VIA VALLEN dan Arah Baru Musik Dangdut


Lagu 'sayang' dibuka dengan teriakan dan tepuk tangan penonton saat alunan kendang dan seruling menggelitik telinga, mengiringi para penari berkostum hitam putih yang mulai menari dengan begitu energik. Jenis tari latar yang tidak biasa untuk lagu dangdut. Tapi, irama kendang dan seruling sangat pas dengan gerak tubuh para penari, yang tegas, ceria dan penuh energi. Saat sang bintang memasuki panggung dan mulai menyanyi 'Sayang...' seketika penonton berteriak penuh kegembiraan. Bahkan mereka turut menyanyi bersama hingga membuat suasana penuh gemuruh yang menggetarkan. Mereka juga menari dengan luwesnya dibanding sang bintang sendiri. Selebriti seperti Ririn Ekawati, Kevin Julio dan Chelsea Islan tertangkap kamera asyik berjoget dan menyanyi. Terlebih ketika Boy William memasuki panggung menenemani Via Vallen menyanyi. Ah, bahagia pecah gemerlapan dalam kerling di jelita...

Itulah penampilan memukai Via Vallen di ajang Indonesian Choice Awards Net 5.0 beberapa waktu lalu. Sebuah prestasi gemilang untuk musik dangdut yang selama ini selalu dibawakan dalam suasana seksi, menor, vulgar dan terkesan tidak berkelas. Selain itu, dalam acara yang mengundang penyanyi kelas dunia seperti Craig David dan Haille Stenfield, ternyata Via Vallen adalah satu-satunya artis dangdut yang diundang dan menyanyi. Mendapat panggung kehormatan yang sekelas dengan Reza Artamevia, Glen Fredly, Raisa dan Tulus. Via Vallen juga tampil elegan dan energik ala-ala eksekutif muda alih-alih dengan gaun indah menjuntai layaknya seorang puteri yang biasa dikenakan penyanyi dangdut. Whoa, sejarah baru bagi musik dangdut ini, di mana pengemasan yang apik dapat menjadikannya nggak kalah keren dengan penampilan para pesohor dunia saat mereka manggung. Apakah ini pertanda masa depan cerah bagi Via Vallen dan musik dangdut tanah air? 

Penampilan Via Vallen yang berbeda dari gaya penyanyi dangdut pada umumnya saat membawakan lagu 'Sayang' di ajang Indonesia Choice Award Net 5.0 yang membuatnya sempat menjadi trending topik di Twitter. 
Selama ini dangdut identik dengan musik rakyat jelata dan vulgar, sehingga siapa menyukai dangdut dianggap tidak berkelas. Adalah rahasia umum jika para penyanyi dangdut, terutama di daerah-daerah terpencil membawakan lagu mereka disertai tarian erotis, menggunakan pakaian yang apa adanya, riasan wajah yang menor dan sebagainya. Bahkan pernah pada suatu hari dosenku di kampus, Pak Mohammad Sobary, menunjukkan sebuah video pada seisi kelas bagaimana vulgarnya penyanyi dangdut saat beraksi di kampung-kampung. Video itu menunjukkan seorang penyanyi dangdut dengan pakaian apa adanya menuju penonton, seorang lelaki menjelang 70an yang duduk di kursi dengan polosnya, untuk memegang payudara si penyanyi yang sengaja dia berikan kepada penontonnya untuk disentuh. Padahal, acara dangdutan di suatu kampung entah di mana tersebut dilakukan di siang bolong dan dihadiri banyak anak kecil. Aku dan seisi kelas hanya mampu melongo, tak percaya bahwa di suatau tempat entah di mana di Indonesia hal-hal semacam itu lumrah dilakukan penyanyi dangdut kepada penontonnya. Ngeri kan?

Maka, ketika program seperti Dangdut Academy (D'Academy) hadir dengan kemasan yang semakin waktu semakin bagus membuat publik mulai melihat dangdut sebagai musik yang layak dinikmati dan diperjuangkan agar tidak mati. Penyanyi dangdut tampil dalam panggung yang berkelas dengan penataan yang memukau, menggunakan wardrobe rancangan desainer ternama sekelas Ivan Gunawan, dipoles make up ala penyanyi pop dan dilatih untuk tampil sebagai penyanyi berkelas. Program ini bahkan melahirkan program baru yaitu Dangdut Academy Asia (D'Academy Asia) yang memunculkan talent-talent dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Kalau biasanya Malaysia dan Indonesia berkonflik entah gara-gara rebutan pulau atau hak paten atas suatu karya, kini bersatu demi mendukung dangdut. Program ini juga berdampak pada banyak sektor seperti meningkatnya jumlah kunjungan dari negara-negara ASEAN ke Indonesia dalam konteks untuk menghadiri acara dangdut, meningkatnya hunian hotel di area Jadebotabek, meningkatnya jumlah pelancong yang berbelanja di Pasar Tanah Abang yang melegenda, dan sebagainya. Dampak yang tak kalah penting dalam konteks hubungan multilateral negara-negara di kawasan ASEAN adalah bahwa dangdut dapat menjadi jembatan dalam membangun persahabatan antar negara. Acara ini setidaknya ditonton oleh 25% penduduk Indonesia atau sekitar 63 juta orang, dan ditonton secara live streaming oleh masyarakat di Amerika Serikat, Arab Saudi, Hong Kong hingga Korea Selatan. Sudah meraup untung yang menggunung, persahabatan antar bangsa terbangun. Dangdut keren, bukan?

DANGDUT ADALAH PERLAWANAN
Seorang teman yang pernah kuliah di Ohio University, Amerika bercerita bahwa pada musim dingin 2012 dia mengambil kuliah tentang Sejarah Asia Tenggara yang diasuh oleg Professor William Frederick. Ia merupakan seorang pakar kajian Indonesia yang namanya disejajarkan dengan nama besar pakar Indonesia yaitu Professor Benedict Anderson. Sebelum kuliah dimulai, pada mahasiswa mendapatkan silabus. Dalam sampul silabus, temanku itu melihat foto penyanyi dangdut Rhoma Irama diantara foto-foto lain seperti Raja Chulalongkorn (Thailand), Aung San Sui Kyi (Myanmar), Benigno Aquino (Filipina), dan Kartini (Indonesia). Jelas temanku terkejut, kan si Raja Dangdut bukan pahlawan nasional apalagi pemimpin sebuah revolusi, hanyai Raja bagi pencinta dangdut

Sumber: Yusran Darmawan
Konser Rhoma Irama selalu dipadati ribuan orang, rakyat jelata, yang menurut sang Professor berasal dari kemampuan si Raja Dangdut dalam mengikat massa melalui berbagai isu yang sedang berkembang pada masa itu. Lagu-lagu Rhoma Irama memang menghibur dan membuat tubuh sontak bergoyang, tetapi liriknya adalah tentang kritik sosial, perlawanan terhadap kekuasaan dan ketidakadilan, hingga ajakan untuk kembali kepada Islam. Dangdut tidak saja dinilai sebagai genre musik semata, tetapi juga menjadi pintu untuk memahami identitas masyarakat dan situasi kebangsaan kala itu yang dianggap melenceng dari cita-cita kemerdekaan. Sayangnya kekuasaan Rhoma Irama sebagai penyatu identitas kelas bawah dinodai sendiri oleh beberapa perbuatannya, seperti karena ia ikut nyemplung dalam politik praktis hingga kasus-kasus lain yang menyeret nama artis Inul Daratista dan Angel Lelga. Dalam ingatan orang Indonesia yang pendek, nama besar si Raja Dangdut pun tenggelam, layaknya Soekarno, Soeharto dan nama besar lainnya yang pernah membuat massa mabuk kepayang oleh kemampuan mereka menyatukan hati karena keadaan bangsa. 

Sayangnya, tidak ada penyanyi dangdut perempuan yang dengan penampilan manisnya di panggung dapat menarik perhatian massa untuk bergoyang sembari melancarkan kritik sosial, entah tentang perkawinan anak, upah buruh yang murah, sanitasi yang buruk, kondisi ekonomi yang ngap-ngapan, kemiskinan di mana-mana hingga bencana alam. Lagu-lagu dangdut sangat identik dengan kisah patah hati, perselingkuhan, kekecewaan hingga hal-hal yang tidak penting sama sekali dipakai sebagai lirik lagu. Dangdut juga identik hanya sebagai 'penggembira' saat kampanye partai politik berlangsung. Kehadiran penyanyi dangdut ibukota dimanfaatkan partai politik untuk menarik massa sebanyak-banyaknya sebelum melakukan doktrin tentang 'Plih partai Kami! Partai kami merakyat!' yang sesungguhnya omong kosong belaka. Waktu kecil, saat Partai Golkar masih berkuasa, aku pernah dibawa ayahku menghadiri kampanye partai itu di sebuah lapangan, tentu saja dengan dimeriahkan para penyanyi dangdut dari ibukota yang sedang naik daun. Aku lupa siapa artis yang datang. Tetapi, aku mengingat peristiwa itu sebagai pelajaran penting tentang teknik memikat dan memanipulasi pikiran polos rakyat jelata kedalam jerat partai politik demi melanggenggkan kekuasaan yang menguntungkan 

Via Vallen, penyanyi dangdut yang sedang naik daun





KE MANA VIA VALLEN AKAN MEMBAWA KITA?
Bernama  lengkap Maulidia Oktavia, penyanyi dengan nama panggung Via Vallen ini mulai menyanyi sejak usia 15 tahun, saat ia masih menggemari genre pop rock. Lagu-lagunya mulai dikenal sejak 2006 dan karirnya mulai melejit sejak 2015 saat dia merilis single pertama berjudul 'selingkuh'. Lagu 'sayang' yang diadaptasi dari sebuah lagu berjudul 'Mira e' yang dinyanyikan Kiroro, sebuah grup musik bergenre J-Pop dari Yomitan, Okinawa, Japang yang memulai debutnya tahun 1996 melejitkan namanya. Gara-gara inilah Via Vallen banjir hujatan karena dianggap menjiplak lagu orang lain untuk menjadi lagunya sendiri meski mengisahkan hal yang sama sekali berbeda dari lagu yang dimaksud. Yah, lagu 'sayang' adalah kisah patah hati yang tak bisa disembuhkan karena terlalu sayang. Lagu 'sayang' memukau banyak orang, familir bagi berbagai kalangan dan bisa dinyanyikan anak kecil dengan mudahnya. Maka, tak heran ketika dibawakan sebagai 'Dangdut ala NET Mediatama Televisi' lagu ini langsung naik tinggi dan membawa penyanyinya mendapatkan kehormatan sebagai penyanyi dangdut multitalenta dan sopan. Meski Via Vallen telah dilatih untuk mulai naik tangga dan mencapai kepopuleran melalui lagunya yang keren, aku masih pesimis bahwa yang berubah darinya hanyalah kemasan, bukan isi. Karena menurutku, dunia musik dangdut haus akan sosok perempuan pendobrak yang mampu menarik massa bukan hanya untuk mabuk kepayang atas suaranya, kecantikannya, hingga goyangannya. Tetapi, sosok seorang bintang yang mampu menyampaikan kritik sosial melalui lagu-lagunya, karena selama ini perempuan yang tertimpa berbagai kesialan karena negeri ini belum juga makmur dan sentosa sebagaimana dicita-citakan para pendiri bangsa...

Via Vallen yang menjadi trending topik di Youtube. Pasti bikin penyanyi dangdut lain terkagum-kagum
Ketika Rhoma Irama tak lagi menjadi Raja yang kuasa berdendang di panggung sembari melancarkan kritik sosial melalui musiknya, pun legenda pop Iwan Fals yang sudah mulai lelah dengan perjuangannya, dan ketika tak seorangpun penyanyi perempuan mampu membangkitkan perlawanan massa melalui musik, aku menjadi pesimis bahwa musik tak lebih dari cara mengungkapkan keluh kesah dan hati yang cengeng. Jika ditelurusi dengan seksama, sebagian besar lagu dalam musik di tanah air hanya berkisah tentang patah hati, kasih tak sampai, hingga perselingkuhan. Hanya beberapa penyanyi yang mencoba membangun wacara tentang kebebasan berpikir melalui lagu, tetapi mereka pun tenggelam dihempas lagu-lagu cengeng tentang cinta. Makanya, ketika melihat gegap gempita yang menyannjung Via Vallen yang sesungguhnya membawakan lagu patah hati dan sangat sedih, harapanku 'mandeg' soal kelahiran penyanyi perempuan yang melawan krisis sosial dengan lagu-lagunya. Ah, memangnya siapa aku berharap hal demikian, bukan?

Sila nikmati penampilan spesial Via Vallen disini: 

Wijatnikaika Official

4 comments:

  1. saya sendiri lebih suka musik dangdut yang dulu, yang tahun 90an, yang saya tahu, dangdut dulu dibawakan layaknya musik2 pop zaman sekarang kok mbak, tapi berubah seperti yang diutarakan diatas, memakai pakai vulgar dan erotis,

    Saya sendiri suka acara Dangdut academia, yang tampil benar-benar menyuguhkan kualitas,sebenarnya penggemar dangdut itu masih banyak di Indonesia, lihat saja acara yang diusung Indosiar tersebut dapat memperoleh rating yang tinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Sabda Awal. Iya betul, semoga kedepan musik dangdut lebih baik lagi ya...

      Delete
  2. Via vallen memang dangdut yg beda,, penampilan memanjakan mata dan suaranya jg berkelas..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih sudah mampir Victor. Ya, mudah-mudahan saja musik dangdut menjadi lebih baik dan dapat dinikmati semua kalangan

      Delete

PART OF

# # # # #