Pramoedya Ananta Toer Itu Siapa Sih?


Ada sebuah kegaduhan lain di dunia maya saat sebuah screetshoot tersebar cepat bagai pijar kembang api di malam tahun baru. Bunyinya begini: "Lagian pramoedya itu siapa sih? Cuman penulis baru terkenal kayaknya..masih untung dijadiin film, dan si Iqbal mau meranin karakternya..biar laku bukunya." Tersebar sudah pernyataan ini ke mana-mana dan mengundang berbagai respon netter. Saya menanggapi screenshoot itu biasa aja, karena identitas si pembuat pernyataan disembunyikan. Jadi kan saya tidak bisa kepo ke akun miliknya untuk mengetahui siapa dia sesungguhnya. Terlebih karena saya kena bully sejumlah netizen setelah membuat sebuah tulisan berjudul: Teruntuk Iqbaal, Jangan Kau Hinakan Minke "Bumi Manusia" dengan Peran Picisan, karena publik mengira saya terang-terangan menghina Iqbaal Ramadhan si millenial populer dengan segudang prestasi kelas nasional dan internasional itu. Padahal, itu hanya jenis tulisan untuk memicu semangat Iqbaal dalam melakukan pendalaman karakter Minke. Sebab dalam beberapa pernyataan Hanung yang dikutip sejumlah media daring mengatakan bahwa Iqbal nggak perlu baca roman "Bumi Manusia" untuk memahami siapa Minke, kan menyesakkan sekali, seolah Iqbaal nggak sanggup memahami karya tersebut. Juga kritik tidak langsung untuk sutradara yang dalam sebuah pemberitaan media online menyatakan bahwa pemilihan Iqbaal sebagai Minke tidak dilandasi oleh kecerdasan Iqbaal, melainkan karena karena dia anak millenial.

Nah, soal pendapat di netter soal Premoedya apa benar penyataan itu ditulis anak millenial yang memang tidak pernah membaca karya Pram, sengaja ditulis oleh anak muda penggemar Iqbaal, atau hanya sekedar gimmick untuk semakin meningkatkan pamor pihak tertentu terkait rencana produksi film "Bumi Manusia"? Siapa yang tahu kebenarannya kalau kanal diskusi ditutup rapat bagai benteng sebuah kerajaan untuk menghindari serangan musuh. Akan sangat seru jika kita bisa diskusi dengan si pembuat pernyataan tentang sosok Pramoedya dan karya-karyanya yang melambungkan nama sastra Indonesia di kancah internasional. Sayangnya, kesempatan itu tidak terbuka. Maka, kesimpulan sementara saya adalah bahwa pernyataan tersebut merupakan gimmick
Netizen mengomentasi pernyataan ini dengan beragam pendapat. Misalnya ada yang mengatakan seperti ini: 'hancur hatiku' atau 'pasti ini bocah kebanyakan baca sosmed' atau 'masih ngompol tuh bocah' atau 'sedih banget bacanya' atau 'parah' atau 'ini yang bikin khawatir film Bumi Manusia akan menjadi film komedi cinta yang diidolai manusia-manusia tolol semacam komen tersebut. Satu kata untuknya, asu' atau 'kasihan tidak mengenal penulis yang pernah masuk nominasi dapat penghargaan nobel' dan banyak komentar lainnya yang negatif. Bahkan, ada netter yang menyatakan bahwa kondisi 'gagap informasi' tentang Pramoedya merupakan keberhasilan rezim Orde Baru dalam membuat buta anak bangsa akan sejarah bangsanya sendiri.
Saya melihatnya dengan pandangan sederhana saja. Jika si pembuat pernyataan merupakan anak millenial yang akrab dengan gadget, yah antara SMA-Kuliah, yang mungkin juga penggemar Iqbaal, memangnya dia nggak ngeh ya dengan mesin pencari Google? Sudah menjadi rahasia umum kalau Google itu Tuhan Modern yang bisa memberi jawaban atas pertanyaan apapun, kecuali kapan jadwal kematian kita. Apakah rasa penasaran yang terpicu 'kegaduhan nasional' itu tidak membuatnya berinisiatif meluncur ke papan ketik pencarian dan menulis kata: Pramoedya. Tentu saja Google akan memberi jawaban melimpah ruah, bisa mabuk kepayang kita membaca informasi yang sangat kaya yang ditampilkan oleh mesin pencari ajaib itu. Saya kira, anak millenial tahu kemana mencari informasi pertama alih-alih ngomel dan dengan percaya diri menunjukkan ketidaktahuan di Facebook. Jika anak millenial gagal paham atau buta menggunakan teknologi informasi, jangan-jangan dia millenial kurang gaul. 

Meski menurut saya pernyataan itu terkesan kontradiktif dengan karakter anak millenial yang melek informasi dan akrab dengan teknologi, yah, ada baiknya kita melakukan semacam introspeksi diri secara nasional. Kok bisa anak millenial tidak mengenal sastrawan dari bangsanya sendiri yang berkelas internasional, sementara informasi sangat melimpah ruah? Sebab, pada zaman saya sekolah dulu, belumlah akrab dengan mesin pencari semacam Google dan masih menggunakan 'wartel' untuk berkomunikasi, sehingga pengetahuan tentang sosok Pramoedya kosong melompong. Kan, informasinya tidak ada di buku-buku sekolah. Dan omong-omong, saya baru mengenal nama Pramoedya saat punya kesempatan tinggal di kota besar untuk kuliah. Coba kalau saya masih tinggal di kampung dan tidak sekolah, alamat saya tidak akan tahu siapa Pramoedya.

Yah, meski kita tidak tahu apa tujuan sebenarnya pernyataan si netter yang tidak diketahui siapa namanya itu, kita jadi punya kesempatan mengambil pembelajaran berharga, bukan? Sudah saatnya institusi seperti sekolah, pesantren dan perguruan tinggi mengenalkan siapa sosok Pramoedya Ananta Toer dan karya-karyanya. Sudah saatnya karya-karya Pamoedya menjadi bacaan wajib anak bangsa baik di kota maupun desa. Sebab, sudah banyak lho yang menjadikan karya-karya Pamoedya sebagai mahar pernikahan (eaaa). Masa iya, langkah kita masih tertinggal jauh. Lagipula, reformasi sudah berselang 20 tahun dan tidak ada lagi kekuatan dominan bangsa ini yang melarang kita membaca karya-karya Pramoedya seperti ketika zama Orde Baru. Kita bebas membaca dan mendiskusikan karya dan pemikiran Pram. Mari kita gunakan kebebasan itu sebelun negara api menyerang. 

Selama beberapa hari ini, saat mengikuti perdebatan demi perdebatan tentang rencana produksi film 'Bumi Manusia', saya mendapat beberapa pembelajaran berharga. Pertama, bahwa kaum terpelajar saja banyak yang belum pernah membaca karya-karya Pramoedya, padahal mereka kaum terdidik dan pembaca buku-buku bagus. Apakah harus bilang bahwa Orde Baru menang karena telah mengibuli anak bangsa untuk tidak mengenal Pramoedya sebagaimana telah berhasil menghilangkan nama RM.TAS dari buku-buku sejarah? Saya kira tidak selalu demikian, sebab generasi yang menikmati hasil reformasi bisa dengan bebas mengakses bahan bacaan dengan cara yang paling gampang: Google

Kedua, mungkin sebagian pembaca fanatik buku-buku Pramoedya pelit dan sok eksklusif dengan tidak 'rajin' memperkenalkan karya berharga itu ke publik. Misal, dengan pelit meminjamkan buku-buku karya Pram kepada mereka yang tidak mengenal karya-karya Pram karena buku-buku itu berharga ibarat harta karun. Atau memang terlalu malas bersaing untuk menghidupkan karya-karya Pram ditengah gempuran budaya pop dengan bacaan-bacaan ringan dan muda, seperti novel-novel cinta yang kisahnya picisan. 

Ketiga, bahwa dibalik kecaman keras publik kepada Hanung Bramantyo, justru inilah salah satu teknik sang sutradara untuk mengenalkan Pramoedya ke publik sehingga generasi millenial berburu buku-buku Pramoedya ke toko buku dan mulai menelisik sejarah satrawan besar tersebut. Meskipun, akan sangat disesalkan jika misalnya Hanung sengaja membuat publik terlibat dalam 'kegaduhan nasional' karena memilih pemeran tokoh-tokoh dalam film "Bumi Manusia' dengan alasan yang sangat murahan. 

Keempat, pemikiran Pramoedya dihidupkan kembali dengan cara berbeda. Mungkin, setelah ini kita akan disibukkan dengan banyak diskusi, pameran dan kegiatan lain yang berhubungan dengan karya dan pemikiran Pram. Terlepas dari prasangkan bahwa diangkatnya kisah dalam "Bumi Manusia" ke layar lebar semata demi keuntungan finansial dengan memanfaatkan popularitas Iqbaal Ramadhan. Kini, kesempatan bagi karya-karya Pram untuk mengguncang jagat Indonesia dan dunia kembali terbuka lebar. Jika dulu Pram dikalahkan 'ketakutan' rezim Orde Baru, maka kali ini kita semua harus memenangkannya. 


Jika ada waktu, datanglah ke kegiatan "Namaku Pram: Catatan dan Arsip" dan kita dapat kembali belajar bersama tentang sosok besar Premoedya Ananta Toer serta karya-karyanya yang memikat. Ajak serta kawan, rekan kerja, kekasih, keluarga, calon mertua, atau generasi millenial yang Anda kenal untuk bersama-sama belajar di sana. Saya kira, semesta sedang merentangkan tali kasih untuk kita semua, agar belajar dengan pikiran tenang dan hati yang jernih soal siapa Pram, karya-karyanya, hingga perdebatan-perdebatan tentang rencana produksi film "Bumi Manusia" yang dianggap mereduksi pesan inti Pram dalam roman sejarah tersebut. 

Tulisan sebelumnya: Kata Prof. Ariel Heryanto tentang Film "Bumi Manusia"

Akhirnya, saya ingin menutup tulisan ini dengan kalimat pendek hasil perenungan semalam akibat menerima banyak hujatan karena tulisan sebelumnya: adil sejak dalam pikiran itu relatif, sebab konsep adil di setiap kepala manusia tidaklah sama.

Bahan Bacaan: 
https://literasipribumi.wordpress.com/2017/01/30/pramoedya-ananta-toer/
http://www.genmuda.com/punya-rahasia-besar-jangan-diumpetin-karena-justru-bakal-ketauan-ini-sebab-dan-5-buktinya/ 
https://dialogue-artspace.com/namaku-pram/


0 comments:

Post a Comment

follow me on instagram