MENABUNG DI BANK: Langkah Sederhana Cerdas Finansial bagi Perempuan

Yuk, jadi perempuan cerdas finansial (sumber: dose.com)

Aku adalah sulung dari dua bersaudara, dibesarkan oleh orangtua tunggal (Ayah) setelah kedua orangtuaku berpisah. Ayah merawatku dan mendidikku dengan baik, termasuk soal mengelola keuangan. Karena mencari uang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, maka Ayah mengajariku dan adikku menabung uang jajan. Bukan karena Ayah pelit, melainkan ingin mendidik kami menghargai uang dan masa depan. Ayah membuatkan celengan bambu untuk masing-masing kami. "Nah, yang paling banyak tabungannya jadi juara!" kata Ayah dalam memotivasi kami. Saat mengingat momen menabung di celengan bambu itu, benakku membenarkan sebuah quote Rachmat Yuliardi berikut ini: "sisihkan sedikit uangmu untuk masa depan. Agar di masa depan kamu tidak tersisihkan oleh uang." 

Pepatah populer mengatakan bahwa uang bukan segalanya, tetapi dapat mengubah segalanya. Uang yang tidak dikelola dengan baik dapat menimbulkan masalah besar seperti soal keputusan karir, bisnis, pendidikan, hingga hubungan antar manusia. Banyak kasus kekerasan dalam rumah tangga, perceraian, lansia yang ditelantarkan anak-anaknya, permusuhan antar kerabat, korupsi, kejahatan seksual, pembunuhan, hingga bunuh diri yang disebabkan oleh uang. 

Cerdas Finansial Bagi Perempuan
Menjadi perempuan itu tidak mudah karena banyak sekali tantangan yang harus dihadapi. Terutama dalam budaya Timur yang memposisikan perempuan bukan sebagai kepala keluarga dan pemilik aset, namun memiliki peran utama dalam mengatur keuangan. Masyarakat Indonesia yang menganut sistem kekerabatan Patrilineal (garis ayah) memposisikan perempuan sebagai tanggung jawab ayah atau suami dalam rumah tangga. Sebagian besar perempuan yang berposisi sebagai ibu rumah tangga dipastikan tidak memiliki aset atas namanya, dan seluruh kebutuhan bergantung penuh pada laki-laki yang menjadi kepala keluarga. 

Maka, ketika terjadi suatu masalah pelik seperti bencana alam, kematian hingga perceraian, perempuan menjadi pihak yang paling dirugikan, terutama bagi rumah tangga yang tidak memiliki tabungan atau aset yang dapat dijual. Perempuan yang ditinggal mati suaminya tanpa warisan berarti dan tidak memiliki pekerjaan, jelas akan mengalami perubahan ekstrim dalam hidupnya. Terlebih lagi bagi perempuan yang mengajukan cerai karena kekerasan dalam rumah tangga, hilang sudah perlindungan finansialnya dan harus menata keuangan dari nol. Atau misalnya, kasus perempuan yang dipecat tanpa pesangon dari kantor seperti yang dialami temanku, hanya karena dia membela harga dirinya sebagai seorang perempuan dan pekerja, sebut saja Rara. 
"Di usia 35 aku kena PHK tanpa pesangon dari kantorku, gara-gara mengajukan sidang terkait pelecehan seksual yang kualami oleh seorang senior. Gila bener pokoknya! Tega mereka! Saat itu aku nggak punya tabungan dan harus mengeluarkan uang dua jutaan setiap bulan untuk perawatan tulang punggung. Bayangin betapa stressnya aku waktu itu! Buat makan aja nggak ada, bagaimana mau ke rumah sakit dan lain-lain?" Curhat Rara dengan begitu emosional saat kami bertemu di sebuah kafe di Kota Tua Jakarta. 
"Wah, kalau aku pasti udah gila, mbak! Itu bukan tega lagi namanya, tapi tindakan memalukan dan melawan hukum!" kataku dengan mulut menganga tak percaya. "Ya udah, aku berdoa dan minta petunjuk pada Allah. Aku gunakan uang seadanya yang aku punya buat mulai usaha ini. Masih terseok-seok sih, tapi senang karena merasa merdeka!" Katanya tersenyum bangga sembari menyodorkan satu kotak berisi aneka jenis perhiasan yang dibuat dengan tangannya sendiri, yang akan segera diantarkannya ke pelanggannya. Salah satu perhiasan dalam kotak itu adalah gelang cantik pesananku. Omong-omong, aset Rara sekarang nyaris mencapai Rp. 2 Milyar lho!
Lain lagi dengan seorang ibu muda dengan tiga anak bernama Nikita, yang terpasung dalam pernikahan tidak bahagia karena suaminya memiliki sejumlah pacar. "Demi melayani suami dan menjaga keutuhan rumah tangga kami, saya pindah ke Jakarta. Tinggal di rumah kontrakan ini bersama suami dan tiga anak kami yang masih kecil. Saya berharap suami saya berubah. Kan semua anaknya perempuan, masa iya dia nggak berpikir tentang nasib anak perempuanya sendiri kalau di masa depan diperlakukan seperti ibunya. Saya pikir suami saya masih punya hati lah sebagai manusia." Nikita memulai ceritanya dengan sedih.
"Tetapi suami saya tidak berubah. Bahkan saat saya lahiran anak ketiga, suami saya nyaris mau bunuh diri karena pacarnya meminta putus. Mungkin perempuan itu malu telah menyakiti saya dan anak-anak. Bayangkan betapa ngenesnya nasib saya, Mbak!" Nikita menghela napas berat seakan-akan beban itu lebih berat dari gunung yang tinggi. 

"Hmm, mbak nggak punya pikiran untuk bercerai, kan?" tanyaku penasaran. 
"Jelas ada lah. Kita menikah kan untuk bahagia lahir batin, bukan tersiksa seperti ini. Tapi saya ini kan ibu rumah tangga, nggak kerja dan nggak ada waktu buat bikin usaha rumahan karena sibuk urus suami, rumah dan anak-anak. Capek betul saya ini, hidup hanya jadi mesin bagi suami. Saya juga nggak punya uang atau tabungan karena uang bulanan dari suami juga pas-pasan. Bagaimana saya mau kasih makan dan biayai sekolah ketiga anak saya kalau cerai dalam keadaan begini?" akunya kemudian.
Sebagai perempuan lajang aku hanya mampu bersimpati tanpa mampu memberikan solusi. Kasus seperti yang dihadapi Nikita banyak sekali kita jumpai dalam kehidupan. Bahwa perempuan yang tidak merdeka secara finansial seringkali terpasung dalam penderitaan hidup mengerikan yang sebenarnya bukan pilihannya dan bukan perbuatannya. Lalu, aku teringat dengan salah seorang kerabat yang juga mengalami masalah finansial mengerikan setelah suaminya meninggal dunia karena keracunan bahan kimia di pabrik tempatnya bekerja. Sebut saja namanya Andriani.

Saat berkunjung ke rumahnya aku masih SMA. Andriani yang merupakan ibu rumah tangga dengan satu anak laki-laki, harus merawat suaminya yang mengalami masalah kesehatan serius. Racun yang sudah merusak organ-organ dalam tubuhnya membuatnya nyaris menjadi manusia invalid. Karena Andriani tidak bekerja dan tidak memiliki usaha, maka ia terpaksa menjual aset keluarga demi membiayai pengobatan sang suami. Ketika rumah milik mereka akhirnya harus dijual dan terpaksa menumpang di rumah kerabat, sang suami justru meninggal dunia. Tak ada lagi harta tersisa kecuali seorang anak laki-laki yang belum bisa bekerja dan menghasilkan uang.
"Sebelum menikah lagi, dia kerja serabutan demi melanjutkan hidup, agar anaknya bisa makan dan sekolah. Ya entah jadi tukang cuci, jaga warung soto, sampai pembantu rumah tangga. Tapi nggak lama anak semata wayangnya juga meninggal dunia. Di rumah suami barunya, dia memang disayangi tetapi setelah suami barunya juga meninggal dunia, dia diusir oleh anak-anak tirinya tanpa sepeserpun uang, hanya dengan pakaian melekat di badan. Udah mirip gelandangan dia," ujar Bibi Kirana, kakak Andriani."

"Oh ya, memangnya Bibi Andriani itu sama sekali nggak punya tabungan di bank ya? Misalnya santunan dari perusahaan tempat mendiang suaminya bekerja atau dari sumber lain?" Tanyaku penasaran karena hidup Andriani yang mengenaskan. 

"Ya nggak ada. Semua habis. Lagian kan si Andriani itu hanya lulusan SD, nggak ngerti juga soal tabungan. Sekarang dia nggak punya apa-apa. Numpang tinggal di rumah saya, kerja serabutan dan sering menangis sendirian karena merasa hidupnya nelangsa. Untung saja dia nggak gila. Karena saya pikir dulu dia gila," tambah Bibi Kirana.
Kisah pilu para perempuan diatas membuatku semakin mengerti mengapa perempuan, baik yang masih lajang maupun telah menikah harus cerdas finansial. Sebab, saat hidup menyuguhkan tantangan yang sangat berat, perempuan harus siap menghadapi keadaan dan melanjutkan hidupnya dengan penuh kebanggaan. Sebelum menjadi seorang istri dan ibu dalam sebuah keluarga, perempuan adalah dirinya sendiri sebagai manusia. Maka, sebagai manusia perempuan harus mampu bertanggung jawab atas dirinya sendiri, termasuk dalam mengelola keuangan dan aset miliknya secara pribadi.   

Cerdas finansial berbeda dengan matre alias mata duitan lho. Karena cerdas finansial membuat perempuan lebih perhatian dengan fungsi uang, dan tidak merasa malu membicarakan uang sebab uang bukan hanya angka. Berikut adalah sejumlah langkah cerdas finansial bagi perempuan: 

  1. Bersikap benar terhadap uang, yaitu menggunakan uang bukan berdasarkan emosi melainkan bedasarkan logika, sehingga uang berfungsi dengan benar dalam memudahkan segala urusan kehidupan. 
  2. Memperlakukan uang secara adil, yaitu memperlakukan uang dari sumber manapun dengan fungsi dan kedudukan yang setara, yaitu untuk memenuhi kebutuhan hidup dan bukan memenuhi keinginan mata yang lapar. 
  3. Membuat anggaran, karena ini merupakan dasar dari pemahaman dari mana uang berasal dan akan digunakan untuk keperluan apa uang tersebut. Dengan memiliki anggaran, kita akan terhindar dari jebakan hutang dan pengeluaran yang tidak perlu.
  4. Mengkomunikasikan uang, dengan menyadari bahwa membicarakan uang bukan hal tabu apalagi dosa. Misalnya mengkomunikasikan uang tabungan pernikahan dengan pasangan, atau terbuka soal proyeksi investasi dengan orangtua dan sebagainya. 
  5. Mengelola uang sendiri dan peduli dengan masuk-keluar yang dan penggunaannya, dan jangan terjebak dengan fungsi konsultan keuangan kecuali kita seorang selebriti kaya raya.  
Yuk menjadi perempuan cerdas finansial dan rajin menabung di bank (sumber: taketheleadwomen.com)

Sejumlah Tujuanku Menabung di Bank
Waktu masih sekolah dan kuliah aku menabung di bank sekadar untuk menyimpan uang demi kebutuhan mendesak seperti biaya kuliah atau jalan-jalan. Sama sekali nggak kepikiran untuk berinvestasi, karena toh aku tidak bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Lagipula aku tidak punya tanggungan. Tetapi kemudian, banyak hal merubah sudut pandangku soal uang, investasi, masa depan, mimpi dan women empowerment.  Mengingat keterlambatanku untuk berinvestasi dan melihat kasus-kasus perempuan malang yang terpenjara dalam masalah karena tidak punya uang membuat semakin bijak memandang uang. Terlebih ketika bicara women empowerment. Mana bisa perempuan lemah membantu perempuan lemah lainnya. Sebab untuk membantu perempuan lemah dan tak berdaya, seorang perempuan harus membuat dirinya berdaya dan kuat terlebih dahulu, termasuk soal finansial.
"Suami saya adalah seorang fotografer dan jurnalis tulen, trus saya ini seorang aktivis perempuan, ngurus-ngurus banyak kasus di dunia perempuan. Tetapi, sebelum saya bicara soal women empowerment kepada perempuan manapun yang saya temui, saya membuat diri saya berdaya terlebih dahulu. Misalnya begini, saat bicara women empowerment dengan perempuan petani maka saya tunjukkan itu kebun saya yang tiga hektar itu. Itu tabungan saya, aset saya, investasi saya. Nah, 50% uang hasil menjual produk kebun saya tabung di bank," ujar seorang teman, aktivis perempuan dari Manado
"Wah, saya kira uang kakak sudah dibelikan tanah semua sehingga nggak perlu menabung lagi di bank. Ternyata meski punya banyak tanah, kakak masih merasa perlu menabung di bank ya?" kataku, heran dia masih mau menabung di bank.
"Aish kamu ini! Kenapa di bank? Karena saya ingin punya kebun lain dan harus saya beli dengan uang saya sendiri, jadi uang itu sementara waktu biarlah menjadi investasi sosial sebelum saya tarik untuk membeli kebun, sekitar 5 tahun lagi lah baru cukup uangnya. Meski saya punya suami dan uang dari suami lebih dari cukup, saya kan manusia dengan isi kepala sendiri, saya juga punya mimpi. Salah satu mimpi saya ya kebun itu, aset saya. Sebagai perempuan saya tidak mau dipandang lemah, karena saya punya misi sosial dalam memberdayakan perempuan. Kebun itu bukti saya sudah berdaya sehingga saya punya hak untuk memberdayakan kaum perempuan di sekitar tempat tinggal saya. Saya tak mau omong doang!" katanya penuh semangat. 
Saat ini, aku adalah perempuan dewasa yang menjalani hidup di awal paruh kedua usiaku. Aku pernah melakukan kesalahan fatal soal keuangan seperti menyepelekan pentingnya menabung dan membelanjakan uang seenaknya saat gajian, karena merasa tidak memiliki tanggungan. Barulah ketika mengalami benturan keuangan parah dan tidak memiliki siapapun untuk dimintai pertolongan atau aset untuk dijual, aku sadar diri dan harus bertobat dari keadaan 'tersisihkan oleh uang.' Sejak beberapa tahun silam, aku mulai kembali menata keuanganku dan memaksakan diri untuk 'puasa' belanja kecuali barang-barang basic dalam hidup.  Aku mulai membuat perencanaan keuangan sederhana untuk memenuhi mimpiku di masa depan dan membuat tabungan khusus, berhemat dan memaksa diriku sendiri untuk mengerjakan pekerjaan khusus yang penghasilannya 100% disimpan dalam tabungan yang 'haram' ditarik sebelum waktunya. Saat ini, aku memiliki dua tabungan khusus di sebuah bank yang merupakan peserta Penjaminan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan satu rekening khusus untuk persinggahan transaksi keuangan masuk-keluar. 

1. Tabungan Mimpi dan Keliling Dunia
Pengalaman pertamaku ke luar negeri adalah ke Arkansas State, Amerika Serikat berbekal beasiswa internasional bernama International Fellowship Program (IFP) dari the Ford Foundation. Tentu saja aku mendapatkan beasiswa tersebut setelah menabung pengalaman bekerja cukup lama di masyarakat, menulis untuk media cetak dan hal-hal lainnya. Menabung memang bukan hanya uang, sebab menabung pengalaman dan karya dapat mengantarkanku pada pengalaman tak terlupakan selama menempuh pendidikan tinggi. Nah, gara-gara pengalaman ini pula, aku jadi ingin keliling dunia. Dengan keliling dunia aku akan menabung pengalaman, dan pengalaman itu kalau dikelola dengan benar dapat juga menghasilkan uang. Pengalaman dan tabungan di bank melimpah adalah dua hal penghilang stress super jitu, bukan?

Sebagai seorang blogger yang sedang menjajaki kemungkinan jadi penulis fiksi dan travel writer, aku mulai menyiapkan tabungan khusus untuk membiayai perjalananku ke sejumlah tempat. Di tanah air misalnya, aku sedang menyiapkan rencana perjalanan Jawa-Bali-Flores-Maluku yang membutuhkan biaya tak sedikit. Belum lagi dengan mimpi berkunjung ke luar negeri yang menggedor-gedor kepala seperti ke Korea Selatan, Jepang, Russia, Tibet, beberapa negara Eropa Timur dan Eropa Barat, Turki, Maroko dan Madagaskar. Jelas perjalanan tersebut hanya dapat terwujud jika aku memiliki keuangan memadai. Karena itu, setiap kali jumlah saldo bertambah di 'rekening mimpi' ini aku tersenyum bahagia dan penuh semangat. Ya, menabung di bank ternyata merupakan cara sederhana cerdas finansial bagi perempuan lajang sepertiku.  

2. Tabungan Menikah
Ah, siapa yang tidak ingin menikah dan menjalani hidup bahagia dengan kekasih hati, juga anak-anak yang menggemaskan? Pada prinsipnya menikah itu gampang dan murah. Tetapi menyelenggarakan pesta pernikahan tidaklah murah. Terlebih jika kita memiliki kerabat dan kolega yang banyak, yang semuanya minta diundang saat menikah. Wah! Kalau tidak membuat tabungan khusus untuk ini, bisa-bisa memulai rumah tangga dengan tumpukan hutang. Mengerikan sekali, bukan? Bagiku, tabungan menikah ini penting sebab pada saatnya tiba nanti, aku tidak ingin sepenuhnya merepotkan pasanganku dan dapat menjalani hari bahagiaku dengan tenang. Nanti, jika tabungan menikah ini telah terpakai maka fungsinya akan berubah menjadi tabungan pensiun agar hari tuaku tidak terlampau merepotkan orang lain, apalagi uang negara. Teknik mengisi tabungan ini kucontek dari temanku, si Mbak Rara yang kini usaha aksesorisnya sudah mulai stabil. 
"Pokoknya aku targetkan tabungan menikah itu sekian puluh juta. Targetin kapan mau nikah jadi kita bisa melihat berapa juta kita harus isi tiap bulan. Ya udah, jalanin aja. Pokoknya paksakan diri ngisi tabungan ini dari manapun sumbernya. Kalau sumber lain sedang seret, potong biaya hidup, dan rajin puasa Senin-Kamis. Tantang diri sendiri deh kuncinya, mau tenang atau terlilit hutang saat menikah itu pilihan kita sendiri." Katanya tertawa renyah.  
Saat mempraktekkan teknik ini aku tahu rasanya tersenyum-senyum sendiri melihat saldo yang terus bertambah, meski kadangkala harus mengencangkan ikat pinggang, jarang makan di luar, menolak ajakan nongkrong atau puasa perawatan di salon. Nggak papa berhemat, asalkan saat menikah nanti tidak merepotkan orang lain apalagi berhutang.

3. Rencana selanjutnya: tabungan investasi 
Sebagai perempuan dalam budaya Timur dan seorang Muslim aku tahu bahwa jika menikah nanti maka kebutuhan finansialku akan menjadi tanggung jawab suamiku. Tetapi aku bermimpi untuk memiliki asetku sendiri, investasiku sendiri, kebanggaanku sendiri. Tumbuh dalam asuhan orangtua tunggal membuatku paham bahwa hidup ini keras dan sebagai perempuan aku harus mampu hidup dengan hasil keringatku sendiri. Menjadi perempuan bukan berarti menjadi pemalas dan menggantungkan hidup dari ayah atau suami. Sebab, jika perempuan memiliki skill yang mendatangkan uang dan cerdas finansial, maka bisa menjadi kekuatan bagi keluarga dan masyarakat.
"Punya investasi dan aset itu penting. Kalau bisa jangan berhutang. Meski menurut Menteri Keuangan berhutang itu lazim asal rasio hutang pada aset masih aman," nasehat seorang teman yang juga sedang melakukan perbaikan kondisi keuangannya akibat salah kelola.

"Hidup kita nggak muda lagi. Sudah banyak tertinggal oleh yang muda-muda. Tidak punya investasi pula. Hutang dan bunganya itu menyengsarakan. Kalau jadinya harus bekerja kesana-kemari, membanting tulang siang dan malam demi membayar hutang dan bunganya, pusing tujuh keliling, akan merasa hidup sia-sia," katanya lagi, seolah sedang mewanti-wanti agar aku berhati-hati pada hutang jika tidak paham bagaimana mengelola hutang.   
Aku telah membuat sebuah proyeksi, bahwa pada usia 40 tahun nanti aku harus membangun galeri seni atas namaku. Karenanya aku mulai menabung sebab sadar bahwa membangun sebuah galeri seni itu sangat mahal. Sebagai pelukis pemula, aku mengkhususkan setiap penghasilan dari kegiatan seni lukisku untuk masuk ke tabungan ini. Melalui seni lukis, aku ingin memiliki sumbangsih khusus pada masyarakat dan tanah airku. 
"Tanamkan kakimu di mana dan dalam bidang apa. Bangun pohon uangmu, investasimu, kerajaan bisnismu. Kita harus belajar dari nasehat pakar manajemen seperti Rheinald Kasali yang bilang bahwa hidup di masa kita ini penuh disrupsi. Kalau kita tidak menentukan langkah cerdas soal investasi milik kita sendiri, kita bisa dilibas pasar," nasehat seorang pengusaha di bidang pertanian yang memutuskan untuk berinvestasi di bidang pertanian wilayah urban setelah 30 tahun lamanya malang melintang di dunia permberdayaan masyarakat.
Dalam sebuah artikel yang ditulis Ilona Gordon berjudul "How Much Money Women are Losing by not Investing?" menyebutkan bahwa meski perempuan dikenal sebagai penabung terbaik dibandingkan laki-laki, tetapi nyatanya perempuan selalu tertinggal dalam konteks investasi. Misalnya dalam bursa saham, berapa banyak perempuan berani bertarung dibanding laki-laki? Kondisi inilah yang menyebabkan perempuan millenial tertinggal jauh di belakang, padahal perempuan jauh lebih membutuhkan keamanan finansial dibandingkan laki-laki. Mungkin, ini disebabkan oleh ketakutan dan persepsi keliru tentang uang dalam dunia laki-laki dan perempuan yang selama ini dibangun berdasarkan tugas tradisional laki-laki sebagai pencari nafkah di sektor publik, sementara perempuan sebagai pengelola keuangan keluarga di sektor domestik. Padahal, tidak berinvestasi menjauhkan perempuan dari kemerdekaan finansial dan segala keuntungannya.  

Artikel mengesankan lain yang ditulis oleh Michelle Weldon, berjudul "Happy Financial 
Freedom: Women Invest in Independence on Their Career Path," menggambarkan sejumlah alasan penting mengapa sebaiknya perempuan mulai berani bersaing di dunia investasi. Pertama, perempuan secara natural dan kebudayaan merupakan 'financial saver' yang sangat peduli dengan kesehatan, keuangan, dan kesejahteraan anggota keluarga. Perempuan selalu peduli tentang segala hal yang menjamin kebutuhan keluarga, sehingga perempuan sangat baik dalam mengelola aset, termasuk aset bisnis miliknya sendiri. Kedua, perempuan penuh tanggung jawab dan merupakan aset ekonomi bangsa. Hal ini selalu dibuktikan dengan berbagai program pemberdayaan ekonomi perempuan di mana perempuan selalu mampu menunjukkan kemampuannya sebagai investor yang baik, seperti membayar cicilan kredit tepat waktu dan membuat usahanya tidak bangkrut. Ketiga, perempuan pada era ini telah mendapatkan sejumlah kemerdekaan termasuk membuat keputusan untuk dirinya dan hidupnya, termasuk dalam mengelola finansial dan aset. Banyak perempuan misalnya yang memilih single daripada menikah, sehingga jumlah perempuan yang mambuat keputusan bahkan bagi ekonomi bangsa meningkat jumlahnya.
Tiga buku tabunganku tersayang. Aku menabung di bank peserta Penjaminan LPS dong, demi masa depan yang lebih baik. Juga agar tabunganku aman. 

Kini aku yakin, pilihanku untuk mulai berinvestasi dan memiliki aset atas namaku sendiri bukan sesuatu yang berlebihan, melainkan keharusan generasi abad ini. Alhamdulillah, sebagai perempuan lajang aku mulai sadar untuk bersikap bijak terhadap uang, mulai melek investasi dan nggak boros lagi. Tentu saja demi mimpi duduk di pelaminan dengan si dia, keliling dunia dan punya aset atas namaku. Menjadi perempuan yang cerdas finansial akan menjadi modal sosial penting, yang memperkokoh daya juang suatu masyarakat dalam mewujudkan kesejahteraan bersama.

Menabung di Bank Peserta Penjaminan LPS Lebih Aman
Mungkin masih segar dalam ingatan kita tentang beberapa kasus bank yang pailit sehingga semua uang nasabah yang jumlahnya mencapai triliunan rupiah raib begitu saja (baca kasusnya disini, disini dan disini). Para nasabah yang kehilangan uang mereka hanya mampu menangis, meratap, dan berdemo meminta uangnya dikembalikan. Oleh karena itu sangat penting memperhatikan di bank mana uang kita akan disimpan, agar jika terjadi sesuatu pada bank seperti pailit, maka sebagai nasabah kita dapat mengklaim uang kita di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS)


Memang sih banyak kontroversi tentang menabung di bank seperti soal dosa riba dan sebagainya. Akan tetapi, dalam peradaban digital dan internet of things seperti sekarang ini, menabung di bank bukan sekedar menyimpan uang. Menabung di bank memiliki fungsi yang lebih luas seperti yang telah dijelaskan dalam video di atas, bahwa uang kita di bank dapat berguna dalam membiayai pembangunan. Kalau kita menyimpan uang di rumah, justru bahayanya lebih banyak dan sama sekali tidak memiliki fungsi sosial dalam pembangunan karena uang itu tidak bergerak alias tidak berfungsi. Sementara dalam pembangunan kita buruh gotong royong, termasuk soal investasi. Kelebihan lain menabung di bank adalah jika terjadi musibah seperti bencana, uang kita tetap ada di bank atau jika bank pailit, kita bisa mengajukan klaim ke LPS. Sementara kalau kita menabung di rumah, sekali uang itu musnah kita tidak bisa mengklaimnya pada pihak manapun. Inilah esensi dan fungsi sebuah sistem perbankan bagi masyarakat yang hidup di era peradaban digital, yang berbeda dengan masyarakat di peradaban sebelumnya. Yuk ah move forward dari sistem tradisional agar hidup kita jadi mudah, tenang dan terjamin.
Tugas dan fungsi utama LPS

Mengapa uang tabungan kita aman dan dijamin LPS? Karena LPS merupakan lembaga negara yang didirikan dengan fungsi khusus dalam sistem perbankan tanah air. Nah, tugas kita sebagai nasabah adalah memastikan bahwa bank tempat kita menabung merupakan peserta Penjaminan LPS. Sebelum memutuskan membuka tabungan di sebuah bank, sebaiknya cek dulu apakah bank tersebut termasuk peserta Penjaminan LPS atau bukan. Caranya sangat mudah, hanya perlu membuka website LPS di www.lps.go.id dan mencari nama bank peserta Penjaminan LPS di direktori 'Bank peserta penjaminan', lalu ketik sana nama bank yang kita cari. Jika nama bank yang kita cari muncul di daftar peserta Penjaminan LPS, maka dipastikan kita aman, pasti dan tenang menabung di bank tersebut.
Kuberi contoh dengan mengetik nama bank 'Mandiri' di kolom pencarian dan keluarlah daftar nama-nama cabang bank mandiri dalam daftar peserta penjaminan LPS. Mudah kan?


Masih takut menabung di bank? Jangan takut. Mari kita posisikan uang bukan hanya sebagai alat pembayaran, tetapi jembatan menuju kemerdekaan finansial, yang artinya uang yang kita bicarakan tidak lagi dalam jumlah sedikit melainkan dalam kadar investasi yang mahal. Investasi tentu harus bergerak dinamis dan tidak mungkin disimpan di rumah, atau hanya melulu dalam bentuk benda tak bergerak seperti tanah dan bangunan. Investasi memungkinkan kita melakukan banyak kebaikan sosial seperti menciptakan lapangan pekerjaan hingga membantu mereka yang membutuhkan dukungan berupa investasi di sektor publik. Dengan demikian, menyimpan uang di bank peserta Penjaminan LPS menjadi pilihan tepat agar investasi kita aman, hati kita tenang dan pasti terjamin tidak hilang. 

Depok, 30 Juli 2018

Informasi lomba

13 comments

  1. Yuk jadi perempuan cerdas financial :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mabk Katerina, terima kasih sudah mampir. Iya, gara-gara ikut lomba blog ini jadi ingin belajar banyak tentang investasi agar cerdas secara finansial.

      Delete
  2. wahh banyak sekali cerita sedih yang ditanggung wanita ya mbak. maka banyak perempuan tetap mau mandiri mencari uang sendiri, karena tidak ada kepastian yg hakiki

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Sabda Awal, terima kasih sudah mampir. Iya, menjadi perempuan itu nggak mudah. Makanya harus cerdas finansial.

      Delete
  3. menabung itu manfaatnya banyak ya, aku dibiasakan dr kecil unuk menanbung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Tira, terima kasih sudah mampir. Iya, dan aku sempat malas. Sekarang baru tersadar kembali untuk menabung hehe

      Delete
  4. Okee mari jadi perempuan yang pandai dalam finansial untuk mengelola ulang..
    Karna bukan hanya laki yang perlu mempelajari finansial, tapi perempuan pun harus sama hebatnya dalam mengelola uang dan kecerdasan finansial..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Konten Gaptek, terima kasih sudah mampir. Yup, sebagai manusia perempuan harus mampu bertanggung jawab atas dirinya termasuk soal finansial.

      Delete
  5. Aku juga nyesel kenapa pas seblum nikah gaji itu cm dihambur2kan. Merasa ga ada tanggungan. Skr walo telat sbnrnya, tp aku berusaha nabung dulu setiap gajian. Suami tipe yg urusan duit itu istri ug ngatur. Makanya atm dia dan internet banking semua aku yg pegang. Pas gajian, aku tinggal pindahin semua k rekening ku, aru diatur sesuai pos nya masing2. Krn udh punya anak, tabungan pendidikan dan investasi hrs diisi duluan. Barulah zakat dan keperluan lain2. Kalo tabungan terakhir, takutnya ga ada yg tersisa nanti utk disimpen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Fanny, terima kasih udah mampir. Iya nih aku termasuk yang nggak peduli sama tabungan karena merasa nggak punya tanggungan. Tapi, pas kena musibah keuangan, trus uang dari kerjaan macet, trus pingin jalan-jalan tapi nggak punya uang dan sebagainya, baru deh mikir, ngapain aja aku selama ini ya uang habis cuma buat memenuhi keinginan. Ya udah, akhirnya mulai memaksa diri nabung meski harus puasa nongkrong dan belanja hehe

      Delete
  6. Karena menabung, saya jadi bisa membangun impian saya, menabung memang sangat penting untuk masa depan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Amir, terima kasih sudah mampir. Betul, menabung juga membentuk jiwa yang disiplin dalam keuangan.

      Delete
  7. Ngrasain mba jadi irt cuma di rumah tapi aku ga mau hanya mengandalkan suami. Gimana pun harus berdikari. Alhamdulillah udah mulai nabung tapi agak bingung mau investasi apa thks ya mba artikel nya bantu bgt

    ReplyDelete

follow me on instagram