Ramadan Sepi Anak-Anak dari Keluarga Broken Home


Umat Islam di seluruh dunia sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, sebagai salah satu kewajiban yang termasuk dalam Rukun Islam. Ramadhan tidak saja merupakan ibadah wajib tahunan yang begitu membuai karena limpahan pahala yang dijanjikan Allah. Juga karena suasana khas yang tidak akan pernah ditemukan di sebelas bulan lainnya. Misalnya, anggota keluarga selalu berusaha untuk makan sahur dan berbuka bersama-sama dalam satu meja. Setiap orang bergegas untuk pulang ke rumah demi merasakan nikmatnya berbuka bersama keluarga. Suasana ini merupakan jenis kebahagiaan yang dikejar banyak orang di bulan Ramadhan. Sungguh kenikmatan tiada banding dan berbuah pahala yang berlipat-lipat. 

Sayangnya, tidak semua orang dapat merasakan kebahagiaan semacam itu. Contohnya adalah anak-anak dari keluarga broken home alias keluarga yang kedua orangtua berpisah entah karena perceraian atau memang keluarga sudah tidak berfungsi lagi. Anak-anak ini menjalani ibadah puasa Ramadhan dalam suasana sepi dan senyap di ruang segi empat kos-kosan, menikmati hidangan sahur dengan sepasang mata berkaca-kaca karena ditikam rasa sepi yang menggigit, dan menunggu dering telepon dari orangtua yang tak kunjung bertanya tentang kabar mereka. Saat berbuka tiba, mereka harus menahan tangis dan mengelus dada karena merasakan sepi ditengah keramaian suasana buka bersama dengan teman kuliah atau rekan kerja. Mereka selalu merasa iri dengan sejumlah keluarga kecil yang buka puasa bersama dalam keceriaan. Lagi-lagi dering telepon dari ayah dan ibu tak kunjung menyapa, kemana mereka? Tidakkah para orangtua rindu pada anaknya yang tengah menunggu sapa hangat dari mereka? 

Dalam sebuah akun Instagram yang followernya adalah anak-anak dari keluarga broken home, terdapat sebuah diskusi kecil tentang perasaan para pengikutnya dalam menjalani ibadah puasa ramadhan tanpa keluarga. Juga tentang lebaran yang entah akan dirayakan di mana. Bagi anak-anak dari keluarga broken home yang tidak punya tempat pulang, puasa dan lebaran adalah paket kesedihan yang tidak terwakilkan kata-kata. Rumah yang saya maksud disini bukan sebuah bangunan tempat keluarga tinggal, tetapi hati kedua orangtua. Saat hati orangtua tak mampu menjadi rumah bagi anak-anaknya, maka anak-anak yang hatinya terluka itu tak punya tempat pulang untuk merayakan lebaran. Saat orang lain sibuk mempersiapkan tiket mudik, mereka hanya diam terpaku dalam kesedihan. Ini adalah jenis kesedihan dan kekosongan yang paling menyiksa perasaan. Di dunia ini, tidak ada seorangpun yang ingin menjalani keterasingan dalam keluarga sendiri. Tapi, apa boleh buat, anak-anak ini tak mampu menyatukan mahligai yang telah retak.



Tidak seorangpun ingin tumbuh dalam keluarga yang gagal dan anak-anak broken home tahu bagaimana mengelola emosi agar mampu menghadapi keadaan dengan tegar dan tenang. Saat orang-orang merayakan kenikmatan Ramadhan dan Lebaran dalam keceriaan bersama keluarga, mereka pun turut tersenyum, turut senang untuk anak-anak yang beruntung hidup dalam keluarga utuh dan bahagia. Sikap ini membuat mereka semakin tangguh dan tegar dalam menghadapi tantangan hidup, untuk menjadi orang yang baik, sukses dan membanggakan meski ditempa oleh suasana sulit serta penuh tekanan batin.

Oleh karena itu mari sedikit berempati kepada anak-anak dari keluarga broken home. Bukan untuk mengasihani keadaan mereka, melainkan untuk mengurangi kesedihan dalam hati mereka. Tidak perlu memamerkan rencana mudik dan lebaran kalian, karena itu akan semakin menggarami luka hati yang belum ditemukan obatnya. Jangan pula bertanya apakah akan merayakan lebaran di perantauan atau di kampung halaman, karena pertanyaan itu seperti belati yang mengiris hati, yang jawabannya adalah: kami ingin sekali mudik, tapi keadaan membuat kami nggak bisa mudik. Jika kalian mau berbesar hati cukuplah dengan sesekali menemani saat waktu berbuka puasa tiba untuk berbagi kebahagiaan dan harapan, bahwa di dunia ini selalu ada cara untuk tersenyum meski hanya sebentar. 

Wahai ayah dan ibu, jika kalian rindu teleponlah anak-anak kalian yang kesepian itu. Di dunia ini, tidak ada yang lebih dirindukan anak-anak keluarga broken home selain sapa penuh rindu orangtua meski keduanya sudah tidak tinggal dalam satu atap. Jangan biarkan luka yang mengendap terlalu lama dalam hati anak-anak kalian membuat mereka menjauh dari hidup kalian karena merasa dibuang dan tidak diinginkan. Jangan sampai, gengsi level tinggi merenggut anak kalian selamanya. 

Mari jadikan Ramadhan tahun ini bukan saja sebagai momen untuk meningkatkan kualitas penghambaan kita kepada Allah dan layanan sosial kepada mereka yang tidak beruntung. Juga sebagai sarana memperbaiki hubungan keluarga entah antara suami dan istri atau antara orangtua dan anak. Tidak ada yang tidak mungkin sebelum dilakoni, bukan? 

Depok, Mei 2018 Sumber gambar: 
http://jambi.tribunnews.com/2018/05/15/bacaan-dan-niat-puasa-buka-puasa-salat-sunat-tarawih-hingga-witir-ramadhan-1439-h

Wijatnikaika Official

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #