Sejumlah Alasan Mengapa Anak dari Keluarga Broken Home Tidak Mudik Lebaran



Mungkin selama ini kita mengira bahwa jenis manusia malang yang hidup di dunia ini adalah para yatim piatu, pengungsi, hingga korban perang. Padahal, menjadi anak dari keluarga "Broken Home" adalah jenis kemalangan berbeda. Seseorang mengatakan bahwa tidak ada kematian yang lebih menyakitkan selain dilupakan dan itulah yang terjadi pada anak dari keluarga "Broken Home." Mereka memiliki rumah dan keluarga, ayah dan ibu, keluarga besar, juga kampung halaman. Tetapi, semua itu hanya fisik belaka. Mereka kehilangan hati untuk pulang, sebagai rumah yang sebenarnya. 

Dalam sebuah grup di Instagram tentang "Broken Home" sang admin bertanya kepada para pengikutnya dalam sebuah postingan: "mudik ke mana?" satu pertanyaan sangat singkat tetapi menusuk bagai belati, tepat ke jantung hati.  Kemudian para pengikutnya memberikan jawaban beragam dalam menunjukkan kekecewaan, kesedihan, kecemasan, kesepian, pembangkangan, penolakan hingga sikap pasrah yang dipaksakan. 

"Sengaja nggak pulang ke rumah," ujar TW.
"TW, sama. Udah lupa jalan pulang ke rumah," balas PR.
"Ke rumah tetangga," jawab LY iseng, tetapi sebetulnya sedih.
"Gak mudik, lebaran di kosan, kampung orang," tukas DE.
"Jangankan mudik, hari lebaran aja bingung mau silaturahmi ke keluarga mana. Mami atau Papa? Dua-duanya sama-sama pening. Tapi, entahlah," keluh LL.
"Mudik???? Bingung jawabnya," kata DM.
"Enaknya ke rumah Ayah apa ke rumah Ibuk? Sampe sekarang belum mudik. Bingung mau ke mana," tambah AN.

Jawaban-jawaban singkat namun menyedihkan dan menyiratkan kesepian yang sebenarnya dapat dituntaskan dengan solusi sederhana. Selain karena mereka bingung hendak mudik ke mana, ke rumah Ayah atau Ibu. Ada juga yang merasa bahwa mudik bukan lagi peristiwa penting manakala keluarga sudah hancur berantakan. Bahkan beberapa merasa nelangsa karena diabaikan keluarga baru orangtuanya, lalu memilih lebaran sendirian di perantauan.

"Mudik? Keluarga aja berantakan mau mudik," kata AS.
"Mudik nggak mudik tetep sama. Sama-sama nyesek setiap lebaran," ujar CP.
"Di kosan, nangis diatas bantal pas malam takbiran," jawab DY dengan sejumlah emoticon menangis dengan kencang. 
"Awalnya mau mudik ke Jogja bareng keluarga Papa, tapi dimajuin mudiknya dan yang pergi Papa dengan keluarga barunya tanpa aku, jadinya lebaran di kosan, sendiri," tambah MT dengan sedih. 
"Mudik? Di rumah aja ngeliat bus dan mobil lalu-lalang sambil ngeliat didalamnya ada keluarga yang sedang kegirangan bisa pulang kampung bareng-bareng dan bahagia kumpul dengan keluarga besarnya," aku RFK tampak putus asa.
"Ke Pekalongan. Itu pun hanya "mudik" tapi tidak dengan  suasana keluarga yang didalamnya ada cinta," tambah DH.
"Nggak ada orangtua yang mau mudik ke anaknya, nih?" tanya DA.



Mudik seringkali dimaknai sebagai cara yang patut lagi sopan para anak untuk berbakti pada orangtua. Karena memang dalam budaya Indonesiam orangtua itu selalu nomor satu dan tidak pernah salah. Lantas ketika ada yang bertanya, "Nggak ada orangtua yang mau mudik ke anaknya, nih?" Kepala saya sontak tergelitik. Ya, benar. Kenapa tidak kalau peristiwa mudik dijadikan momen bagi para orangtua yang selama ini mengabaikan anak-anaknya untuk menemui anaknya di perantauan. Orangtua tidak selalu benar. Kadangkala, orangtua harus legowo meminta maaf kepada anak-anaknya jika memang melakukan kesalahan.

"Tidak berharap mudik ke mana-mana. Udah nggak seru lagi mudik tanpa keluarga yang utuh. Semua udah kepisah-pisah. Cukup di rumah mikir yang indah-indah aja. Nggak mudik," kata SP.
"Nggak mudik. Bukan yang spesial lagi dan bukan yang ditunggu lagi," tambah DE.
"Jangankan mudik. Lebaran bisa berkumpul aja nyatanya nggak mungkin. Padahal aku rindu. Baru kali ini lebaran serasa hidup sendiri," keluh ER.
"Jangankan mudik, kami merasa nggak sanggup melewati Hari Raya," ujar SY.
"Mudik? Haha, mereka berdua udah punya keluarga masing-masing, kalo kita datang malah jadi perusak suasana, ntar kitanya malah dikacangin," keluh KT, sedih.
"Enggak mudik. Cuman ngeliatin orang-orang pada mudik bareng keluarganya yang lewat depan rumah," ujar LY.
"Tahun ini enggak mudik, lebaran di kos, sendirian. Karena nggak kuat lihat di rumah," kata CH.
"Suka nyesek kalau lebaran, nggak bisa bareng-bareng kayak keluarga lainnya

Ah, ternyata permasalahan kebangsaan negara Indonesia tercinta ini bukan melulu tentang infrastruktur, kemiskinan, pendidikan, kesehatan, hingga korupsi. Ternyata, banyak sekali warga negara yang tidak bahagia, sampai-sampai mudik lebaran pun tidak mampu karena keluarganya berantakan dan tidak peduli. Padahal ilmuwan India bernama Amartya Sen mengatakan bahwa fondasi dari kesejahteraan sosial adalah kebahagiaan individu.

Memang, tidak pernah ada pasangan yang menikah untuk bercerai atau membuat keluarga kecilnya berantakan. Tetapi seringkali banyak orangtua yang alpa bertanggung jawab pada kebahagiaan anak-anaknya ketika memutuskan berpisah dengan pasangan, kemudian membangun keluarga baru. Padahal, kunci utama dalam menjaga ikatan antara anak dan orangtua yang tercerai berai semacam ini hanya satu, yaitu komunikasi. 
Banyak sekali orangtua yang "MALAS" menjaga komunikasi dengan anak-anak mereka ketika telah berpisah dengan pasangan dan memiliki kehidupan baru. Padahal, komunikasi merupakan satu-satunya hal yang paling diinginkan anak-anak dari keluarga "Broken Home" semacam ini. Komunikasi merupakan salah satu bentuk kepedulian dan kasih sayang meski memang terpisah jarak dan waktu. Bertanya, "Sayang, apa kabar? Papa/Mama rindu nih," atau "Nak, pulang ya, Bapak/Ibu rindu makan bareng kamu," merupakan hal yang paling dirindukan anak-anak yang berjuang menata hidupnya diatas reruntuhan yang diciptakan oleh kedua orangtuanya.
Dalam hal ini, pasangan yang telah berpisah seringkali "EGOIS" dengan meminta anak-anak mereka mengerti kondisi dan pilihan hidup mereka. Tetapi sebaliknya mereka tidak berusaha untuk peduli pada kondisi batin dan kebutuhan anak-anaknya akan perhatian-perhatian kecil yang menjadi pengikat hubungan anak-orangtua. Sebab, menjadi orangtua bukan sekadar melahirkan dan memberi makan, juga memberi asupan nutrisi ke dalam batin anak agar mereka merasa berharga, dicintai, diinginkan dan dianggap ada.
Jika orangtua memilih tidak peduli pada kasus-kasus semacam ini, yang diakibatkan oleh perbuatan mereka sendiri, maka dapat menyebabkan anak-anak itu menjadi stress dan depresi. Apakah para orangtua harus kehilangan anak-anak mereka oleh banyak sebab untuk membuat mereka sadar bahwa menjadi anak dari keluarga "Broken Home" itu tidak mudah dan butuh mental yang kuat?
Mungkin, selama ini para orangtua tidak menyadari bahwa pola komunikasi yang buruk antara orangtua-anak dapat memberi pengaruh jangka panjang secara psikologis, khususnya dalam hidup si anak. Orangtua yang menyepelekan masalah komunikasi dalam hal pengambilan keputusan, memberikan wejangan, mendengarkan curhat anak, berdiskusi dengan anak atau sekedar menyatakan rasa sayang dan rindu berkontribusi dalam membuat si anak bermasalah dalam kehidupan sosial. Anak dengan masalah komunikasi di lingkungan keluarga dan sosial bisa bermasalah saat memasuki dunia kerja yang kejam dan kompetitif. Nah, kalau para pekerja di Indonesia bermasalah dalam hal komunikasi, bisa mengganggu kinerja dan menurunkan daya saing. Dampaknya jelas berbahaya bagi kondisi perekonomian nasional. 

Kok jauh banget sih pembahasannya? Ya, begitulah diri manusia yang unik. Segala sesuatu tentang manusia di mulai dari lingkungan masyarakat terkecilnya, yaitu keluarga.
Oleh, karena itu, masalah yang dianggap sangat personal dan tidak ada hubungannya dengan hajat hidup orang banyak ini bisa berdampak besar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Akhir kata, selamat merayakan Idul Fitri 1439 H dengan hati damai dan gembira. Bagi yang merayakan bersama keluarga, bersyukurlah dan sayangi mereka selagi ada untuk kalian. Bagi anak-anak dari keluarga "Broken Home" tingkatkanlah ketabahan dan kesabaran kalian, semoga Tuhan memeluk hati kalian dengan lembut. Bagi para pasangan yang telah berpisah tetapi memiliki anak yang kalian abaikan sekian lama, hilangkanlah sikap "Malas" dan "Egois" kalian, dan bertanggung jawablah pada anak-anak kalian yang sedang berjuang keras melawan kesepian dan kesedihan tanpa perhatian dari kalian sebagai orangtua.

Sempat tidak sempat tetaplah peduli
Cinta dalam keluarga haruslah abadi

Depok, Juni 2018
-Tidak mudik Lebaran hehe-

Wijatnikaika Official

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #