Sehangat Cinta di Tanah Lada

Kedua mataku terbuka sejak suara adzan Subuh berkumandang. Namun, aku enggan bangkit dan hanya berbaring miring seperti mumi yang menanti orang-orang datang memuji teknik pengawetan mayat paling mutakhir. Dari ranjang hangat dan empuk ini aku menikmati warna langit pagi yang berubah dengan sendu. Gelap ke terang dengan semburat keemasan yang semakin syahdu. Tirai putih tipis bergerak-gerak gemulai, tapi bukan tarian gaun pengantin yang suci, cuma tirai jendela kamarku yang dicumbui angin pagi. Cericit burung di rumah tetangga mulai ramai. Suara kendaraan. Teriakan seorang perempuan. Kucing mengeong entah di mana, mungkin si mungil yang kehilangan induknya. Harum dadar telur menguar di udara. Ah, aku suka.

Aku menyesap seluruh aroma pagi yang bercampur baur itu dengan khidmat. Namun, saat tengah asyik meresapi keheningan yang membuai, telingaku menangkap langkah tergesa. Langkah itu mendekat ke arahku. Menujuku. Oh, aku tahu langkah siapa itu. Sungguh aku telah terbiasa dengannya. Oh oh oh itu langkah manusia raksasa cantik dan cerewet bernama MAMI. Demi menghindari Mami, tubuhku seketika mengerut umpama buah markisa busuk di musim kemarau. Aku bersembunyi di balik selimut. Kudekap erat diriku bagai memeluk tubuh kekasihku. Aku memejamkan mata dan berharap ini cuma mimpi. Oh Tuhan! Tolong aku! Seorang raksasa akan menerkamku!

“CANTIGIIIIII!” Nah, itu dia teriakan Mami yang ke 600 kalinya. Suaranya menggelegar bagai mesin pemotong padi yang beroperasi pada malam buta. Lalu kedua tangannya sigap menarik selimutku, memukul pinggulku, pundakku dan menarik tangan kiriku untuk bangun. Ah, apa peduliku. Sejak kapan aku ingin bangun dan melanjutkan hidupku. Aku bertahan, pura-pura terlelap bagai mayat. Aku mengerut lagi dan memeluk diriku sendiri seperti kecebong yang ingin kembali menjadi telur. 

“Kamu teh mau jadi apa, Neng?!” Mami membentakku keras sembari menyingkirkan tirai ke pinggir jendela. Mami juga membuka jendela. Silau. “Matahari udah dipatok ayam, Neng. Bangun! Iiih, kumaha atuh kamu ya!” Mami mengguncang bahuku dengan kencang. Aku semakin mengerut dan kurasa sedang berubah menjadi telur. Aku ingin menjadi telur dan bersembunyi selamanya di rahim Mami. Mungkin juga jadi undur-undur bertanduk gergaji yang bisa melarikan diri ke tubuh bumi sampai bertemu dengan fosil cacing purba berkepala kelinci. Bersembunyi disana selamanya. Duh! 

Mami menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan keras. Kasar. Kecewa. Putus asa. Tak lama kemudian ia memanggil bala bantuan dengan teriakan paling kencang yang pernah kudengar: “PAPIIIIIII!” Lalu kudengar langkah tergesa raksasa berjenis kelamin laki-laki. Wah, ini bahaya! Aku dikepung dua raksasa! Raksasa satunya lagi adalah PAPI! Papiku yang kusayang. Duh, duh, duh, mengapa mereka harus jadi raksasa demi menghadapi seekor telur tanpa daya sepertiku?

Lalu...

Mami sedang berdiri penuh kemenangan saat aku terbangun dengan marah. Bibir Mami tersenyum sinis pada robekan kemeja yang digenggamnya kuat. Seakan-akan kain itu adalah jantung hati seorang musuh bebuyutan yang berhasil Mami tumpas dengan sebilah belati. “MAMI!!!” Aku berteriak seperti kesetanan, marah. Aku bangkit dan menabrak Mami demi merebutnya. Kemeja ini hidupku! Aku harus menjahitnya dan menyatukannya agar kembali utuh. Oh, kemejaku! Kemejaku! Warisanku! Dengan sigap Mami membuang sobekan kemeja ke luar jendela. Adikku, Karina menangkapnya lalu berlari ke arah api. Oh tidak! Api melalap kekasihku! Aku ke jendela dan menangisi api yang melahap robekan kemeja. “Mami jahat!” Aku menangis keras-keras seakan-akan dunia runtuh dan hujan di dalam hatiku menjadi badai. 

Neng, sadar! Dirga udah dua tahun nggak ada, Neng! Kamu harus melanjutkan hidup! Demi Mami dan Papi, Neng. Demi Allah, Neng! Jangan begini terus! Sadar!” Mami memelukku sementara aku meronta-ronta dengan kasar. Aku terus meronta sampai merasa pelukanku pada kemeja melonggar dan Mami mendapatkannya. Mami melepaskan pelukannya lalu berlari ke luar kamar menuju halaman belakang. Saat aku berlari mengejar Mami, kulihat kemeja itu memasuki api yang membara. Api melahap satu-satunya kenanganku. Aku menjerit-jerit menuju api. Aku hendak terjun ke dalam api saat Papi menarik tanganku sampai pegangannya menyakitiku. 

“CANTIGI!” Papi berteriak keras sekali saat menarik tanganku mundur dari api seakan-akan aku gadis putus asa yang hendak mencevurkan diri ke kolam magma. Aku menjerit semakin keras. Dadaku sesak. Jiwaku menjadi badai. Aku kalah. Hancur. Aku terduduk menabrak bumi. Tak punya kekuatan untuk berdiri dan berlari. Aku melihat sesuatu bagai wajah Dirga menangis dalam kobaran api. “Dirga! Dirgaaaaaaaa!” Aku menggapai-gapai Dirga yang terbakar api di halaman rumahku sendiri. Papi masih memegangi tanganku sekuat tenaga. Mami dan Karina hanya berdiri mematung memandangiku, penuh rasa kasihan dan juga benci. Sesekali mereka memandang api yang membakar Dirga penuh kemenangan. Oh, Dirgaku! 

Aku terduduk lemas entah sudah berapa lama saat kulihat Mami membawa sekeranjang barang-barangku. Entah kapan Mami merampok lemari anaknya sendiri. Kulihat gaun pengantinku yang indah di tumpukan paling atas. Aku memandangi Mami dengan nanar. “Mamiii?” Aku sangat kecewa jika Mami juga akan membakar gaun itu dan benda-benda lain yang sangat kusayangi. Semua itu benda suciku. Kebahagiaanku. Aku memandang Papi meminta pembelaan. Lelaki itu hanya diam sembari mengeratkan pegangan tangannya seperti khawatir aku akan melarikan diri kedalama api. Karina juga diam dengan wajah penuh penyesalan dan rasa kasihan. 

“Berhala! Semua benda sialan ini berhala!” Mami balik menatapku dengan galak seakan-akan benda-benda yang disebut berhala itu serupa sekumpulan patung setan yang sangat jelek. “Kamu menggadaikan hidup kamu yang berharga selama 600 hari hanya demi mengenang ini semua, hah? Sikap bodohmu sudah menjadikan benda-benda murahan ini berhala, tahu!” Mami semakin galak dan menumpahkan amarahanya tanpa bisa dihentikan. Aku hanya bisa memandanginya dengan nanar. Tak mampu melawan. Mami menjadi seorang Ratu yang menguasai seluruh kerajaan kecil kami dengan amarahnya yang mengerikan, bahkan kekuasaannya yang baru saja diraihnya membuat Papi tak mampu berkutik, menyerahkan urusan perang ini di tangannya. 
 
*** 
Jadi, ini semacam spoiler dari bab pertama ceritaku (fiksi) yang kupublikasi pertama di situs www.wattpad.com yang telah banyak melahirkan penulis-penulis kenamaan. Aku memang telat sih bergabung di komunitas penulis terbesar di dunia ini karena aku nggak berani menunjukkan tulisanku yang masih jelek hehe. Tapi, sekarang adalah saat yang tepat untuk menantang diri sendiri agar percaya diri berkarya secara terbuka sebagaimana penulis lain.

Rencananya, cerita fiksi ini akan kutulis dalam 9 bab saja dan 90% lokasi cerita berlatar Lampung sehingga akan banyak menyuguhkan hal-hal indah dan mengesankan tentang Tanah Lada. Mengapa Lampung? Alasannya sederhana saja sih, karena aku ingin menjadi bagian dari warga Lampung yang mempromosikan hal-hal indah dan mengesankan tentang Lampung. Sudah terlalu jenuh dengan cerita berlatar pulau Jawa. Siapa tahu kan kelak ada gunanya untuk Lampung. 

Bocoran Bab 2: cerita dimulai ketika Citra Cantigi tiba di Kalianda dan tinggal di sebuah rumah panggung khas Lampung di sebuah desa pantai. Selama tinggal di Kalianda ia banyak belajar tentang keindahan alam pesisir Lampung Selatan, meracik sendiri makanan khas Lampung, belajar bahasa Lampung dan melihat wajah gadis misterius di dalam rumah itu, gadis yang tidak pernah diceritakan oleh siapapun seakan-akan sosoknya adalah misteri paling menegangkan dalam kehidupan sederhana warga desa. Dan tentu saja, akan dimulai cerita pengenalan budaya Lampung termasuk kuliner khas yang sedap menggoda.

Hayo tebak apa nama kuliner ini di Lampung? Bahannya batang talas...
CARA MEMBACA CERITA
Untuk membaca cerita ini secara penuh bab per bab, silakan masuk ke situs wattpad.com, jangan lupa follow akunku dan beri vote juga komentar. Saat dunia mulai tertaik membaca ceritaku, maka aku sedang sibuk menulis bab selanjutnya.. Untuk membaca Bab pertama, silakan klik saja link ini ya: Bab1: Terbakar. Semoga kalian suka dan setia menanti kisah selanjutnya.


Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Replies
    1. Makasih sudah mampir Mbak Tira dan penasaran level dewa juga boleh wkwkwk

      Delete

PART OF

# # # # #