REVOLUSI MEJA MAKAN: Sembuhkan Indonesia dari Pekarangan dan Dapur Kita Sendiri


Aku mengenal seorang anak kecil berusia 2.5 tahun, sebut saja namanya Krida. Bocah ini begitu kurus, kelopak matanya cekung, dan terlihat pucat. Seringkali kulihat sang ibu memberi Krida makan dengan menu yang kurang nutrisi, seperti nasi bercampur kuah mie instan. Meski Krida juga diberi susu formula untuk membantunya mendapatkan asupan nutrisi, tetapi pola makan sehari-hari Krida tidak memenuhi standar makanan bergizi. 

"Krida suka makan sama mi ya?" tanyaku suatu ketika pada ibunya, dengan maksud memancing informasi aktivitas makan bocah itu. 
"Iya nih, kurang suka makan sayur dia," jawab sang ibu. 
"Kalau makan camilan suka nggak?" tanyaku lagi, makin penasaran. 
"Wahhh itu dia suka banget. Krida sukanya camilan rasa keju," jawab sang ibu sembari tersenyum. 
"Emang nggak dikasih suplemen ya? Kan ada tuh suplemen makanan khusus anak-anak, dari sayuran dan buah. Makannya ditaburin ke nasi atau minuman anak," kataku. 
"Oh, yang kayak iklah itu ya. Ah, nggak punya uang, mbak. Kerjaan saya cuma tukang cuci dan suami saya buruh pabrik," jawan sang ibu malu-malu. 
"Trus nanti Krida nggak gemuk-gemuk dong kalau nggak dipancing buat makan sehat," kataku sembari menyambut tangan mungil bocah itu saat mendekat padaku.  
"Yah, mudah-mudahan Krida sehat, Mbak. Minta doanya aja ya, Mbak," tutup sang ibu, kemudian mencium Krida yang menghambur ke pelukannya. 

Kondisi bocah Krida merupakan contoh nyata bagaimana tumbuh kembang seorang anak ditentukan oleh pemahaman dan kemauan orangtua dalam menyediakan pangan sehat dan bernutrisi. Orangtua selalu memiliki alasan seperti tidak tahu, maunya anak atau karena kondisi ekonomi yang lemah. Sayangnya, kasus semacam ini terjadi di banyak wilayah Indonesia. Dalam UNDP-Human Development Report 2016 (klik disini), health outcomes Indonesia ada di urutan ke 113 dari 187 negara, berstatus 'Medium Human Development' dan berada jauh di bawah negara-negara seperti Libya, Turkmenistan, Tunisia, Bosnia dan sebagainya. Posisi ini membuat Indonesia kalah unggul dibanding negara tetangga seperti Malaysia di urutan 59 dan Thailand di urutan 87 (High Human Development)

Dalam periode 2010-2015, jumlah anak dibawah umur 5 tahun yang mengalami kekurangan nutrisi lumayan tinggi yaitu 36.4%. Data dari www.globalnutrientreport.org yang menunjukkan bahwa Nutrition Country Profile Indonesia pada 2017 berada dalam kondisi tidak baik. Hingga 2017 terdapat 24.725 penduduk dibawah usia 5 tahun, di mana sebanyak 8,772 (36%) dalam kondisi stunting, sebanyak 3,253 dalam kondisi wasting, dan sebanyak 2,771 orang dalam kondisi overweight (kelebihan berata badan), dan kondisi ini rasanya begitu buruk karena tindakan intervensi untuk memenuhi target global tidak mengalami kemajuan (klik disini). Padahal, isu tentang nutrisi dibahas berbagai kebijakan seperti dalam dokumen Rencana Pembangunan Nasional dan Strategi Pembangunan Ekonomi 2010-2014. Jika kondisi ini dibiarkan tanpa penanganan serius, maka masa depan Indonesia boleh dibilang buram dan kualitas sumber daya manusia kita tak akan mampu bersaing dengan negara lain.  

Penyebab utama masalah kesehatan yang merongrong Indonesia

Belajar dari kondisi bocah Krida dan masalah yang dihadapi orangtuanya, maka cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mengarahkan para orangtua untuk memanfaatkan pangan lokal yang murah dan mudah diperoleh, bahkan beberapa diantaranya dapat ditanam di pekarangan rumah, bahkan tabulampot. Gerakan kembali ke pangan lokal sebenarnya bukan hal baru, akan tetapi gaung yang besar tidak otomatis membuat praktek di lapangan berjalan sesuai harapan. Salah satu pembelajaran berharga yang pernah kuperoleh adalah ketika berkunjung ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat. Pesantren yang berdiri diatas sebidang tanah seluas kurang dari 1 ha itu mampu menghidupi 20an anggota keluarga besar pesantren yang terdiri dari keluarga pemilik pesantren dan para santri. 

Praktek kedaulatan pangan ala keluarga yang diterapkan adalah menanam segala macam pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan pangan mulai dari padi, umbi-umbian seperti ganyong, sayuran, herbal, buah, hingga ikan dan kambing di sekitar areal pesantren. Sehingga segala jenis kebutuhan pangan dapat diperoleh hanya beberapa langkah dari dalam rumah dan setiap anggota keluarga dapat menikmati kelimpahan pangan bersama-sama. Salah satu bahan pangan yang diunggulkan pesantren ini adalah tanaman kelor yang merupakan satu jenis superfood. Kelebihan pangan yang tidak dikonsumsi pesantren dijual dalam bentuk teh herbal dan bunga, bibit aneka tanaman dalam bentuk biji maupun tanaman kecil, hingga makanan dalam bentuk bubuk. Karena konsep kedaulan pangan yang murah meriah dan mudah, pesantren ini menjadi tempat belajar berbagai komunitas, akademisi, peneliti hingga ahli gizi. Gerakan sederhana ini disebut sebagai Revolusi Meja Makan, sebuah upaya serius yang harus dilakukan setiap rumah tangga untuk menggalakan gerakan hidup sehat dimulai dari meja makan keluarga. 

Praktek Revolusi Meja Makan di Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut, Jawa Barat. Penganan lokal dan sehat seperti singkong dan ubi kukus menjadi pilihan untuk menemani diskusi sore bersama secangkir wedang jahe dengan taburan bubuk kacang tanah sangrai.






"Anak ketiga saya dilahirkan dengan cara yang sulit, berdarah-darah. Saat melahirkan Ceuceu, sulit sekali, hampir meninggal, dia akhirnya harus sebulan tinggal di rumah sakit setelah dilahirkan. Dokter bilang dinding rahim saya menebal sehingga tidak mudah proses bukaan mulut rahim, dari pertama, ke bukaan kedua dan seterusnya," ujar teh Nissa mengenang perjuangannya yang sangat berat akibat haya hidup yang tidak sehat. Pengalaman itu kemudian membawanya pada perjuangan untuk melakukan Revolusi Meja Makan dengan sebisa mungkin menanam dan mengolah sendiri pangan yang menjadi menu keluarga pesantren. Pertobatan Teh Nissa rupanya menjadi inspirasi bagi banyak sekali kalangan, karena mengonsumsi makanan yang benar dan sehat bukan saja sebagai bentuk kasih sayang kepada diri sendiri dan keluarga. Melainkan juga erat hubungannya dengan proses mempertahankan kualitas lingkungan hidup tempat bahan pangan tumbuh. 

Salah satu menu khas Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Garut yang mengedepankan sumber pangan lokal
Lahan Pesantren memang penuh dengan sumber pangan. "Kalau kita perlu tomat, bisa langsung metik di halaman belakang. Begitu juga kalau butuh sawi atau daun mint, semua tinggal petik di kebun pesantren. Ada juga bayam, kuru-kuru, kacang-kacangan, bunga telang, sereh dan sebagainya, lengkap kebun kami. Kami mengajarkan keluarga kami dan warga sekitar untuk memanfaatkan lahan sebagai sumber pangan. Selain murah meriah, juga terjamin kualitasnya. Dan kita nggak sakit-sakitan karena pangan kita lokal, sesuai dengan karakter tubuh kita. Makanya saya sehat dan jarang sekali sakit, karena makanan kami disini sehat," ujar teh Nissa Wargadipura, pengasuh pesantren. Pembelajaran tentang kedaulatan pangan di pesantren tersebut hendak mengajarkan kepada kita bahwa makanan yang terbaik bagi tubuh kita adalah pangan lokal, yang juga menunjukkan bagaimana sebuah keluarga berdaulat mengatur menu di meja makan tanpa terbebani kondisi ekonomi atau pangan yang didatangkan dari daerah lain. Karena memang gaya hidup sehat dimulai dari meja makan keluarga, bukan dari program pemerintah. 

Saat berkunjung ke pesantren dan belajar tentang Revolusi Meja Makan, aku menjadi sangat senang karena dapat memetik bahan pangan di pekarangan, seperti tomat yang hanya beberapa langkah dari pintu dapur. Bahan pangan yang ditanam sendiri di pekarangan ini kualitasnya terjamin karena tidak menggunakan pupuk kimia dan tentu saja segar karena tidak mengalami penurunan kualitas karena pengangkutan hasil panen.
"Beras yang subur oleh pupuk kimia dan siraman pestisida. Anak anak kita minum minuman warna warni dengan pewarna dan pengawet kimia. Kita goreng semua makanan kita dengan minyak sawit yang tumbuhnya ditopang pupuk dan pestisida kimia. Belum lagi pakaian yang kita pakai juga dicuci dengan deterjen berbahan kimia, ditambah pengharum dan pelicin bahan kimia juga," kata Siti Maemaunah, seorang peneliti yang tengah berkunjung pesantren, dalam perenungannya tentang pola konsumsi masyarakat modern yang merusak kesehatan. Hidup kita bahkan telah diatur sedemikian rupa agar bergerak dengan cepat dan tepat sehingga makan tinggal pesan melalui aplikasi, tidak perlu lagi mengolah sendiri. Yang kita pedulikan hanya makanan itu enak, murah dan tersedia dengan cepat, tanpa peduli apakah bahannya sehat atau tidak.
"Makanan kini bisa didapat lebih cepat lagi, tinggal pencet hape, panggil go-food, makanan instan apapun bisa kita dapat, langsung tersaji. Bahkan, tanpa  harus keluar rumah.  Semuanya yang kita pakai, kita makan, makin cepat makin instan, makin pendek waktunya. Saking begitu pendek, membuat kita bahkan tak punya waktu bercakap cakap dengan tubuh kita. Kita tak sempat bertanya asupan apa yang dia butuhkan, apa yang dia tak suka. Kita hidup, tapi tubuh kita sendiri kita perlakukan seperti benda mati. Semua kita masukkan, tanpa bertanya padanya," kata Siti Maemunah lagi.  
Gerakan Revolusi Meja makan juga mengajarkan kepada kita bahwa setiap rumah tangga bertanggung jawab atas kesehatan dan asupan pangan bernutrisi untuk setiap anggotanya. Sehingga diperlukan kerjasama antar anggota keluarga untuk sama-sama memulai gaya hidup sehat dengan cara murah meriah dan penuh kebersamaan. "Kalau sedang memasak, ajak anak-anak untuk mengenali bahan pangan keluarga kita sehingga mereka juga ikut peduli pada gerakan hidup sehat dalam rumah tangga," ujar Ibu Nia, seorang pengunjung dari Jakarta. Sebagai perempuan yang aktif dalam kegiatan komplek khususnya tentang urban farming, Ibu Nia berkunjung ke Pesantren demi belajar tentang cara menerapkan Revolusi Meja Makan, terutama cara memasak tanpa menggunakan bumbu tambahan ala pesantren. "Bumbu yang serba instan itu berbahaya sekali. Makanya saya belajar lagi ke Pesantren bagaimana cara memasak dengan rempah tetapi rasanya lezat," ujarnya lagi dengan semangat tinggi agar kembali mampu menyediakan menu sehat untuk keluarganya dengan resep nenek moyang kita, tanpa bumbu instan yang berbahaya. 


Belajar dari cara Pesantren mengelola tanah dan menghasilkan sumber pangan secara mandiri membuatku sadar bahwa gerakan nasional untuk sembuhkan Inndonesia harus dimulai dari rumah, dari meja makan setiap keluarga. Bagaimanapun juga kita tidak dapat mengandalkan program-program pemerintah jika kita lalai dalam menjaga kesehatan diri dan anggota keluarga. Lagipula, setiap orang wajib menjaga kesehatannya dan menjalankan pola hidup sehat agar dapat menjalani hidup yang produktif dan bahagia. Jika setiap warga negara sadar bagaimana menerapkan pola hidup sehat, maka negara kita dapat menurunkan angka kematian ibu, jumlah anak-anak dengan gizi buruk dan obesitas, hingga kasus kesehatan lain yang akarnya adalah pola hidup yang tidak sehat. 

Bandar Lampung, 10 Mei 2018
 

Wijatnikaika Official

1 comment:

  1. Wah, daun kelor bisa jadi superfood gitu ya. Di aku ada daun kelor ngejogrog aja gak pernah dimanfaatin. Keren pesantrennya. Aku sepakat mbak, semuanya berarti harus dimulai dari dapur sendiri (nasihatin diri sendiri juga).

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #