun dapat ditanak sebagaimana nasi dari padi. Beras analog digadang-gadang sebagai alternatif pengganti nasi dan inovasi teknologi berbasis bahan pangan lokal seperti pati sagu, singkong dan jagung. Karena dapat dimasak seperti nasi, maka beras analog ini aman bagi penderita diabetes karena kandungan Glikemik yang rendah dan sebagai diversifikasi bahan pangan untuk mengurangi ketergantungan pada padi (klik disini, disini, disini).

"Kami disini mengembangkan pangan lokal seperti sagu, singkong dan jagung jadi beras analog. Pakai alat namanya extruder, Mbak," kata Pak Ade Saepudin, seorang peneliti di Pusat Teknologi Agroindustri (PTA)-BPPT, yang membuatku tercengang karena inilah pertama kalinya aku tahu tentang beras analog. Sumpah, aku merasa cupu deh baru tahu ada yang namanya beras analog hahaha (tertawa ngakak dalam pikiran, menertawakan diri sendiri)

"Beras analog ini ya mirip beras dari padi, salah satunya sebagai upaya mengurangi impor beras. Sagu ada nilai lebihnya dibanding padi dan gandum, termasuk aman untuk yang diabetes dan tidak menyebabkan obesitas," tambah Pak Ade lagi yang membuatku semakin penasaran dengan bentuk dan rasa beras analog yang dimaksud. 

"Kok bisa dibuat beras, Pak? Setahu saya selama ini ada mi sagu sih," kataku, kepo.
"Ya, kita kan harus merekayasa tubuh bahwa kita tetap makan nasi walau bukan nasi dari beras. Melatih tubuh mengenali nasi non beras," dan keterangan Pak Ade benar secara psikologis, sebab bagi kita yang terbiasa mengonsumsi nasi akan merasa sulit meninggalkan nasi dari padi. Apalagi jika kita hobi menikmati menu nasi hangat, ditambah lauk ikan asin goreng, sambal terasi, serta aneka lalapan yang mengalahkan kelezatan makanan apapun, bukan?

Berbagai produk beras, mi dan makaroni non gandum di laboratorium PTA-BPPT, Puspiptek.
Pak Ade kemudian mengajakku ke laboratorium di mana beras analog berbahan sagu dibuat, sekaligus menunjukkan mesin extruder dan pencetak si beras analog. Di laboratorium yang merupakan dapur tersebut, juga terdapat sejumlah mesin lain yang sedang beroperasi "mengolah" adonan mi dari bahan non gandum. Juga terdapat beberapa orang yang sedang mencetak dan menggoreng mi non gandum buatan BPPT. Wah! Keren banget deh.

"Trus, kalau penjualan ke publik gimana, Pak? Belinya di mana kalau mau beras sagu atau mi sagu ini?" tanyaku lagi. Sebab, produk-produk seperti ini (yang masih mahal) akan mustahil ditemukan di pasar tradisional atau pusat perbelanjaan. 

"Yang jual rekanan kita. Nih, bisa juga dibeli di Bukalapak," kemudian Pak Ade menunjukkan screenshoot produk beras sagu buatan BPPT yang dijual perusahaan rekanan di situs e-commerce Bukalapak, yaitu oleh PT. Solutex dan PT. Mas di ponselnya. "Beras sagu dijual tiga puluh lima ribu untuk satu kilo. Kalau yang mi ini lima ribu untuk 70 gram, kayak Indomie lah," tambah Pak Ade. 

Yeayyy, beras sagu BPPT bisa kita beli di Bukalapak

"Kalau mau nyicip di kantin ada nasi dari beras sagu, Mbak. Gratis. Tapi lauknya beli," tambah Pak Ade saat aku tengah sibuk memotret berbagai produk non gandum seperti beras, mi dan makaroni. Diantara produk tersebut ada yang terbuat dari jagung, singkong, sagu, rumput laut, hingga ganyong.

Dijual jyga di Tokopedia lho

Dijual juga di Lazada
Wah, kalau begini mudahnya mendaptkan beras analog yang baik bagi kesehatan, maka mimpi berdaulat pangan berbasis pangan lokal akan tercapai. Karena memperolehnya mudah, masyarakat luas dapat menyebarluaskan kabar positif ini demi kesehatan bersama.

TEKNOLOGI UNTUK MENDUKUNG PANGAN LOKAL
Beras sagu dan produk non gandum lainnya yang kulihat di dapur BPPT mengingatkanku pada mimpi kedaulatan pangan berbasis bahan lokal yang banyak diperjuangkan para aktivis pangan. Mimpi kedaulatan pangan bukan tentang kita harus swasembada beras atau mengonsumsi beras seumur hidup kita seakan-akan makan nasi merupakan mandat dari Tuhan, melainkan bagaimana kita berpikir kreatif dan inovatif atas kelimpahan pangan yang disediakan alam. Terlebih perkembangan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi memberikan kita peluang sangat besar untuk mengolah bahan pangan yang melimpah jenisnya. Contohnya ya si beras sagu dan mi sagu dengan mesin extruder buatan BPPT sendiri.
Aku di depan gedung BPPT dong (foto: Shiddiq)

"Kita pakai mesin dengan teknologi extruder. Kita sedang gencar jual mesin ini ke swasta dan umum, nanti kita ajari bagaimana menggunakan mesinnya. Produknya sedang diajukan paten. Baik untuk mesin dan formulanya, termasuk mi, beras dan cetakan. Kita sudah dapat nomor registrasinya. Sudah berlangsung selama 7 bulanan lah prosesnya," kata Pak Ade penuh semangat. Sekaligus memberitahuku bahwa jika komunitas atau lembaga ingin belajar membuat beras atau mi non gandum, dapat meminta BPPT untuk mengirimkan pelatih, di mana mesin extrudernya sendiri dijual oleh rekanan BPPT yaitu PT. Barata yang berbasis di Surabaya, Jawa Timur. 

Aku berterima kasih kepada Pak Ade atas pengetahuan baru ini. Pengalaman berharga ini memberiku harapan bahwa di masa depan kita mampu berdaulat pangan, di mana kita tidak bergantung pada pihak lain untuk urusan pangan kita. Melainkan kita merdeka untuk menentukan pangan apa yang akan kita tanam dan konsumsi, dengan keberpihakan lebih besar kepada petani di tanah air. Sebab, pangan merupakan urusan kedaulatan dan stabilitas bangsa sehingga kita harus berdaulat atas apa yang warga negara ini makan. 

BACA JUGA: Pekarangan Ekologis, Solusi Strategis dan Kekininian dalam Mendorong Kebangkitan Petani Muda

Oh ya, tulisan sederhana ini adalah hasil pembelajaran pertamaku sebagai peserta Writingthon Puspitkek ke 2 yang diselenggarakan atas kerjasama Puspiptek dan Bitread. Sebelumnya, aku harus mengikuti lomba blog dalam ajang Anugerah Pewarta Puspitkek 2018 kategori blogger dan menjadi salah satu pemenang (klik disini). Tulisan yang kuikutsertakan bertema inovasi pertanian dan pangan, yaitu tentang pekarangan ekologis yang terinspirasi dari kunjunganku ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat pada Juli tahun lalu. Terima kasih Puspiptek dan Bitread sudah memberi apresias atas tulisanku yang sesungguhnya dikerjakan dalam keadaan deg-degan.

Halaman muka laman BPPT


Perkenalanku dengan lembaga yang benaung di Puspiptek dimulai dengan mengunjungi Badan Pengajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Kedeputian Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (BTAB), yaitu unit kerja Pusat Teknologi Agroindustri (PTA), yang tupoksinya melaksanakan inovais teknologi pengolahan pangan lokal untuk mendukung diversifikasi pangan yang sehat/bergizi, aman, bermutu, terjangkau, teknologi pangan fungsional, teknologi pengolahan perikanan, susu dan rumput laut, teknologi hilirisasi produk turunan kelapa sawit, teknologi pasca panen buah tropis, serta melaksanakan disemininasi teknologi pangan melalui Techo Park.

 
Wefie dulu dong bersama blogger peserta Writingthonpuspiptek#2 (foto: Heni Prasetyorini)


Alhamdulillah kegiatan hari pertama menyenangkan dan inspiratif.  
See you di tulisan selanjutnya.

Tangerang Selatan, 25 Agustus 2018

BACA JUGA: 

Wijatnikaika Official

12 comments:

  1. Waaah mba, aku penasaran pgn tau rasanya. Sbnrnya aku juga ga tergantung banget ama nasi. Krn aku tau ga begitu bagus utk kesehatan. Aku malah lbh seneng makan kentang dan roti Utk sumber karbo. Tp sayang belum bisa nerapin total di rumah krn suami ga doyan. Seandainya beras analog ato yg lbh sehat lainnya udh banyak dijual ya. Berharap bisa menekan hargany juga

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Fanny, terima kasih sudah mampir. Beras analog ini memang masih mahal, tetapi mungkin bisa dicoba perlahan-lahan untuk melatih tubuh kita untuk segera meninggalkan nasi dari padi.

      Delete
  2. wah penasaran kayak apa rasanya.... selama ini tahunya mi sagu atau tepung sagunya belum pernah beli/lihat beras sagu...mudah-mudahan sukses menembus pasar dan mencukupi bahan pangan dalam negeri

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Widayati, terima kasih sudah mampir. Iya, aku juga baru tahu ada beras sagu karena kegiatan di Puspiptek ini. Saya juga penasaran dengan rasanya.

      Delete
  3. wahh saya baru tahu terobosan yang satu ini. sebagai peganti beras. Memang sih orang indonesia masih bergantung dengan nasi sebagai kebutuhan pokok, padahal sangat banyak makanan substitusi lainnya.

    kalau saya sendiri untuk sarapan biasa ga pakai nasi, tapi untuk makan siang harus tetap nasi,sementara makan malam bisa tanpa nasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sabda, terima kasih sudah mampir. Iya, hayuk kita masyarakatkan produk beras sagu ini karena ini juga sebagai upaya mewujudkan kedaulatan pangan berbasis diversifikasi pangan lokal dan untuk memerangi impor beras.

      Delete
  4. wah memang kita perlu mencari abnyak hal untuk menvariasikan sumber karbohidrat jangan ahnay ansi saja tapi tentunya hrs diimabngi dg produktivitas sagunya, mirip dg nasi jagung ya, jd penasaran dg rasanya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kalau dan sekarang nggak pusing lagi, cuss aja ke Lazada, Bukalapak atau Tokopedia. Langsung deh dapat beras analog si sehat primadona masa depan

      Delete
  5. Indonesia kaya ragam pangan, memang harus diversifikasi untuk bisa mewujudkan pangan yang berdaulat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Murti, terima kasih sudah mampir. Iya nih memang sudah seharusnya demikian. Agar bangsa kita sehat dan berdaulat pangan.

      Delete
  6. Wah menarik juga, tapi rasanya gimana ya? Harus penyesuaian dong ya. Kaya saya yang sudah terbiasa makan nasi, masih sulit makan selain nasi. Bahkan nasi merah saja saya masih belum terbiasa. Parahnya, bubur yang asalnya dari beras saja ga doyan, hehe...
    Tapi ini benar-benar terobosan yang menarik, cuma belum banyak yang tahu.
    Makasih infonya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hai Farid, terima kasih sudah mampir. Bleum coba juga sih rasa beras analog gimana. Tapi karena kini mendapatkannya tinggal online aja, jadinya mau coba juga hehe. Mudah-mudahan rasanya enak.

      Delete

PART OF

# # # # #