VIA VALLEN dan Pelecehan Seksual di Sekitar Kita

Via Vallen, artis Dangdut yang sedang naik daun

















"Aku mungkin bengkok, tetapi aku tidak akan pernah patah. Itulah kodrat saya sebagai seorang perempuan.”

-Angela Merkel-
 
Sebagai perempuan dan warga negara yang menjunjung tinggi kesopanan khas timur, aku tergelitik ngeri dengan pernyataan sejumlah netizen dalam merespon pelecehan seksual yang dialami Via Vallen. Respon tersebut kurang lebih menyatakan bahwa sebagai artis dangdut Via Vallen harus bersikap biasa saja jika dilelecehkan, toh kan penyanyi dangdut. Sejak kapan ada aturan yang menyebutkan artis dangdut boleh dilecehkan secara seksual?

Keberanian Via Vallen si Ratu Dangdut Koplo dalam mengungkap pelecehan seksual yang dialaminya patut diacungi jempol. Itu sebuah tindakan berani dan mencerdaskan. Terlebih karena selama ini artis dangdut dianggap 'biasa dan bisa' dilecehkan secara seksual. Padahal si artis nggak pernah menyatakan dirinya 'hey guys, lecehkan aku dong', nggak kan? Sehingga sangat menyesakkan dada ketika para perempuan justru bersikap 'julid' dan 'victim blamming' (menyalahkan korban) dengan menganggap Via Vallen 'lebay', cari sensasi, tidak kuat mental sebagai artis terkenal, membesar-besarkan masalah sepele dan tidak mengerti gaya komunikasi orang asing terhadap perempuan. Beuh, apa mereka pikir orang asing otaknya mesum semua ya? Kaum 'julid' sepertinya kurang gaul deh.

Memang sih ada pandangan umum di neger ini yang menganggap bahwa artis dangdut itu cuma boneka hidup yang tidak memiliki perasaan dan pendapat tentang diri dan hidupnya, sehingga praktek 'pelecehan seksual' dianggap sebagai makanan busuk yang harus ditelan mentah-mentah untuk uji nyali sebagai figur publik dan seniman. Padahal, menjadi penyanyi dangdut hanyalah 'profesi' sebagaimana profesi lainnya seperti Pilot, Koki, Pelukis, Ketua DPR, Pramuniaga, hingga Presiden. Sebagai profesi, penyanyi dangdut berhak dihormati atas dirinya sebagai manusia dan karyanya sebagai produk seni. Sehingga, saat kita melabeli penyanyi dangdut sebagai manusia murahan yang 'legowo' menerima pelecehan seksual sebagai bumbu kehidupan, mungkin isi kepala kitalah yang karatan dan memerlukan pengobatan di rumah sakit jiwa. 

Pelecehan seksual adalah masalah serius yang jika dibiarkan begitu saja akan berlanjut pada praktek kekerasan seksual dan kejahatan seksual seperti pemerkosaan. Jadi, jangan pernah main-main dengan isi kepala dan kata-kata kita soal hal-hal berbau seksualitas tubuh lawan jenis. Berbahaya!

Namun, hal yang palik menarik perhatian saya selain keberanian Via Vallen dalam menyuarakan kehormatannya adalah respon netizen, khususnya yang menganggap bahwa sebagai warga negara Indonesia Via Vallen dianggap berpikiran tradisional dalam menanggapi godaan cowok berkebangsaan asing. Padahal sejatinya, masalah pelecehan seksual di negara manapun aturannya sama saja, pelecehan ya pelecehan, tidak ada ampunan hanya karena pelakunya orang asing berambut pirang atau berhidung mancung. 

Dalam masyarakat Indonesia yang menganggap budayanya lebih sopan dibandingkan budaya bangsa-bangsa lain, persoalan seks dan seksualitas memang dianggap hal tabu untuk diperbincangkan di ranah publik. Dosa, itu alasannya. Padahal sikap ini kontras dengan kasus-kasus pelecehan hingga kejahatan seksual yang lumayan tinggi. Masih ingat kasus pemerkosaan YY, gadis 14 tahun yang diperkosa belasan temannya sendiri atau gadis buruh yang diperkosa beberapa lelaki kemudian alat kelaminnya dimasukkan gagang pacul hingga menembus jantungnya? Masihkah ingat dengan kasus-kasus korban pemerkosaan yang dipaksa menikah dengan pemerkosanya sendiri? Lihat, apakah itu budaya ketimuran yang jauh lebih sopan dibanding budaya bangsa-bangsa lain di dunia? Tidak, kawan! pelecehan seksual tetaplah kejahatan mau itu pelakunya orang Indonesia Arab, Inggris, Belanda, Amerika, Afrika, Jepang, Russia bahkan Kutub Utara.

Dalam konteks lain seperti pakaian, perempuan juga sering disalahkan. Misalnya, "salah sendiri pakai rok mini, pantas diperkosa," atau "yah elu mah pakaiannya terbuka gitu, wajarlah orang mikir mau merkosa," atau "apa lo melawan gue? mau gue perkosa lo?" dan lain sebagainya. Di dunia ini, ternyata hidup sebagian orang yang menganggap bahwa melakukan pelecehan seksual hingga melakukan pemerkosaan sebagai sebuah 'hukuman' yang pantas bagi perempuan yang dianggap tidak menurut pada aturan kaum laki-laki. 

Padahal, aku adalah saksi hidup bahwa pakaian mini bukan penyebab timbulnya hasrat laki-laki untuk melakukan pelecehan seksual. Sebagai perempuan yang telah berjilbab selama 16 tahun, aku pernah 3 kali mengalami pelecehan seksual di ruang publik, beberapa kali di dunia maya sehingga harus memblokir akun si pelaku, hingga pelecehan verbal dari beberapa kawan laki-laki. Apakah aku dan diriku menyebabkan naiknya libido laki-laki sedangkan saya menutup rapat tubuhku? Sejak saat itulah aku sadar bahwa yang bermasalah adalah isi kepala si pelaku kejahatan, bukan segala sesuatu yang menempel pada diri dan tubuh perempuan sebagai korban. 

Jadi, berterima kasihlah kepada Via Vallen yang dengan berani bersuara untuk membela dirinya dan para artis dangdut negeri ini. Juga para perempuan korban kekerasan seksual yang selama ini bungkam karena takut disalahkan atau malah menjadi target kejahatan seksual karena dianggap potensial bagi si pelaku kejahatan. Via Vallen telah melakukan terobosan dan mendobrak ketakutan yang serupa tembok tebal para korban kekerasan seksual. Bisa jadi, keberanian Via akan memantik semangat para perempuan untuk berani melaporkan tindakan kekerasan seksual yang dialaminya kepada pihak berwenang.
Kita semua harus tahu lho agar tidak jadi korban apalgi pelaku


Kepada saudariku kaum perempuan, jangan diam saja jika Anda menjadi korban atau menyaksikan praktek kekerasan seksual. Suarakan dan laporkan! Pembiaran akan menjadi bom waktu yang membuat si pelaku lebih leluasa dalam mengincar korban, lantas menjadi lingkaran setan kejahatan seksual. Jangan menunggu menjadi korban pemerkosaan sadis untuk berani berteriak dan meminta pertolongan. Karena berbagai kasus pemerkosaan yang begitu sadis tidak terjadi begitu saja tanpa pemantik berupa kebiasaan melakukan pelecehan seksual.

Kepada saudaraku kaum laki-laki, mari belajar lagi tentang hakikat hidup sebagai manusia. Jika Anda dididik secara keliru di keluarga dan lingkungan sosial Anda dalam memandang laki-laki dan perempuan, mari perbaiki. Jika Anda tidak ingin Ibu, saudara atau anak perempuan Anda menjadi korban pelecehan seksual, begitu juga Ibu, saudara atau anak perempuan orang lain. Jika setan di kepala Anda mulai menggoda untuk berbuat nista, ingatlah Ibu, saudara atau anak perempuan Anda dan bayangkan jika mereka yang menjadi korban. Rem isi kepala Anda.

Tuhan menurunkan Adam dan Hawa bukan untuk saling melecehkan karena perbedaan biologis mereka, melainkan untuk saling mengasihi dan memakmurkan bumi dengan semangat bekerja sama. Sebagai anak keturunannya, marilah kita meneladani keagungan kedua perilaku moyang kita agar kita semua dapat hidup dengan tenang dan bahagia. 

Depok, Juni 2018
Bahan Bacaan: 
http://www.supernews.id/10961/via-vallen-pedangdut-baru-yang-kerap-dibandingkan-dengan-ayu-ting-ting/
https://kumparan.com/@kumparannews/memupuk-nyali-memerangi-pelecehan-seksual 

Baca juga:

0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram