Ingin Keliling Sumba Bersama Amabel Travel

Foto Dian Sastro di Sumba membuatku sangat ingin ke Sumba (Sumber foto: Instagram/therealdisastr)


Halo pembacaku yang baik hati dan rajin menabung demi liburan, apa kabar? Udah jalan-jalan ke mana aja tahun ini? Setengah tahun ini aku hanya bergumul di area Jakarta-Depok-Bogor-Tangerang-Bekasi dan Lampung karena padatnya pekerjaan, seperti seekor burung yang terkurung dalam sangkar mungil. Karena itulah, suka ngiler pas lihat foto teman-teman yang liburan keliling Indonesia bahkan dunia, sampai terbawa mimpi hahaha. Duh, kapan ya pekerjaan agak sedikit berkurang dan bisa manggul ransel lagi keliling tempat eksotis, seperti Sumba. 

Sebenarnya sih ingin keliling Indonesia, karena menurutku semua sudut negeri ini indah. Tetapi, karena beberapa teman yang pernah ke Sumba suka memamerkan foto-foto mereka jadinya ingin ke pulau eksotis itu dalam waktu dekat. Apalagi pas kepo akun Instagram Dian Sastro yang melakukan pemotretan di Sumba untuk pemotretan promosi tenun Ikat khas Sumba; atau pas lihat lokasi syuting film anak "Kulari ke Pantai" keinginan ke Sumba menjadi berlipat-lipat. Pokoknya sekali seumur hidup aku harus menginjakkan kaki di Sumba yang dikenal juga sebagai tanah Humba ini. Pulau eksotik yang oleh para wisatawan disebut sebagai Hidden Paradise dan the Magic Island

SUMBA: MUTIARA NEGERI KHATULISTIWA
Saat mengunjungi suatu tempat, aku sangat tertarik dengan hal-hal yang unik, eksotik dan indah. Contohnya kampung adat atau kampung tradisional, kuliner lokal, kain lokal dan keindahan alam yang tak ada tandingannya di wilayah lain. Sumba memiliki semua karakter tersebut dan hanya dengan sekali jalan, aku dapat menikmati keindahan alam, tradisi, budaya dan kuliner dalam waktu bersamaan. Jadinya bisa hemat waktu, biaya dan energi. 

1. Kampung Adat: dari arsitektur, tenun Ikat, kuliner hingga kearifan lokal
Ada beberapa kampung adat di Sumba dan kupikir akan asyik sekali jika semua bisa kukunjungi, dan menginap di rumah warga minimal semalam. Bagiku, kampung adat adalah destinasi paling menarik karena mampu menggambarkan wajah masa lampau sebuah wilayah. Sebuah kampung adat akan memberi banyak informasi tentang kearifan lokal mulai dari asal muasal terbentuknya kampung, mata pencaharian warga, kearifan lokal dalam teknik pertanian, bahasa, hukum adat, agama, budaya, adat istiadat, kuliner hingga tentang bagaimana warga kampung adat beradaptasi dengan perubahan zaman. Termasuk, bagaimana respon kampung adat terhadap tingginya minat wisatawan yang datang berkunjung ke kampung-kampung adat yang sangat menarik tersebut. 

Maka aku bertanya pada seorang teman yang pernah berkunjung ke Sumba, namanya Voni, kebetulan aku ada janji temu untuk urusan pekerjaan di area Jakarta Selatan. Aku pernah melihat temanku, Voni memposting fotonya ketika berkunjung ke kampung Tarung. Sayangnya, saat ini kampung adat tersebut ditutup bagi aktivitas wisata setelah terjadi kebakaran beberapa waktu lalu. 
"Von, rencananya kan aku mau ke Sumba. Lo kan pernah beberapa kali ke Sumba. Kalau mau ke Sumba sebaiknya main ke mana?" tanyaku pada Voni, yang sedang asyik menikmati siomay.  
"Coba deh main ke kampung adat Praijing di Sumba Barat, unik banget!" ujar Voni, temanku yang beberapa kali mengunjungi Sumba. Gara-gara ke Sumba, dia juga mulai menjajal berbisnis kain tenun khas pulau itu yang dipasarkannya lewat Instagram. 
"Paling terkenal di Sumba ya? atau yang paling unik?"
"Hm, menurut gue sih yang paling terkenal," jawab Voni sembari tersenyum. 
"Kalau seharian di kampung itu kita bisa ngapain aja?" tanyaku penasaran. 
"Kalau buat blogger kalak elo sih banyak banget yang bisa dilakuin. Mulai dari ngobrol dengan warga tentang sejarah kampung, belajar tentang arsitektur rumah-rumah warga, bikin film, memasak ala warga lokal, motret sampai belajar bikin kain tenun," jawab Voni, membuatku semakin terpacu menabung buat berkunjung ke tanah yang terkenal dengan kerajinan tenun Ikat yang mendunia. 

Suasana damai dan eksotik di kampung adat Praijing, Sumba Barat, NTT (sumber: Fakhri Anindita)
"Boleh ya kita interupsi ibu-ibu penenun buat belajar bikin tenun?" tanyaku lagi. 
"Wah, boleh banget, Ka. Tenun Ikat khas Sumba ini mulai mendunia. Tempo hari kan artis Dian Sastro aja pemotretan di Sumba buat promosi tenun Ikat. Banyak juga yang lain promosiin. Kalau lo belajar langsung sama para penenun di sana, pasti lo bakal makin ngerti kenapa banyak orang mau bantu para perempuan Sumba memasarkan tenun Ikat sampai level internasional. Gue aja beli banyak buat jualan dan dipake sendiri," jawab Voni sembari menunjukkan beberapa foto di ponselnya, saat ia menggunakan kain tenun Ikat dalam beberapa kegiatan. 
"Oke deh, fix lah aku nabung buat ke Sumba," kataku dengan penuh harapan.

Seorang warga desa Lambanapu, Sumba Timur sedang membuat tenun ikat khas Sumba (sumber: Mongabay)
"Nah, kalau berkunjung ke kampung adat kan ingin juga satu paket dengan kulinernya. Available nggak berdasarkan pengalaman lo ke Sumba? Misalnya di kampung Praijing itu," tanyaku lagi, penasaran. Bagiku, menikmati kuliner lokal saat liburan itu sangat penting mengingat makanan tersebut tidak tersedia di tempat lain di seluruh Indonesia. 
"Standar sih. Kalau gue dulu dikasih makan nasi jagung, sayur daun ubi khas Sumba, dan Ka'pu Pantunnu. Yang ini masakan dari jantung pisang. Jadi dia itu jantung pisangnya dibakar dulu, trus diracik dengan parutan kelapa yang udah dipanggang, dikasih bumbu khas Sumba, trus dicampur daun kemangi. Enak banget banget! Belum pernah nemu makanan kayak gitu di daerah lain. Lo harus cobain, Ka." Penjelasan Voni sontak membuatku menelan ludah sendiri karena rasanya makanan ini memanggil-manggilku untuk segera kusantap dengan nasi jagung dan ikan bakar. 
"Kayaknya enak dan bakal bikin lahap makan," kataku. Aku udah mulai mengkhayal.
"Banget. Tapi sebenarnya kalau lo mau makan kuliner lengkap khas Sumba harusnya ke Sumba pas ada festival gitu. Kayak Festival Tenun Ikat dan Parade 1.001 kuda Sandelwood di Tambaloka. Lo bisa makan sepuasnya mulai dari makanan berat sampai camilan. Ada tuh namanya Menggulu dan Kadapet Watara, manis dan enak banget kalau menurut gue," kata Voni dan sayangnya saat Festival ini berlangsung, aku harus sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak bisa berkunjung ke Sumba.  

Selesai soal kuliner, aku penasaran dengan kearifan lokal khas Sumba. "Ada aturan khusus nggak kalau kita berkunjung ke kampung adat?" karena beberapa destinasi wisata seperti di Panglipuran, Bali mengharuskan pengunjung menggunakan kain khas saat memasuki wilayah desa atau kalau ke Baduy Dalam lebih banyak lagi aturannya. 
"Sebenarnya sih ada. Setiap kampung adat ada kearifan lokalnya sendiri, termasuk aturan untuk tamu yang datang. Dari mulai makna bangunan rumah dan fungsinya, juga tarian dan pakaian. Yang penting kalau ke sana pakai pakaian yang sopan, bicara sopan dan nggak menghina tradisi warga setempat. Selebihnya, lo bisa belajar langsung sama warga," ujar Voni. Aku semakin paham dan mencatat beberapa hal yang mungkin harus kupelajari terlebih dahulu sebelum memutuskan berkunjung ke Sumba. 

2. Alam liar: dari Bukit Wairinding, air terjun Kanabu Wai hingga pantai Watu Parunu
[Jujur saja] pas nulis bagian ini aku barusan menjelajah dunia maya dan menemukan sebuah tulisan memukau tentang tempat-tempat keren di Sumba, sila baca DISINI. Dengan melihat foto-fotonya saja aku sudah berdecak kagum dan mengakui bahwa benar Pulau Sumba layak mendapatkan sebutan sebagai Mutiara Indonesia, membuatku ingin keliling indonesia. Trus juga lihat akun Instagram @ayokelilingindonesia yang isinya foto-foto keren semua tentang destinasi wisata di seluruh Indonesia. Gila, keindahan si pulau seluas 10.710 km persegi ini benar-benar surga dunia. Semua sudutnya surga. Mulai dari perbukitan, kampung adat hingga wilayah pantai semuanya surga yang indah. 

Pemandangan memukai Bukit Wairinding, Sumba Timur (sumber: Agnes Oryza)
Menyoal petualangan alam liar, kupikir Sumba memang juaranya. Foto-foto di akun Instagram teman-temanku atau artikel sejumlah travel blogger yang pernah kubaca hingga liputan para jurnalis menunjukkan kalau pulau Sumba memang cocok dengan petualangan alam liar. Tentu saja Bukit Wairinding salah satunya, sebagai tempat eksotis yang sempat menjadi lokasi pemotretan Dian Sastro untuk mempromosikan tenun Ikat khas Sumba.

Air terjun Kanabu Wai nan megah di Sumba Timur (sumber: skyscrapercity.com)
Selanjutnya adalah air terjun. Sebagai anak pulau Sumatera yang akrab dengan wilayah dataran tinggi penuh dengan hutan dan pepohonan, air terjun bukan hal asing bagiku. Tetapi, saat melihat sejumlah foto air terjun di Sumba, seperti air terjun Kanabu Wai yang megah bagai dalam lukisan kuno negeri Tiongkok, membuatku sangat ingin berkunjung ke Sumba. Mungkin saja, aku bisa bertemu dengan pemuda tampan yang merupakan jodohku [maklum aku kan jomblo lillahi ta'ala hehehe]

Berkuda bagai ksatria sepanjang pantai di private beach di Nihiwatu (sumber: afr.com)
Kali ini tentang pantai. Menurut survey CNN, pantai Nihiwatu di Sumba merupakan satu dari 20 besar pantai terbaik di dunia. Pantai yang menghadap langsung Samudera Hindia ini menyuguhkan pemandangan alam liar yang fantastis seperti ombak dan pemandangan matahari terbenam yang sangat indah, sehingga membuat wisatawan enggan beranjak dari tempat santai mereka. Oh, sungguh aku ingin berlari ke pantai, memeluk matahari.   

3. Festival: Parade 1.001 Kuda Sandelwood dan Festival Tenun Ikat Sumba 
Tidak lengkap bicara Sumba kalau tidak berkeinginan menghadiri Parade 1.001 Kuda Sandelwood, sebagai upaya menunjukkan kepada dunia bahwa Sumba merupakan lumbung ternak. Karena memang Sumba kaya dengan populasi ternak seperti kuda, sapi, dan kerbau. Ternak dari Sumba bahkan sampai diekspor ke luar negeri. Dan, tentu saja bahwa kuda sangat erat kaitannya dengan kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Sumba. Selain itu, kuda Sandelwood hanya ada di Sumba. Menghadiri parade ini merupakan daya tarik tersendiri, selain sebagai branding pariwisata kelas dunia yang hanya ada di Indonesia.  Cocok sekali dengan bentang alamnya dengan savana seluas mata memandang dan pantai-pantai yang megah bagai kepingan surga dunia.

Bersiap mengikuti Parade 1.001 Kuda Sandelwood (sumber: sportourism.id)
Lain lagi dengan Festival Tenun Ikat Sumba, yang merupakan gelaran budaya guna mempromosikan kemegahan tenun khas tana Humba ini. Tenun Ikat Sumba dikenal dengan motifnya yang simetris, perlambang keseimbangan dan keharmonisan hidup manusia. Selain itu, juga untuk menunjukkan keterikatan antara kehidupan manusia dengan keberlangsungan biodiversity di Sumba, mengingat bahan-bahan pewarna tenun Ikat diperoleh dari alam. Dan tentu saja untuk menunjukkan betapa kreatif, tekun, rajin dan sabarnya para pengrajin tenun Ikat yang sebagian besarnya adalah perempuan.  

Para penenun sedang memintal benang untuk dibuat tenun Ikat Sumba (sumber: maxmwaingapu.com)
Ah, sebenarnya masih banyak yang hendak kuceritakan tentang mengapa aku ingin sekali berkunjung ke Sumba. "Udah, mending lo langsung bikin travel plan trus cari deh travel agent yang bisa penuhi semua kebutuhan lo dengan itinerary yang lengkap dan low cost," begitu nasehat Voni kepadaku. 
"Lo ada saran nggak?" tanyaku lagi. 
"Hm, Sumba itu luasnya 10.710 km persegi dan semua sudutnya indah. Sebulan juga nggak akan cukup keliling Sumba buat menikmati semuanya," kata Voni.
"Trus? Terkait waktu dan budget nih, Von. Tapi tetap harus mewakili area savana, kampung adat, air terjun sampai daerah pantai," kataku meminta pendapat Voni.
"Enaknya sih lo buka Peta Wisata Sumba, bisa di cek di website Pemda NTT atau di website ini nih, www.indonesia-tourism.com, trus cari Sumba." Akhirnya aku membuka peta di ponselku dan menemukan informasi lengkap tentang destinasi wisata Sumba.
"Trus lo bikin daftar tempat-tempat yang paling ingin lo kunjungi. Misal, rutenya berputar dari Sumba Barat Daya, trus ke Sumba Barat, Sumba Tengah dan terakhir di Sumba Timur. Liburan lo bakal puas banget, tuh." Voni mengacungkan jempol kanan padaku.
"Oke, aku bikin daftar dulu trus cari travel agent," kataku penuh keyakinan.  

Peta acuan wisata ke Sumba (sumber: sites.google.com)
"Ingat, cari travel agent yang low cost biar uang lo buat beli oleh-oleh yang banyak di Sumba, sekalian bantu perekonomian warga lokal," nasehat terakhir Voni sebelum kami berpisah. Aku berterima kasih pada Voni yang sudah memberi banyak masukan terkait membuat rencana perjalanan wisata yang baik, mengesankan dan murah ke Sumba. 

MENGAPA AMABEL TRAVEL?
Berwisata ke wilayah timur Indonesia dikenal mahal, lebih mahal daripada ke Singapura, Malaysia, Thailand atau Vietnam. Sehingga banyak sekali orang, khususnya dari wilayah Sumatera yang memilih berwisata ke sejumlah negara tetangga ketimbang ke wilayah timur Indonesia, meski mereka mengakui wilayah timur sangat eksotis. Bagaimanapun juga, biaya selalu menjadi kendala dalam memutuskan ke mana kita akan melakukan liburan. 

Itinerary dan Akomodasi trip Sumba 4D3N oleh Amabel Travel (sumber: www.amabeltravel.com)
Nah, mengingat nasehat temanku Voni tentang wisata paket lengkap tapi low cost, aku jadi ingin ke Sumba bersama Amabel Travel, sebuah travel agent yang menurutku menyediakan layanan yang kubutuhkan tentang wisata murah meriah ke Sumba. Kalau dilihat di websitenya, harga paket tur 4D3N tur Sumba lumayan murah yaitu Rp. 2.900.000. Harga sudah termasuk hotel, makan, minum, tiket masuk ke lokasi wisata, pemandu wisata dan dokumentasi. Terdapat 12 lokasi wisata yang masuk ke dalam paket ini termasuk ke Bukit Wairinding dan Kampung Praijing sesuai dengan yang kuinginkan. Masalahnya, terdapat sejumlah lokasi yang tidak masuk ke itinerary, padahal sangat ingin kukunjungi. Tetapi mungkin, lokasi dalam itinerary jauh lebih indah dibanding perkiraanku dan memang lebih banyak sih: 2 kampung adat, 3 bukit, 4 pantai, 2 air terjun dan 1 danau. 

Cara pendaftaran pun terbilang mudah, tinggal pilih paket wisata ke mana, kemudian mengontak pihak Amabel Travel melalui email di: amabeltour@gmail.com atau kontak di Whatsapp dengan nomor 0819-4930-5465. Kalau ada hal-hal yang perlu ditanyakan, bisa juga chatting online pada jam kerja, yaitu pukul 08.00-20.00 WIB di www.amabeltravel.com.

Kanal pemesanan dan komunikasi dengan Amabel Travel
Hm, apakah Amabel Travel terpercaya? 
Kan rugi banget kalau sudah setor uang eh malah dibawa lari seperti banyak kasus travel agent yang membuat masalah dengan konsumennya sendiri. Ya udah, akhirnya aku cek testimoni yang pernah pakai jasa Amabel Travel di akun Instagram @ayokelilingindonesia. Di sana, ada sejumlah testimoni berupa video pengunjung yang mengambil Open Trip Sumba Amabel Travel di lokasi-lokasi yang disebutkan dalam itinerary Open Trip Sumba. Ternyata testimoni mereka bagus dan positif. Dan, akan lebih bagus lagi kalau Amabel Travel sering-sering mengadakan lomba blog seperti ini, agar blogger sepertiku semakin rajin nulis dan semangat keliling Indonesia bersama Amabel Travel.

Akun instagram Amabel Travel @ayokelilingindonesia
Buat kalian yang ingin keliling Indonesia bersama Amabel Travel, bisa difollow dulu Instagramnya di @ayokelilingindonesia. Dijamin bakal lapar mata, ingin langsung terbang seperti seekor rajawali, keliling Indonesia sampai hati senang tiada duanya.  

Lampung, 23 Juli 2018



Wijatnikaika Official

2 comments:

  1. wow aku jadi penasaran deh, malah saya membayangkan di daerah kering begitu ada apa sih ternyata banyak yg bisa dilihat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Tira, terima kasih sudah mampir. Iya, aku juga nggak tahu kalau Sumba seindah surga kalau nggak baca-baca tulisan orang demi ikut lomba blog dari Amabel Travel. Aku merasa cupu hahaha

      Delete

PART OF

# # # # #